Mahasiswa Keluhkan Biaya UKT Selama Pandemi, Ini Kata Pengamat Pendidikan

1 min read

Sejak pandemi virus corona mulai menginfeksi Indonesia pada awal Maret lalu, seluruh kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi mulai beralih melalui daring atau online. Semenjak itu pula, beragam keluhan mulai dirasakan oleh para mahasiswa, baik dari efektivitas maupun fasilitas pembelajaran yang kurang memadai.

Secara bergiliran, nama sejumlah kampus pun memuncaki tranding di media sosial Twitter dalam beberapa minggu terakhir. Mereka menuntut agar uang kuliah tunggal (UKT) diturunkan dan mendapat fasilitas yang memadai saat kuliah daring, seperti subsidi pulsa bagi mahasiswa.

Banyak dari mereka menganggap bahwa hak yang diterima mahasiswa selama pembelajaran daring tak sebanding dengan biaya uang kuliah tunggal (UKT) yang dibayarkan selama satu semester.

Bahkan sepanjang Selasa (2/6/2020), Tagar MendikbudDicariMahasiswa pun tranding di Twitter dengan 21,7 ribu twit hingga pukul 20.00 WIB.

Menanggapi hal itu, pengamat pendidikan Darmaningtyas meminta agar pemerintah bisa menggratiskan UKT pada mahasiswa di semestar ganjil mendatang. “Bebaskan saja UKT untuk PTN pada semester ini, yang dipersoalkan kan pasti yang akan masuk bulan Juli atau semester ganjil. Karena kuliahnya juga tidak jelas ya lebih baik dibebaskan,” kata Darmaningtyas saat dihubungi, Selasa (2/6/2020).

Menurut dia, UKT pada prinsipnya digunakan untuk menambah biaya operasional pendidikan kampus. Apabila proses pembelajaran berlangsung jarak jauh, dalam hal ini yang terbebani adalah mahasiswa dan dosen.

“Mahasiswa berarti kan tidak memanfaatkan fasilitas kampus. Dosennya kalau di negeri kan sudah dibayar negara,” jelas dia.

Darmaningtyas menyebut pihak kampus bisa memanfaatkan bantuan operasional pendidikan (BOP) untuk membayar hal-hal teknis di kampus, seperti pemeliharaan, listrik, kebersihan, dan lain-lain.

Menurut dia, perguruan tinggi negeri pasti mendapatkan subsidi dari pemerintah, sementara UKT biasanya digunakan untuk mendukung proses pembelajaran. “Kampus negeri itu kan tak ada yang tidak disubsidi pemerintah. UKT itu untuk mengoptimalkan proses pembelajaran, karena anggaran dari pemerintah terbatas,” terang dia.

Di sisi lain, pihaknya juga menyoroti soal pelaksanaan kuliah daring yang dinilainya kurang efektif. Sebab dengan alasan menghemat pulsa, banyak mahasiswa yang mematikan video ketika sedang kuliah, sehingga dosen tidak mengetahui apakah materi yang disampaikan benar-benar didengar. “Ketika kamera dimatikan itu kan enggak tahu (mahasiswa) mendengerkan beneran atau enggak,” kata dia.

Apabila memungkinkan, dia berharap agar pihak kampus tetap menggelar pembelajaran secara offline, meski hanya berlangsung seminggu sekali. Menurutnya, pembelajaran dengan tatap muka tidak akan bisa digantikan oleh media apa pun, meskipun sudah termasuk era digital. “Pembelajaran tatap muka itu tidak bisa digantikan, terutama untuk pendidikan karakter. Pendidikan karakter itu kan keseluruhan,” ungkapnya.

PPDB KABUPATEN JOMBANG SUDAH DIBUKA, BURUAN SIAPKAN DIRIMU!

Penerimaan Peserta Didik Baru di Kabupaten Jombang sudah dibuka untuk umum. Pemerintah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana guna memperlancar kegiatan tersebut. Mulai dari sistem...
Ima Ruhma
2 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *