Tagar #Mendikbuddicarimahasiswa Berseliweran di Twitter, ini Kata Pengamat Pendidikan

2 min read

Jakarta – Media sosial Twitter dihebohkan dengan tagar #MendikbudDicariMahasiswa. Aksi media ini diinisiasi oleh Akun Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) dan akun-akun organisasi mahasiswa lainnya. Hal penting yang dikritisi dalam tagar tersebut adalah metode pembelajaran online atau daring hingga permasalahan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di tengah pandemik Covid-19.

Menanggapi hal tersebut, pengamat pendidikan, Darmaningtyas, mengatakan metode pembelajaran daring tidak bisa menjadi hal yang utama. Dia mencontohkan, hanya pembelajaran tertentu yang bisa menggunakan metode tersebut seperti ilmu pengetahuan sosial, hukum maupun sastra.

“Tapi kalau pelajaran eksakta yang menjelaskan rumus-rumus, itu agak susah. Karena, musti mahasiswa dan dosen itu berhadap-hadapan. Dan dosennya gak tahu mahasiswanya memperhatikan atau gak,” katanya, Selasa (2/6).

1. Tidak semua perguruan tinggi siap melakukan metode daring

Pengamat dari Komnas Pendidikan, Andreas Tambah, mengatakan bahwa pembelajaran daring memang terbilang baru di Indonesia. Akan tetapi, beberapa perguruan tinggi yang dinilai sudah mapan, sudah menjalankan metode terebut.

Metode pembelajaran daring, kata Andras, secara umum masih dianggap asing bagi perguruan tinggi, dosen dan mahasiswa. Bahkan, banyak dosen yang sebenarnya masih gagap teknologi (gaptek). “Fasilitasnya belum mendukung ya di rumah. Sebatas mungkin menggunakan fasilitas kantor atau perguruan tinggi,” ujarnya.

“Terus mahasiswanya itu sendiri, apakah semua mahasiswa bisa mengakses itu, apakah mahasiswa juga punya fasilitas itu? Tidak juga, banyak perguruan tinggi yang mungkin levelnya ke bawah,” katanya menambahkan.

2. Jaringan internet belum stabil di berbagai wilayah

Menurut Darmaningtyas ada yang mengganggu proses pembelajaran daring yakni jaringan internet yang belum stabil di berbagai wilayah.

“Saya kira, bukan sesuatu yang mengherankan kalau pembelajaran online itu bermasalah. Karena dia fungsinya seperti hanya pelengkap saja, pelengkap dari pelajaran yang tatap muka,” ujar Darmaningtyas.

Menurutnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) perlu mendorong kampus untuk mengembangkan aplikasi sendiri yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.

“Artinya, kalau Jakarta kan punya banyak pilihan aplikasi, gak ada masalah. Tapi, kalau di luar yang jaringan internetnya jelek barangkali, mungkin bisa cari aplikasi yang paling tepat untuk wilayahnya,” katanya.

Untuk masalah Uang Kuliah Tunggal (UKT) memang harusnya ada potongan. Secara umum memang kampus harus membayar sejumlah biaya pemeliharaan, liaya listrik dan biaya tambahan lainnya. Namun semua biaya tersebut bisa ditalangi dengan menggunakan bantuan operasional pendidikan dari pemerintah.

“Kalau mahasiswa negeri kan memang dosennya sudah dibayar oleh pemerintah. Jadi mestinya ya logicnya itu UKT turun. Jadi saya kira tuntutan mahasiswa itu sangat wajar,” ucapnya.

“Jadi mestinya itu, Kemendikbud harus memperjuangkan. Kalau perlu, bebasin SPP (sumbangan pembinaan pendidikan) selama pandemik ini,” sambungnya.

3. Kemendikbud harus tahu kebutuhan perguruan tinggi

Harus ada terobosan dari Kemndikbud yang berkolaborasi dengan kementerian lainnya, ujar Komnas Pendidikan, Andreas Tambah. Kemendikbud harus mengetahui kebutuhan dan ketersediaan jaringan internet di berbagai wilayah di Indonesia.

“Ini bukan hanya untuk perguruan tinggi, tapi juga mulai dari SD. Nah, itu bisa menggunakan anggaran pembangunan desa kalau di desa. Sehingga, fasilitas internet, fasilitas pendidikan gak boleh berhenti,” jelasnya.

Perlu adanya pembahasan antara Kemndikbud dan pihak Universitas baik universitas yang sudah terkenal maupun yang masih regional. Hal tersebut dilakukan guna mengetahui kebutuhan rata-rata dari perguruan tinggi di Indonesia. Sehingga dapat dilakukan diskusi untuk memecahkan masalah yang muncul akibat pandemi Covid-19.

Pembahasan juga dilakukan guna mengatur kebijakan umum yang akan dilakukan oleh dosen ketika melakukan kuliah daring dan penugasan secara online.”Apa yang disampaikan oleh mahasiswa itu memang sebuah realita yang dihadapi oleh mahasiswa itu sendiri. Karena, yang dirasakan oleh mahasiswa, daring ini tugasnya malah makin banyak,” katanya.

Terkait UKT, beberapa perguruan tinggi sudah mengembalikan UKT terhitung dari bulan Maret hingga Juni 2020. Andreas mengatakan, hingga saat ini, dia belum mendapatkan laporan apakah ada perguruan tinggi yang tidak membebaskan biaya UKT. Namun jika ada, seharusnya UKT dikembalikan atau ada relaksasi.

“Karena sekarang ini secara ekonomi itu dampaknya sangat luar biasa. Banyak orang tua yang pendapatannya turun drastis. Banyak yang dirumahkan, banyak yang cuma digaji separuh. Memang harus ada pengurangan-pengurangan biaya atau harus ada subsidi,” jelas Andreas.

4. Bantuan mahasiswa terdampak COVID-19 dari UGM.

Kampus ternama UGM dikabarkan memberi bantuan bagi mahasiswa yang kesulitan membayar UKT akibat dampak pandemik COVID-19. Wakil Rektor UGM Bidang Perencanaan, Keuangan dan Sistem Informasi, Supriyadi menjelaskan, mahasiswa dapat mengajukan permohonan keringanan UKT secara daring melalui Simaster.

“UGM sangat memahami dan peduli atas dampak pandemik COVID-19 terhadap semua warga. Oleh karena itu, UGM memberikan kesempatan bagi para mahasiswa yang karena dampak COVID-19 menjadi kurang atau tidak mampu membayar UKT, untuk mengajukan keringanan UKT,” ucapnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (30/5) lalu.

Sementara itu, Direktur Keuangan UGM, Syaiful Ali menjelaskan, keringanan atau pengembalian UKT sebesar persentase tertentu, juga diberikan bagi mahasiswa yang dinyatakan lulus yudisium sebelum tanggal 1 November 2020. Dengan syarat, menyertakan surat keterangan lulus atau keputusan yudisium.

PPDB KABUPATEN JOMBANG SUDAH DIBUKA, BURUAN SIAPKAN DIRIMU!

Penerimaan Peserta Didik Baru di Kabupaten Jombang sudah dibuka untuk umum. Pemerintah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana guna memperlancar kegiatan tersebut. Mulai dari sistem...
Ima Ruhma
2 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *