Kemdikbud Siapkan Super Aplikasi Pendidikan untuk Sambut New Normal

1 min read

JawaPos.com – Kondisi pandemi covid-19 yang belum mereda membuat Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (kemdikbud) belum membuat ketentuan atau aturan-aturan terkait new normal di dunia pendidikan. Iwan Syahril, Dirgen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) mengakatan bahwa prioritas utama new normal dalam dunia pendidikan adalah keamaan, kesehatan dan keselamatan bagi para peserta didik dan guru.

Menurutnya, bila daerah aman, akan tetapi sekolahnya tidak aman, maka tetap saja dilarang melaksanakan kegiatan pembelajaran yang mengumpulkan massa. Dia menambahkan bahwa meniadakan kegiatan tatap muka di sekolah bukan berarti memberhentikan proses pembelajaran.

Hal ini disebabkan karena pemerintah memberikan pilihan untuk melaksanakan kegiatan belajar di rumah. Pembelajaran di rumah dapat dilakukan secara online dan offline atau bisa juga dikombinasikan (blended). Yang terpenting adalah kebutuhan siswa dapat terpenuhi dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh.

Iwan juga mengatakan pembelajaran jarak jauh secara online jangan sampai hanya memindahkan tatap muka ceramah di kelas. Lebih dari itu siswa harus difasilitasi untuk aktif belajar. Pembelajaran bukan berpusat pada guru.

Dia mengungkapkan Kemendikbud saat ini juga tengah mengembangkan super aplikasi pendidikan. Super aplikasi ini dapat membantu siswa belajar lebih baik. Iwan mengklaim aplikasi ini jauh lebih canggih dan penggunaannya semudah penggunaan aplikasi populer seperti Gojek atau Tokopedia.

’’Dengan adanya pandemic ini, kita ingin mempercepat atau akselerasi pemanfaatan aplikasi tersebut,’’ tuturnya. Dia berharap aplikasi itu lebih cepat diluncurkan dari rencana semula. Iwan juga mengatakan perlu ada sinergi dengan pihak-pihak lain yan gselama ini sudah menjalankan praktik-praktik baik pendidikan.

Direktur Pendidikan Dasar Tanoto Foundation M. Ari Widowati memaparkan survei yang melibatkan guru, kepala sekolah, orangtua, dan siswa dari 454 sekolah dan madrasah mitra mereka.

’’Salah satu temuan menarik adalah 48,3 persen siswa senang dengan belajar di rumah,’’ katanya dalam webinar yang digelar Kamis (4/6). Sebab gurunya berhasil membuat para siswa belajar lebih menarik, bervariasi, dan bermakna. Sementara itu ada 46,8 persen siswa menyatakan belajar di rumah tidak menyenangkan. Diantara sebabnya adalah terlalu banyak tugas dari guru.

Ari mengatakan di tengah masa pandemi Covid-19, Tanoto Foundation tetap melatih dan mendampingi para guru, kepala sekolah, pengawas, dan dosen LPTK. Pelatihan menggunakan materi yang disesuaikan dengan konteks pembelajaran berbasis teknologi, online, serta offline. Hilmi Setiawan.

Sumber: Jawapos.com

PPDB KABUPATEN JOMBANG SUDAH DIBUKA, BURUAN SIAPKAN DIRIMU!

Penerimaan Peserta Didik Baru di Kabupaten Jombang sudah dibuka untuk umum. Pemerintah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana guna memperlancar kegiatan tersebut. Mulai dari sistem...
Ima Ruhma
2 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *