Perlunya Edupreneurship di Lembaga Pendidikan

3 min read

Oleh: Dr Aries Musnandar – Kepala Prodi S2 PAI Pascasarjana UNIRA (Universitas Islam Raden Rahmat) Malang; Direktur Overseas Academic Study and Enterpreneurship (OASE) Center; dan Anggota Dewan Pakar IKA UNJ.

Judul edupreneurship sengaja penulis buat dalam upaya memperkenalkan jiwa atau karakter kewirausahaan yang berguna tidak hanya di dunia usaha dan industri (DUIT) tetapi juga sektor pendidikan. Kita sering menemukan kata-kata seperti technopreneurship, sociopreneurship dan sebagainya, istilah-istilah ini pada intinya dimaknai sebagi karakter yang mampu membuat karya yang bermanfaat bagi umat manusia. Maka demikian pula dengan edupreneurship yang merupakan karakter kewirausahaan bagi kemasalahatan manusia melalui hasil-hasil pendidikan.

Karakter seperti gigih, ulet, optimis, pantang menyerah, tekun, tahan banting, berani ambil resiko dan sejenisnya adalah sejumlah karakter yang biasa dan mesti dimiliki para pelaku DUIT dalam menumbuhkembangkan bisnisnya. Bagi mereka tujuan akhir usaha mereka adalah memperoleh sebesar-besarnya keuntungan dan menekan inefsiensi seminimal mungkin.  Sehingga karakter entrepreneurship dalam konteks bisnis mesti berorientasi profit dan terkait dengan persoalan pertumbuhan keuangan.

Dalam dunia pendidikan fenomena edupreneurship bisa tampak jika pengelola dan atau akademisi pendidikan itu berkiprah dalam bidang tugasnya masing-masing. Sejumlah ciri khas kepribadian seorang yang memiliki karakter edupreneurship diantaranya mampu mengelola diri sendiri dengan baik lalu dapat mewujudnyatakan potensi dirinya dengan menggali dan mengasahnya secara tepat sehingga terejawantahkan dalam aktivitas dan tugas sehari-hari. Disamping itu kemampuan edupreneurship mampu berinteraksi dengan orang lain, sehingga terjadi komunikasi dan koordinasi yang baik dengan anggota di lingkungan organisasi ataupun di luar organisasi. Pada gilirannya, kehandalan edupreneurship bisa memanfaatkan sumber-sumber internal dan eksternal dalam arti luas dan dinamis bagi kepentingan lembaga pendidikan.

Namun demikian, implementasi dari jiwa kewirusahaan di dunia pendidikan bukan dengan cara-cara komersialisasi yang kerap ditemu-terapkan di lingkungan pendidikan. Jika karakter kewirausahaan menanam-suburkan pola-pola pikir kreatif, menciptakan produk/gagasan dan menjadikannya memiliki nilai tambah ekonomis, maka komersialisasi di dunia pendidikan merupakan kegiatan “profit making” dengan memanfaatkan wewenang dan peluang yang dimiliki. Contoh langsung dari komersialisasi di dunia pendidikan misalnya menjadikan obyek terdidik (siswa/mahasiswa) sebagai sumber penghasilan sekolah/perguruan tinggi semata dengan memperoleh pemasukan dari uang gedung, uang sekolah/UKT yang mahal, iuran orang tua murid/mahasiswa (IOM) hingga bahkan pengenaan biaya parkir di lingkungan sekolah dan kampus. Semua itu adalah bentuk komersialisasi dan bukan yang dimaksud dengan edupreneurship dalam manajemen atau pengelolaan pendidikan. Menjadikan anak didik (orangtuanya) sebagai sumber pemasukan adalah bertindak komersialisasi bukan ciri-ciri orang yang menjalankan edupreneurship. Bagi pimpinan lembaga pendidikan yang memiliki karakter edupreneurship tentu akan mampu mengajak DUIT terlibat dan berperan serta mendukung aktivitas lembaga pendidikan seperti di sekolah dan perguruan tinggi.

Karakter edupreneurship dapat menembus batas dan sekat-sekat birokrasi yang acapkali menghadang kreativitas. Birokrasi seringkali membelenggu kreativitas manusia yang sebenarnya memerlukan ruang gerak lapang. Penerapan edupreneurship di lembaga pendidikan semestinya mampu menghasilkan lulusan yang berkerja dan berkarya optimal. Dengan Edupreneurship seseorang mampu memanfaatkan peluang dan mengembangkan hasil karya dan kerjanya untuk kepentingan banyak orang.  Melalui implementasi edupreneurship hasil unjuk kerja manajer pendidikan (kepala/rektor) dapat maksimal diluar perkiraan orang.

Pada kesempatan ini penulis memberi contoh fenomena kepemimpinan Prof Imam Suprayogo di dunia perguruan tinggi, beliau seorang rektor yang berhasil “menyulap” Sekolah Tinggi yang dipimpinnya sejak 1998 menjadi sebuah universitas besar terkemuka yang pernah memiliki mahasiswa asing tidak kurang dari 21 negara di dunia. Bangunan karakter Edupreneurship Imam Suprayogo dalam berkiprah memajukan lembaga pendidikan telah terejawantahkan melalui sejumlah aspek seperti pengembangan keilmuan, kelembagaan, sarana prasarana, jaringan, akademik, kemahasiswaan, kerjasama lintas batas (networking -links), ataupun  aspek-aspek pengelolaan (manajemen).  Imam Suprayogo telah membuktikan sekaligus teruji dalam menumbuh-kembangkan lembaga pendidikan tersebut sehingga mampu melompat atau melangkah jauh (quantum leap) melebihi unjuk kerja para rektor pada umumnya.

Kemampuan bernegosiasi dengan pihak internal dan eksternal baik di dalam negeri maupun di luar negeri menghasilkan bantuan moril dan materil sehingga menjadikan UIN Malang sebuah universitas yang asetnya secara kuantitatif berlipat-lipat sehingga nilainya secara keseluruhan bisa mencapai triliunan rupiah. Bantuan tenaga pendidik kompeten dari luar negeri tanpa mengeluarkan biaya besar merupakan hasil negosiasi Imam Suprayogo. Cita-cita besar Imam Suprayogo yakni ingin suatu saat mahasiswa di UIN Maliki Malang tidak perlu membayar uang kuliah. Oleh karena itu, beliau sudah berpikir untuk mendapat lahan luas ratusan hektar di kabupaten Malang untuk dimanfaatkan menanam pohon sengon laut. Potensi penghasilan dari pohon sengon laut ini sangat menjanjikan karena dalam waktu 5-6 tahun siap untuk dijual. Harga sengon laut padaa saat panen nanti bukan tidak mungkin akan mendekati Rp 500 ribu per kubik dan satu pohon sengon besar bisa jadi mencapai dua kubik, Jadi jikalau 100 ribu saja pohon sengon yang siap di panen maka UIN Maliki Malang akan memperoleh pemasukan dari sengon sebesar 100 ribu pohon dikalikan Rp 1 juta, akan diperoleh 100 Miliar rupiah. Dalam lima tahun kedepan hasil sengon tersebut bisa meraup ratusan miliar yang tentunya dapat dimanfaatkan bagi kebutuhan biaya pendidikan.

Cita-cita Imam Suprayogo dalam membuat pendidikan gratis diwujudkan dengan menanam ratusan ribu pohon sengon di lahan milik universitas yang nantinya berdiri Fakultas pertanian dan fakultas-fakultas terkait seperti peternakan dan perikanan. Namun sayang sebelum cita-cita ini terwujud telah terjadi estafeta kepemimpinan, sehingga kiprah Prof. Imam Suprayogo di UIN Malang terhenti dan cita-cita tersebut diatas belum sempat terwujudnyata.

Keunggulan unjuk kerja Imam Suprayogo tampaknya didasari perilaku dan jiwa entrepreneurship yang dimiliki. Tanpa sejumlah karakter itu tak akan mungkin universitas yang dibinanya bisa tumbuh-kembang seperti sekarang. Mewujudnya karakter entrepreneurship atau kewirausahaan pada diri sosok Imam Suprayogo tentu tidak datang tiba-tiba tetapi telah melalui proses panjang sejak kecil yang ditempa oleh pendidikan informal di keluarga yang kemudian diasah dalam dunia praksis baik yang bersifat pendidikan formal maupun kehidupan sehari-hari.Dalam konteks yang dipaparkan di atas maka Imam Suprayogo telah mampu membuktikan kehandalannya menerapkan nilai-nilai eduprenuership sehingga membawa organisasi yang dipimpin beliau melompat jauh meninggalkan organisasi sejenis yang ada di Indonesia. Salah satu kekuatan Imam Suprayogo terletak pada kepiawaiannya dalam merintis dan mempererat kerjasama dengan pihak luar negeri (sumber eksternal) yang bermanfaat besar bagi UIN Maliki Malang maupun dalam menciptakan brand image organisasi. Kehandalan komunikasi Imam Suprayogo, pendekatan personal untuk “menarik” sejumlah pejabat dan tokoh penting yang berada di lingkaran kekuasaan, tokoh nasional dan luar negeri tertarik membantu lembaga yang dipimpinnya menjadi self-explanatory tentang kemampuan dalam mengimplementasikan karakter edupreneurship sang rektor tersebut.

Pendidikan dan pelatihan merupakan sarana penting mengembangkan kualitas anak bangsa. Oleh karenanya, lembaga yang bertugas mengembangkan SDM di negeri ini seperti sekolah dan perguruan tinggi perlu berbenah. Jiwa dan karakter edupreneurship bagi praktisi dan pimpinan lembaga pengembangan SDM baik di pendidikan formal amat dibutuhkan guna mewujudnyatakan kualitas optimal pendidikan. Disamping itu, peserta didik juga perlu didekatkan atau di didik dengan program kegiatan yang dapat meningkatkan kekuatan karakter edupreneurship nya dalam pengembangan diri peserta didik secara maksimal. Wallahu ‘alam bishowab.(*)

Malang, 5 Maret, 2020

PPDB KABUPATEN JOMBANG SUDAH DIBUKA, BURUAN SIAPKAN DIRIMU!

Penerimaan Peserta Didik Baru di Kabupaten Jombang sudah dibuka untuk umum. Pemerintah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana guna memperlancar kegiatan tersebut. Mulai dari sistem...
Ima Ruhma
2 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *