Bacaan Doa Qunut Dalam Sholat Subuh, Witir dan Nazillah

Bacaan Doa Qunut Dalam Sholat Subuh, Witir dan Nazillah

Bacaan Doa Qunut – Doa qunut merupakan salah satu doa khusus yang dipanjatkan ketika sholat berlangsung setelah selesai ruku’ dengan posisi berdiri sebelum sujud.

 

Pengertian qunut

Qunut berasal dari kata qonata yang artinya adalah tunduk dan patuh. Akan tetapi secara bahasa qunut juga bisa berarti ta’at, berdiri lama, dan diam.

Dari beberapa pengertian tersebut masing-masing mempunyai landasan ayat qur’an yang menerangkan bahwa qunut mengandung pengertian yang telah tunduk, patuh dan ta’at.

 

Qunut yang berarti tunduk dan patuh

Qunut yang berarti tunduk dan patuh dalam ayat Al qur’an dapat ditemui pada surat Al Baqarah ayat 116:

“ … Bahkan apa yang ada di langit dan bumi adalah kepunyaanNya; semua tunduk kepadaNya.” (Qs. Al Baqarah: 116)

 

Qunut berarti ta’at

Dalam salah satu ayat Al Qur’an yang memberikan pengetian qunut sebagai ta’at dapat dijumpai dalam surat At Tahrim ayat 12:

“ .. dan dia termasuk orang-orang yang ta’at.” (Qs. At Tahrim: 12)

 

Qunut berarti berdiri lama

Salah satu ayat qur’an yang menjelaskan pengertian qunut dengan arti berdiri lama terdapat dalam sabda Nabi Saw:

“ Sholat yang paling utama adalah sholat yang paling panjang berdirinya.” ( HR. Muslim)

 

Qunut berarti diam

Dalam surat Al Baqarah ayat 238 qunut diartikan sebagai diam:

“ Berdirilah menghadap Allah ( sholat) dengan tenang.” ( Qs. Al Baqarah: 238)

Selain itu menurut kalangan ulama mazhab syafi’i, qunut secara bahasa juga memiliki pengertian pujian. Sedangkan secara syara’ qunut berarti dzikir khusus yang mengandung pujian dan doa. Adapun pengertian yang masyhur dikalangan ulama syafi’I adalah sebagi berikut:

“ Qunut secara bahasa berarti pujian, sedangkan menurut syara’ adalah dzikir khusus yang mencakup pujian dan doa seperti allahummaghfirli ya ghafur. Dengan demikian seandainya tidak mencakup keduanya maka tidak disebut qunut.” (Lihat Sulaiman Al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib ‘ala Syarh al-Khathib, Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1417 H/1996 M, juz II, halaman 205).

 

Hukum membaca qunut ketika sholat

Dalam Fiqih qunut terbagi menjadi tiga; yaitu qunut subuh, qunut witir, dan qunut nazilah ( ketika tertimpa musibah).

Dari beberapa macam qunut tersebut terdapat beberapa perbedaan pendapat mengenai hukum membaca doa qunut ketika sholat, diantaranya adalah sebagai berikut:

 

Menurut ulama malikiyah

Mereka berpendapat bahwa tidak ada qunut dalam sholat lima waktu kecuali pada sholat subuh saja dan tidak ada qunut pada sholat witir dan sholat-sholat lainnya.

 

Menurut ulama syafi’iyah

Mereka berpendapat bahwa dalam sholat lima waktu qunut hanya di baca saat melaksanakan sholat subuh. Sedangkan dalam sholat witir qunut hanya di baca ketika sholat witir di separuh akhir bulan ramadhan. Sedangkan pada sholat-sholat lainnya tidak ada qunut kecuali ketika sedang tertimpa musibah.

Terdapat sebuah dalil yang digunakan sebagai landasan dari kedua mazhab ini yaitu sebuah riwayat dari Annas bin Malik sebagai berikut:

“Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasalam melakukan qunut selama satu bulan, berdoa (untuk keburukan) kepada para pembunuh para sahabat beliau di Bi’r Ma’unah, lalu beliau meninggalkannya, akan tetapi qunut waktu shubuh, maka beliau masih melakukan hingga wafat,” (HR. Al-Hakim, Ad-Daruqutni, Ahmad dalam Musnad, 3/162 dan Al-Baihaqi dalam Sunan Kubra, 2/201)

Hadits di atas dinilai sebagai hadits yang shohih karena memiliki beberapa jalan dengan sanad yang shohih menurut sejumlah ulama syafi’I dan maliki. (Al-Khulashah, 1/450-451)

 

Menurut ulama hanafiyah

Menurut ulama hanafiyah disyari’atkan qunut dalam witir dan tidak pada sholat-sholat lainnya kecuali ketika kaum muslimin mendapat musibah. Ketika kaum muslimin mendapat musibah maka qunut dalam witir diperbolehkan akan tetapi hanya pada sholat subuh saja dan imamlah yang membaca qunut dan sebagai seorang makmum kita hanya perlu mengaminkannya saja, akan tetapi qunut tidak berlaku ketika kita sholat munfarid.

 

Menurut ulama hanabilah

Pembacaan qunut ketika sholat witir di syari’atkan. Akan tetapi pada sholat lainnya tidak disyari’atkan kecuali ketika kaum muslimin tertimpa musibah yang besar selain musibah penyakit. Pada pembacaan qunut nazilah ini dibacakan oleh imam atau yang mewakilinya ketika sholat lima waktu selain pada hari jum’at.

Jika dari kedua madhzab sebelumnya mengatakan bahwa terdapat qunut dalam sholat subuh, maka berbanding terbalik dengan kedua madzhab selanjutnya ini. Dari kedua madzhab ini yaitu hanafiyah dan hanabilah mengatakan bahwa tidak disyari’atkannya qunut pada waktu sholat subuh kecuali bila ada qunut nazilah dengan landasan sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Mas’ud dan Abu Hurairah RA sebagai berikut:

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berqunut selama satu bulan, mendoakan qabilah di antara qabilah Arab, kemudian beliau meninggalkan doa tersebut.” (HR. Muslim dan An-Nasa’i)

Dalam riwayat lain Abu Hurairah berkata:

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berqunut pada shalat subuh, kecuali karena mendoakan atas sebuah kaum atau untuk sebuah kaum.” (HR. Ibnu Hibban).

Sehingga menurut kedua madzhab ini , syariat berdoa qunut pada shalat subuh telah mansukh (dihapus), dan yang ada hanya qunut nazilah.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, 27/321-322)

 

Lafal Doa Qunut Subuh, Witir dan Nazillah

Beranjak dari permasalah tersebut maka di bawah ini adalah bacaan atau lafadz doa qunut untuk sholat subuh, witir dan nazillah.

 

Doa qunut subuh

Doa qunut subuh merupakan sebuah doa yang dilakukan ketika sholat subuh berlangsung setelah I’tidal. Seperti pemaparan sebelumnya, bahwa terdapat hukum berbeda mengenai pembacaan doa qunut pada sholat subuh. Maka berikut adalah doa qunut subuh:

Allahummah dinii fiiman hadait, Wa ‘aafinii fiiman ‘aafait. Wa tawallanii fiiman tawallait, Wa baariklii fiimaa a’thoit. Wa qinii syarro maa qodloit. Innaka taqdli wa laa yuqdlo ‘alaik. Wa innahu laa yadzillu maw waalait. Wa laa ya’izzu man ‘aadait. Tabaarokta wa ta’aalait.

 

Doa qunut witir

Menurut ulama syafi’iyah bacaan qunut witir sama dengan bacaan qunut subuh. Bagi ulama syafi’iyah melakukan qunut witir di akhir rakaat sholat witir pada pertengahan bulan ramadhan sampai akhir bulan ramadhan hukumnya sunah. Seperti yang telah dirumuskan ke dalam beberapa kitab fiqihnya, bahwa membaca qunut di akhir sholat tarawih bulan ramadhan adalah sunah. Salah satu kitab yang dijadikan rujukan untuk hal ini terdapat dalam kitab al- Adzkar hal 57:

“Menurut pendapatku (yaitu Imam Nawawi), disunnahkan membaca Qunut dalam separuh bulan Ramadhan yang akhir, pada rakaat akhirnya sholat witir.”

Berikut adalah bacaan doa qunut menurut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh diriwayatkan oleh Abu Daud, An Nasa’i, Tirmidzi dan Ahmad.

Allahummah dinii fiiman hadait, Wa ‘aafinii fiiman ‘aafait. Wa tawallanii fiiman tawallait, Wa baariklii fiimaa a’thoit. Wa qinii syarro maa qodloit. Innaka taqdli wa laa yuqdlo ‘alaik. Wa innahu laa yadzillu maw waalait. Wa laa ya’izzu man ‘aadait. Tabaarokta wa ta’aalait.

 

Qunut nazillah

Qunut nazillah merupakan salah satu doa yang dilakukan ketika umat islam mendapat musibah atau bencana. Hukum melakukan qunut nazillah adalah boleh atau sunah dilakukan pada setiap sholat fardhu apabila dianggap memang perlu dilakukan. Waktu pelaksanaannya sama seperti qunut-qunut sebelumnya yaitu ba’da I’tidal pada rakaat terakhir.

Adapun bacaan qunut nazillah menurut khalifah Umar Bin KHatab adalah sebagai berikut:

Allahummagh firlanaa wa lilmu’miniina wal mu’minaat wal muslimiina wal muslimaat. Wa allif baina quluubihim, wa ashlih dzaata bainihim wan shurhum ‘alaa ‘aduwwika wa ‘aduwwihim.

Allahummal ‘an kafarota ahlil kitaab alladzii yashudduuna ‘an sabiilik, wa yukadzzibuuna rusulak, wa yuqootiluuna auliyaa-ak. Allahumma khoolif baina kalimatihim, wazalzil aqdaamahum, wa anzil bihin ba’sakal ladzii laa taruddahu ‘anil qoumil mujrimiin.

 

Atau dengan doa ini:

Allahumma inna nasta’inuka wa nastaghfiruka wa nastahdiika wa nukminu bika wanatawakkalu ‘alaikal khoiro kullahu nasykuroka walaa nakfuruka wa nakhla’u wa natsruka man yafjuruka, allahumma iyya kana’budu wa laka nushalli wa nasjudu wa ilaila nas’a wa nahfidzu narju rahmataka wa nakhsya ‘adzaabakal jidda bilkuffaari mulhaq

Leave a Comment