Pandemi Covid-19, Apa yang Akan Dilakukan Ki Hajar Dewantara?

2 min read

Situasi pandemik Covid19 sekarang ini membuat gambar pendidikan Indonesia mendadak berubah. Semua pemangku kepentingan, baik pemerintah, sekolah, maupun orang tua terpaksa berubah.

Pendidikan yang sering diidentikkan dengan pergi ke sebuah bangunan bernama sekolah, dan di dalam ruang berbatas tembok bernama kelas harus mereka ubah menjadi Pendidikan jarak jauh (PJJ) atau Belajar dari Rumah (BDR). Aturan berubah. Metode mengajar berubah. Bentuk komunikasi berubah. Cara penilaian berubah. Semua berubah.

Dalam kebingungan dan semua yang serba mendadak, ada yang siap berubah dan masih banyak yang belum dapat mengikuti perubahan. Ada yang mampu memberikan PJJ yang bermakna, ada yang masih bingung, dan masih banyak yang seadanya. Ada yang sudah dengan sangat serius dan terencana menempatkan murid sebagai pemangku kepentingan yang utama, ada yang masih melihat murid sebagai objek yang wajib menjalankan aturan saja.

Sigap Berubah

Sekolah-sekolah yang sigap berubah dan melakukan PJJ dengan bermakna rupanya memang sebelum pandemi pun sudah menempatkan murid sebagai yang paling utama dalam fokus mereka. Seperti yang Ki Hajar Dewantara tuliskan, sekolah-sekolah itu sadar betul bahwa tujuan Pendidikan adalah untuk mendatangkan keselamatan dan kebahagiaan bagi anak-anak. Istilah ”Wellbeing” yang sekarang sering didengungkan sudah lama menjadi bagian dari filosofi Ki Hajar Dewantara.

Bagi Ki Hajar Dewantara, tugas utama pendidik adalah mendampingi anak agar bertumbuh secara kodratnya, menebalkan garis-garis yang masih buram, yang sudah ada dari dahulunya, menumbuhkembangkan cipta, rasa, dan karsa—Wellbeing yang lebih kaya dan dalam, dibandingkan ketuntasan pengerjaan tugas semata.

Ki Hajar Dewantara tentu bersyukur. Sekolah-sekolah ini memang mempunyai akses, fasilitas, system, dan guru-guru yang memang siap untuk berubah setiap saat. Di lain pihak Ki Hajar Dewantara pasti juga gundah. Sama seperti dia gelisah ketika sahabatnya tidak bisa bersekolah bersamanya karena berbeda kasta, dia pasti melihat begitu banyak sekolah-sekolah yang gagap menanggapi perubahan.

Tidak siap berubah

Apa yang membuat banyak sekolah tidak siap berubah? Bisa jadi karena selama ini tidak ada ruang untuk mendorong perubahan. Cara mengajar yang seragam, soal-soal penilaian yang seragam, penanganan murid yang seragam, visi misi sekolah yang kembar deret merupakan kelaziman yang terlihat. Indikator kesuksesan sekolah adalah keseragaman.

Bagi sekolah-sekolah itu, ”berubah” mungkin sama dengan lebih taat mengikuti aturan yang ada. Berubah untuk berbeda bukan pilihan yang bijak. Ki Hajar Dewantara mungkin akan masygul. Apakah para pemangku kebijakan di Pendidikan memahami asas tri-kon yang dia katakan berulang-ulang? Bukankah dalam azas itu perubahan diterima sebagai keniscayaan? Bukankah padi tidak dapat dipaksa tumbuh jadi jagung. Jagung tidak dapat dipelihara seperti tanaman kedele. Mustahil! Dan bukankah Covid-19 memberikan kesempatan yang sangat besar untuk mendampingi murid secara merdeka? Ia mungkin akan lanjut berkata bahwa ada banyak tujuan dan cara pendidikan yang berbeda-beda. Pendidikan selayaknya memerdekakan anak yang dilayani.

Perubahan yang Berpihak

Dalam suasana Covid-19 ini, Ki Hajar Dewantara juga sadar, negerinya belum jauh beranjak. Ada banyak yang memang tidak punya akses dan fasilitas untuk berubah. PJJ menuntut paling tidak adanya akses sinyal yang kuat dan ketersediaan listrik yang terus menerus. Tidak semua daerah memiliki kemewahan ini, dan tidak semua rumah mampu memenuhinya. Kesetaraan akses agar PJJ dapat terselenggara menjadi kewajiban mendasar dari pemerintah. Dia akan menganjurkan agar perubahan yang cepat dan serentak itu dipikirkan terlebih seksama sebelum kebijakan PJJ itu diluncurkan.

Selain akses yang tidak merata, Ki Hajar Dewantara peka, sama seperti dia peka ketika memulai Perguruan Taman Siswa, ada banyak masyarakat yang belum memiliki fasilitas memadai untuk dapat memenuhi PJJ ini. Tidak semua guru maupun anak mempunyai gawai atau laptop yang memenuhi syarat untuk melakukan PJJ dengan baik dan bermakna. Tidak semuanya berkelas dunia.

Dalam membuat kebijakan Pendidikan menyikapi Covid-19, Ki Hajar Dewantara akan lebih memikirkan rakyat jelata secara merata. Keberpihakan pada rakyat, termasuk mereka yang tidak memiliki baik akses maupun fasilitas akan ia utamakan. Menyediakan kebijakan PJJ tentu sesuatu yang baik agar anak tetap mendapatkan haknya terhadap Pendidikan. Ki Hajar Dewantara pasti akan membuat rancangan yang jelas agar hak atas pendidikan yang berkualitas tidak semata-mata terjadi karena kelas dipindahkan menjadi PJJ dan penggunaan aplikasi untuk belajar.

Meninggalkan mereka yang papa jelas bukan filosofi Ki Hajar Dewantara. Ada bersama mereka yang lemah selalu menjadi roh yang menggerakannya. Ki Hajar Dewantara berjuang, melepaskan kebangsawanannya, mewakafkan hak pribadinya, semuanya demi rakyat jelata.

PPDB KABUPATEN JOMBANG SUDAH DIBUKA, BURUAN SIAPKAN DIRIMU!

Penerimaan Peserta Didik Baru di Kabupaten Jombang sudah dibuka untuk umum. Pemerintah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana guna memperlancar kegiatan tersebut. Mulai dari sistem...
Ima Ruhma
2 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *