New Normal Dalam Dunia Pendidikan, Akademisi Unair: Kurikulum Harus Adaptif

1 min read

Surabaya – Pandemi Covid-19 kini memaksa hampir semua penduduk dunia melakukan perubahan dan menjalani new normal (normal baru), termasuk dalam dunia pendidikan. Bekerja dan belajar dari rumah menjadi salah satu pilihan untuk menjalani hidup di tengah masalah kesehatan global.

Di dunia pendidikan, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, kini tidak luput dari penerapan proses pembelajaran dari rumah. Wakil Dekan I Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga (Unair) Kusnanto mengatakan, kurikulum adaptif sangat diperlukan untuk menghadapi pandemi dan persiapan dalam menghadapi era new normal.

Kegiatan belajar yang dialihkan dari rumah, kata dia, harus dibarengi dengan penerapan kurikulum adaptif sehingga proses interaksi antara mahasiswa dengan dosen dapat berjalan dengan baik serta tujuan pembelajaran dapat tercapai.

“Perhatikan kondisi saat ini dan juga perkembangan zaman yang sangat cepat perubahannya bahkan tidak terprediksi maka diperlukan sebuah kurikulum adaptif,” ucapnya saat menjadi pemateri pada web seminar yang diadakan oleh FKP Unair, Selasa (2/6/2020), seperti dilansir dari laman Unair News.

Pembelajaran jarak jauh jadi pola kurikulum adaptif Pelaksanaan pembelajaran jarak jauh, lanjut Kusnanto, mau tidak mau harus tetap berlangsung. Menjadi sebuah pola dalam kurikulum adaptif sebagai persiapan untuk menghadapi era new normal.

“Agar pembelajaran tetap dilakukan maka harus dilakukan secara jarak jauh atau daring. Yang tadinya kurang terbiasa bagi beberapa Perguruan Tinggi atau mahasiswa, sekarang harus dibiasakan,” tutur Kusnanto. Namun, Kusnanto juga mengatakan permasalahan lain yang dihadapi di sektor pendidikan adalah tekanan finansial. “Sekarang institusi banyak yang mengalami tekanan finansial. Salah satunya karena orang tua dan mahasiswa meminta potongan biaya kuliah. Tentunya ini akibat dampak pandemi di sektor ekonomi keluarga,” imbuhnya.

Meski begitu, ia menyatakan Perguruan Tinggi tetap memiliki tanggung jawab untuk menjamin lulusan yang memiliki kualifikasi setara dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), mengembangkan kurikulum yang merupakan hak serta kewajiban masing-masing Perguruan tinggi, serta mampu menjawab tantangan yang ada.

Kurikulum harus menjawab tantangan kini dan nanti Meskipun Perguruan Tinggi memiliki kebebasan untuk merancang kurikulum secara mandiri, Kusnanto mengatakan bahwa tetap dipengaruhi oleh kebijakan nasional. “Tentunya kurikulum sangat dipengaruhi oleh kebijakan nasional seperti kebijakan dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan lain sebagainya. Kita lihat kondisi yang saat ini terjadi, bagaimana prediksi ke depan, bagaimana kondisi global, itu semua harus diperhatikan sehingga kurikulum benar-benar mengakomodasi situasi dan kondisi saat ini dan ke depan,” imbuhnya.

Sumber Daya Manusia (SDM), sarana, prasarana, serta stakeholders, menurutnya, juga tak luput dari perhatian untuk mengembangkan kurikulum saat ini. “Tidak ada artinya membuat kurikulum sebagus mungkin jika tidak didukung dengan sarana dan prasarana yang baik. Stakeholders juga demikian harus kita perhatikan supaya nanti ke depan pada akhirnya kita akan menghasilkan lulusan seperti yang diharapkan,” pungkasnya.

PPDB KABUPATEN JOMBANG SUDAH DIBUKA, BURUAN SIAPKAN DIRIMU!

Penerimaan Peserta Didik Baru di Kabupaten Jombang sudah dibuka untuk umum. Pemerintah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana guna memperlancar kegiatan tersebut. Mulai dari sistem...
Ima Ruhma
2 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *