Khutbah Jumat: Hakekat Takabur dan Sombong - Wawasan Edukasi

Khutbah Jumat: Hakekat Takabur dan Sombong

Assalamualaikum Wr. Wb.

(Muqaddimah)

Sidang Jumat yang berbahagia

Bertaqwalah kalian kepada Allah Ta’ala. Taqwa dalam arti melaksanakan segala perintah Allah dan mencegah segala laranyan-Nya.

Juga taqwa yang dapat menumbuhkan sifat sabar, sabar dalam arti menerima segala yang ditimpakan padanya dengan ikhlas, ridha dan juga tabah dengan niat mengharap keridhaan Allah semata.

Sombong, angkuh, besar kepala adalah kata-kata yang mempunyai satu makna. Yaiut menganggap dirinya lebih tinggi, lebih mulia dari pada lainnya. Sifat sombong sangat tercela di dalam agama. Begitu pula oleh masyarakat, sifat ini sangat dibenci. Bukan hanya dibenci oleh orang-orang yang berilmu saja dan orang-orang yang berbudi luhur, tetapi hampir semua orang membencinya. Mengapa? karena sifat sombong bisa menimbulkan permusuhan dan hilangnya rasa keakraban antara sesama manusia. Rasulullah SAW melarang umatnya berlaku sombong terutama terhadap sesama umat Islam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh muslim bersumer dari Abdullah bin Mas’ud ra. Rasulullah SAW telah bersabda:

Artinya: “Tidak masuk sorga orang yang didalam hatinya ada sedikit kesombongan. Lalu ada seorang lelali berkata: “Sesungguhnya ada seorang yang senang pakaiannya bagus dan sandalnya juga bagus.” Beliau lalu bersabda: “Sesungguhnya Allah itu inda yang senang keindahan. Sedang sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan orang.” (HR. Muslim)

Dari hadits Rasulullah SAW diatas itu dapat diambil suatu pelajaran bawah pintu sorga tertutup bagi setiap orang yang dalam hatinya ada sifat kesombongan. Tetapi seseorang itu tidak bisa dikatakan sombong hanya karena ia suka pakaian yang bagus-bagus. Sedang arti sombong yang sesungguhnya adalah tidak mau menerima kebenaran dan menganggap remeh orang lain.

Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia

Adapun macam-macam takabbur itu ada 3 macam, yaitu:

  1. Takabur kepada Allah SWT.

Takabur kepada Allah adalah mengabaikan atau tidak menghiraukan atau memperdulikan terhadap agama Allah, tidak takut kepada ancaman Allah serta meremehkan dan mengabaikan syari’at agama. Keadaan yang demikian telah disinyalir dalam firman Allah SWT berikut ini

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Luqman ayat 60)

2. Takabur Terhadap Rasul

Takabur terhadap Rasul merupakan sifat enggan dan merasa hina untuk mengikuti petunjuk Rasul, tidak sudi mengikuti Nabi Muhammad SAW. Sifat takabur demikian ini hanya dimiliki oleh kaum Quraisy dimasa Nabi. Sebab mereka semua menganggap bahwa beliau seorang anak yatim yang tidak memiliki harta. Sedangkan beliau sebagai Rasulullah SAW. Begitu juga kebanyakan bangsa Yahudi segan mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Karena bangsa Yahudi beranggapan bahwa, hanya bangsa Yahudilah yang berhak menerima kenabian. Dan sampai sekarangpun ada sementara manusia yang merasa hina melaksanakan perintah agama, ia menganggap bahwa perintah agama sudah usang dan kolot. Perasaan sombong semacam inilah yang sangat berbahaya sekali. Semoga kita terjaga dari sifat demikian ini.

3. Takabur terhadap sesama manusia

Takabbur terhadap sesama manusia merupakan sifat yang merasa dirinya seolah lebih mulia daripada orang lain. Karena perasaan inilah mereka menganggap remeh dan hina orang lain. Menganggap orang lain tidak berharga sama sekali dibanding dirinya sendiri. Ia menjadi gila hormat, gila pujian, dan lupa daratan sehingga tidak suka apabila dirinya mendapatkan teguran dari orang lain yang dianggapnya lebih renda daripada dirinya.

Demikianlah sebagaimana yang disebutkan di dalam Hadits Nabi SAW bahwa beliau bersabda:

Artinya: “Takabbur itu menolak kebenaran dan menghinakan hak-hak manusia.” (HR. Muslim)

Hadirin Sidang Jum’at yang berbahagia

Rasulullah SAW dalam sehari-hari tidak pernah berlaku sombong. Beliau menengok orang sakit,mengantarkan jenazah, menunggu himar, mendatangi undangan dari siapapun. Pernah pada suatu hari ada seorang wanita menghadap beliau ingin mengundangnya untuk suatu hajat. Tetapi karena wanita itu dari golongan orang miskin, ia agak rikuh dan ragu-ragu. Oleh karena itu maka beliau bersabda: “Dudukkanlah saya dijalan-jalan Madinah manapun yang kamu kehendaki, pasti saya akan datang untuk mendatangi hajatmu itu.”

Tawadlu’lah kalian, duduk-duduklah kalian dengan orang-orang miskin, pasti kalian menjadi prang besar disisi Allah dan terbebas dari kesombongan. (HR. Abu Nu’aim)

Berkaitan dengan hal ini, Allah SWT berfirman:

Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman ayat 18)

Memang untuk menghindari sifat sombong itu kita harus berlaku lunak dalam pergaulan. Sering-seringlah menengok para tetangga terutama yang sering tertimpa kesusahan, ikut mengantarkan jenazah, suka berkumpul dengan orang miskin, suka bertegur sapa dengan sesama umat Islam, ringan kaki mendatangi undangan dan lain sebagainya. Cara-cara demikian ini bisa menghinlangkan sifat sombong seseorang. Sebaliknya kalau kita selalu memalingkan diri bila bertemu dengan teman atau kerabat, berpakaian yang melampaui batas kewajaran, enggan mendatangi undangan, maka yang demikian ini merupakan pertanda kesombongan.

pada suatu saat kadang-kadang dianjurkan untuk berlaku sombong, tetapi kepada orang-orang yang suka sombong bukan kepada orang yang tawadlu’ yang bisa merendahkan dirinya.

Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: “Sombonglah kepada orang yang sombong. Karena sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah.” (Al Hadits)

Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia

Perlu sekali kita  ketahui bahwa kesombongan, kecongkaan, membesarkan diri dan merasa diri tinggi, agung dan megah serta mulia itu adalah termasuk hal-hal yang membahayakan dan merusak, baik kepada jiwa, akhlak, agama dan lainnya.

Maka boleh juga kita katakan bahwa takabbur itu merupakan salah satu penyakit yang sangat membahayakan yang oleh karenanya kita terkena hukum fardlu ‘ain yakni setiap orang wajib berusaha menghilangkan, membasmi dan melenyapkannya.

Baca juga: 25 Contoh Khutbah Jumat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *