Keputusan Masuk Sekolah Harus Menunggu Pandemi COVID-19 Teratasi

1 min read

Pekan lalu Prancis telah menemukan setidaknya terdapat 70 kasus COVID-19 baru di sekolah-sekolah yang diizinkan kembali beroperasi. Menteri Pendidikan Jean-Michel Blanquer, dilansir dari Business Insider, kasus-kasus tersebut telah terdeteksi dalam minggu pertama siswa kembali ke sekolah.
Blanquer-pun menyebut kasus tersebut ‘tak terhindarkan’. Menurutnya, ‘hampir semua’ kasus baru tersebut bersumber dari luar sekolah. Sementara di Indonesia, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyatakan keputusan sekolah kembali dibuka merupakan wewenang Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19.

Nadiem menyatakan sudah menyiapkan berbagai skenario terkait jalannya pendidikan di tengah pandemi sekarang ini. Namun ia tak merinci detail skenario tersebut.

Anggota Komisi X DPR, Andreas Hugo Pareira, menyatakan pembukaan kembali sekolah-sekolah baru bisa dimulai jika wabah telah berhasil dikendalikan.
Akan sangat berisiko untuk peserta didik apabila sekolah kembali di buka ketika pandemi COVID-19 belum beDibuk

“Kalau masih wabah seperti ini sangat riskan untuk memulai tahun ajaran,” ujarnya (21/5).

Kemdikbud harus menyiapkan skenario-skenario dalam membuka agenda tahun ajaran baru. Skenario optimistis, artinya wabah ini akan mereda di bulan Mei. “Kalau Juni (COVID-19) berakhir, maka Juli 2020 bisa dimulai tahun ajaran baru 2020-2021,” ujar politisi PDIP itu.

Sedangkan untuk skenario pesimis, wabah ini baru menurun sekitar September-Oktober 2020, dan berakhir Desember sehingga tahun ajaran baru dimulai Januari 2021.”Namun dua skenario ini tingkat kemungkinan pelaksanaannya, bergantung pada tingkat kepatuhan dan disiplin warga bangsa ini mematuhi protokol COVID-19,” ujar Andreas.

Dia juga menegaskan pembukaan kembali sekolah kini bukan masalah pendidikan. Namun sudah jadi persoalan kesehatan. “Kemdikbud harus mempertimbangkan dan mendengar masukan dari Gugus Tugas Nasional yang diberi tugas oleh pemerintah dalam penanggulangan masalah pandemi ini,” ujar Andreas.

Sementara itu, Retno Listyarti,komisioner Komisi Perlindungan Indonesia (KPAI), menyatakan membuka sekolah pada untuk tahun ajaran baru 2020/2021 harus memdapatkan pertimbangkan yang matang oleh pemerintah. Persoalan ini menyangkut keselamatan guru dan terutama jutaan anak-anak Indonesia yang menjadi peserta didik dari PAUD sampai SMA/sederajat.

“Apalagi jika mengingat kondisi terakhir di mana pasar, mal, dan bandara penuh sesak di saat seharusnya kita menjaga jarak dan tetap berada di rumah demi memutus penyebaran dan penularan COVID-19,” ujar Retno, Kamis (21/5).

Menurut Retno, sekolah di negara seperti China kembali beroperasi setelah dinyatakan tak ada lagi pertambahan kasus COVID-19 selama 10 hari. Setelah resmi dibuka pun, para guru yang akan mengajar sudah menjalani isolasi selama 14 hari sebelum sekolah dibuka. “Jadi pembukaan sekolah benar-benar dilaksanakan dengan protokol kesehatan ketat dengan persiapan yang matang,” katanya.

Namun, menurut Retno, persiapan yang matang pun tak menjamin sepenuhnya penyebaran COVID-19 bisa ditekan. Beberapa negara di Eropa yang memiliki sistem kesehatan baik dan membuka sekolah juga persiapan matang dan protokol kesehatan ketat ternyata masih menimbulkan klaster baru di lingkungan sekolah.

Oleh sebab itu, Retno memahami kekhawatiran orang tua dari peserta didik untuk memberikan izin anak-anaknya untuk kembali ke sekolah dalam situasi wabah yang belum sepenuhnya musnah. Dia memberikan saran agar sekolah memfasilitasi peserta didik untuk tetap belajar dari rumah.

“Alasan orang tua sangat jelas, mereka menjaga keselamatan putra atau putrinya,” kata Retno.

PPDB KABUPATEN JOMBANG SUDAH DIBUKA, BURUAN SIAPKAN DIRIMU!

Penerimaan Peserta Didik Baru di Kabupaten Jombang sudah dibuka untuk umum. Pemerintah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana guna memperlancar kegiatan tersebut. Mulai dari sistem...
Ima Ruhma
2 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *