Kalimat Tauhid

3 min read

syahadat, shahada

Sesungguhnya landasan tauhid adalah ikhlas karena Allah dan ikhlas itu sendiri harus dengan taqwa sedang intisari dari taqwa adalah kalimat Laa ilaaha illallah. Apabila kalimat ini telah menyatu dalam hati seseorang maka cahayanya akan menerangi anggota tubuhnya yang akan memberikan dorongan untuk melakukan amal kebaikan dan berlomba-lomba untuk mendapatkan syurga Allah ‘Azza wajalla yang disediakan khusus bagi orang yang bertaqwa.

Pengertian Kalimat Tauhid

Laa ilaaha illallah bermakna tiada sembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah ‘Azza wajalla “Laa Ma’buda Bi Haqqin Illallahu. Kalimat ini merupakan mahkota dan landasan iman seseorang dan sebagai pintu utama masuknya nilai-nilai tauhid kedalam hati seseorang yang kemudian ia membenarkan apa yang wajib diimani dan membuktikannya dengan amal perbuatan yang nyata.

Kalimat tauhid ini mempunyai dua unsur pengertian, yang pertama yaitu berarti “menafikan”, yaitu mengingkari setiap unsur pribadi yang menyatakan hakikatnya sebagai tuhan selain Allah ‘Azza wajalla, dan yang kedua berarti “Mengitsbatkan” yaitu kalimat yang menetapkan tentang hakikat keTuhanan yang Esa yaitu Allah ‘Azza wajalla.
Kalimat Laa ilaaha illallah yang didahului dengan huruf Nafi “Laa” berarti meniadakan sesuatu, dan kemudian diikuti oleh huruf Istitsna’ “Illa” berarti mengecualikan yang tidak ada menjadi ada, yaitu Allah ‘Azza wajalla, Tuhan yang Mencipta dan Mengatur alam semesta ini.

Allah ‘Azza wajalla berfirman yang artinya:
“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit .Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. (QS. Ibrahim 24-25)

Yang dimaksud dengan kalimat yang baik pada ayat di atas adalah kalimat Tauhid dimana akarnya adalah membenarkan dalam hati, sedang cabangnya pengucapan dengan lisan dan buahnya adalah perbuatan melalui anggota badan.

Ibnu Katsir menafsirkan firman Allah ‘Azza wajalla yang artinya :
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat, karena itu barang siapa yang ingkar kepada thagut (sembahan selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh pada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Al Baqarah : 256)

Beliau mengatakan : “Bahwa orang yang telah melepaskan diri dari belenggu syaithan yang selalu mengajak untuk menyembah selain Allah, dan ia mengEsakan Allah, lalu menyembah hanya kepada-Nya dan dia bersaksi tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, maka dia telah berpegang teguh kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus yaitu pada jalan yang benar”. Menurut Imam Mujahid dalam tafsirnya, bahwa tali yang kuat adalah Iman, sedangkan menurut Sa’id bin Jubair dan Adh Dhahhak bahwa tali yang kuat adalah kalimat Laa ilaaha illallah. Suatu ketika ada seseorang yang berkata kepada Hasan Al Bashri –rahimahullahu- : “Sesungguhnya manusia banyak yang mengatakan bahwa orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah pasti ia akan masuk Syurga !”, kemudian Hasan Al Bashri –rahimahullahu- meluruskan dan menyempurnakan pendapat tersebut dan berkata “Orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah lalu dia melaksanakan hak dan kewajibannya maka orang itu akan masuk Surga”

Syarat-syarat Kalimat Tauhid
Dengan demikian kalimat Laa ilaaha illallah memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang yang mengimaninya yaitu :

Ilmu yang tidak dicampuri dengan kejahilan.
Keyakinan yang tidak dicampuri dengan keraguan
Ikhlas yang tidak dicampuri dengan syirik
Kejujuran yang tidak dicampuri oleh dusta.
Cinta yang tidak dicampuri oleh kebencian
Ketaatan yang tidak dicampuri oleh pembangkangan
Penerimaan yang tidak dicampuri oleh penolakan.
Pengingkaran terhadap seluruh yang disembah selain Allah ‘Azza wajalla.

Fadhilah dari Kalimat Tauhid
Seseorang yang telah mengamalkan kalimat Laa ilaaha illallah ini dengan cara melaksanakan segala perintah Allah ‘Azza wajalla dan menjauhi larangan-Nya, maka dia akan mendapat keutamaan-keutamaan yang sangat agung, diantaranya :

Hartanya dan darahnya diharamkan oleh Allah ‘Azza wajalla, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
مَنْ قَالَ لاَإِلَهَ إِلاَّاللهُ وَكَفَرَ بـــِمَا يُعْبـَدُ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابــُهُ عَلَى اللهِ . رواه البخاري

“Barang siapa yang berkata : Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan ia mengkufuri sesembahan selain Allah maka haramlah (diganggu) hartanya dan darahnya dan perhitungannya atas Allah” (HR.Bukhari)
Tubuhnya tidak akan disentuh oleh api Neraka, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلـِصًا مِنْ قَلْبِــهِ لَمْ تــَمَسَّهُ النـــَّارُ . رواه أحمد و ابن حبان وأبو نعيم

“Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dengan tulus ikhlas dari hatinya, maka ia tidak akan disentuh oleh api Neraka” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Abu Nu’aim)
Kalimat Laa ilaaha illallah merupakan kunci Syurga sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
مَنْ كَانَ آخِرُ كَـلاَمــِـهِ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَــنـــَّةَ .رواه أحمد و الحاكم

“Barangsiapa yang akhir dari perkataan-nya Laa Ilaaha Illallah maka ia akan masuk surga”. (HHR. Ahmad dan Hakim).
Orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah akan dikeluarkan oleh Allah dari Neraka dan dimasukkan kedalam Syurga, sebagaimana dalam hadits Qudsi Allah berfirman :
وَعِزَّتـــِيْ وَجَلاَلِيْ لأُخْرِجَنَّ مِنَ النــَّارِ مَنْ قَالَ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ . رواه البخاري و مسلم

“Demi kemuliaan dan keagungan-Ku sungguh Aku akan mengeluarkan dari api Neraka orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah” (Muttafaqun ‘Alaih).

Dia akan mendapatkan faedah dan manfaat dari kalimat Tauhid, yaitu membentuk suatu sikap yang mulia seperti zuhud (tidak mementingkan kemewahan kehidupan dunia), tawakkal, malu untuk melakukan hal-hal yang diharamkan, syukur terhadap ni’mat Allah ‘Azza wajalla serta kaya hati (yaitu suatu sikap bahwa hatinya hanyalah bersandar kepada Allah ‘Azza wajalla semata).

Dengan mengetahui keutamaan-keutamaan tersebut, maka sudah seharusnya bagi orang yang mengaku beriman dan bertaqwa kepada Allah untuk menginterpretasikan makna dari kalimat tauhid ini kedalam kehidupan sehari-harinya sehingga dapat menimbulkan perasaan cinta yang besar kepada Allah, dan bukti dari kecintaannya tersebut adalah meyakini bahwa Dialah Pencipta alam semesta ini yang Mematikan dan yang Menghidupkan setiap makhluk-Nya dengan melaksanakan ‘ibadah kepada Allah dengan ikhlas, bertawakkal hanya kepada-Nya, meminta pertolongan dan perlindungan hanya kepada-Nya

Maraji’:
1. Terjemah kutaib “Fadhail wa asrar Laa ilaaha illallah “, Muh. Al-Shayim.
2. Fatawa fil Aqidah, Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz –rahimahullahu-.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *