Uji Validitas dan Reliabilitas Tes

13 min read

validitas

Pendahuluan

Selain menguji normalitas dan homogenitas suatu sampel, Anda juga harus melakukan uji validitas pada instrumen penelitian yang sudah Anda buat.

Pengertian Validitas

Pada dasarnya, validitas instrumen digunakan untuk menguji apakah layak digunakan ataukah tidak.

Dikatakan layak / valid apabila instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur / mengetahui secara akurat subyek yang sedang diukur.

Sebagai contoh,

Bila kita melakukan penelitian dalam bidang pendidikan dengan tujuan untuk melihat hasil belajar siswa, maka instrumen yang kita buat bisa berupa butir soal.

Butir soal tersebut dikatakan akurat bila hasilnya menggambarkan kemampuan siswa yang sesungguhnya.

Contoh lain,

Bila kita hendak mengukur panjang, tentu kita tidak akan menggunakan neraca atau timbangan yang lain.

Tentu tidak akan memperoleh hasil yang tepat. Alat yang pasti Anda gunakan adalah mistar.

Meskipun sama-sama menggunakan mistar, hasil ukur pasti akan berbeda jika mistar yang digunakan juga berbeda.

Yang satu menggunakan mistar dengan skala terkecil mm dan satunya lagi menggunakan skala terkecil cm.

Prof. Dr. Saifuddin Azwar, M.A

Saifuddin Azwar (2015: 8) menjelaskan dalam bukunya bahwa,validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauhmana akurasi suatu tes atau skala dalam menjalankan fungsi pengukurannya. Pengukuran dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila menghasilkan data yang secara akurat memberikan gambaran mengenai variabel yang diukur seperti dikehendaki oleh tujuan pengukuran tersebut.

Selanjutnya,

Alm. Prof. Djemari Mardapi, Ph.D

Djemari Mardapi (2012: 38) menjelaskan bahwa, validitas merupakan dukungan bukti dan teori terhadap penafsiran skor tes sesuai dengan tujuan penggunaan tes. Oleh karena itu, validitas merupakan fundamen paling dasar dalam mengembangkan dan mengevaluasi suatu tes. Proses validasi meliputi pengumpulan bukti-bukti untuk menunjukan dasar saintifik penafsiran skor seperti yang direncanakan.

Selanjutnya

Heri Retnawati (2016: 16) mengemukakan bahwa, validitas akan menunjukkan dukungan fakta empiris dan alasan teoretis terhadap interpretasi skor tes atau skor suatu instrumen, dan terkait dengan kecermatan suatu instrumen.

Serupa dengan pendapat yang dikemukakan oleh Heri Retnawati,

Bambang Sumintono (2015: 8) menegaskan bahwa, validitas adalah masalah proses pembuktian yang berkelanjutan, mengacu pada sejauh mana bukti dan teori mendukung interpretasi terhadap skor tes sesuai tujuan tes. Proses validasi melibatkan proses pengumpulan bukti untuk memberikan dasar ilmiah untuk interpretasi skor tes. Validitas adalah masalah interpretasi terhadap nilai tes, bukan tes itu sendiri, karena validitas tidak seberapa terkait dengan bentuk atau jenis tes, tetapi interpretasi terhadap skor tes.

Macam-Macam Validitas

Validitas sendiri terbagi ke dalam tiga kategori besar, yaitu validitas isi (content validity), validitas konstrak (construct validity), dan validitas yang berdasar kriteria (criterion-related validity). Berikut ini penjelasan mengenai ketiga validitas tersebut:

a. Validitas Isi (Content Validity)

Saifuddin Azwar (2015: 42) menjelaskan bahwa validitas isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap kelayakan atau relevansi isi tes melalui analisis rasional oleh panel yang berkompeten atau melalui expert judgment. Kemudian, Heri Retnawati (2016: 17) menjelaskan bahwa validitas isi terkait dengan analisis rasional terhadap domain yang hendak diukur untuk mengetahui keterwakilan instrumen dengan kemampuan yang hendak diukur.

Djemari Mardapi (2008: 16), menambahkan, kesahihan isi dapat dilihat dari kisi-kisi tes, yaitu matrik yang menunjukkan bahan tes serta tingkat berpikir yang terlibat dalam mengerjakan tes. Kesahihan ini ditelaah sebelum tes digunakan. Selanjutnya Saifuddin Azwar (2015: 42) menjelaskan bahwa validitas isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap kelayakan atau relevansi isi tes melalui analisis rasional oleh panel yang berkompeten atau melalui expert judgment.

Melalui hal tersebut dapat dipahami bahwa, validitas isi lebih berkaitan dengan kesesuaian item tes dengan materi yang akan diukur. Keterkaitan antara item tes dengan materi ini memang hanya dapat diuji kelayakannya oleh pakar yang berkompeten pada materi tersebut. Walaupun akan bersifat subyektif, namun judgment dari pakar tetap diperlukan untuk meninjau apakah tes telah mencakup keseluruhan isi kawasan kemampuan yang akan diukur menurut sudut pandang dari materi tersebut, atau dalam kata lain judgment pakar tetap diperlukan dalam hal ini karena judgment tersebut dapat dipertanggung jawabkan.

Selain berkaitan dengan upaya mengetahui kesesuaian antara isi item dengan materi yang akan diukur, Saifuddin Azwar (2015: 42) menjelaskan bahwa, “validitas isi juga berkaitan dengan item-item yang harus relevan dengan tujuan yang hendak diukur, yakni item-item yang tidak keluar dari batasan tujuan ukur”. Walaupun isinya komprehensif, tetapi bila tes tersebut mengikutsertakan pula item-item yang tidak relevan dan berkaitan dengan hal-hal di luar tujuan ukurnya, maka validitas tes tersebut tidaklah dapat dikatakan memenuhi ciri validitas yang seungguhnya.

Validitas isi sendiri dibagi menjadi dua, yakni validitas tampang (face vaidity) dan validitas logis (logical validity). Validitas tampang bersifat kualitatif dan judgmental karena berasal dari expert judgment. Sedangkan, validitas logis bersifat kuantitatif, yang dilakukan dengan menghitung seberapa tinggi kesepakatan para expert. Hal ini dapat dilakukan dengan mencari koefisien validitas isi-Aiken’V atau rasio validitas isi-Lawshe’s CVR.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa validitas isi berkaitan dengan ketepatan isi suatu instrumen dengan materi yang hendak diungkap dan tujuan dari penilian. Validitas tampang ini dapat dilakukan dengan mengkonsultasikan isi instrumen dengan pakar/ahli/ expert judgment. Hasil dari telaah pada tampang beberapa ahli tersebut kemudian diolah untuk mencari koefisien validitas isi, untuk memenuhi validitas logis, sehingga validitas isi terpenuhi secara keseluruhan.

b. Validitas Konstruk (Construct Validity)

Saifuddin Azwar (2015: 116) menjelaskan bahwa validasi konstruk membuktikan apakah hasil pengukuran yang diperoleh melalui item-item tes berkorelasi tinggi dengan konstruk teoritik yang mendasari penyusunan tes tersebut.

Selanjutnya, Bambang Subali (2012: 43) mengemukakan bahwa, “persoalan yang dihadapi dalam pemenuhan validitas konstruk dalam ranah kognitif bukan hanya teerbatas pada kesesuaian item dengan indikator dengan pencapaian kompetensi. Persoalan yang mendasar adalah apakah sejumlah kompetensi yang diukur berada pada satu dimensi”. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa validasi konstruk berkaitan konstruk dari item yang dikembangkan, yang disesuaikan dengan kompetensi yang hendak diketahui.

Agar dapat mengetahui validitas konstruk ini tentu yang dilakukan adalah menjabarkan apa yang hendak diukur. Bambang Subali (2012: 43) menjelaskan bahwa, cara untuk memenuhi validitas konstruk adalah dengan membuat definisi operasional variabel yang akan diukur. Jika akan mengukur minat, maka dibuat terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan minat secara operasional. Dari definisi operasional yang sudah dirumuskan selanjutnya dicari indikator-indikatornya. Dengan cara demikian, pemenuhan unidimensionalitas variabel yang akan diukur berpeluang dapat dipenuhi. Setelah variabel yang akan diukur dijabarkan ke dalam indikator-indikatornya barulah disusun pertanyaan-pertanyaan yang mencerminkan masing-masing indikator tersebut. Dengan demikian, alat uji akan memiliki kesahihan konstruk jika item-itemnya mencerminkan indikator-indikator dari variabel yang diukur.

Maka, untuk dapat memenuhi validitas konstruk ini dapat dilakukan melalui penelaahan definisi operasional variabel yang akan diukur, indikator yang dikembangkan dan pertanyaan-pertanyaan yang disusun.

Kemudian, untuk mendapatkan ketepatan konstruk, tidak hanya diperlukan penelaahan namun juga pengujian secara empiris. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Djemari Mardapi (2008: 16) yang menyatakan bahwa, bukti kesahihan konstruk diperoleh validitas dari hasil penggunaan tes, yaitu data empirik. Djemari Mardapi (2008: 20-21) menjelaskan bahwa,validasi bisa mencakup studi empiris bagaimana catatan pengamat atau judge dan evaluasi data bersamaan dengan analisis ketepatan proses dengan penafsiran definisi konstruk. Bukti berdasarkan pola respons mencakup konstruk validiti, yaitu sejauh mana hasil pengukuran dapat ditafsirkan sesuai dengan definisi yang digunakan. Definisi atau konsep yang diukur berasal dari teori yang digunakan. Oleh karena itu harus ada pembahasan teori yang menjadi penentuan konstruk suatu instrumen atau tes.

Selanjutnya, Saifudin Azwar (2015: 45) juga mengemukakan bahwa validitas konstruk merupakan validitas yang menunjukkan sejauh mana hasil tes mampu mengungkap suatu trait atau suatu konstrak teoritik yang hendak diukurnya. Pengujian validitas konstrak merupakan proses yang terus berlanjut sejalan dengan perkembangan konsep mengenai trait yang diukur. Hasil dari uji empiris ini, dapat diketahui validitasnya baik melalui teori tes klasik maupun teori respon butir.

c.  Validitas Berdasarkan Kriteria

Saifuddin Azwar menjelaskan (2015: 131) dalam prosedur validasi berdasar kriteria (criterion-related validity), tes yang akan diestimasi validitas hasil ukurnya disebut sebagai prediktor. Statistik yang digunakan dalam pendekatan validasi ini adalah statistik korelasi antara distribusi skor tes sebagai prediktor.

d. Validitas Internal

Validitas internal merupakan derajat bias tingkat kepercayaan terhadap suatu hasil penelitian karena keakuratan alat ukur yang digunakan. Validitas ini mengacu pada kemampuan alat ukur untuk membuat penjelasan yang masuk akal mengenai hasil penelitian yang didapatkan.

Validitas internal merupakan validitas yang berhubungan dengan sejauh mana hubungan antar variabel dalam penelitian. Validitas ini bertujuan untuk memastikan tidak adanya bias dalam penelitian sehingga hasil penelitian dapat dipercaya dan bermakna.

Validitas internal memiliki beberapa ancaman yang tidak dapat dihindari. Ancaman ini dapat terjadi sendiri atau berbarengan dan membuat hasil penelitian yang masuk akal tetapi tidak sesuai dengan hipotesis penelitian. Berikut adalah faktor yang dapat mempengaruhi validitas internal:

1. Sejarah (History)

Peristiwa yang terjadi di masa lalu terkadang masih dapat mempengaruhi subjek atau fenomena. Oleh karena itu, perubahan variabel yang disebabkan oleh sejarah atau pengalaman subjek penelitian mengenai topik yang akan diteliti harus dihindari agar alat ukur memiliki validitas internal yang baik. Terdapat dua jenis sejarah yang dapat mempengaruhi validitas internal:

  • Proactive history: Faktor perbedaan individu yang sudah menempel pada individu, seperti jenis kelamin, usia, sikap, intelegensi, dan lain-lain.
  • Retroactive history: Faktor retroactive history hanya dapat mempengaruhi penelitian yang mengunakan
  • pretes-postes. Faktor ini menekankan bahwa mungkin terjadi perubahan pada jarak waktu antara pengukuran
  • pretes dan postes. Faktor ini dapat dikendalikan dengan teknik konstansi, di mana subjek penelitian tidak memiliki teman atau relasi yang memiliki permasalahan yang sama dengan tema penelitian.

2. Kematangan (Maturitas)

Subjek penelitian selalu mengalami pertumbuhan dan perkembangan, tetapi peneliti tidak boleh membiarkan faktor ini mempengaruhi variabel karena perubahan yang terjadi tidak disebabkan oleh eksperimen atau kontrol peneliti, melainkan kematangan atau maturitas subjek penelitian. Hal ini dapat mempengaruhi validitas internal karena perubahan pada subjek tidak disebabkan oleh eksperimen atau kontrol peneliti.

3. Seleksi (Selection)

Seleksi atau pemilihan anggota kelompok yang akan diteliti juga mempengaruhi validitas internal suatu penelitian. Anggota kelompok yang dipilih harus memiliki karakteristik yang serupa, sebagai contoh, ketika meneliti kasus diabetes, kelompok eksperimen dan kelompok kontrol harus memiliki riwayat penyakit yang serupa sehingga hasil penelitian tidak dipengaruhi oleh karakteristik lain yang dapat mengancam validitas internal dari hasil penelitian

4. Prosedur Tes (Testing)

Pengalaman subjek penelitian yang telah melakukan tes. Subyek yang baru di tes dengan subyek yang pernah melakukan tes akan memiliki hasil yang berbeda. Hal ini disebabkan karena subyek yang pernah melakukan tes kemungkinan masih mengingat jawaban yang pernah ia isi. Sehingga pada tes berikutnya, subyek tersebut mengganti jawabannya. Hal semacam inilah yang membuat jawaban yang didapatkan oleh peneliti menjadi tidak alami karena subyek penelitian telah memperbaiki jawabannya.

5. Instrumen

Instrumen atau alat ukur biasanya digunakan dua kali, yaitu pada saat sebelum perlakuan atau eksperimen dan setelahnya. Subjek peneliti bisa saja mengisi alat ukur yang diberikan setelah perlakuan atau eksperimen agar mendapatkan nilai yang baik. Sebagai contoh, penderita diabetes diberikan alat ukur berupa kuesioner untuk mengukur gejala diabetes yang dialami.

Setelah mengisi alat ukur, penderita diabetes diberikan penyuluhan mengenai makanan untuk penderita diabetes dan minuman apa saja yang boleh dikonsumsi selama dua minggu mendatang. Setelah dua minggu kemudian, peneliti kembali memberikan kuesioner untuk mengukur gejala diabetes dari subjek penelitiannya. Jika penderita diabetes yang merupakan subjek penelitian berbohong pada kuesioner pasca penyuluhan, maka validitas internal dari hasil penelitian tersebut menjadi tidak valid.

6. Mortalitas (Mortality)

Saat melakukan penelitian atau eksperimen, terdapat subjek penelitian yang ‘drop out’ karena berbagai alasan di antara waktu pretes (sebelum eksperimen atau perlakuan) dan postes (setelah eksperimen atau perlakuan). ‘Drop out’ dapat disebabkan oleh subjek yang berpindah tempat tinggal, tidak ingin melanjutkan penelitian lagi, sakit atau meninggal dunia. Faktor ini juga dapat mempengaruhi validitas internal dari penelitian.

7. Regresi ke Arah Nilai Rata-rata (Regression Toward The Mean)

Faktor ini dapat diketahui ancamannya setelah data telah diproses. Nilai ekstrim tinggi atau rendah dari hasil pretes menjadi tidak ekstrim lagi pada pengukuran kedua. Perubahan ini bukan merupakan perubahan yang sebenarnya, melainkan perubahan semu. Oleh karena itu, regresi ke arah nilai rata-rata ini juga disebut dengan regresi semu atau regression artifact.

Untuk memastikan penelitian menghasilkan hasil yang valid, maka semua faktor yang telah disebutkan di atas harus dikontrol oleh peneliti. Jika faktor-faktor ini dibiarkan begitu saja, maka kemungkinan hasil penelitian menjadi tidak valid menjadi semakin tinggi sehingga tidak dapat memberikan kesimpulan yang bermakna.

Penerapan Validitas Internal dalam Bidang Kesehatan

Validitas internal dapat diterapkan di penelitian pada segala bidang, termasuk bidang kesehatan. Sebagai contoh, jika ingin meneliti mengenai efektifitas obat pada pasien, maka perlu memastikan faktor-faktor yang dapat mengancam validitas perlu dihilangkan, diantaranya:

  • Pasien harus dipastikan memiliki pengalaman yang sama mengenai obat tersebut, yaitu sama-sama pernah mengonsumsi obat tersebut atau sama-sama tidak pernah mengonsumsi obat tersebut.
  • Dosis obat yang diberikan juga harus sama untuk semua pasien.
  • Obat yang harus diberikan pada waktu yang bersamaan agar faktor tersebut tidak mempengaruhi hasil penelitian.
  • Pasien juga harus berjanji untuk tidak meninggalkan penelitian secara tiba-tiba agar faktor mortalitas dapat dikontrol.

Tahapan validitas Instrumen Penelitian

Di atas kita telah panjang lebar membahas pengertian dan macam-macam validitas instrumen.

Sekarang, kita akan membahas bagaimana tahapan-tahapan dalam melakukan validitas suatu instrumen yang kita buat.

Tahapan ini mungkin lebih tepatnya bisa dibilang sebagai tahapan menyusun instrumen, Tapi tidak masalah kita cantumkan kembali di sini secara singkat.

Pertama, sebelum memulai menulis butir soal / item pertanyaan instrumen yang akan dibuat, sebaiknya tentukan indikatornya terlebih dahulu.

Menentukan indikator akan dapat membantu Anda dalam menyusun soal-soal / pertanyaan.

Kalau soal-soal pelajaran, indikator mungkin sudah dijabarkan pada rancangan program pembelajaran.

Tetapi bila kaitannya dengan variabel yang akan diteliti? tentu harus membuatnya sendiri.

Kalaupun sudah ada, apakah instrumen tersebut dapat digunakan pada situasi lokasi / peserta didik yang Anda jadikan subyek penelitian? hal ini tentu menjadi pertanyaan.

Sebagai contoh, penelitian Anda mengukur seberapa besar pengaruh motivasi terhadap prestasi belajar peserta didik. (Judul paling laris manis di persilatan penelitian pendidikan S-1 hehe)

Mendadak kita jadi guru konseling ini mah. hehe

Bagaimana cara Anda mengukur motivasi peserta didik? apakah langsung menanyakan apa kamu minat ikut pelajaran saya?

Permasalahannya, apakah pertanyaan tersebut mewakili pernyataan yang berkaitan dengan motivasi? jika iya Anda beruntuk jika tidak? bisa-bisa instrumen Anda tidak valid.

Caranya, rumuskan indikator terkait motivasi dari kajian teori yang Anda bangun.

Setelah ketemu indikatornya, barulah Anda bisa menyusun butir soal dari tiap indikator tersebut.

Kedua, Setelah indikator dibuat, sebelum menyusun item pertanyaan, konsultasikan terlebih dahulu indikator yang telah Anda rumuskan kepada Ahli.

Tim ahli akan memvalidasi indikator-indikator yang telah Anda susun berdasarkan keilmuan mereka.

Apakah sembarang orang bisa dikatakan ahli? tentu tidak. Harus ada kualifikasi dari setiap instrumen yang Anda buat.

Jangan sampai soal fisika kamu validasi ke dosen biologi. Jelas tidak akan valid.

Dikatakan ahli setidaknya dia telah menyelesaikan program Strata dua untuk kamu yang masih menulis skirpsi.

Bila yang kamu susun itu adalah thesis, maka setidaknya carilah ahli yang bergelar profesor.

Dalam melakukan validasi ahli, setidaknya membutuhkan minimal 3 ahli untuk dapat menentukan validitasnya.

Nantinya mereka akan mereview beberapa butir soal berdasarkan keilmuan mereka. Kemudian memberikan saran atau perbaikan bila memang ada yang perlu diperbaiki.

Ketiga, lakukan perbaikan berdasarkan komentar dan saran yang diberikan oleh mereka, kemudian ajukan kembali untuk memastikannya.

Jika mereka sudah menyatakan oke, maka kamu bisa lanjut menyusun butir pertanyaan berdasarkan indikator yang sudah oke tadi.

Keempat, menyusun butir soal / pertanyaan dan melakukan validasi ahli

Kelima, melakukan revisi terhadap item pertanyaan yang telah divalidasi ahli sesuai dengan komentar dan saran mereka. Kemudian kembali serangkan item pertanyaan yang sudah Anda revisi kepada ahli. Jika item soal sudah oke, lanjut melakukan uji coba.

Keenam, sebelum digunakan dalam penelitian, terlebih dahulu lakukan uji coba item pertanyaan kepada sampel uji. Setidaknya membutuhkan 100 sampel dalam melakukan uji coba.

Ketujuh, lakukan uji validitas soal yang anda ujikan kepada sampel uji menggunakan persamaan uji validitas yang Anda kuasai.

Dari situ kita akan mengetahui berapa item pertanyaan yang dapat kita pakai untuk dijadikan instrumen pada saat penelitian nanti.

Sortir item pertanyaan dan buang pertanyaan yang tidak valid.

Setelah memperoleh pertanyaan yang valid, kita lanjut ke uji sampel yang ke 2. Tujuannya untuk menentukan apakah item pertanyaan tersebut reliabel atau tidak.

Jika ternyata tidak, maka seharusnya kamu mengulang lagi membuat / menyusun item pertanyaan.

Namun jika sudah reliabel dan valid, maka kamu bisa lanjut menggunakan item pertanyaan tersebut untuk penelitian.

Nah dari sini kamu bisa mulai melakukan uji hipotesis berdasarkan hasil dari soal-soal yang sudah valid dan reliabel tersebut.

Jadi jangan kebalik ya, bukan skor hasil dari sampel penelitian yang kamu gunakan untuk uji validitas, melainkan skor dari hasil sampel uji yang digunakan untuk uji validitas.

Skor jawaban dari soal pada saat penelitian itu kita gunakan untuk penarikan kesimpulan hipotesis. Apakah hipotesis kita diterima atau ditolak.

Cara Melakukan Uji Validitas

Setelah memahami dengan baik, langkah selanjutnya adalah melakukan perhitungan atau pengujian suatu instrumen penelitian. Pengujian instrumen dilakukan agar kita dapat mengetahui apakah instrumen yang kita gunakan sudah tepat sasaran ataukah belum.

Ada beberapa cara yang dapat kamu lakukan yaitu:

1. Cara manual
2. Menggunakan Aplikasi seperti SPSS
3. Semi auto, menggunakan bantuan excel

Rumus Manual Uji Validitas

Jika Anda memilih untuk menganalisis secara manual, Ada beberapa persamaan yang dapat Anda gunakan untuk melakukan uji validitas terhadap instrumen penelitian Anda.

Korelasi Pearson

Salah satu yang paling sering digunakan yaitu persamaan Korelasi Pearson.

Meskipun di SPSS juga ada perhitungan menggunakan korelasi pearson ini, tetapi sebagai pemula, sebaiknya lakukan secara manual biar lebih mengerti detailnya dalam melakukan analisis

Rumus atau persamaan Korelasi Pearson adalah sebagai berikut:

korelasi pearson

Contoh Uji Validitas Secara Manual

Nah, berikut ini Wawasan Edukasi mencoba memberikan contoh bagaimana cara melakukan uji validitas.

rumus yang digunakan adalah

korelasi pearson

1. Siapkan Lembar Kerja atau Skor Hasil Pengujian Soal

Pengujian validitas pada suatu instrumen tes pada dasarnya dilakukan untuk tiap item soal yang kemudian di bandingkan dengan r tabel. Jadi agar lebih mudah, siapkan dulu tabelnya.

Kurang lebih seperti itulah contoh lembar kerja untuk melakukan uji validitas.

2. Masukkan data atau skor ke dalam tabel yang telah dibuat

Dalam contoh ini, Wawasan Edukasi menggunakan soal pilihan ganda sehingga skor yang digunakan adalah 0 dan 1. Skor 1 bila jawaban benar dan skor 0 bila jawaban salah.

Setelah data dimasukkan dan dijumlahkan seperti pada gambar di atas, selanjutnya adalah menentukan nilai kuadrat dari total atau (X). Lebih jelasnya lihat gambar di bawah ini.

Setelah memperoleh nilai X kuadrat, selanjutnya kita buat kolom lagi untuk menghitung nilai dari setiap soal dari semua responden.

Jadi, nilai dari keseluruhan siswa pada soal nomor 1 misalnya, kemudian dikalikan dengan total skor (x) dari yang diperoleh siswa. Silahkan lihat kolom X1. itu merupakan hasil perkalian dari kolom 1 (soal nomor 1) dengan kolom X total nilai dari setiap siswa.

Lanjutkan perhitungan tersebut sampai soal terakhir.

Langkah berikutnya adalah mencari nilai kuadrat dari setiap skor pada soal 1

Pada gambar terlihat kolom 1* itu adalah hasil kuadrat dari kolom 1.

Bila tabel penolong sudah selesai dibuat, langkah selanjutnya adalah melakukan perhitungan dengan menggunakan persamaan Korelasi Pearson Product Moment

Cara Melakukan Perhitungan tau Uji Validitas Menggunakan Korelasi Pearson Product Moment

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menuliskan persamaannya terlebih dahulu.

Sebelumnya, tolong perhatikan rumus di atas dengan teliti. Lambang-lambang pada rumus di atas disesuaikan dengan kolom atau tabel yang telah dibuat sebelumnya pada pembahasan di atas. Jadi lakukan perhitungan dengan hati-hati.

Setelah menulis rumus pada word atau secara manual, langkah selanjutnya adalah memasukkan nilai-nilai yang telah kita peroleh pada tabel penolong di atas tadi.

Langkah 1.

Masukkan nilai N. Nilai N disini adalah jumlah remponden atau peserta didik yang kita gunakan untuk pengujian. Saya di sini menggunakan hanya 5 sampel.

Perlu diingat, sebaiknya Anda menggunakan sampel yang sesuai dengan aturan pengambilan sampel.

Setelah jumlah sampel Anda masukkan, maka tampilannya sekarang akan menjadi seperti pada gambar.

Langkah 2

Masukkan nilai total dari soal nomor satu seperti pada gambar.

Langkah 3

Masukkan nilai kuadrat dari soal nomor 1. Lihat pada gambar. Hati-hati dengan simbol, karena seringkali orang salah menghitung karena salah penafsiran dengan simbol. Banyak dari mereka melakukan perkalian kuadrat padahal seharusnya dalam rumus tidak dikuadratkan.

Langkah 4.

Masukkan nilai X total seperti yang terlihat pada gambar berikut

Langkah 5

Masukkan nilai total dari X kuadrat. Lihat gambar berikut dan samakan dengan tabel.

Langkah 6

Masukkan nilai total dari perkalian X dengan angka pada soal nomor 1. Lihat gambar di bawah ini dan samakan dengan tabel

Nah, selanjutnya silahkan lakukan perhitungan sampai diperoleh nilai rxy.

Nilai hasil perhitungan yang Anda lakukan pada soal nomor satu, kemudian dibandingan dengan nilai r dalam tabel. Tujuannya adalah untuk memutuskan apakah soal nomor 1 valid dan dapat digunakan ataukah tidak.

Syaratnya agar soal dapat dikatakan Valid dan dapat digunakan adalah apabila nilai r yang kita hitung (r hitung) lebih besar (>) dari nilai r yang ada pada tabel.

Bila Anda tidak bisa menentukan berapa besarnya nilai r pada tabel, tenang, Wawasan Edukasi punya tutorialnya.

Cara Menentukan r tabel

Bila soal nomor satu telah diketahui nilai r hitungnya, maka selanjutnya adalah soal nomor 2. Cara menghitungnya sama seperti soal nomor 1. Ulangi langkah dari atas sampai akhir pada soal nomor 2.

Reliabilitas Tes

Secara sederhana relibilitas dipahami sebagai keajegan atau konsistensi suatu alat ukur. Pengertian realibilitas berkaitan dengan konsistensi. Bambang Subali (2012: 47) menjelaskan bahwa, suatu alat ukur yang dinyatakan reliabel/andal jika memberikan hasil yang sama pada berkali-kali pengulangan pengukuran. Lebih jelas lagi Djemari Mardapi (2012: 51) menjelaskan bahwa reliabilitas atau keandalan merupakan koefisien yang menunjukkan tingkat keajegan atau konsistensi hasil pengukuran suatu tes. Konsistensi berkaitan dengan tingkat kesalahan hasil suatu tes yang berupa skor. Tes yang digunakan di berbagai tempat dengan tujuan yang sama, seperti tes hasil belajar, hasilnya yang berupa skor harus dapat dibandingkan antar tempat. Hasil tes ini juga harus dapat dibandingkan antar waktu untuk mengetahui perkembangan hasil belajar yang dicapai.

Selanjutnya, Frisbie dalam (Bambang Subali, 2012: 47-48) menyatakan bahwa reliabilitas tes hasil belajar diinterpretasikan dengan mengacu pada kriteria (criterion-reference) sehingga item-itemnya memiliki tingkat kesulitan item bervariasi dari mudah sampai sukar (sebagai cerminan tingkat keberhasilan belajar) dan tidak boleh memiliki indeks daya pembeda yang negatif (sebagai cerminan tidak ada/peserta ujian yang cerdas menjawab salah). Oleh karena itu, estimasi error didasarkan  pada tingginya indeks konsistensi (indeks yang tinggi menunjukkan semua testi/peserta ujian yang sudah belajar pasti dapat mengerjakan dengan benar, sementara semua testi/peserta ujian yang belum belajar pasti tidak dapat mengerjakan dengan benar).

Jenis-jenis Reliabilitas

Berikut ini adalah beberapa jenis reliabilitas yang sering digunakan.

1. Reliabilitas antar-Pemeriksa (inter rate reliability)

Inter rate reability digunakan untuk menilai kekonsistenan suatu pengukuran antar waktu yang berbeda. Inter rate pada umumnya melibatkan kesepakatan antar rater.

Jika pada kasus selfreport reliabilitas ditunjukkan dengan konsistensi internal yang terlihat dari antara satu butir dan butir lainnya memiliki korelasi yang tinggi, maka dalam kasus reliabilitas antar rater yang diuji konsistensinya adalah raternya. Jadi posisi butir digantikan dengan posisi orang (rater).

Rater‐rater yang memiliki kesepakatan tinggi terlihat dari posisi subjek yang diobservasi. Jika urutan skor subjek dari Rater A dan B hampir sama maka kedua rater memiliki kesepakatan yang tinggi (Ebel & Frisbie, 1991). Hal ini dikarenakan kesepatakan dioperasionalkan dalam bentuk korelasi. Dari 10 siswa yang diobservasi oleh dua orang rater. Jika penilaian rater A terhadap siswa P paling tinggi dibanding dengan siswa lainnya, dan Rater B juga demikian maka kedua rater dapat dikatakan konsisten. Dalam hal ini masalah apakah Rater A pelit memberikan skor sedangkan rater B tergolong murah dalam memberikan skor tidak mempengaruhi.

Uji Perbandingan Ganda

Uji Perbandingan Ganda Wawasan Edukasi – Anova (Analisis Of Varians) adalah analisis untuk menguji perbedaan mean (rata-rata) data yang lebih dari dua kelompok. Beberapa...
Wawasan Edukasi
2 min read

Cara Melakukan Uji Analisis Taraf Kesukaran Pada Soal

Taraf Kesukaran – Analisis taraf kesukaran soal merupakan uji lanjutan dari uji validitas soal. Analisis taraf kesukaran soal juga merupakan dasar pertimbangan dari uji...
Wawasan Edukasi
32 sec read

Cara Menghitung Nilai R dan Membaca / Mencari R…

Wawasan Edukasi – R Tabel merupakan tabel angka yang digunakan untuk menguji hasil uji validitas suatu instrumen penelitian. Cara membaca R Tabel sebenarnya sangat...
Wawasan Edukasi
59 sec read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *