Pengertian Psikologi Pendidikan, Peranan, Ruang Lingkup dan Manfaatnya

Pengertian Psikologi Pendidikan, Peranan, Ruang Lingkup dan Manfaatnya

Psikologi Pendidikan – Saat kita terjun dalam dunia pendidikan sebagai seorang pengajar, tentu kita akan menghadapi berbagai macam kendala dalam menyampaikan ilmu yang kita miliki kepada semua peserta didik. Sering pula kita jumpai beberapa peserta didik yang malas, suka tidur, suka bermain, “nakal”, dan berbagai macam jenis karakter peserta didik pasti akan kita jumpai disaat kita menjadi pengajar nantinya.

Apakah kita akan selalu memberikan hukuman kepada mereka yang tidak mengikuti instruksi kita? Apakah hukuman yang kita berikan itu akan secara efektif dapat mengubah perilaku mereka?

Untuk menjawab itu semua, disinilah peran psikologi pendidikan diperlukan. Dengan mempelajari psikologi pendidikan dengan baik, kita perlahan akan mengerti berbagai macam karakter peserta didik dan bagaimana cara mengendalikannya meskipun kita tidak memberikan hukuman kepada mereka.

Definisi dan Pengertian Psikologi Pendidikan

Psikologi pendidikan terdiri dari dua kata yaitu psikologi dan pendidikan. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang proses kognitif dan prilaku atau ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia baik sebagai individu maupun kelompok dalam hubungan dengan lingkungannya. Tingkah laku berupa tingkah laku yang tampak maupun tidak tampak, yang disadari maupun tidak. Sedangkan pendidikan adalah ilmu yang mempelajari nilai nilai tentang karakter.

Apa yang dimaksud dengan psikologi pendidikan (educational psychology)? Pengertian psikologi pendidikan adalah salah satu cabang dari ilmu psikologi yang fokus mempelajari tentang cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan.

Definisi psikologi pendidikan sebagai terapan ilmu psikologi dalam pendidikan memiliki arti sendiri, yakni, ilmu yang mempelajari proses belajar dan pembelajaran pada lingkungan pendidikan.

Psikologi pendidikan adalah cabang dari ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Studi mengenai proses pembelajaran, baik dari sudut pandang kognitif maupun perilaku, mengijinkan ilmuwan untuk memahami perbedaan individu dalam hal intelegensi, perkembangan kognitif, afek, motivasi, regulasi diri, konsep diri, serta peranannya dalam proses belajar. Bidang psikologi pendidikan banyak mengandalkan pengujian dan pengukuran dengan metode kuantitatif, untuk meningkatkan aktivitas pendidikan seperti desain pemberian instruks, manajemen kelas, dan asesmen, yang bertujuan untuk memfasilitasi proses pembelajaran dalam berbagai setting pendidikan sepanjang hidup.

Bidang dalam psikologi pendidikan meliputi studi tentang memori, proses konseptual, dan perbedaan individu (melalui psikologi kognitif) dalam mengonseptualisasikan strategi baru mengenai proses belajar pada manusia. Psikologi pendidikan telah dibangun atas dasar teori operant conditioning, functionalism, structuralism, constructivism, psikologi humanistik, psikologi Gestalt, dan pemrosesan informasi.
Psikologi pendidikan menjadi sangat penting karena mengajar terkait dengan sains dan seni. Dari segi sains, psikologi pendidikan memberikan informasi yang berharga. Seorang guru ahli dan propesional akan mendasari semua prilaku mengajar dengan landasan teori dan riset sehingga pengetahuan dan keterampilannya mendidik melebihi pandangan orang awam.

Proses belajar diartikan berlangsungnya aktivitas maksudnya informasi melalui panca indra yang menghasilkan pembaharuan pada kognitif dan atau pada prilaku. Proses belajar diartikan dalam sebuah pengalaman interaksi antara individu dengan pendidikan dan memberi dampak terhadap perolehan sesuatu yang baru melalui alat indra pada kognitif dan atau prilaku.

Psikologi pendidikan menjelaskan karakteristik perkembangan belajar sesuai dengan tingkat manusia. Misalnya, jika ingin mengajar sesuatu pada seseorang maka perhatikanlah perkembangam kognitifnya. Kalau usianya masih 5 tahun maka lakukanlah pembelajaran sambil bermanin. Tapi jika sudah berusia remaja dapat dilakukan diskusi kelompok. Dan menurut piaget baru taraf para opresional, sehingga belum mampu berfikir sesuatu yg abstrak. Berbeda dengan remaja SMA kemampuan berpikir sudah sampai pada oprasional formal, sehingga mampu berfikir sesuatu yang abstrak.

Kemudian, pendidikan pada hakikatnya adalah pemolaan pengaruh terhadap peserta didik. Pemolaan ini dapat berlangsung secara sistematis dan tidak sistematis. Pembelajaran yang dilakukan disekolah merupakan salah satu bentuk pemolaan pengaruh yang sistematis. Agar pemolaan ini efektif maka pendidikan memerlukan kecakapan dalam psikologi pendidikan. Oleh karena itu, psikologi pendidikan akan efektif melaksanakan pembelajaran jika berpedoman juga pada dua prinsip yaitu:

      1. Memberi perhatian pada bagaimana cara belajar bukan pada untuk apa belajar.
      2. Mengajari peserta didik tentang cara membaca untuk mendapatkan pemahaman cara menyusun gagasan cara menguasai pelajaran yang sulit cara menangkap pikiran secara jelas melalui tulisan.
      3. Melibatkan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Setiap hari perlu memberi pertanyaan pertanyaan mendasar
      4. Peserta didik perlu dilatih untuk mau perpikir sendiri. Tigas pendidik adalah mengajari mereka cara perpikir dan memberi alat yang diperlukan untuk itu.
      5. Pendidik punya potensi untuk menjadi guru yang hebat. Jadi jika belum efektif dalam pembelajaran, yang perlu dilakukan pendidik adalam mempelajari psikologi pendidikan.

Beranjak dari prinsip ini dapat diambil makna bahwa dengan psikologi pendidikan, pendidikan akan memahami perananya yang sesungguhnya yaitu membuat peserta didik mau dan tahu bagaimana cara belajar.

Proses belajar bagi peserta didik dapat diibaratkan seperti ulat yang berada didalam kepompong. Semakin kuat seekor ulat berjuang didalam kepompong. Maka semakin menyebarlah zat zat yang diperlukan untuk membangun keindahan warna dan kekuatan untuk terbang jika ulat di dalam kepompong dipaksa keluar sebelum waktunya maka akan lahirlah kupu kupu yang tidak cantik dan lemah.

Semua peserta didik seyogyanya mendapat perhatian yang sama dalam pendidikannya. Mendapatkan pendidikan yang standar dari pendidikannya. Tidak jadi persekolah yang penting adalah kemampuan belajarnya standar dengan yang seharusnya.

Seorang pendidik memiliki keahlian mendidik akan mampu membuat orang bernalar. Pendidik ahli ini tampil sebagai guru yang berpengalaman, efektif dalam menyelesaikan berbagai persoalan didalam kelas.

Hasil penelitian tentang pengaruh guru terhadap kehidupan siswa, menunjukan bahwa kualitas hubungan guru dan siswa memberi pengaruh signitifkan di dalam berbagai bidang kehidupan siswa.

Tujuan akhir pendidikan adalah terbentuknya karakter the end of ducation is character. Yaitu mengetahui yang benar dan bertindak mulia. Dengan demikian pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang dapat membangun karakter.

Psikologi pendidikan merupakan sumbangsih dari ilmu pengetahuan psikologi terhadap dunia pendidikan dalam kegiatan pendidikan pembelajaran, pengembangan kurikulum, proses belajar mengajar, sistem evaluasi, dan layanan konseling merupakan serta beberapa kegiatan utama dalam pendidikan terhadap peserta didik, pendidik, orang tua, masyarakat dan pemerintah agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara sempurna dan tepat guna.

Ada juga yang menjelaskan bahwa psikologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan dan ilmu terapan yang menguraikan berbagai kegiatan manusia dalam hubungannya dengan situasi pendidikan. Salah satu contohnya adalah mempelajari bagaimana cara menarik perhatian siswa sehingga mereka lebih mudah menerima pelajaran yang diajarkan.

Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa psikologi di bidang pendidikan dimaksudkan untuk mempengaruhi kegiatan pendidikan sehingga proses pembelajaran dan belajar-mengajar dapat berlangsung lebih efektif dengan memperhatikan respon kejiwaan dan tingkah laku peserta didik.

Definisi dan Pengertian Pemanasan Global, Penyebab, Dampak dan Cara Mengatasinya

Pengertian Psikologi Pendidikan Menurut Para Ahli

Agar lebih memahami apa yang dimaksud dengan educational psychology, maka kita dapat merujuk pada pendapat beberapa ahli berikut ini:

Whiterington

Menurut Whiterington (1982), pengertian psikologi pendidikan adalah suatu studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia.

Sumadi Suryabrata

Menurut Sumadi Suryabrata (1984), pengertian psikologi pendidikan adalah suatu pengetahuan psikologi tentang anak didik dalam situasi pendidikan.

Elliot dkk.

Menurut Elliot dkk (1999), pengertian psikologi pendidikan adalah penerapan teori-teori psikologi untuk mempelajari perkembangan, belajar, motivasi, pengajaran dan permasalahan yang muncul dalam dunia pendidikan.

Muhibin Syah

Menurut Muhibin Syah (2003), pengertian psikologi pendidikan adalah disiplin psikologi yang mempelajari masalah psikologis yang terjadi di dunia pendidikan.

Tardif

Menurut Tardif (dalam Syah, 1997:13), pengertian psikologi pendidikan adalah suatu bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan mengenai perilaku manusia dalam berbagai usaha kependidikan.

Barlow

Menurut Barlow (1985), pengertian psikologi pendidikan adalah suatu pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu seorang guru dalam proses belajar-mengajar secara lebih efektif.

Dakir

Menurut Dakir (1993) psikologi pendidikan adalah ilmu yang membahas tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungan.

Santrok

Menurut Santrok (2007) mendefinisikan bahwa psikogi pendidikan adalah cabang psikologi yang mengkhususkan diri oada pemahaman tentang proses belahar dan mengajar dalam lingkungan pendidikan.

Psikologi pendidikan bermaksud untuk menerapkan psikologi ke dalam proses yang membawa pengubahan tingkah laku, dengan kata lain untuk mengajar. Sedangkan arti psikologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari tentang belajar, pertumbuhan, dan kematangan individu serta penerapan prinsip – prinsip ilmiah terhadap reaksi manusia. Pendidikan tersebut bertujuan untuk mempengaruhi proses mengajar dan belajar.
Pengertian psikologi pendidikan menurut para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa psikologi pendidikan merupakan disiplin ilmu psikologi yang mempengaruhi proses belajar mengajar dalam dunia pendidikan.

William james dan john dewey adalah printis penting psikologi pendidikan demikian juga dengan E.L.Thorndike dan Deway mengemukakan bahwa anak adalah pembelajaran aktif, pendidik untuk semua anak, penekananya pada adaptasi anak terhadap lingkungannya dan cita cita demokratis agar semua anak mendapatkan pendidikan yang baik.

Dari penjelasan para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa educational psychology merupakan asas psikologi yang mempengaruhi proses belajar-mengajar di bidang pendidikan.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa psikologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia dan lingkungannya dalam proses pembelajaran.

Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan

Psikologi pendidikan memiiliki ruang lingkupnya yang menjadi dasar dan batas atau yang membedakan dengan keilmuan psikologi lainnya. Menurut Sumadi Suryobroto, ruang lingkup psikologi pendidikan antara lain:

Pengetahuan

Pendidik atau guru perlu memilik pengetahuan yang lebih untuk memberikan pengajaran pada anak didiknya. Proses belajar mengajar memberikan dampak secara pengetahuan (kognitif) pada peserta didik yang awalnya tidak tahu tentang materi yang diberikan menjadi tahu. Guru atau pengajar perlu memiliki pengetahuan tentang metode pembelajaran dan pengetahuan lainnya tentang masalah yang mungkin ada pada peserta didik.

Pengetahuan tentang aktivitas jiwa peserta didik, intelegensi, kepribadian, karakter individu, bakat peserta didik, tumbuh kembangnya, pembinaan disiplin di dalam kelas, motivasi belajar, perilaku guru, strategi belajar mengajar, dan masalah masalah khusus dalam pengajaran dan pendidikan.

Pembawaan

Proses pembelajaran yang interaktif dari guru akan memberikan motivasi dan respon positif dari anak didik saat proses belajar mengajar. Pembawaan dimiliki seorang pengajar sebagai gaya penyampaian materi, konsep pengajaran selama berada di kelas. Dan juga diperlukan untuk mengubah suasana yang menstimulus siswa selalu aktif akan meningkatkan kualitas hasil pembelajaran.

Proses – proses tingkah laku

Menurut Soerjabrata, psikologi pendidikan ditinjau secara dinamis yakni mencakup perubahan perilaku seperti :

  • Perubahan perilaku karena pertumbuhan dan perkembangan.
  • Perubahan perilaku karena belajar merupakan faktor yang penting dalam pembelajaran.

Proses pembelajaran interaktif yang diberikan oleh guru kepada peserta didik akan memunculkan perubahan perilaku seperti ketrampilan selama proses pembelajaran seperti berbicara di depan kelas, berdiskusi, ataupun kegiatan yang melibatkan respon sensorik dan motorik. Kegiatan tersebut memberikan perubahan pada peserta didik menjadi lebih aktif dan perubahan sikap (afektif) dari sikap yang kurang baik menjadi sikap yang positif. Sikap positif yang dibawa saat kembali ke dalam keluarga, ke masyarakat merupakan hasil proses pendidikan yang berkualitas.

Hakikat dan ruang lingkup belajar

Hakikat merupakan hal yang mendasari dalam proses belajar. Hakekat dan ruang lingkup belajar mengacu proses pembelajaran seperti interaksi, materi yang diberikan kepada siswa.

Perkembangan siswa

Guru mempengaruhi perkembangan siswa dari tingkah laku yang ditunjukkan ketika di kelas, ketertarikan atau keaktifan saat mengikuti pelajaran, hasil yang didapatkan ketika tes. Dan juga perkembangan siswa yang tampak dari sikap, cara berbicara, interaksi dengan guru dan temannya. Semua itu merupakan hasil dari proses pembelajaran. Perkembangan yang positif jika dilihat kemajuan siswa dalam interaksinya maupun intelegensinya meningkat ke arah yang baik.

Faktor yang mempengaruhi belajar

Situasi belajar sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Situasi seperti tempat dan suasana sangat mempengaruhi keberhasilan mengajar seorang guru. Kondisi ruang kelas, ruang laboratorium, ruang perpustakaan merupakan fasilitas yang membantu mempengaruhi kualitas belajar mengajar.

Kondisi ruangan dari kebersihan, sirkulasi udara, kapasitas ruangan yang memadai, kondisi bangku dan tempat duduk, penerangan, dan kondisi tenang dibutuhkan akan membangkitkan minta belajar peserta didik dan juga semangat mengajar guru. Sikap guru, semangat kelas, sikap keluarga dan masyarakat juga merupakan faktor yang mempengaruhi situasi belajar dan pada akhirnya mempengaruhi kualitas proses dan hasil pembelajaran.

Faktor lain yang mempengaruhi belajar berasal dari dalam atau diri siswa yaitu motivasi, bakat, intelegensi, kemampuan diri menyesuaikan dengan lingkungan belajar.

Selengkapnya baca Faktor yang mempengaruhi belajar

Pengukuran pendidikan

Pengukuran pendidikan merupakan evaluasi yang dilakukan terhadap peserta didik setelah mendapatkan proses pembelajaran dalam waktu tertentu untuk mengukur perkembangan pendidikan yang telah didapat.

Aspek praktis pengukuran

Aspek praktis pengukuran merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengetahui perubahan perilaku siswa hasil dari proses pembelajaran.

Transfer belajar

Pembelajaran dengan sistem dan interaksi yang baik dan positif dengan komunikasi yang menyenangkan antara guru dan anak didik menyebabkan anak didik menerima ilmu yang diberikan dan menyukai gurunya. Namun, jika interaksi dan komunikasi guru pada siswa kurang baik, maka siswa akan menjadi tidak suka dan menunjukkan sikap yang negatif. Sikap positif yang diajarkan dan diterapkan selama di sekolah akan dimiliki oleh siswa seperti yang awalnya tidak disiplin menjadi disiplin, yang sebelumnya tidak bisa berpakaian rapi menjadi berseragam dengan rapi.

Kesehatan mental

Kesehatan mental anak didik ditandai dengan keikutsertaannya dan keaktifannya dalam mengikuti setiap kegiatan pembelajaran baik secara individu maupun berkelompok.

Pendidikan karakter

Karakter psikologi dibentuk dari budaya yang diterapkan selama masa pembelajaran di bangku sekolah oleh pendidik. Budaya berupa aturan aturan kedisplinan ataupun asas dari kebudayaan yang ada pada suatu daerah.

Kurikulum pendek

Kurikulum merupakan kerangkan pembelajaran untuk tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien.
Secara umum, educational psychology mempelajari tingkah laku setiap orang dalam proses pendidikan, yaitu guru dan siswa. Secara umum, para ahli membatasi pokok bahasan dalam psikologi pendidikan ke dalam tiga hal, yaitu:

  1. Belajar, yaitu pokok bahasan yang mencakup berbagai teori, prinsip-prinsip, karakteristik perilaku siswa, dan lain-lain.
  2. Proses Belajar, yaitu pokok bahasan tentang tahapan perbuatan dan peristiwa dalam proses belajar siswa.
  3. Situasi Belajar, yaitu pokok bahasan tentang suasana dan keadaan lingkungan, baik fisik maupun non-fisik terkait dengan aktivitas belajar siswa.

Menurut Samuel Smith, seperti yang dikutip oleh Sumadi Suryabrata (1984), ada 16 topik bahasan yang termasuk dalam ruang lingkup psikologi pendidikan, yaitu:

  1. Pengetahuan mengenai psikologi pendidikan (the science of educational psychology).
  2. Karakteristik pembawaan sejak lahir (heredity).
  3. Lingkungan fisik (physical structure).
  4. Perkembangan siswa (growth).
  5. Semua proses tingkah laku (behavior process).
  6. Hakikat dan ruang lingkup belajar (nature and scope of learning).
  7. Semua faktor yang mempengaruhi proses belajar (factors that condition learning).
  8. Semua hukum dan teori-teori belajar (laws and theoris of learning).
  9. Pengukuran, yaitu semua prinsip dasar dan batasan-batasan pengukuran atau evaluasi (measurement: basic principles and definitions).
  10. Transfer belajar, meliputi bidang studi (transfer of learning subject matters).
  11. Semua sudut pandang praktis tentang pengukuran (practical aspects of measurement).
  12. Ilmu statistik dasar (element of statistics).
  13. Kesehatan rohani/ mental (mental hygiene).
  14. Pendidikan yang membentuk karakter (character educations).
  15. Pengetahuan psikologi mengenai bidang studi sekolah menengah (psychology of secondary school subjects).
  16. Pengetahuan psikologi mengenai bidang studi sekolah dasar (psychology of elementary school subjects).

Teori Psikologi Pendidikan

Psikologi di bidang pendidikan memiliki beberapa dasar teori yang menjadi landasan dan konsep dasar pelaksanaannya, diantaranya adalah:

Teori Behaviorisme

Dalam teori behaviorisme (perilaku), yang menjadi pembelajaran adalah perubahan tingkah laku yang merupakan dampak dari interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dapat dikatakan telah belajar jika terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut.

Pengertian Teori Belajar Behaviorisme / Behavioristik dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Teori Manajemen Operasional

Dalam teori manajemen operasional disebutkan bahwa tingkah laku seseorang dikontrol oleh konsekuensi yang mungkin terjadi, baik itu dukungan positif dan negatif maupun hukuman positif dan negatif.
Dukungan positif adalah sesuatu yang menyenangkan pada suatu tingkah laku, dan dukungan negatif adalah menghapus hal yang tidak menyenangkan sebagai sikap yang dapat diterima. Sedangkan hukuman positif adalah hukuman untuk mengurangi perilaku tidak menyenangkan, dan hukuman negatif adalah hukuman untuk mengurangi perilaku tidak menyenangkan dengan mengambil sesuatu yang menyenangkan.

Teori Harmonik Klasik

Teori ini melibatkan pembelajaran perilaku baru melalui proses yang terus menerus. Dalam teori harmonik klasik terdapat tiga tahap, yaitu;

Tahap 1, Sebelum Kondisi; rangsangan dari lingkungan menghasilkan respon yang belum dipelajari dan terdapat respon yang belum pernah terpikirkan.

Tahap 2, Selama Penyesuaian; rangsangan dari lingkungan tidak menghasilkan respon terhadap rangsangan yang sudah diketahui.

Tahap 3, Setelah Remediasi; proses terbentuknya respon baru.

Teori Kognitif

Teori kognitif (kesadaran) fokus terhadap perubahan proses dan struktur mental yang terjadi sebagai hasil usaha untuk memahami lingkungan sekitarnya.

Pengertian Teori Belajar Kognitif Menurut Ahli dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Teori Koneksionisme

Teori koneksionisme (asosiasi) dikembangkan oleh Edward L. Thorndike (1878-1949) yang dikenal dengan teori respon stimulus. Dalam teori ini disebutkan bahwa stimulus akan mengirimkan pesan mengenai panca indera dan merespons perilaku.

Teori Gestalt

Di dalam teori Gestalt dijelaskan bahwa proses kognitif terjadi melalui pengaturan pesan atau pola yang saling terkait dengan komponen sehingga menjadi satu kesatuan. Menurut teori ini, umumnya orang cenderung melihat hal-hal di sekitarnya secara menyeluruh.

Manfaat Psikologi Pendidikan

Pada dasarnya educational psychology memiliki banyak manfaat bagi dunia pendidikan. Menurut Muhammad dan Wiyani (2013), ada sepuluh manfaat yang bisa diperoleh dari mempelajari psikologi pendidikan, yaitu:

  1. Memahami perbedaan siswa, pemahaman tenaga pendidik (guru) terhadap masing-masing siswa akan menghasilkan interaksi pembelajaran yang tepat sasaran serta pembelajaran yang efektif dan efisien.
  2. Terciptanya suasana belajar yang kondusif, efektifitas kegiatan belajar-mengajar sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif.
  3. Strategi pembelajaran yang tepat, dengan mempelajari educational psychology maka seorang guru dapat mengenal karakter setiap siswanya. Dengan begitu maka akan ditemukan strategi pembelajarn yang tepat sehingga menghasilkan proses belajar-mengajar yang efektif.
  4. Memberikan bimbingan bagi siswa, ini berkaitan dengan rasa percaya siswa terhadap guru. Dengan adanya rasa percaya murid kepada gurunya maka proses pembelajaran akan lebih efektif dan mudah.
  5. Interaksi yang tepat dengan siswa, ini sangat berkaitan dengan semua prinsip psikologi yang mendasari cara berkomunikasi yang tepat. Cara berkomunikasi yang tepat akan berdampak pada proses belajar-mengajar yang lebih baik.
  6. Adanya evaluasi pembelajaran, guru yang memiliki psikologi yang baik akan mampu memberikan penilaian atau evaluasi hasil pembelajaran dengan adil tanpa membedakan setiap siswanya.
  7. Memotivasi belajar, tenaga pengajar yang mampu memberikan dukungan, dorongan kepada siswanya akan membuat siswa tersebut belajar lebih giat. Kemampuan tersebut didapatkan dari educational psychology yang didapatkan oleh guru sehingga mampu memotivasi siswanya.
  8. Penetapan tujuan pembelajaran, dengan adanya educational psychology maka guru dapat menentukan tujuan pembelajaran sesuai dengan yang diinginkan sebagai hasil pembelajaran. Tujuan pembelajaran tersebut menjadi ukuran apakah proses belajar-mengajar berhasil atau tidak.
  9. Memakai media belajar yang tepat, psikologi pendidikan juga dapat membantu dalam menentukan media pembelajaran yang paling tepat untuk siswa. Misalnya penggunaan media visual, audio, motorik dan lainnya, sehingga kegiatan belajar-mengajar menjadi lebih menarik dan menyenangkan.
  10. Penyusunan jadwal pelajaran, kondisi para siswa merupakan salah satu acuan dalam menyusun jadwal pelajaran. Bidang studi yang membutuhkan pemikiran yang rumit seperti matematika akan lebih efektif bila berlangsung pada jam-jam awal belajar karena pikiran siswa masih segar dan mudah berkonsentrasi.

Manfaat Penerapan Psikologi Pendidikan Dalam Mengajar

Adapun beberapa manfaat penerapan psikologi pendidikan dalam mengajar adalah sebagai berikut:

  • Proses pembelajaran akan disesuaikan dengan karakteristik siswa.
  • Pemahaman alami aktivitas belajar di dalam kelas.
  • Pembelajaran akan bervariasi karena adanya pemahaman perbedaan individual
  • Memahami metode mengajar yang efektif digunakan sebagai pendidik & pengajar
  • Pembelajaran akan menyenangkan karena guru bisa menghadirkan suasa yang menyenangkan bagi siswa tentunya dengan memperhatikan karakter dan kesukaan siswa
  • Pembelajaran menjadi lebih efektif karena siswa antusias mengikuti proses pembelajaran

Manfaat Penerapan Psikologi Pendidikan Bagi Pendidik

Adapun beberapa manfaat penerapan psikologi pendidikan bagi guru/pendidik adalah sebagai berikut:

  • Peka terhadap perilaku dan kebutuhan para peserta didik untuk belajar
  • Mengembangkan diri sendiri untuk menjadi manusia pembelajar dan dapat membagi ilmunya pada orang lain secara profesional
  • Mengetahui teknik-teknik yang tepat untuk memaksimalkan potensi belajar anak didik
  • Mampu menganalisis kekurangan dan kelebihan dalam metode belajar mengajar baik terhadap diri sendiri maupun orang lain serta berupaya untuk terus memperbaikinya
  • Guru mampu memahami problem anak didik dan sebab-sebab timbulnya problem.
  • Guru dapat memahami faktor yang menjadi penyebab timbulnya mental tidak sehat & membantu memecahkannya.
  • Membantu penyusunan kurikulum yang harus memperhatikan prinsip-prinsip psikologi.
  • Pendidik lebih terbuka terhadap perbedaan individu
  • Mengetahui metode mengajar yang efektif
  • Memahami permasalahan anak didik
  • Membantu dalam evaluasi belajar
  • Meningkatkan kemampuan meneliti dan memahami karakter individu
  • Mengarahkan pendidik dalam menangani anak-anak khusus

Santrok 2007 mengemukakan bahwa untuk menjadi guru yang efektif perlu diperhatikan beberapa hal:

  1. Pengajaran yang efektif mensyaratkan agar guru menguasai secara utuh ilmu yang diajarkannya. Guru mudah terjebaj dalan pemikiran bahwa jika menguasai mata pelajaran, maka otomatis akan bisa mengajar dengan efektif.
  2. Memperluas perspektif. Guru harus yakin bahwa dirinya dapat menjadibguru yang efektif sebagaimana diinginkannya.
  3. Guru perlu menungkatkan diri secara terus menerus. Efektif antara lain menerut santrok adalah mempunyai selera humor membuat kelas menjadi menarik menguasai mata pelajaran menerangkan dengan jelas.

Manfaat Penerapan Psikologi Pendidikan Bagi Peserta Didik

Adapun beberapa manfaat penerapan psikologi pendidikan bagi siswa/peserta didik adalah sebagai berikut:

  1. Mengerti hakekat belajar
  2. Meningkatkan kemauan dan niat untuk mencari dan mendapatkan ilmu.
  3. Mengenali naluri dan potensi belajar.
  4. Mengembangkan diri menjadi manusia pembelajar
  5. Bertekad untuk meningkatkan harkat dan martabat dirinya agar lebih baik dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
  6. Pendidikan yang lebih demokratif bagi siswa
  7. Membantu perkembangan kepribadian siswa melalui kegiatan ekstra/intra kurikuler
  8. Memberikan ruang bagi siswa untuk mengenali diri dan bakatnya

Hambatan Jika Tidak Menerapkan Psikologi Pendidikan Dalam Mengajar

Belajar adalah salah satu kebutuhan yang wajib terpenuhi bagi seorang manusia. Individu atau pribadi yang baik akan memanfaatkan waktu sebaiknya-baiknya untuk belajar. Belajar yang dimaksud adalah belajar yang diperuntukan dalam bidang akademik. Kedisiplinan, kerajinan, dan keulatan merupakan kunci sukses dalam belajar. Dalam kenyataannya, banyak ditemui masalah yang menjadi penghambat dalam proses belajar. Banyak hambatan yang ditemui dalam proses belajar, sehingga belajar terkesan menjadi sesuatu yang berat. Oleh sebab itu belajar menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan dan banyak yang merasa tertekan untuk menjalankannya.

Adapun faktor penyebab hambatan belajar secara internal adalah sebagai berikut:

Kondisi psikologis ketika belajar

Sebelum belajar sebaiknya persiapkan diri terlebih dahulu. Ketika sedang belajar, kondisikan diri dalam keadaan rileks dan siap untuk menerima pelajaran. Jika diibaratkan, kondisi ini sama dengan gelas kosong yang siap diisi dengan air. Bila kondisi gelas dalam posisi yang benar yaitu dalam keadaan tidak terbalik maka gelas air yang dikucurkan akan masuk ke dalam gelas. Sebaliknya, jika posisi gelas terbalik maka air yang dikucurkan tidak akan masuk ke dalam gelas. Posisi gelas yang benar disamakan dengan kondisi psikologis yang siap belajar, sehingga akan mudah untuk menerima ilmu. Kondisi gelas yang terbalik sama halnya dengan kondisi yang tidak siap untuk belajar, sehingga Anda akan sulit memperoleh ilmu ketika Anda memaksakannya untuk belajar.

Kejenuhan belajar

Kejenuhan akan menyebabkan kesulitan memahami suatu materi. kita membaca tapi sulit untuk mencernanya, kita mendengar namun hanya sebatas mendengarkan saja, tidak merekamnya dan masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Jadi, kita akan kesuliatan untuk konsentrasi ketika kondisi merasa jenuh. Tidak timbul kerjasama yang baik antara indera yang bekerja dalam belajar dengan otak.

Tidak merasa senang dengan subjek yang dipelajari

Munculkanlah perasaan senang ketika akan belajar. Ketika muncul perasaan tidak senang pada objek yang dipelajari maka tanpa sadar sudah mengarahkan atau menggerekan otak untuk menolak suatu subjek yang akan dipelajari.

Tidak mengetahui manfaat yang dipelajari

Setelah Anda merasa senang dengan suatu pelajaran, maka jangan berhenti disitu saja. Kita juga perlu mencari tahu manfaat yang akan diperoleh ketika mempelajari suatu materi pelajaran. Munculkan beberapa pertanyaan dalam diri, seperti apa yang akan saya peroleh dengan mempelajari materi ini? Apakah pengetahuan yang saya peroleh dapat bermanfaat untuk kehidupan Anda sehari-hari? Semakin banyak jawaban yang diperoleh maka akan membangkitkan motivasi.

Tingkat intelektualitas

Faktor ini tidak mutlak menjadi penghambat dalam belajar. Setiap manusia yang dilahirkan membawa senjata berfikir yang sangat luar biasa. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kecerdasan intelektualitas. Hambatan yang satu ini dapat diatasi dengan ketekunan dan kerajinan.

Adapun hambatan eksternal belajar yaitu:

Faktor lingkungan

Lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter seseorang. Lingkungan juga berpengaruh terhadap aktivitas belajar. Lingkungan yang kondusif akan membantu memahami materi pelajaran.

Guru yang kurang baik

Guru yang baik dapat diartikan bukan guru yang jenius. Terkadang Anda mendapati guru yang katanya sangat pintar. Ada beberapa siswa yang merasa kesulitan mengikuti guru yang terlalu pintar dikarenakan guru tersebut hanya berbicara sendiri dengan papan tulis. Guru yang baik adalah guru yang mampu mentransfer ilmu kepada anak didik,sehingga anak didik tersebut mampu memahami suatu materi.

Bahan materi tidak memadai

Proses belajar akan terhambat apabila terjadi ketiadaan sumber materi. Ketika akan mempelajari suatu materi maka sumber dari materi tersebut harus tersedia. Bahan materi dapat diperoleh dari berbagai sumber, diantaranya media masa, buku, internet dan para pakar yang kompeten dengan materi yang akan dipelajari.

Tingkat kesukaran subjek yang dipelajari

Ini adalah sesuatu hal yang relatif, apa yang Anda rasa sulit belum tentusama dengan apa yang dirasakan oleh teman Anda. Oleh sebab itu, jika mengalami kesulitan dalam belajar sebaiknya segera kosultasikan dengan guru atau teman yang lebih memahami subjek atau materi yang Anda rasa sulit.

Faktor ekonomi

Banyak diantara suadara kita yang mengalami kesulitan ekonomi namun memiliki semangat tinggi untuk belajar namun terkendala oleh faktor ekonomi. Maka, bagi Anda yang memiliki kehidupan berkecukupan jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan belajar yang didapatkan.

Dengan mengenal semua hambatan-hambatan tersebut maka guru dituntut untuk dapat mengatasinya saat proses pembelajaran berlangsung. Hal itu bisa diatasi dengan psikologi pendidikan, namun jika psikologi pendidikan tidak diterapkan saat mengajar maka hambatan lain yang akan terjadi adalah:

  1. Tidak tercapainya tujuan pembelajaran
  2. Proses belajar mengajar tidak berlangsung baik, efektif dan menyenangkan
  3. Terjadi pendiskriminasian terhadap siswa
  4. Guru tidak dapat merumuskan tujuan pembelajaran secara tepat. Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai guru akan dapat lebih tepat dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran. Misalnya, dengan berusaha mengaplikasikan pemikiran Bloom tentang taksonomi perilaku individu dan mengaitkannya dengan teori-teori perkembangan individu.
  5. Guru tidak dapat memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai. Karena dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai guru dapat menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.
  6. Guru tidak dapat memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling. Tugas dan peran guru, di samping melaksanakan pembelajaran, juga diharapkan dapat membimbing para siswanya. Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya guru dapat memberikan bantuan psikologis secara tepat dan benar, melalui proses hubungan interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.
  7. Guru tidak dapat memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik. Memfasilitasi artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi dapat diartikan berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, tampaknya guru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator belajar siswanya.
  8. Tidak dapat menciptakan iklim belajar yang kondusif. Efektivitas pembelajaran membutuhkan adanya iklim belajar yang kondusif. Guru dengan pemahaman psikologi pendidikan yang memadai memungkinkan untuk dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.
  9. Tidak dapat berinteraksi secara tepat dengan siswanya. Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan siswanya.
  10. Tidak dapat menilai hasil pembelajaran yang adil. Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan dapat mambantu guru dalam mengembangkan penilaian pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil penilaian.

Peran Psikologi terhadap Pendidikan

Psikologi pendidikan sudah menjadi dasar pembentukan dan pengembangan sistem kurikulum, pembelajaran,d an penilaian dalam dunia pendidikan. Kontribusinya terhadap perkembangan dunia pendidikan dapat dijelaskan sebagai berikut:

Peran psikologi terhadap kurikulum pendidikan

Secara psikologis, pengembangan diri siswa didasarkan pada kemampuan afektif, kognitif, dan psikomotor. Kemampuan tersebut dapat dilihat dari perkembangan sikap, motivasi, tingkah laku, dan komponen lainnya. Komponen pembelajaran merupakan proses dari input ke output. Lalu, penggunaan kurikulum sebagai kerangka alur input menuju output atau hasil yang baik memerlukan hakikat – hakikat psikologi.

Kurikulum yang saat ini sedang dikembangkan adalah kurikulum berbasis kompetensi. Kompetensi bertujuan untuk mengembangkan kemampuan pada ketrampilan, pengetahuan, dan refleksi dalam berfikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak dengan refleksi diri yang konsisten memungkinkan terbentuknya suatu individu individu yang unggul dan kompeten.

Peran psikologi terhadap sistem pembelajaran

Terkait dengan teori teori psikologi yang berdampak pada seseorang dalam bertingkah laku, psikologi juga mempengaruhi sistem pembelajaran pada dunia pendidikan dengan positif. Siswa menjadi bersungguh – sungguh belajar ketika respon psikologinya dibimbing oleh pengajar dengan baik.
Dan juga, proses pemahaman pembelajaran suatu topik menjadi lebih mudah dengan penyelesaian masalah-masalah pembelajaran yang dialami. Keinginan atau hasrat menjadi lebih tinggi dengan pendekatan psikologi dari guru dengan interaksi dan komunikasi yang menyenangkan.

Selain itu psikologi pendidikan juga telah melahirkan prinsip prinsip pembelajaran seperti yang dipaparkan oleh Sudirwo, 2002 :

  1. Seseorang yang belajar harus memiliki sebuah tujuan.
  2. Tujuan dilahirkan dari kebutuhan bukan paksaan
  3. Harus bersedia mengalami beberapa kesulitan.
  4. Belajar itu dibuktikan dengan perubahan perilaku.
  5. Belajar membutuhkan insight apa yang harus dipelajari dan dipahami.
  6. Seseorang membutuhkan bimbingan.
  7. Ujian perlu dilakukan namun didahului dengan pemahaman.

Peran psikologi terhadap sistem penilaian

Psikologi juga telah memberikan peranannya dalam sistem penilaian. Misalnya, dengan tes psikologi untuk mengetahui tingkat kecerdasan siswa, tes bakat untuk mengetahui bakat yang potensial terdapat dalam diri siswa sehingga lebih mudah memberikan bimbingan dalam membantu mengembangkan potensi diri siswa.

Tes aspek kepribadian juga dapat membantu guru mengenal lebih baik pribadi siswanya sehingga bisa memberikan pendekatan yang lebih baik lagi dalam proses pembelajaran. Berbagai tes psikologi tersebut membantu memberikan penilaian terhadap masing masing siswa untuk mempermudah menjembatani keinginan, potensial, maupun impian siswa sesuai dengan kemampuan dan bakatnya.

Psikologi pendidikan memberikan dampak dan manfaat dari berbagai aspek dalam pembelajaran. Psikologi pendidikan membantu pengajar untuk memahami siswa lebih dalam berdasarkan karakteristiknya, tahap tumbuh kembangnya, perilaku dan tingkah lakunya, secara emosional untuk memberikan proses belajar mengajar yang tepat dan sesuai sehingga menghasilkan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Proses pembelajaran yang baik tersebut akan berdampak pada hasil yang memuaskan. Siswa yang mendapatkan proses pembelajaran baik, akan menerapkan pola pola kebiasaan yang baik setelah dirinya masuk ke dalam keluarga dan masyarakat dan memberikan dampak perilaku positif dalam setiap kehidupannya.

Demikianlah penjelasan ringkas mengenai pengertian psikologi pendidikan, ruang lingkup, teori, serta beberapa manfaatnya. Semoga artikel ini dapat membantu para pengajar untuk lebih memahami karakter siswanya dan menyesuaikan proses pembelajaran yang tepat sehingga mampu menghasilkan generasi generasi yang unggul baik secara intelegensi maupun sikap dan perilaku yang nantinya dibawa dalam kehidupan bermasyarakat sehingga mampu memberikan peranan positif dan bermanfaat.

Pencarian Populer

  • peran psikologi pendidikan dalam menyelesaikan masalh bagi siswa

Leave a Comment