Mencintai yang Lima dan Melupakan yang Lima

Mencintai yang Lima dan Melupakan yang Lima

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pembukaan Ceramah

Pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan ceramah singkat tentang; Cinta Yang lima dan Lupa Yang Lima.

Ikhwan fiddin rahimakumullah.

Di era globalisasi perdagangan dunia saat ini, manusia selalu dituntut untuk melakukan kompetisi dalam mendapatkan kekayaan materi yang sebanyak-banyaknya demi mempertahankan hidup dan mendapatkan kepuasan hidup di dunia. Diantara mereka ada yang bekerja siang malam tanpa mengenal waktu, demi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya. berbagai cara mereka lakukan demi tercapainya keinginan dan cita-citanya. namun hadirin sekalian, sadar atau tidak sadar, terkadang berbagai scara yang mereka lakukan sering kali bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunah-sunah Rasulullah SAW. Betapa banyak orang-orang yang bekerja siang dan malam dengan tidak mengenal waktu mengakhirkan shalat, bahkan melalaikan dan meninggalkannya. Dan tidak sedikit orang yang telah menuai keberhasilan dan kesuksesan yang lupa dan enggan mengeluarkan zakat hartanya. Begitukah keadaan orang muslim sekarang ini?

Sungguh sangat ironis sekali dengan keadaan umat Islam sekarang ini yang sedemikian buruknya. Pasalnya, banyak sekali kaum muslimin sekarang ini yang tertutup hatinya dan menjual keimanan dan ketaqwaannya, demi sesuatu yang tidak bernilai di hadapan Allah SWT. Seperti halnya para pemimpin sekarang ini yang menyelewengkan jabatannya dengan mengeruk harta benda yang bukan haknya demi keluarganya. Begitu pula dengan para wanita yang rela mempertontonkan aurat mereka demi karir dan ketenaran. Dan juga banyak sekali yang melakukan praktik manipulasi demi jabatan dan martabatnya di hadapan manusia. Dan itu semua sudah menjadi “kecenderungan yang menghasilkan” bagi manusia. Allah SWT berfirman dalam Al- Quran Surat Ali-Imran ayat 14 sebagai berikut:

Yang artinya:

Manusia dihiasi dengan kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu; wanita-wanita, anak-anak, dan harta yang banyak.” (QS. Ali- Imran: 14)

Ikhwan fiddin rahimakumullah

Sekali pun kecintaan terhadap harta benda, kecintaan terhadap anak istri, kecintaan terhadap jabatan adalah fitrah manusia, namun kita sebagai umat Islam yang telah menyatakan bertaqwa dan beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, tidak selayaknya dan dilarang untuk menuruti hawa nafsu kita kepada yang demikian itu. Bahkan jika kita menuruti hawa nafsu kita, maka kita sudah terjebak ke dalam jurang kebinasaan yang nyata. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam kitab Mukasyafatul Qulub karangan Imam Al- Ghazali, disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya: ” Biarkanlah dunia berada di tangan ahlinya, barang siapa yang telah mengambil dunia melebihi kecukupannya, maka dia telah mengambil kebinasaan sedang mereka tidak merasakannya.

Menuruti hawa nafsu bagi kaum muslimin dapat berakibat sangat fatal, dan hal itu adalah ujian yang sangat berat khususnya bagi mereka yang imannya masih lemah. Sehingga mereka akan menanggalkan keimanan dan ketaqawaannya demi kesenangan sesaat, bahkan tidak sedikit dari mereka yang rela meninggalkan aqidahnya lantaran terpesona akan gemerlapnya dunia.

Ikhwan fiddin rahimakumullah

Seandainya  kaum muslimin sekarang ini banyak yang rela menjual iman dan ketaqwaannya karena menuruti hawa nafsu, maka saat yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya telah tiba, sedangkan kita berada pada masa itu. Pada masa itu umat Islam akan mencintai harta, banyak melakukan maksiat dan dosa, serta bangga akan istana-istana yang mereka bangun. Bukan hanya itu, mereka akan melupakan perkara-perkara akhirat, lupa untuk bertaubat dan memohon ampunan kepada sang Khaliq, serta akan melalaikan kematian dan kehidupan di alam kubur. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW:

Akan datang kepada umatku suatu zaman, mereka mencintai lima hal dan melupakan lima hal yang lain, yaitu; ” Mereka mencintai dunia dan melalaikan akhirat, mereka mencintai harta tetapi melalaikan hisab, mereka mencintai makhluk dan melalaikan sang Khaliq, mereka suka melakukan dosa tetapi melalaikan taubat, mereka mencintai istana tetapi melalaikan kubur.

Dalam hadits ini, Rasulullah SAW menyebutkan lima perkara yang dicintai oleh manusia dan lima perkara yang dilalaikan oleh manusia pada masa itu. Namun, pada masa itu apa yang mereka cintai merupakan sesuatu yang tidak bernilai di hadapan Allah SWT yang malah dapat menjerumuskannya ke dalam jurang kebinasaan. Adapun lima perkara itu adalah:

1. Mencintai dunia dan melalaikan akhirat

Ikhwan fiddin rahimakumullah

Dalam Islam, Allah dan Rasul-Nya tidak melarang seseorang untuk mencari kenikmatan hidup di dunia, akan tetapi hal itu harus diimbangi dengan bekal yang cukup untuk kehidupan di akhiratnya kelak serta tidak keluar dari ketentuan-ketentuan Islam yang berlaku. Mengapa demikian? karena pada dasarnya kehidupan dunia hanyalah bersifat sementara, sedangkan kenikmatan yang abadi adalah kenikmatan surga di akhirat. Oleh karena itu, dalam mencari kehidupan dunia haruslah sesuai dengan aturan yang ada dalam Islam, dan jangan sampai kecintaan kita terhadap dunia melebihi cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya, karena barang siapa yang mencintai dunia melebihi melebihi kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya maka allah akan menjanjikan baginya azab yang amat pedih. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

Katakanlah: ” Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS. At- Taubah: 24)

2. Mencintai harta dan melalaikan hisab

Harta kekayaan merupakan salah satu dari perhiasan dunia yang sangat didamba-dambakan oleh setiap manusia, sekaligus sebagai cobaan dan ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Pada satu sisi ada orang yang tabah dan semakin kuat imannya dengan cobaan kefakiran yang di timpakan kepadanya, dan ketika ia diberikan kekayaan yang melimpah, mereka lupa dengan sang Khaliq yang telah memberikan kenikmatan itu, dan mereka lupa bahwa dari setiap harta yang dimilikinya terdapat hak orang lain di dalamnya. Namun di sisi lain ada orang yang rela menjual aqidahnya karena bosan hidup sebagai orang miskin yang selalu kekurangan. Pada kalangan masyarakat kita sendiripun terdapat banyak orang yang rela menjual aqidahnya karena miskin harta hanya untuk mendapatkan makanan yang dapat mengenyangkan perut dan dapat memberikan kepuasan hidup di dunia, mereka adalah saudara-saudara kita yang menjadi korban kristenisasi kaum Nasrani.

Ikhwan fiddin rahimakumullah

3. Mencintai makhluk dan melalaikan sang Khaliq

Yaitu kecintaan seseorang terhadap istrinya, anak-anaknya, kecintaan terhadap binatang ternak dan makhluk lainnya baik yang hidup maupun yang mati. Semua itu telah dijadikan indah pada pandangan manusia oleh Allah SWT sebagaimana yang telah disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 14 yang tadi telah saya bacakan tadi, namun kecintaan itu jangan sampai melebihi kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, karena kecintaan yang berlebihan dapat menjadikan kita lalai akan mengingat Allah dan beribadah padanya.

4. Suka melakukan dosa dan melalaikan taubat

Betapa banyak orang seringkali melakukan kemaksiatan dan dosa namun dia selalu menunda-nunda waktu untuk bertaubat kepada Allah SWT, mereka tidak menyangka bahwa ajal akan dapat menjemput kita kapan saja. Bahkan, ironisnya orang yang melakukan maksiat dan dosa seringkali merasa tidak bersalah dan berdosa ketika mereka melakukannya. Namun, sesungguhnya ketika seseorang itu mau bertaubat dan memohon ampunan sebelum ajal menjemputnya maka Allah akan menerimanya.

5. Mencintai istana dan melalaikan kubur

Di era modern seperti saat ini, banyak manusia yang berlomba-lomba untuk mendirikan bangunan yang megah dan tinggi serta di dalamnya terdapat perabotan-perabotan yang indah dan mahal harganya. Mereka merasakan kenyamanan dan kenikmatan di dalamnya, mereka melupakan rumah masa depannya yang sempit dan gelap gulita, yaitu rumahnya di alam kubur. Mereka merasa bangga dapat membangun rumah yang mewah dan megah di dunia, tanpa ada yang menyadari tetangga-tetangganya ada yang hanya tinggal di sebuah gubuk kecil bahkan ada dari mereka yang tidak memiliki rumah. Di manakah rasa ibanya sebagai manusia, bahkan sebagai seorang hamba yang beriman kepada Allah SWT?

Hadirin semua yang dimuliakan Allah SWT

Itulah lima perkara yang sering membuat manusia lalai dan lupa kepada lima perkara yang lain. Dan sudah seharusnya kita sebagai seorang yang beriman senantiasa melakukan intropeksi diri apakah kecintaan kita terhadap lima hal itu melebihi kecintaan kita terhadap Allah dan lupa untuk senantiasa mengingat Allah? maka, jika demikian marilah kita mulai untuk  bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah SWT selagi pintu taubat masih terbuka lebar bagi kita.

Demikianlah kultum singkat yang dapat saya sampaikan, terima kasih atas perhatiannya, semoga apa yang telah disampaikan tadi dapat memberikan manfaat dan jika terdapat kesalahan dari penyampaian tadi yang tidak berkenan di hati hadirin semua saya mohon maaf sebesar-besarnya.

Billahi fii sabiilil haq

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Semoga contoh kultum di atas dapat bermanfaat.

Baca juga: Anjuran menyayangi sesama makhluk di bumi

Leave a Comment