Ceramah Tentang Kematian

Last Update May 12, 2020

Kultum dan Ceramah tentang KematianAssalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, pada artikel ini, Wawasan Edukasi akan memberikan beberapa contoh singkat mengenai ceramah dan kultum tentang kematian. Mungkin materi ini akan sangat cocok dijadikan sebagai bahan untuk berkhutbah atau memberikan ceramah maupun kultum saat selesai sholat agar kita semua kembali mengingat Allah.

Buat pengunjung yang ingin membaca atau mencari tema lain sebagai bahan naskah ceramah ataupun kultum, silahkan baca pada artikel ceramah singkat, untuk naskah pidato, silahkan buka pada artikel contoh pidato singkat dan untuk naskah khutbah jumat, silahkan baca pada artikel contoh khutbah jumat. Semoga semua yang ada di web ini dapat membantu para pengunjung yang sudah mampir kesini.

Kultum dan Ceramah Singkat tentang Kematian

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Untuk pembukaan silahkan pilih di contoh muqaddimah

Setiap nyawa yang hidup di dunia ini, pasti akan mengalami kematian. Hal ini sudah menjadi sunnatullah dan setiap kita tidak akan pernah mengetahui kapan kematian datang menjemput kita.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati…”

Oleh karena itu, sebagai seorang yang beriman, sudah sepantasnya kita senantiasa mengingat kematian sebagai upaya kita untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi kematian bila sudah tiba saatnya nanti.

Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk selalu mengingat kematian dikarenakan kemtian pasti akan tiba tanpa permisi terlebih dahulu. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هادم اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (maksudnya: kematian).”

Dalam hadits ini Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita semua agar selalu mengingat kematian yang dapat memutuskan, mengalahkan, dan menghancurkan kenikmatan yang dapat datang tanpa terduga dan secara tiba-tiba. Ibnu Umar RA berkata: “Aku sedang duduk bersama Rasulullah, maka datanglah seorang laki-laki dari golongan Anshar, lalu ia memberi salam kepada Nabi seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, mukmin yang seperti apa yang paling utama? Beliau menjawab:*

أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

‘Yang paling baik akhlaknya.’

Ia bertanya lagi, ‘Mukmin seperti apakah yang paling cerdas? Beliau menjawab:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا, أُولئِكَ اْلأَكْيَاسُ

“Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik mempersiapkan diri untuk sesudah kematian itu, mereka itulah orang-orang yang cerdas.”

Bila kita hanya mengingat kematian namun tidak pernah mempersiapkan kematian itu sendiri, maka tentu hidup kita akan sia-sia belaka. Oleh karena itu, alangkah baiknya bila kita selalu mengkoreksi diri sendiri daripada sibuk mengkoreksi kesalahan-kesalahan orang lain.

Marilah kita lihat jauh ke dalam diri kita sendiri, apakah sudah kita menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh Allah SWT dan juga Rasulullah SAW? Bila kita telah menjalankan semua perintah dan larangan-Nya, barulah kita bersama-sama mengajak saudara dan teman-teman kita untuk mengikuti jejak dan langkah kita.

Para ulama rahimahullah berkata: sabda Rasulullah SAW yang berbunyi “Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (maksudnya: kematian).” Merupakan kalimat ringkas yang menggabungkan peringatan dan nasihat, maka orang yang teringat kematian dengan sebenarnya pasti akan mengurangi nikmatnya keindahan dunia yang dia rasakan dan menghalanginya berangan-angan yang tak berujung, serta membuat dia bersikap zuhud terhadap kenikmatan dunia yang semu. Akan tetapi jiwa yang kosong dan hati yang lupa membutuhkan nasehat yang panjang dan kalimat yang indah. Jika tidak demikian, maka dalam sabda Nabi “Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (maksudnya: kematian)” dan firman Allah SWT:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati…”

Ucapan di atas seharusnya sudah cukup sebagai pengingat bagi kita semua bahwa suatu saat nanti pasti kita akan mati. Sebagaimana syair perumpamaan Umar bin Khaththab RA berikut ini.

Tidak ada sesuatu yang engkau lihat tetap keceriaannya
Tuhan tetap kekal sedangkan harta dan anak akan binasa
Perbendaharaan harta yang dimiliki Hurmuz[iv], tidak bisa memberi manfaat kepadanya walau hanya satu hari
Dan keabadian yang diusahakan oleh kaum ‘Aad, maka mereka tetap tidak bisa kekal
Tidak pula Nabi Sulaiman AS saat angin bertiup untuknya
Sedang jin dan manusia datang di antaranya
Di manakah para raja yang karena kebesarannya
Setiap utusan datang kepadanya dari setiap penjuru?
Telaga yang ada di sana pasti akan didatangi, bukan dusta
Suatu hari pasti mendatanginya, sebagaimana diriwayatkan

Ketahuilah bahwa mengingat mati mewariskan rasa gelisah terhadap dunia yang fana ini dan setiap saat memusatkan fikiran ke negeri akhirat yang kekal abadi. Kemudian, setiap manusia tidak terlepas dari dua sisi kehidupan: kesempitan hidup dan keluasan, nikmat dan cobaan. Maka jika ia berada dalam kesempitan dan cobaan, mengingat kematian memudahkan dia menghadapi semua itu.

Sesungguhnya, semua yang ada di dunia ini tidak ada yang kekal, begitu juga dengan umur seseorang. Banyak orang yang terperdaya oleh kenikmatan dan harta duniawi. Oleh karena itu, dengan mengingat mati, seseorang akan terhindar dari tipu daya syitan akan gila harta dan dunia.

Alangkah indahkan orang yang berkata:
Ingatlah kematian yang meruntuhkan kenikmatan
Dan persiapkan untuk kematian yang pasti akan tiba

Yang lain berkata:
Dan ingatlah kematian niscaya engkau mendapatkan ketenangan
Dalam mengingat kematian memutuskan angan-angan.
Semua umat sepakat (konsensus) bahwa kematian tidak mempunyai batasan umur yang diketahui dan tidak pula zaman yang diketahui, agar seseorang menyiapkan diri menghadapi hal itu. Sebagian orang shalih berseru di malam hari di pinggiran kota Madinah: Berangkat, berangkat. Maka tatkala ia wafat, amir (gubernur) kota Madinah bertanya tentang dia, maka dikabarkan bahwa ia telah meninggal dunia, maka amir itu berkata berkata:

Senantiasa ia melantunkan keberangkatan dan mengingatkannya
Sehingga unta berhenti di depan pintunya
`Maka ia terjaga, bersungguh-sungguh
Bersiap-siap, tidak terlalaikan oleh angan-angan.

Yazid ar-Raqqasy rahimahullah berkata kepada dirinya sendiri: ‘Celakalah engkau wahai Yazid, siapakah yang menshalatkan engkau setelah meninggal dunia? Siapakah yang menggantikan puasa engkau setelah mati? Siapakah yang memohon keridhaan Rabb untukmu setelah engkau wafat? Kemudian ia berkata, ‘Wahai manusia, apakah engkau tidak menangisi dan meratapi dirimu sendiri di hari-harimu yang masih tersisa? Siapa yang kematian mencarinya, kubur sebagai rumahnya, tanah sebagai kasurnya, ulat sebagai temannya, di samping itu ia sedang menunggu kejutan terbesar, bagaimanakah keadaannya?’ Kemudian ia menangis sehingga jatuh pingsan.
At-Taimi rahimahullah berkata, ‘Dua perkara yang memutuskan kenikmatan dunia dariku: Mengingat mati dan mengingat posisi saat berada di hadapan Allah SWT.’ Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah mengumpulkan para ulama, maka mereka saling mengingatkan mati, hari kiamat dan akhirat, lalu mereka menangis sehingga seolah-olah di hadapan mereka ada jenazah.

Abu Nu’aim rahimahullah berkata: Apabila Sufyan ats-Tsauri rahimahullah diingatkan mati, tidak bisa diambil manfaat dengannya selama beberapa hari (maksudnya: ia tidak bisa mengajar). Jika ia ditanya tentang suatu masalah, ia berkata: Aku tidak tahu, aku tidak tahu.’ Asbath rahimahullah berkata: Seorang laki-laki dipuji-puji di hadapan Nabi , maka Rasulullah SAW bertanya: “Bagaimana ingatnya terhadap mati?’ Maka hal itu tidak disebutkan darinya. Maka beliau bersabda: ‘Dia tidak seperti yang kamu katakan.”

Ad-Daqqaq rahimahullah berkata: Barangsiapa yang benyak mengingat mati, ia diberi kemuliaan dengan tiga perkara: Segera bertaubat, hati bersifat qana’ah, dan rajin dalam beribadah. Dan barangsiapa yang lupa terhadap mati, ia disiksa dengan tiga perkara: menunda-nunda taubat, tidak ridha dengan menahan diri dari meminta, dan malas dalam ibadah. Maka pikirkanlah -wahai yang terperdaya- tentang mati dan saat sakaratul maut, berat dan pahitnya. Wahai kematian, sebuah janji yang pasti benar dan hakim yang sangat adil. Cukuplah kematian yang melukai hati, membuat mata menangis, memisahkan kelompok, menghancurkan kenikmatan, dan memutuskan angan-angan. Apakah engkau sudah memikirkan wahai keturunan Adam di hari kematianmu, berpindahmu dari tempatmu. Dan apabila engkau telah dipindah dari tempat yang luas ke tempat yang sempit, sahabat dan rekanmu mengkhianatimu, saudara dan temanmu meninggalkanmu, dan mereka menutupimu dengan tanah setelah sebelumnya engkau diselimuti kain yang lembut. Wahai yang mengumpulkan harta dan bersungguh-sungguh dalam bangunan, tidak ada sesuatu pun untukmu selain kain kafan. Bahkan demi Allah hanya untuk kehancuran dan sirna, dan tubuhmu untuk tanah dan tempat kembali. Maka di manakah harta yang engkau kumpulkan? Apakah bisa menyelamatkan engkau dari huru hara? Sama sekali tidak, bahwa engkau meninggalkannya kepada orang yang tidak memujimu, engkau memberikan dengan dosa-dosamu kepada orang yang tidak memaafkanmu.

Alangkah indahnya orang yang berkata dalam firman Allah SAW:

وَابْتَغِ فِيمَآءَاتَاكَ اللهُ الدَّارَ الآخرة

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, (QS. al-Qashash:77)

Maksudnya Wallahu A’lam-: carilah di dalam dunia yang diberikan Allah SWT kepadamu untuk negeri akhirat, yaitu surga. Maka sesungguhnya hak seorang mukmin bahwa ia memalingkan dunia untuk yang berguna di akhirat, bukan pada tanah, air, tindakan sombong dan zalim. Seolah-olah mereka berkata: Jangan lupa bahwa engkau akan meninggalkan semua hartamu kecuali untuk kafan yang menjadi jatahmu.

Dan seperti inilah ungkapan seorang penyair:
Jatahmu dari semua yang engkau kumpulkan
Dua selendang yang dilipat dan pengawet
Dan yang lain berkata:
Ia adalah sifat qana’ah yang engkau tidak perlu mencari gantinya
Mengandung kenikmatan dan ketenangan badan
Perhatikanlah kepada orang yang memiliki semua dunia
Apakah ia merasakan ketenangan darinya selain dengan kapas dan kafan?

Syaddad bin Aus RA berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda:

اَلكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نْفْسهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ

“Orang yang cerdas adalah yang menghitung dirinya dan beramal untuk masa setelah mati, dan orang yang lemah adalah yang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah SWT.”

Abu Ubaid rahimahullah berkata, ‘Maksudnya: menghinakannya dan memperbudaknya, maka ia menghinakan dirinya dalam beribadah kepada Allah SWT, sebagai amal ibadah yang dipersiapkannya setelah mati dan untuk bertemu Allah SWT. Dia juga menghisab dirinya terhadap amal perbuatannya di masa lalu, menggantikannya dengan amal shalihnya sebagai penebus kesalahannya yang telah berlalu. Dia berzikir kepada Allah SWT dan taat kepada-Nya di segala tingkah lakunya. Inilah bekal sebenarnya untuk hari kembali. Dan orang yang lemah adalah orang kekurangan dalam semua perkara. Di samping kekurangannya dalam ibadah kepada Rabb-nya dan mengikuti hawa nafsunya, dia masih berangan-angan kepada Allah SWT agar mengampuninya. Inilah orang yang terperdaya. Sesungguhnya Allah SWT menyuruh dan melarangnya.

Al-Hasan al-Bashari berkata: Sesungguhnya suatu kaum dilalaikan oleh angan-angan, sehingga ia keluar dari dunia tanpa mempunyai amal kebaikan. Salah seorang dari mereka berkata: Sesungguhnya aku berbaik sangka kepada Rabb-ku. Dia bohong, jika ia benar-benar berbaik sangka (husnuzh-zhann) tentu ia memperbaiki amal perbuatan, dan ia membaca firman Allah SWT:

وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُم مِّنَ الْخَاسِرِينَ

Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Fuhshilat:23)

Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata: Terperdaya dengan Allah SWT bahwa seseorang terus menerus melakukan maksiat dan berangan-angan mendapat ampunan Allah SWT.

Baqiyyah bin al-Walid rahimahullah berkata: Abu ‘Umair rahimahullah menulis kepada sebagian saudara-saudaranya: ‘Amma ba’du, sesungguhnya engkau menjadi berharap banyak kepada dunia dengan panjangnya usiamu dan berangan-angan kepada Allah SWT dengan buruknya perbuatanmu. Sesungguhnya engkau hanyalah memukul besi yang dingin.

Wassalam.’
Wallahu A’lam.

Ceramah tentang Kematian
Bismillahirrahmanirrahim Assalamu alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahirrabil alamin, wabihinasta’inu waala umuridunya waddin, asyhaduala ilaahailallah wahdahula syarikalah waasyhaduana Muhammadan abduhu warasuluhu laa nabiya ba’da.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Dialah raja dari segala raja, Dialah yang menghidupkan dan mematikan manusia dan semua makhluknya, Dialah yang menguasai hari pembalasan. Tiada sekutu baginya.

Salawat dan salam semoga tetap tercurah kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam, karena atas perjuangan beliau, keluarga, sahabat, dan para tabi’in yang telah mengantarkan umat manusia dari zaman jahilia, zaman kebodohan menuju ke zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan dan penuh dengan cahaya kebenaran dan semoga kita tetap menjadi pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Ma’asyral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah
Perkenankanlah kami pada kesempatan ini untuk menyampaikan ceramah yang berjudul “Kematian”.

Ma’asyral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah
Kematian, yang dikenal sebagai berpisahnya ruh dari badan, merupakan sebab yang mengantar manusia menuju kehidupan abadi yakni alam akhirat. Kematian juga merupakan pemusnah semua kenikmatan dan pemutus segala nafsu syahwat.

Perlu kita ketahui bahwa keberadaan kita di dunia ini hanyalah sementara. Kehidupan kita diibaratkan seperti seorang perantau yang pergi merantau ke negeri orang dan pada saatnya nanti ia akan kembali dengan membawa apa yang telah ia cari dan ia kumpulkan selama berada di perantauan. Sama halnya dengan manusia yang hidup di dunia ini pada saatnya nanti akan kembali menghadap Allah dengan membawa amal perbuatan telah kita kumpulkan di dunia yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ma’asyral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah
Kematian itu merupakan peristiwa yang pasti dialami oleh setiap makhluk yang bernyawa yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik itu manusia, hewan, jin, setan, bahkan malaikat sekalipun akan mengalami yang namanya kematian. Sebagaimana Firman Allah dalam surah al-Ankabut ayat 57 yang berbunyi:

Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (Q.S. al-Ankabut : 57)

Firman Allah tersebut di atas telah memberikan kita pemahaman bahwa kita manusia yang mempunyai jiwa atau ruh pasti akan merasakan mati walaupun kita sendiri tidak mengetahui kapan dan di mana kematian itu akan mendatangi kita. Oleh karena kematian itu datangnya secara tiba-tiba maka kita harus mempersiapkan diri dengan cara senantiasa meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah agar pada saat kematian atau ajal itu datang maka kita telah siap dan insya Allah kita akan mati dalam keadaan khusnul khatimah

Ma’asyral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah
Ketika ajal kita telah tiba dan malaikat Izrail telah siap untuk mencabut nyawa kita maka kita tidak akan bisa menunda kematian kita walau hanya sedetik saja, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surah Yunus ayat 49 yang berbunyi:

Artinya: Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). (Q.S. Yunus : 49)

Firman Allah tersebut sangatlah jelas karena ketika Allah menciptakan manusia Allah juga telah menenukan ajalnya pula, sebagaimana firman-Nya :

Artinya: Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan ajal (kematianmu) (Q.S. al-An’am : 2)

Ma’asyral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah
Berbicara tentang kematian tentunya tak lepas dari yang namanya sakaratul maut. Sakaratul maut adalah saat-saat pencabutan nyawa seorang manusia oleh Malaikat Izrail. Saat-saat sakaratul maut ini merupakan saat yang paling menyakitkan yang belum pernah dirasakan manusia selama hidup di dunia. Rasa sakit ketika sakaratul maut kira-kira seperti tiga ratus kali pukulan pedang, sebagaimana yang disebutkan Imam Suyuthi dalam kitab Syarhus Shuudur, dari Hasan, sesungguhnya Nabi Muhammad Saw. menyebutkan tentang sakitnya sakaratul maut, beliau bersabda: “Sakitnya kira-kira tiga ratus kali pukulan pedang”. Bisa kita bayangkan bagaimana sakitnya, jangankan tiga ratus kali sekali pukulan pedang saja sudah sangat sakit apalagi tiga ratus kali, naudzubillahi minzalik.

Ma’asyral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah
Pertanyaan besar bagi kita semua, sudah siapkah kita bila saat ini malaikatul maut datang mencabut nyawa kita? Sudah siapkah kita untuk terbaring sendiri, berbalut kain kafan di dalam lubang yang berukuran satu kali satu setengah meter? Tentunya yang dapat menjawab pertanyaan ini hanyalah diri kita sendiri.

Ma’asyral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah
Sebagai kesimpulan ceramah saya adalah kita sebagai manusia yang dicipkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala., dan suatu saat kita akan kembali kepada-Nya, marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah sehingga ketika kematian itu datang kita masih dalam keadaan Muslim, karena Allah sendiri menginginkan kita manusia khususnya kita umat Islam ketika kita kembali pada-Nya, kita masih memegang teguh agama kita yakni agama Islam, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an surah al-Imran ayat 102, yang berbunyi:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Q.S. Ali Imran : 102)

Ma’asyral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah
Demikianlah ceramah yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua, khusunya bagi kami dan seluruh hadirin yang hadir pada hari ini. Alhaqqu mirrabbi walatakunanna minal mumtarin. Ada benarnya itu datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bila ada kekurangan itu semata-mata datangnya dari diri kami sebagai makhluk Tuhan yang tak luput dari salah dan khilaf. Kepada Allah saya mohon ampun dan kepada hadirin sekalian saya mohon dimaafkan.

Hadanallahu waiyakum ajmain, wabillahi taufik wal hidayah, waridha wal inayyah, wassalamu alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Kultum tentang Kematian

Pencarian Populer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *