Definisi dan Pengertian Belajar Menurut Para Ahli

Definisi dan Pengertian Belajar – Menurut pengertian secara psikologis , belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkunganya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku
( Slameto, 2010:2 ).

 

Definisi dan Pengertian Belajar

Winkel (dalam Yatim Riyanto, 2009:5) menyatakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, ketrampilan, dan nilai sikap. Peubahan itu bersifat secara relatif konstan.

Degeng (dalam Yatim Riyanto, 2009:5) menyatakan bahwa belajar merupakan pengaitan pengetahuan baru pada struktur kognitif yang sudah dimiliki si belajar, Hal ini mempunyai arti bahwa dalam proses belajar, siswa akan menghubungkan pengetahuan yang telah tersimpan dalam memorinya dan kemudian menghubungkan dengan pengetahuan yang baru. Dari beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses untuk mengubah performansi yang tidak terbatas pada ketrampilan, tetapi juga meliputi fungsi-fungsi ,seperti skill, persepsi, emosi, proses berpikir.

Prof Mahmud dalam bukunya menjelaskan setidaknya ada 5 pengertian mengenai belajar

  1. Belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
  2. Belajar adalah perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan.
  3. Belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap baru.
  4. Belajar adalah proses munculnya atau berubahnya suatu perilaku karena adanya respons terhadap suatu situasi.
  5. Belajar adalah perubahan perilakuu yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman.

(Mahmud, 2017; 61)

Menurut Ernest R. Hilgard dalam (Sumardi Suryabrata, 1984:252) belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya. Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula. Tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya.

Menurut Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning 1977, belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah.

Moh. Surya (1981:32), definisi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang.

Walker, (1967) secara singkat mendefinisikan belajar dengan perubahan perbuatan sebagai akibat dari pengalaman. Meskipun singkat, namun dari definisi tersebut sudah mencakup segala aspek mengenai belajar yaitu perubahan, perbuatan dan juga pengalaman. Kenapa bukan perbaikan melainkan perubahan? Karena saat orang belajar, akan memperoleh hal yang berbeda dengan individu lain. Ada yang memperoleh hal baik dan ada juga yang memperoleh hal buruk. Ini semua tergantung dari kacamata si pebelajar tadi. Bila pikirannya positif tentu dia akan memperoleh hal yang positif pula dari apa yang dilakukannya. Berbeda dengan orang yang selalu berpikiran negatif, tentu hal positif akan terlihat negatif.

C.T. Morgan, (1961) mendefinisikan belajar sebagai suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu.

 

Perubahan dalam Proses Belajar

Moh. Surya (1997) mengemukakan bahwa setidaknya ada 8 ciri perubahan perilaku dari akibat kegiatan belajar yaitu:

  1. Perubahan yang disadari atau disengaja (intensional): adalah suatu perubahan yang memang disengaja oleh individu itu sendiri karena kesadaran dirinya. Misalnya seorang anak yang ingin pintar, maka dengan sengaja anak tersebut berusaha dengan keras untuk mengubah dirinya agar menjadi anak yang lebih pandai dari sebelumnya
  2. Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu): dapat diartikan sebagai bertambahnya ilmu pengetahuan yang memiliki keterkaitan dengan ilmu sebelumnya sebagai dasar dari pemahaman seseorang.
  3. Perubahan yang fungsional: dapat diartikan sebagai perubahan yang diperoleh akan dapat dimanfaatkan oleh individu itu sendiri dikemudian hari sebagai bentuk hasil dari belajar. Sebagai contoh seorang siswa yang belajar bagaimana cara mengukur. Setelah siswa tersebut mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana cara mengukur, kemudian siswa tersebut menerapkannya dalam keseharian hidupnya. Atau bisa diartikan sebagai siswa tersebut telah mahir melakukan pengukuran akibat dari proses belajar sebelumnya.
  4. Perubahan yang bersifat positif: dapat diartikan sebagai perubahan yang bersifat normatif atau perubahan perilaku, pola pikir, budi pekerti mengarah ke kebaikan. Sebagai contoh seorang pencuri yang tidak mengetahui bahwa mencuri itu adalah suatu hal yang tidak benar. Karena dia telah belajar dan mendapatkan pengetahuan bahwa mencuri itu adalah perbuatan yang salah, maka pencuri itu sekarang tidak lagi melakukan kegiatan mencurinya. Hal ini dapat terjadi karena pencuri itu menyadari bahwa apa yang selama ini dilakukannya adalah perbuatan yang salah dan melanggar hukum.
  5. Perubahan yang bersifat aktif: Dapat diartikan sebagai untuk memperoleh perubahan, individu tersebut harus aktif dalam melakukan sesuatu. Misalnya seorang mahasiswa yang ingin menguasai materi fisika atom misalnya. Maka mahasiswa tersebut harus terus aktif belajar, membaca, mengkaji sumber-sumber pengetahuan lainnya dan juga bertanya kepada ahlinya agar mahasiswa tersebut dapat menguasai dengan benar materi fisika atom.
  6. Perubahan yang bersifat permanen: adalah perubahan yang diperoleh atau yang didapat oleh seorang pebelajar bersifat permanen atau melekat sepanjang hanyat dalam dirinya.
  7. Perubahan yang bertujuan dan terarah: merupakan suatu bentuk tujuan dari setiap individu melakukan kegiatan belajar. Setiap individu yang melakukan kegiatan belajar pasti memiliki tujuan baik dalam waktu dekat atau masa yang akan datang.
  8. Perubahan perilaku secara keseluruhan: berubahnya keseluruhan hal yang ada di dalam diri seorang pebelajar. Baik dari segi ilmu pengetahuan, moral dan juga sikap semuanya mengalami perubahan menuju kebaikan. Misalnya ketika seorang belajar tentang psikologi pendidikan, selain orang tersebut memperoleh ilmu mengenai psikologi pendidikan, orang tersebut juga memperoleh pengetahuan mengenai bagaimana cara memperlakukan anak didik yang baik dan benar.

 

Selanjutnya, Abin Syamsuddin Makmun menyebutkan setidaknya 5 perubahan perilaku yang merupakan hasil dari kegiatan belajar seseorang yaitu:

  1. Informasi Verbal, merupakan penguasaan informasi dalam bentuk verbal baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Seperti seorang balita yang baru bisa memanggil ayah dan ibunya.
  2. Kecakapan Intelektual, merupakan suatu ketrampilan individu dalam melakukan kegiatan atau interaksi dengan lingkungan sekitar. Seperti seorang individu yang mampu membedakan baik dan buruk, benar salah, bahaya atau tidak dan lain sebagainya.
  3. Stragetgi Kognitif, merupakan kecakapan  individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan aktivitas sehari-hari. Seperti kemampuan seseorang dalam mengendalikan ingatan, mengotimalkan kinerja otak agar dapat melakukan semua kegiatan dengan efektif dan efisien.
  4. Sikap, merupakan hasil dari kegiatan belajar berupa kecakapan individu seperti menahan diri ketika hendak melakukan kegiatan yang salah baik untuk dirinya sendiri dan juga lingkungan sekitar.
  5. Kecakapan motorik, merupakan hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.

 

Prof. Dr. H. Mahmud menyebutkan setidaknya ada 8 perubahan yang menunjukkan ciri-ciri belajar yaitu:

1. Perubahan yang disadari atau disengaja

Perubahan jenis adalah perubahan yang memang disadari dan diusahan untuk berubah oleh si pebelajar itu sendiri. Si pebelajar juga menyari perubahan hasil yang dialaminya selama belajar. Seperti contohnya adalah ilmu pengetahuan yang lebih dibandingkan sebelumnya, keterampilan yang lebih banyak, dan lain sebagainya.

 

2. Perubahan yang berkesinambungan

Adalah perubahan atau penambahan ilmu pengetahuan dan juga keterampilan yang merupakan tahapan selanjutnya dari pengetahuan yang terdahulu.

Sebagai contoh, seorang mahasisnya yang belajar mengenai metode pembelajaran. Ketika mahasiswa tersebut mengikuti kelas microteaching atau diminta untuk melakukan microteaching, mahasiswa tersebut menjadi mengerti bagaimana menerapkan metode pembelajaran yang telah diperolehnya pada perkuliahan yang lalu.

 

3. Perubahan yang fungsional

Merupakan suatu perubahan hasil belajar yang dapat digunakan untuk diri sendiri dan juga untuk masyarakat. Karena ilmu pada hakikatnya adalah untuk dimanfaatkan bagi orang banyak dan bukannya untuk disimpan.

Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang telah mempelajari tentang sistem electronik, ketika dirinya sudah selesai dan memahaminya, ilmu tersebut dapat digunakannya untuk membantu tetangga yang memiliki masalah saat perangkat elektroniknya rusak. Meskipun saat ini banyak yang memanfaatkan ilmunya untuk mencari penghasilan. Itu merupakan hasil dari belajar yang selama ini mahasiswa tersebut lakukan.

 

4. Perubahan yang bersifat postif

Adalah perubahan perilaku yang diperoleh dari hasil belajar. Seperti contoh, seorang mahasiswa yang sebelumnya menganggap bahwa dalam mengajar tidak perlu memasukkan nilai-nilai positif mengenai budi pekerti. Setelah mereka mengikuti perkuliahan psikologi pendidikan, mereka menjadi paham bahwa seorang guru tidak hanya mengajar saja, melainkan juga harus mendidik siswa-siswi mereka agar menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak hanya mengandalkan IQ saja.

 

5. Perubahan yang bersifat aktif

Adalah perubahan yang seharusnya dimiliki oleh setiap peserta didik bila dirinya menginginkan perubahan. Sebagai contoh, ketika dirinya tidak memahami tentang suatu pembahasan, maka dirinya harus inisiatif mengajukan pertanyaan entah kepada guru atau teman sebayanya. Tujuannya adalah untuk memperoleh penjelasan yang dia butuhkan.

 

6. Perubahan yang bersifat permanen

Adalah perubahan yang dari hasil belajar cenderung menetap dalam ingatannya selama hidupnya. Contoh, ketika seorang anak belajar naik sepeda, ketika dia sudah bisa naik sepeda, meskipun lama tidak naik sepeda dirinya akan tetap bisa naik sepeda dan menjalankannya.

Begitu juga dengan materi-materi atau teori-teori pendidikan. Seharusnya peserta didik diajarkan atau memperoleh materi yang bersifat menetap. Namun, sekarang ini sering kita jumpai para peserta didik kita yang mudah sekali melupakan apa yang telah diperolehnya pada pertemuan yang dahulu.

Padahal bila peserta didik telah lupa materi yang lalu, tentu akan sulit untuk melanjutkan pembahasan berikutnya, karena kita harus mengulang lagi materi yang lalu.

Jadi penting kiranya bagi kita sebagai seorang pengjar agar membuat peserta didik memahami secara permanen apa yang telah kita berikan pada pertemuan yang lalu. Salah satunya adalah menggunakan metode pembelajaran yang dapat menumbuhkan motivasi dan minat peserta didik dalam belajar.

 

7. Perubahan yang bertujuan dan terarah

Adalah perubahan yang direncarankan sejak awal memulai pembelajaran. Sebagai contoh, bila seorang peserta didik ingin memperoleh nilai A, maka peserta didik tersebut harus melewati serangkaian ulangan harian dengan hasil yang memuaskan sehingga pada hasil akhir kenaikan kelas, dirinya memperoleh nilai A dari hasil keseluruhan.

 

8. Perubahan perilaku secara keseluruhan

Adalah perubahan pada diri peserta didik dalam seluruh aspek. Tidak hanya perubahan kognitif saja, melainkan juga perubahan sikap, cara berpikir, cara berperilaku, dan juga keterampilan dalam mengerjakan sesuatu.

 

 

Ciri – ciri Belajar

Ciri ciri belajar

Menurut Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni (2007:15) menyimpulkan tentang ciri- ciri belajar sebagai berikut:

  • Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku (change behavior ).
  • Perubahan perilaku relative permanent.
  • Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada proses belajar sedang berlangsung, perubahan perilaku tersebut bersifat potensial.
  • Perubahan perilaku merupakan hasil latihan atau pengalaman
  • Pengalaman atau latihan itu dapat memberi penguatan.

Faktor- faktor  yang Mempengaruhi  Belajar

faktor yang mempengaruhi belajar

Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar banyak jenisnya, tetapi menurut Slameto (2010:54) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu:

Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor-faktor internal mencakup :

  1. Faktor fisiologis yang  menyangkut keadaan jasmani atau fisik individu, yang dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu keadaan jasmani pada umumnya dan keadaan fungsi-fungsi jasmani tertentu terutama panca indera.
  2. Faktor psikologis berasal dari dalam diri seperti intelegensi, minat, sikap dan motivasi.

 

Nana Syaodih menyebutkan bahwa ada 2 faktor yang mempengaruhi belajar yaitu faktor individu dan faktor lingkungan.

Faktor Individu

Faktor individu adalah faktor yang bersumber dari dalam individu setiap peserta didik. Faktor individu terbagi menjadi dua yaitu jasmaniah dan rohaniah.

Aspek jasmaniah mencakup kondisi kesehatan dari peserta didik. Perbedaan kondisi fisik setiap peserta didik inilah yang mempengaruhi hasil belajar. Ada beberapa peserta didik yang betah belajar selama seharian penuh dan ada juga peserta didik yang butuh cemilan, atau mendengarkan musik ketika belajar agar bisa bertahan selama seharian penuh belajar.

Kondisi jasmaniah yang sehat dan lengkap juga menjadi faktor yang mempengaruhi belajar setiap peserta didik. Dalam proses belajar mengajar, bagian tubuh yang memiliki peran penting yaitu mata dan telinga. Sebagaimana yang kita sering jumpai dalam kehidupan sehari-hari, beberapa peserta didik yang memiliki kekurangan pada alat indera mereka, akan mengalami kesulitan dalam belajar. Hal semacam ini sering dijumpai bila sekolah tersebut tidak memiliki alat atau perangkat yang dapat menunjang kebutuhan mereka. Namun berbeda apabila sekolah tersebut memiliki beberapa perangkat yang dapat menunjang mereka untuk belajar. Tentu masalah seperti ini dapat diatasi.

Selanjutnya faktor individu lain yang dapat mempengaruhi belajar adalah faktor psikis atau rohaniah. Faktor rohaniah juga memiliki peran penting dalam kegiatan belajar. Faktor psikis mencakup kesehatan mental, kemampuan intelektual, sosial, psikomotor, dan juga afektif setiap peserta didik.

Agar kegiatan belajar berjalan dengan baik, setiap peserta didik dituntut untuk memiliki mental yang bagus sehingga dapat mengikuti kegiatan belajar dengan baik. Butuh treatment khusus ketika kita menjumpai beberapa peserta didik yang mengalami sedikit gangguan dalam psikis mereka.

Faktor Lingkungan

Faktor yang kedua menurut Nana Syaodih adalah faktor lingkungan. Faktor lingkungan seperti keluarga, suasana tempat, dan lingkungan sekolah dapat mempengaruhi hasil belajar setiap peserta didik.

Dalam belajar, keluarga memegang peranan penting dalam setiap pendidikan anak. Berawal dari pendidikan keluaraga setiap peserta didik memperoleh landasan dasar untuk menunjang proses belajar saat peserta didik tersebut mulai memasuki dunia sekolah dan saat masuk berbaur dengan masyarakat.

Pendidikan sosial psokologis yang diajarkan di dalam keluarga akan mempengaruhi perkembangan belajar setiap anak. Sebagai contoh, seorang anak yang dibesarkan di lingkungan sekitar pasar tentu akan berbeda dengan perkembangan anak yang dibesarkan di lingkungan sekitar terminal.

Mahmud, (2017; 96) menyebutkan bahwa faktor individu yang dapat mempengaruhi belajar ada 6 macam

  1. Faktor fisiologis: hal ini berkaitan dengan kondisi fisik seseorang. Kondisi fisik yang tidak prima akan sangat mempengaruhi kegiatan belajar siswa. Seperti contoh ketika siswa sakit, bila orang sedang sakit, pasti disarankan untuk memperbanyak istirahat. Hal ini akan mengurangi intensitas siswa dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Saat sakit, setidaknya membutuhkan waktu 1 minggu untuk memulihkan kesehatan tubuhnya.
  2. Faktor psikologis: faktor psikologis dapat dikatakan sebagai faktor yang bersifat psikis. Salah satunya adalah kecerdasan seseorang. Kecerdasan dapat diartikan sebagai tingkat intelegensi seseorang atau kemampuan seseorang dalam menangkap dan mencerna suatu informasi, baik yang berupa abstrak ataupun yang konkret. Bila dahulu banyak pakar sepakat bahwa tingkat kecerdasan (IQ) itu merupakan penentu kesuksesan seseorang, akan tetapi penelitian yang terbaru menunjukkan bahwa kecerdasan emosional (EQ) lah yang sebenarnya mendominasi atau mengantarkan seseorang menuju tangga kesuksesan. Salah satu tokoh yang sepakat mengenai EQ adalah Ary Ginanjar dari Indonesia.
  3. Sikap siswa: Sikap siswa dalam melakukan kegiatan pembelajaran juga dapat berdampak kepada hasil belajar siswa itu sendiri. Bila siswa bersikap baik kepada guru atau bersikap buruk kepada guru, tentu akan ada imbal balik kepada siswa itu sendiri. Apakah diberi pujian ataukah diberikan suatu hukuman yang justru akan menghambat proses penerimaan pengetahuan dari guru ke siswa itu sendiri.
  4. Bakat pelajar: Bakat merupakan kemampuan yang secara alami ada pada diri setiap individu. Orang yang memiliki bakat belajar yang bagus, tentu akan mudah menerima informasi pada saat kegiatan belajar berlangsung. Berbeda dengan orang yang tidak memiliki bakat, dibutuhkan waktu dan tenaga ekstra sehingga siswa tersebut mampu menguasai materi. Ingat, tidak memiliki bakat bukan berarti inidividu tersebut tidak bisa melakukannya, akan tetapi dibutuhkan proses sampai individu tersebut dapat menguasai dengan baik suatu permasalahan.
  5. Minat siswa: Minat dapat diartikan sebagai ketertarikan. Misalnya, Anda tertarik dengan rasa makanan yang belum pernah Anda coba. Bila ketertarikan Anda cukup tinggi, tentu Anda akan mencoba untuk membeli dan merasakannya. Berbeda apabila rasa ketertarikan Anda tidak terlalu tinggi, mungkin Anda tertarik, tetapi tidak ingin mencoba. Begitu juga dengan kegiatan belajar. Setiap pelajar yang memiliki rasa ketertarikan terhadap suatu tema pelajaran misalnya, pasti siswa tersebut akan mempelajari tema tersebut. Minimalnya bila siswa tersebut malas membaca, siswa tersebut akan mendengarkan penjelasan guru akan tema tersebut. Hal ini dapat terjadi karena ada yang membangkitkan gairah siswa untuk mendengarkannya. Bila pada pertengahan jalan ada hal yang lebih menarik perhatiannya, tentu siswa tersebut akan berhenti mendengarkan penjelasan dari gurunya dan justru mengamati hal baru yang menarik perhatiannya tadi. Itulah sedikit penjelasan mengenai minat siswa. Semoga dapat dipahami.
  6. Motivasi siswa: Motivasi merupakan dorongan atau stimulus baik yang berasal dari dalam diri ataupun dari luar yang mendorong siswa melakukan suatu tindakan atau kegiatan. Misalnya saat siswa haus, dari dalam diri pasti ada dorongan untuk mengambil air minum atau membeli es di kantin. Motivasi itu sendiri dibagi menjadi dua jenis yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

Faktor eksternal adalah faktor yang ada diluar individu.

Ada beberapa faktor eksternal yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yaitu :

Faktor keluarga

Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seorang dilahirkan dan dibesarkan. Sebagaimana yang dijelaskan Slameto bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama . Keluarga yang sehat artinya untuk pendidikan kecil, tetapi bersifat menentukan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia.

Faktor sekolah

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan sekolah yang baik dapat mendorong siswa untuk belajar lebih giat. Keadaan sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa,hubungan siswa dengan siswa,disiplin sekolah, waktu sekolah, standar pelajaran diatas ukuran, keadaan gedung, alat-alat pelajaran dan kurikulum.

Faktor masyarakat

Masyarakat merupakan faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar siswa. Karena masyarakat sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak, sebab dalam kehidupan sehari-hari anak akan lebih banyak bergaul dengan lingkungan dimana anak tersebut berada.

Faktor biologis

Faktor biologis juga dapat mempengaruhi seseorang pada kegiatan atau proses belajar. Seperti misalnya ketika Anda lapar atau mengantuk. Pada saat Anda sedang lapar atau mengantuk ada teman Anda yang membicarakan soal rumus hitung misalnya, tentunya Anda tidak akan tertarik untuk membahasnya. Hal yang mungkin ada di kepala ketika anda lapar atau mengantuk adalah makanan, minuman, bantal, guling dan juga kasur. Bayang-bayang itu akan membuyarkan konsentrasi anda ketika menerima suatu materi.

Maka alangkah baiknya bila Anda masih berstatus pelajar atau mahasiswa, penuhilah kebutuhan tidur Anda agar ketika waktu belajar tiba rasa kantuk tidak menghampiri Anda. Sehingga proses belajar akan berjalan dengan maksimal.

 

Macam-macam Teori Belajar

macam macam teori belajar

Terdapat tiga kategori utama mengenai teori belajar, yaitu: teori belajar behaviorisme, teori belajar kognitivisme, dan teori belajar konstruktivisme. Teori belajar behaviorisme hanya berfokus pada aspek objektif diamati pembelajaran. Teori kognitif melihat melampaui perilaku untuk menjelaskan pembelajaran berbasis otak. Dan pandangan konstruktivisme belajar sebagai sebuah proses di mana pelajar aktif membangun atau membangun ide-ide baru atau konsep.

1. Teori belajar Behaviorisme
Teori behavioristik merupakan suatu teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner mengenai perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

Secara perlahan, teori ini berkembang menjadi suatu aliran psikologi belajar. Dampaknya adalah adanya perubahan arah dalam pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang ada di lapangan. Seiring berkembangnya teori ini, kemudian orang menyebutnya sebagai teori behavioristik

Teori behavioristik pada dasarnya menekankan pada terbentuknya perubahan perilaku (menuju ke positif) sebagai hasil belajar.

Teori behavioristik menganggap orang yang sedang melakukan kegiatan belajar sebagai individu yang pasif, sehingga respon atau perilaku dapat berubah karena bantuan metode, pelatihan atau karena adanya pembiasaan.

Menurut teori behavioristik, perilaku seseorang akan semakin kuat dan melekat apabila diberikan penguat dan akan menghilang apabila si pebelajar diberikan hukuman.

 

2. Teori Belajar kognitivisme
Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.

Peneliti yang mengembangkan teori kognitif ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.

 

3. Teori Belajar Konstruktivisme
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern.

Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.

Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari idea dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih pahamdan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep.

Baca juga: Pengertian dan Definisi Hasil Belajar

 

4. Teori Conditioning Guthrie

Guthrie berpendapat bahwa, tingkah laku seseorang merupakan deretan tingkah laku yang terdiri dari beberapa unit. Unit-unit tersebut terkoneksi akibat respon-respon yang diperoleh peserta didik selama proses belajar. Jadi, respon atau tingkah laku yang sekarang ini merupakan respon dari rangsangan sebelumnya. Jadi teori conditioning dapat dikatakan sebagai proses asosiasi antara unit-unit tingkah laku satu sama lain yang berurutan.

 

Jenis-jenis Belajar

Jenis-jenis belajar dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu belajar berdasarkan tujuan dan hasil belajar yang diperoleh, dan cara atau proses yang ditempuh pada saat melakukan kegiatan belajar.

Jenis-jenis belajar berdasarkan tujuan dan hasil belajar

Bila merujuk pada jenis belajar berdasarkan tujuan dan hasil belajar, setidaknya ada delapan jenis kegiatan belajar yang disepakati oleh para ahli seperti Syah, (1995); Efendi dan Praja, (1993); Syaodih dan Surya, (1971).

  • Belajar Abstrak (Abstract Learning)

Belajar abstrak merupakan kegiatan belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Kegiatan belajar semacam ini akan membuat siswa memperoleh pengetahuan dan pemahaman serta bagaimana cara memecahkan masalah dengan cara yang abstrak atau tidak nyata.

  • Belajar Keterampilan (Skill Learning)

Merupakan kegaitan belajar yang menekankan keterampilan peserta didiknya. Kegiatan belajar semacam ini mengharuskan atau mengutamakan gerak motorik siswa dalam memperoleh pengalaman secara langsung pada setiap kegiatan belajarnya.

  • Belajar Sosial (Social Learning)

Merupakan kegiatan belajar yang mengutamakan pada kemampuan siswa dalam memperoleh keterampilan seperti pemahaman mengenai masalah-masalah sosial, keterampilan dalam menyesuaikan diri terhadap nilai-nilai sosial, dan sebagainya yang berkaitan dengan lingkungan dan juga masyarakat.

  • Belajar Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Merupakan kegiatan belajar peserta didik yang menekankan agar peserta didiknya memiliki kemampuan dan keterampilan dalam memecahkan setiap masalah yang diberikan. Pembelajaran semacam ini akan membuat peserta didik terbiasa dalam memecahkan setiap masalah secara logis dan tuntas.

  • Belajar Rasional (Rational Learning)

Merupakan kegiatan belajar peserta didik yang mengedepankan rasionalitas atau kemampuan berpikir secara logis atau menggunakan akal sehat dalam menyelesaikan setiap masalah.

  • Belajar Kebiasaan (Habitual Learning)

Belajar kebiasaan merupakan suatu proses oembentukan kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan yang telah ada sebelumnya. Belajar kebiasaan setidaknya harus menggunakan hukum, ganjaran, perintah, keteladanan dan juga pengalaman khusus. Tujuan belajar kebiasaan adalah agar peserta didik memperoleh sikap dan kebiasaan dalam hidup yang baru dan tentunya lebih baik dari kebiasaannya sebelumnya.

  • Belajar Apresiasi (Appreciation Learning)

Belajar apresiasi adalah kegiatan belajar yang mempertimbangkan nilai atau arti penting suatu objek belajar. Tujuan utama belajar apresiasi adalah agar peserta didik memperoleh keckapan pada ranah rasa (effective skills).

  • Belajar Pengetahuan (Study)

Adalah suatu kegiatan belajar yang tujuannya memang untuk memperoleh ilmu pengetahuan, dan sejumlah pemahaman, pengertian, informasi dan lain sebagainya. Belajar pengetahuan dapat juga diartikan sebagai kegiatan belajar yang terprogram dan terencana dalam menguasai materi pelajaran yang telah dirumuskan sebagai tujuan pembelajaran.

 

Prinsip-prinsip Belajar

Nana Syaodih (2007: 165) menyebutkan ada 10 prinsip umum dalam belajar yang seharusnya diketahui setiap guru dan juga peserta didik.

Belajar adalah bagian dari perkembangan

Belajar dan berkembang merupakan dua hal yang berbeda, akan tetapi keduanya memiliki hubungan yang erat. Setiap perkembangan pada peserta didik dituntut adanya proses belajar yang sungguh-sungguh. Sedangkan dengan belajar, setiap peserta didik akan mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Belajar berlangsung seumur hidup

Prinsip ini mungkin semua orang sudah mengetahuinya. Namun yang harus kalian tahu, bahwa pada dasarnya kita melakukan kegiatan belajar setiap saat dimanapun kita berada tanpa kita sadari. Sebagai contoh saat kita memiliki masalah dengan orang lain. Dari situ kita bisa mengetahui bagaimana karakter lawan kita sehingga kita bisa mengantisipasinya bila suatu saat terjadi masalah atau benturan lagi dengan orang tersbut.

Faktor bawaan mempengaruhi hasil belajar

Setiap peserta didik yang memiliki potensi, bakat dan juga dorongan dari keluarga, tentu akan lebih mudah dipoles ketimbang peserta didik yang tidak memiliki bakat sama skali. Hal semacam ini tentu tidak bisa kita pungkiri. Dari pengalaman Anda saat mengajar tentu sudah memahami akan hal ini. Kalian sebagai pengajar tentu akan memilih peserta didik yang berbakat dan memiliki IQ lebih tinggi dibandingkan peserta didik lain untuk mengikuti seleksi Olimpiade misalnya.

Tentu akan berbeda bila kita memilih peserta didik yang tidak memiliki bakat dan juga potensi dalam dirinya. Bukan tidak mungkin berhasil, akan tetapi kita membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membiasan peserta didik yang kita pilih dalam menyelesaikan soal-soal olimpiade.

Belajar mencakup semua aspek kehidupan

Belajar bukan melulu tentang pelajaran, melainkan kita juga harus belajar bagaimana berinteraksi, berbudaya, berpolitik, ekonomi, moral, religi, seni, keterampilan dan lain sebagainya.

Semuanya itu tentu akan sangat dibutuhkan setiap peserta didik saat selesai sekolah nanti. Kenapa begitu? hal ini karena dari kenyataan yang sering kita jumpai di masyarakat. Banyak orang yang memiliki pekerjaan akan tetapi tidak sesuai dengan ijazah yang mereka miliki. Hal ini bukannya karena mereka tidak menguasai, akan tetapi ada bakat lain atau potensi lain diluar kemampuan kognitif sesuai ijazah mereka.

Sehingga, sudah selayaknya semua lembaga pendidikan sekarang ini memfasilitasi setiap peserta didik untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

 

 

Daftar Pustaka:

  • Makmun, S., A. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya
  • Mahmud. 2017. Psikologi Pendidikan. Bandung: CV. Pustaka Setia
Loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *