Pengujian Hipotesis Deskriptif Satu Sampel

2 min read

Pada dasarnya, pengujian hipotesis deskriptif bertujuan untuk melakukan generalisasi hasil pada satu sampel yang digunakan.

Meskipun tetap saja, ada beberapa pertimbangan yang pada akhirnya menentukan apakah satu sampel tersebut dapat digeneralisasikan pada sampel lain dengan karakteristik yang sama, ataukah bisa pada sampel dengan karakteristik yang berbeda.

Karena kecantikan seorang wanita tidak bisa diambil kesimpulan untuk kecantikan wanita pada 1 kecamatan.

Namun ada beberapa sampel yang memang bisa digunakan untuk mengeneralisasikan dari keseluruhan subyek. Misalnya darah, tidak mungkin dokter mengambil seluruh darah seseorang untuk melakukan penelitian.

Bisa mati orang tersbut. Cara paling mudahnya adalah mengambil sampel darah pada bagian-bagian tertentu.

Sampai di sini paham kan?

a.     
  Analisis Tes Binomial menggunakan SPSS Versi 19 menunjukkan hasil sbb.
Binomial Test
 
Category
N
Observed Prop.
Test Prop.
Exact Sig. (2-tailed)
Pilihan Jurusan
Group 1
IPS
22
.55
.50
.636
Group 2
IPA
18
.45
 
 
Total
 
40
1.00
 
 
 
Hasil analisis Tes Binomial tersebut menunjukkan bahwa koefisien Exact Sig. (2 tailed) sebesar 0,636, yang berarti koefisien tersebut untuk sisi kiri dan sisi kanan sehingga masing-masing sisi akan sebesar 0,318.  Apabila sampel penelitian kecil (≤ 25), maka koefisien Binomial dapat ditemukan pada Binomial Tabel dengan cara menemukan antara N dengan n terkecil.  Karena sampel penelitian yang ditetapkan oleh guru peneliti sebesar 40, maka koefisien Binomial (0,318) tersebut tidak dapat ditemukan pada Tabel Binomial.
Untuk merumuskan simpulan atas pembuktian di atas, maka harga koefisien Exact Sig.  Binomial tersebut dibandingkan dengan tingkat alpha yang ditetapkan yaitu 1% atau 5%.  Kriteria yang digunakan yaitu bila tingkat α atau kesalahan yang ditetapkan sebesar 1% yang berarti = 0,01, maka harga p sebesar 0,318 > 0,01, dengan demikian Ho diterima dan Ha ditolak.  Berdasarkan hasil analisis tes Binomial tersebut dapat disimpulkan bahwa kemungkinan siswa SMA dalam memilih dua jurusan (IPS atau IPA) adalah sama yaitu 50%.
c.       Menggunakan Chi Kuadrat
Apabila contoh pada nomor 1 di atas dianalisis menggunakan Chi Kuadrat makan perlu dirumuskan suatu hipotesis sbb.
Ho
:
Peluang jurusan IPS dan IPA adalah sama untuk dapat dipilih siswa SMA angkatan 2012 sebagai jurusannya
Ha
:
Peluang jurusan IPS dan IPA adalah tidak sama untuk dapat dipilih siswa SMA angkatan 2012 sebagai jurusannya
 
Hasil analisis Chi Kuadrat (2 kategori) dengan menggunakan program SPSS Versi 19 dapat ditunjukkan berikut ini.
 
 
Pilihan Jurusan
 
Observed N
Expected N
Residual
IPS
22
20.0
2.0
IPA
18
20.0
-2.0
Total
40
 
 
 
Test Statistics
 
Pilihan Jurusan
Chi-Square
.400a
df
1
Asymp. Sig.
.527
a. 0 cells (.0%) have expected frequencies less than 5. The minimum expected cell frequency is 20.0.
 
Apabila Chi Kuadrat hitung lebih kecil dari Chi Kuadrat tabel, maka Ho diterima dan apabila Chi Kuadrat hitung lebih besar dari Chi Kuadrat tabel, maka Ho ditolak.   Berdasarkan hasil analisis dapat dinyatakan bahwa pada dk = 1 dan taraf kesalahan yang ditetapkan sebesar 5% diperoleh koefisien Chi Kuadrat tabel sebesar 3,841.  Dengan demikian Chi Kuadrat hitung lebih kecil dari Chi Kuadrat tabel.  Sesuai dengan ketentuan yang ada maka disimpulkan bahwa peluang jurusan IPS dan IPA untuk dipilih sebagai jurusannya di SMA adalah sama diterima (Ho diterima dan Ha ditolak).
Contoh 2
Suatu penelitian yang dilakukan oleh seorang guru untuk mengetahui kecenderungan siswa-siswa SMK dalam memilih wara untuk pakaian oleh raga.  Berdasarkan pengumpulan data dengan wawancara kepada murid sebagai sampel sebesar 100 orang yang diambil secara random menunjukkan 40 memilih biru, 30 memilih merah, 20 memilih kuning, dan 10 memilih putih.
Hipotesis penelitian yang diajukan oleh gurupeneliti tersebut dinyatakan sbb.
Ho
:
Peluang siswa SMK untuk memilih empat macam warna pakaian olah raga adalah sama
Ha
:
Peluang siswa SMK untuk memilih empat macam warna pakaian olah raga adalah tidak sama
 
Hasil analisis Chi Kuadrat (4 kategori) dengan menggunakan program SPSS Versi 19 dapat ditunjukkan berikut ini.
 
Warna Pakaian
 
Observed N
Expected N
Residual
Biru
40
25.0
15.0
Merah
30
25.0
5.0
Kuning
20
25.0
-5.0
Putih
10
25.0
-15.0
Total
100
 
 
 
Test Statistics
 
Warna Pakaian
Chi-Square
20.000a
df
3
Asymp. Sig.
.000
a. 0 cells (.0%) have expected frequencies less than 5. The minimum expected cell frequency is 25.0.
 
Apabila Chi Kuadrat hitung lebih kecil dari Chi Kuadrat tabel, maka Ho diterima dan apabila Chi Kuadrat hitung lebih besar dari Chi Kuadrat tabel, maka Ho ditolak.   Berdasarkan hasil analisis dapat dinyatakan bahwa pada dk = 3 dan taraf kesalahan yang ditetapkan sebesar 5% diperoleh koefisien Chi Kuadrat tabel sebesar 7,815.  Dengan demikian Chi Kuadrat hitung lebih besar dari Chi Kuadrat tabel.  Sesuai dengan ketentuan yang ada maka disimpulkan bahwa peluang siswa SMK untuk memilih empat macam warna pakaian olah raga berbeda atau tidak sama.  Berdasarkan data sampel menunjukkan bahwa pilihan terhadap warna biru untuk pakaian olah raga memiliki peluang tertinggi. (Ho ditolak dan Ha diterima).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *