Sejarah Kerajaan Tarumanegara

2 min read

Tarumanegara berasal dari dua kata, yaitu Taruma, diambil dari nama sungai yang membelah Jawa Barat. Serta Negara yang artinya kerajaan atau negara. Keberadaan Kerajaan Tarumanegara juga diperkuat dari berita Tiongkok yang menyebut Tolomo untuk Kerajaan Tarumanegara. Selain itu juga dari kisah Gulawarman, pendeta dari Khasmir yang mengatakan bahwa agama yang dianut rakyat Tarumanegara adalah Hindu.

Kerajaan Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada 358-382 Masehi, di tepi Sungai Citarum yang saat ini masuk dalam Kabupaten Lebak, Banten.

Masa kejayaan Kerajaan Tarumanegara

Masa kejayaan Kerajaan Tarumanegara mulai tumbuh saat dipegang oleh cucunya, yaitu Purnawarman. Purnawarman memerintah pada 395-434 Masehi dan bergelar Sri Maharaja Purnawarman Sang Iswara Digwijaya Bhima Prakarma Suryamaha Purusa Jagatpati.

Kemasyhuran Kerajaan Tarumanegara dicatat oleh prasasti zaman Purnawarman, di antaranya pembangunan pelabuhan dan beberapa sungai sebagai sarana perekonomian. Dirinya juga memperluas kekuasaan dengan menaklukkan beberapa kerajaan kecil di Jawa Barat.

Selain itu pemerintahan Purnawarman sangat memperhatikan aliran sungai. Sungai-sungai diperbaiki, seperti tahun 410 Masehi Purnawarman memperbaiki Kali Gangga hingga Sungai Cisuba yang terletak di daerah Cirebon.

Pada 412 Masehi, dirinya juga memperindah alur Kali Cupu yang mengalir hingga istana raja. Tahun 413 Masehi membangun Sungai Cimanuk dan pada 417 Masehi, Kali Gomati dan Cakrabaga diperbaiki. Terakhir pada 419 Masehi, dirinya memperintahkan untuk memperdalam Sungai Citarum yang dinilai sebagai sungai terbesar di wilayah Kerajaan Tarumanegara. Sungai menjadi sarana perekonomian penting sehingga pembangunan sungai membangkitkan perekonomian pertanian dan perdagangan.

Beberapa Raja yang Pernah Memerintah Kerajaan Tarumanegara, diantaranya yaitu:

  • Wisnuwarman (434-455 Masehi)
  • Indrawarman (455-515 Masehi)
  • Candrawarman (515-535 Masehi)
  • Suryawarman (535-561 Masehi)
  • Kertawarman (561-628 Masehi)
  • Sudhawarman (628-639 Masehi)
  • Hariwangsawarman (639-640 Masehi)
  • Nagajayawarman (640-666 Masehi)
  • Linggawarman (666-669 Masehi)

Masa keruntuhan Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Tarumanegara mengalami kemunduran setelah dipegang oleh Sudhawarman. Saat itu dirinya memberikan kebijakan otonomi daerah kepada raja-raja di bawahnya. Namun kebijakan tersebut tanpa pengawasan. Karena tidak diwasi, terjadilah perpecahan di Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan tersebut pecah menjadi dua, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.

Bukti Keberadaan Kejaraan Tarumanegara

Prasasti-prasasti tersebut, tersebar di Jakarta, Bogor, dan Banten. Berikut tujuh prasasti yang ditemukan:

Prasasti Ciaruten

Prasasti ini terdapat gambar sepasang telapak kaki, lukisan laba-laba, dan huruf ikal melingkar. Dalam prasasti tersebut berisi:

Vikkrantasyavanipateh
Srimatah purnnavarmmanah
Tarumanagarendrasya
Visnoriva padadvayam

Artinya: Inilah sepasang telapak kaki yang seperti kaki dewa wisnu ialah kaki yang mulya sang purnawarman raja di negeri taruma yang gagah berani di dunia.

Prasasti Kebon Kopi

Prasasti ini ditemukan di Kebon Kopi di Kampung Muara Hilir, Bogor. Isi dari prasasti ditulis dengan aksara pallawa dengan bahasa Sansekerta. Isi kalimat tersebut adalah:

Jayavisalasyya tarumendrasya hastinah…
Airwaytabhasya vibatidampadadvayam

Artinya: Disini nampak sepasang kaki gajah seperti airawat. Gajah penguasa taruma yang agung dan bijaksana.

Prasasti Jambu

Prasasti Jambu ditemukan di Pemukiman Jambu di Bukit Pasit Koleyangkak, Bogor. Isi dari prasasti tersebut jika diterjemahkan menjadi:

Telapak kaki ini milik Sri Purnawarman, Raja Tarumanegara. Baginda termasyhur gagah berani jujur dan setia dalam menjalankan tugasnya.

Prasasti Cidanghiyang

Prasasti ini ditemukan di tepi Sungai Cidanghiang di Desa Lebak, Kecanatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten pada 1947. Prasasti tersebut bertuliskan dua baris kalimat puisi yang ditulis dengan huruf palawa bahasa sansekerta. Isi prasati ini mengangung-agungkan keberanian Raja Purnawarman.

Prasasti Pasir Awi

Prasasti ini ditemukan di lereng selatan Bukit Pasir Awi, Bogor. Namun, sampai saat ini belum ada sejarawan atau peneliti yang bisa mengartikan isi dari prasasti tersebut.

Prasasti Muara Cianten

Prasasti ini sama dengan prasasti Pasir Awi. Di mana belum ada sejarawan yang bisa mengartikan isi dari prasasti tersebut.

Prasasti Muara Cianten ditemukan di tepi Sungai Cisadane dan masih terdapat di pinggir sungai hingga saat ini.

Prasasti Tugu

Dalam prasasti ini disebutkan tentang pembangunan saluran air yang panjangnya 6.112 tombak atau setara 11 kilometer dan dibangun selama 21 hari. Prasasti ini berbentuk bulat telur.

Sejarah Kerajaan Tarumanegara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *