Resiko Terlalu Besar, Jokowi Putuskan Tunda New Normal Sektor Sekolah,

2 min read

JAKARTA-Keputusan pembukaan sekolah di masa pandemi Virus COVID-19, masih diperbincangkan.

Kabar terbaru adalah arahan dari Presiden Jokowi untuk mengeluarkan ide di sektor pendidikan dengan menerapkan era new normal.

Presiden Jokowi memutuskan untuk menunda masuknya sekolah. Menko PMK Muhadjir Effendy akan membahas khusus kapan masuk sekolah bersama Kemendikbud.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy memberikan tanggapan terkait rencana penerapan new normal, khususnya di sektor pendidikan.

Muhadjir Effendy menyampaikan bahwa saran dari Presiden Jokowi harus dipikirkan matang-matang.

Hal ini disampaikan Muhadjir Effendy pada Jumat (29/5/2020). Dirinya mengatakan Presiden Jokowi tidak ingin terburu-buru melakukan penerapan new normal di sekolah-sekolah.

“Untuk pengurangan pembatasan di sektor pendidikan akan kita godok dulu semateng mungkin,” ujar Muhadjir Effendy.

“Jadi Pak Presiden wanti-wanti untuk tidak grusa-grusu,” imbuhnya.

Sependapat dengan saran presiden, Muhadjir Effendy menilai untuk sektor pendidikan memang harus mendapatkan perhatian khusus.

Dalam waktu dekat ini Ia menilai bahwa penerapan new normal di sekolah masih sangat berisiko.

Menurutnya, protokol keselamatan di sekolah berbeda kondisinya dengan sektor umum lainnya.

Terlebih yang dihadapi adalah anak-anak.

“Risikonya terlalu besar untuk sektor pendidikan,” jelasnya.

Maka dari itu untuk mengantisipasi terjadinya risiko tersebut, pemerintah bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan masih terus mengkaji kemungkinan tersebut.

Seperti yang diketahui kalender pendidikan Indonesia, pada umumpunya sekolah akan memasuki ajaran baru pada 13 Juli 2020.

Secara pribadi dirinya tidak ingin sekolah menjadi klaster baru penyebaran Virus Corona.

“Dan kalau nanti salah kelola itu bisa menjadi klaster baru dan kalau menjadi klaster baru nanti citranya nanti kurang bagus atau bahkan membahayakan karena ini menyangkut anak-anak,” pungkasnya.

Respon KPAI

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengungkapkan hasil angket yang telah diunggahnya. Dari kalkulasi yang didapatkan, 80 persen responden yang berasal dari orang tua menolak sekolah dibuka kembali saat tahun ajaran baru.

Meski dengan aturan new normal, para orangtua tersebut tetap khawatir karena situasi pandemi yang masih belum teratasi.

Hal ini berkebalikan dengan hasil survei dari responden anak-anak yang menginginkan untuk bisa kembali ke sekolah.

Mereka diduga jenuh menjalani sistem belajar dari rumah selama kurang lebih hampir 3 bulan dan ingin segera bertemu kembali dengan teman-teman di sekolah.

Retno menuturkan bahwa hampir 200.000 orangtua murid berpartisipasi dalam survei tersebut.

Ia juga menyebutkan bahwa kebanyakan dari mereka menolak untuk menyekolahkan anaknya kembali bila pandemi belum berakhir.

“Yang mengejutkan adalah, dalam 32 jam sejak itu diunggah di Facebok pribadi saya, itu saya cukup terkejut karena ada 196.000 orang tua lebih, yang mengungkapkan pendapatnya,” ungkap Retno.

“Dan mayoritas orang tua, lebih dari 80 persen memang menolak sekolah dibuka pada tahun ajaran baru ini.”

“Jadi Juli dibuka itu mereka keberatan, mereka memberikan beberapa usul di antaranya September atau Desember, nah ini sesuatu yang luar biasa,” tambahnya.

Retno tak kuasa menahan tawa karena hasil survei selanjutnya tak kalah mengejutkan.

Pasalnya, berkebalikan dengan keinginan orangtua, para siswa yang mengikuti survei tersebut malah ingin segera bersekolah kembali.

“Tapi murid, kami kan juga nanya sama murid. Ada 9.800 murid yang mengisi, dan uniknya kebalikan.

Mereka setuju 80 persen masuk sekolah gitu ya,” kata Retno sambil tertawa.

Kemudian, Retno juga mengatakan bahwa pihaknya juga mengambil sampel dari respon para guru.

“Nah guru juga kami tanya, guru itu 60 persen setuju sekolah, tetapi 40 persen tidak,” ujarnya.

Menurut Retno, banyaknya siswa yang menginginkan tetap masuk sekolah diduga karena merasa jenuh melakukan gerakan #DiRumahAja termasuk belajar.

Ia menyebutkan bahwa hasil angket tersebut merupakan hal yang menarik karena menunjukkan bahwa kegiatan belajar di rumah tersebut ternyata tidak begitu menyenangkan untuk siswa.

“Nah ini menunjukkan memang PJJ seperti yang pernah kita bicarakan itu menjenuhkan dan anak-anak pengin nggak lama-lama belajar dari rumah.

Itu fakta yang menarik menurut saya,” pungkas Retno.

PPDB KABUPATEN JOMBANG SUDAH DIBUKA, BURUAN SIAPKAN DIRIMU!

Penerimaan Peserta Didik Baru di Kabupaten Jombang sudah dibuka untuk umum. Pemerintah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana guna memperlancar kegiatan tersebut. Mulai dari sistem...
Ima Ruhma
2 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *