Thaharah: Pengertian, Pembagian, Alat dan Cara Mensucikan

Thaharah: Pengertian, Pembagian, Alat dan Cara Mensucikan

Pengertian Thaharah – Dalam kitab Fiqih, bab mengenai thaharah merupakan bagian yang paling penting dan utama pembahasannya sebelum masuk pembahasan mengenai sholat, puasa, zakat dan haji.

Dalam kitab fiqih pembahasan thaharah selalu dibahas di bagian pertama, mengapa demikian? Hal ini dikarenakan thaharah merupakan pintu masuknya ibadah untuk mengetahui sah atau tidak sahnya ibadah yang kita lakukan.

Dalam Islam sendiripun Allah SWT memberikan perhatian tersendiri mengenai kebersihan yang harus kita lakukan, sebgaiamana dalam firmannya surat al-Baqarah ayat 122 sebagai berikut:

“ sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang bersuci”

 

PengertianThaharah

Kata thaharah berasal dari bahasa arab tahara yang berarti suci. Secara bahasa taharah memiliki arti bersih dan suci. Sedangkan pengertian thaharah menurut istilah syara’ adalah bersih dari hadas dan najis yang mengenai badan, pakaian maupun tempat yang kita tempati dan kita gunakan yang dapat menghalangi sahnya ibadah. Dalam pembahasannya di dalam kita bfiqih thaharah meliputi dua hal yang pertama yaitu bersuci dari hadats dan yang kedua yaitu bersuci dari najis.

 

Dalil Mengenai Thaharah

Beranjak dari pengertian terdapat beberapa dalil yang menganjurkan dan memerintahkan kita untuk senantiasa menjaga kebersihan lahir dan batin kita, salah satunya yaitu terdapat dalam surat Al- Baqarah ayat 222:

“ …. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang bersuci lagi bersih.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Adapun dasar hukum yang memerintahkan melakukan taharah yaitu terdapat dalam surat Al-Maidahayat 6 sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”(Al-Maidah :6)

 

Pembagian Thaharah

Dalam pembagiannya thaharah dibagi menjadi dua yaitu thaharah ahiriyah dan thaharah bathiniyah.

Thaharah lahiriyah adalah bersuci dari berbagai hadast dan najis baik itu yang terlihat maupun yang tidak terlihat dengan cara berwudhu, mandi, dan tayamum.

Thaharah bathiniyah adalah mensucikan diri terutama batin kita dari segala dosa, kemusyrikan dan kemaksiatan dengan cara bertauhid dan beramal sholeh.

Sedangkan menurut Ibnu Rusyd thaharah itu terbagi menjadi dua yaitu thaharah dari hadast dan thaharah dari najis.

Thaharah dari hadast yaitu membersihkan diri dari hadast kecil dan hadast besar dengan cara wudhu, tayamum dan mandi.

Thaharah dari najis yaitu membersihkan diri, pakain dan tempat ibadah dari sesuatu yang terkena najis menggunakan air.

 

Hadast

Pengertian hadast

Berbicara thaharah, tentu kita juga akan membahas mengenai hadast dan najis. Hadast adalah keadaan diri yang dapat menyebabkan seorang muslim tidak suci dan tidak sah mengerjakan sholat. Sehingga ketika keadaan diri seseorang sedang tidak suci atau berhadast maka seseorang itu perlu mensucikannya ketika hendak melakukan salah satu ibadah. Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan:

الْحَدَثُيُطْلَقُعَلَىمَايُوجِبُالْوُضُوءَ،وَعَلَىمَايُوجِبُالْغُسْلَ. فَيُقَالُ: حَدَثٌأَكْبَرُ،وَحَدَثٌأَصْغَرُ،وَإِذَاأُطْلِقَ،كَانَالْمُرَادُالْأَصْغَرَغَالِبًا

“Hadats dimutlakkan kepada makna: segala keadaan yang mewajibkan wudhu dan dan mandi. Disebutkan oleh para ulama bahwa hadats itu terbagi menjadi: hadats akbar dan hadats ashghar. Dan jika dimutlakkan, yang dimaksud adalah hadats asghar“.

Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Durar As Saniyyah disebutkan:

الحدَثُاصطلاحًا: وصفٌقائمٌبالبَدَنِيمنَعُمِنَالصلاةِونحوِها،ممَّاتُشترَطُلهالطَّهارةُ

“Hadats secara istilah maknanya suatu keadaan yang terjadi pada badan yang membuat seseorang terlarang untuk melakukan shalat dan ibadah lainnya yang disyaratkan harus dalam keadaan suci”.
Dalam hal mensucikannya hadast memiliki cara yang berbeda-beda tergantung pada jenis hadats yang mengenainya.

 

Macam-macam Hadats

Dalam pembagiannya, para ulama membagi hadast berdasarkan dua jenis yaitu hadast besar dan hadast kecil.

ينقسِمُالحدَثُإلىنَوعينِ
النَّوعالأوَّل: الحدَثالأصغرُ،.
والنَّوعالثَّاني: الحدَثالأكبر،

Hadast Besar

الحدَثالأكبر،وهومايجِبُبهالغُسلُ؛كمَنجامَعَأوأنزَلَ

Hadast besar merupakaan segala keadaan seseorang yang mewajibkan dia untuk mandi, seperti contoh jima’ atau keluar mani.

 

Hadast Kecil

الحدَثالأصغرُ،وهومايجِبُبهالوضوءُ؛كالبولِ،والغائطِ،وخروجِالرِّيحِ

Jika hadast besar adalah sebuah keadaan seseorang yang mewajibkan dia mandi, maka pada hadast kecil ini sebuah keadaan diri seseorang yang mewajibkan diau ntuk wudhu maupun tayamum, contohnya seperti; kencing, buang air besar, dan buang angin.

 

Najis

Secara bahasa najis merupakan segala sesuatu yang dianggap kotor. Sedangkan menurut ilmu fiqih, najis merupakan segala sesuatu zat atau benda yang dianggap kotor yang dapat menghalangi sahnya sholat.

Dalam pembagiannya, najis di bagi menjadi dua jenis yaitu najis ‘ainiyah dan hukmiyah. Najis ‘ainiyah merupakan najis yang bentuk dan bendanya masih dapat terlihat dengan jelas, pada najis ‘ainiyah warna dan bau najisnya masih bersifat jelas dapat kita lihat dan kita cium. Adapun contoh dari najis ‘ainiyah seperti air kencing , darah dan kotoran hewan.

Sedangkan najis hukmiyah adalah najis yang yang sudah tidak nampak baik bentuk, benda warna, dan baunya sudah tidak dapat dilihat dan berbekas sama sekali. Pada najis hukmiyah ini meskipun najis itu sudah tidak meninggalkan bekas sama sekali akan tetapi selama najis itu belum disucikan maka segala sesuatu benda yang terkena najis tersebut tetap dihukumi sebagai najis yang perlu disucikan.

Secara tingkatan najis yang mengenai, najis dalam kitab fiqih terbagi menjadi tiga macam yaitu; najis mukhaffafah, najis mutawassiththah, dan najis mughaladzah. Adapun salah satu kitab yang membagi najis ke dalam tiga kategori tersebut salah satunya terdapat dalam kitab safiinatun najaa yang di tulis oleh Syekh Salim Bin Sumair Al-hadrami sebagai berikut:

Artinya:“Fashal, najis ada tiga macam: mughalladhah, mukhaffafah, dan mutawassithah.Najis mughalladhah adalah najisnya anjing dan babi beserta anakan salah satu dari keduanya. Najis mukhaffafah adalah najis air kencingnya bayi laki-laki yang belum makan selain air susu ibu dan belum sampai usia dua tahun. Sedangkan najis mutawassithah adalah najis-najis lainnya.”

Baca juga: Tata Cara Tayamum

 

Referensi:

  1. https://ejurnal.iainlhokseumawe.ac.id/index.php/sarwah/article/view/18
  2. http://repository.iainbengkulu.ac.id/3881/

Leave a Comment