Kebersihan Hati dan Kiat Menumbuhkannya – Materi Ceramah dan Kultum

Kebersihan Hati dan Kiat Menumbuhkannya – Materi Ceramah dan Kultum

Kebersihan Hati -Segala puji hanya bagi Allah Tuhan Semesta Alam yang tiada tertandingi. Sholawat serta salam semoga terus tercurah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabat.

Sebagai umat Islam, sudah sepatutnya kita memiliki hati yang murni, suci, jauh dari sifat iri dan dengki. Hal ini tidak lain karena ajaran yang terkandung di dalam Al Quran dan Hadits adalah ajaran yang sangat mulia yang mengedepankan akhlakul karim. Disamping itu, Allah juga sangat membenci bila hamba-Nya memiliki sifat iri dengki, dan lainnya sebagainya yang dapat merusak kebersihan dan kesucian hati kita.

Nabi Muhammad SAW juga melarang para umatnya untuk melakukan hal-hal yang memiliki kemungkinan dapat membangkitkan amarah dan yang berpotensi menimbulkan kerusuhan, permusuhan dan kebencian antar sesama. Sebagaimana sabda beliau, “Janganlah kalian saling bermusuhan, saling iri, saling membelakangi, dan janganlah kalian saling memutuskan hubungan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim untuk memutuskan hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari”. (H.R Muslim).

Rasulullah SAW selalu mengajarkan kita untuk saling mencintai dan menyayangi antar sesama bahkan kepada yang tidak seagama dengan kita sekalipun. Sebagaimana sabda beliau berikut ini, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangannya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai … (H.R Muslim)

Orang-orang yang memiliki kebersihan dalam jiwanya merupakan orang-orang yang dianggap paling utama oleh Rasulullah SAW. “Setiap orang yang makhmul al-qalb dan shaduq al-lisan (sangat benar ucapannya). Para shahabat lalu bertanya: Kami mengetahui tentang Shaduqul lisan, akan tetapi apa maksud dari makhmul al-qalb ? Maka beliau menjawab: Yaitu orang yang bertakwa lagi bersih (jiwanya), tidak mempunyai dosa, kedzaliman, dendam, maupun rasa iri dengki”. (H.R Ibnu Majah).

Kebersihan jiwa merupakan suatu nikmat yang sangat berharga yang mana hanya ahli surga lah yang akan memiliki sifat-sifat tersebut. Hal ini dijelaskan dalam Q.S Al – Hijr ayat 47

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَاناً عَلَى سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ

“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan” (Q.S Al-Hijr 47)

Jiwa yang bersih akan membawa ketenangan bagi pemiliknya. Selain itu, kebersihan jiwa dapat membawa keberuntungan bagi pemiliknya baik dunia maupun di akhirat. Karena kebersihan jiwa merupakan salah cara agar seseorang dapat masuk ke dalam surganya Allah SWT.

Ibnu Hazm memberikan kita gambaran bagaimana keadaan orang-orang hatinya dan jiwanya tidak bersih. “Aku memperhatikan kebanyakan manusia – kecuali yang Allah pelihara dan jumlah mereka sedikit – menyegerakan kesengsaraan, gundah gulana serta keletihan bagi diri mereka di dunia, lalu memikul dosa yang besar di akherat sehingga menyebabkan (mereka) masuk ke dalam neraka dengan sesuatu hal yang sama sekali tidak mendatangkan manfaat, seperti menginginkan harga barang yang melambung yang menyengsarakan masyarakat, dan mereka yang tidak berdosa. Begitu pula mengangan-angankan datangnya musibah yang dahsyat terhadap orang yang ia benci. Padahal mereka sadar kalau keinginan buruk tadi tidak akan menyegerakan (kemudharatan) sedikitpun.

Bila niat dalam hati mereka bersih dan selalu memperbaiki diri, tentulah ketenangan itu akan mereka dapatkan. Selain itu, pahala yang sangat besar juga akan mereka peroleh dengan tanpa mengakhirkan atau menghalangi sedikitpun dari apa yang mereka inginkan. Maka adakah tipuan yang lebih besar keadaannya dari apa yang telah kami peringatkan? Dan kebahagian mana yang lebih besar dari apa yang telah kita anjurkan ?

Membiarkan hati memiliki rasa dendam dan kedengkian meskipun orang tersebut tidak memakan barang haram dan tidak memandang hal-hal yang diharamkan, tetap saja akan merusak kesucian jiwa.

Berkata Fath bin Syakhraf: Abdullah al-Antaki berkata padaku: “Wahai Khurasani: Kunci segala perkara itu hanya ada empat, tidak lebih: Pandanganmu, lisanmu, hatimu dan nafsumu. Maka perhatikanlah matamu, jangan sampai memandang pada apa yang tidak halal, dan perhatikan lisanmu, jangan mengucapkan sesuatu yang Allah mengetahui apa yang tidak bersesuaian dengannya dalam hatimu. Perhatikan juga hatimu, jangan sampai tersimpan rasa dendam dan dengki pada salah seorang dari kaum muslimin. Perhatikan pula nafsumu, jangan sampai menginginkan sedikitpun dari kejahatan. Jika dirimu tidak memiliki empat hal di atas maka tuangkanlah abu di atas kepalamu, karena engkau telah celaka”.

Sebagian orang menyangka bahwa tanda hati yang selamat itu adalah gampang tertipu dan ditertawakan, ini adalah tidak benar. Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: “Perbedaan antara jiwa yang selamat dan lemah fikiran serta lalai adalah bahwa jiwa yang selamat tidak menginginkan kejahatan setelah mengetahuinya, sehingga hatinya terbebas dari keinginan melakukannya dan bukan mengetahui kejahatan lalu melakukannya. Ini berbeda dengan orang yang bodoh dan lalai yang mana ia jahil dan sedikit pengetahuannya. Hal seperti ini tidak terpuji, karena merupakan suatu kekurangan. Manusia memuji orang semacam ini, karena mereka selamat darinya. Merupakan suatu kesempurnaan bila seseorang mengetahui segala bentuk kejahatan dan selamat dari keinginan melakukannya. Berkata Umar bin Khattab r.a: “Aku bukan seorang penipu dan tidak bisa dikelabui oleh penipu”. Beliau lebih arif dari tipuan dan lebih wara’ dari perbuatan menipu.

Kebersihan jiwa juga merupakan salah satu kunci sebab masuknya seseorang ke dalam surga milih Allah SWT. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a menceritakan: “Suatu hari kami duduk di majlis Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, lalu beliau bersabda: “Sebentar lagi akan akan muncul dihadapan kalian salah satu calon penghuni surga. Lalu datanglah salah seorang dari kaum Ansar yang janggutnya meneteskan air dari bekas wudhu, sedang tangan kirinya memegang kedua terompahnya. Keesokan harinya nabi saw. mengabarkan lagi, dan muncullah orang tadi. Pada hari yang ketiga, nabi saw. mengabarkan lagi, dan muncullah orang tadi, sebagaimana keadaan datangnya pada kali yang pertama. Ketika nabi saw. berdiri, Abdullah bin Al-‘Amr bin Al-‘Ash r.a membuntuti orang tadi kemudian mengatakan: “Aku berselisih dengan ayahku, dan aku bersumpah untuk tidak menemuinya dalam waktu tiga hari. Jika engkau mengizinkan aku untuk menginap (di rumahmu) sampai berlalu tiga hari”. Maka orang tersebut menjawab: “Baiklah”.

Berkata Anas r.a : Abdullah menceritakan bahwa ia bermalam di rumah orang tadi selama tiga malam, akan tetapi ia tidak mendapatinya shalat malam. Hanya saja apabila ia terbangun dari tidurnya, ia berdzikir dan mengagungkan Allah sampai Shalat Fajar. Abdullah melanjutkan, namun aku tidak pernah mendengarnya mengatakan sesuatu kecuali kebaikan. Setelah tiga hari berlalu, dan hampir saja aku meremehkan amalannya, aku katakan padanya: “Wahai Abdullah, sebenarnya tidak terjadi apa-apa antara aku dan ayahku, tetapi aku mendengar rasulullah saw. bersabda tentang engkau sebanyak tiga kali: “Akan hadir pada kalian seorang penghuni surga”, lalu engkau muncul pada ketiga saat tersebut. Lantas aku ingin untuk bermalam di rumahmu untuk menyaksikan lebih dekat amalanmu, sehingga aku bisa meneladaninya. Tetapi aku tidak mendapatimu banyak beramal. Amalan apakah gerangan yang menyampaikan pada apa yang disabdakan nabi saw. ? Lalu orang tersebut menjawab: “Tidak ada selain yang engkau lihat sendiri, hanya saja aku tidak pernah merasa iri dengki pada seseorang yang diberi kebaikan oleh Allah. Maka Abdullah berkata: “Inilah yang menyampaikan engkau, dan inilah yang tidak mampu kami lakukan” (H.R Ahmad).

 

Faktor yang menyebabkan sikap saling benci

Terbujuk Rayu Setan

Sebagaimana janji setan kepada Allah SWT bahwa dirinya tidak akan berhenti menggoda manusia sampai hari akhir.

Allah berfirman:

وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُواْ الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإِنْسَانِ عَدُوّاً مُّبِيناً

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia” (Q.S Al-Israa 53).

Rasulullah saw. bersabda: “Setan berputus asa untuk disembah di jazirah arab, tetapi ia berusaha menaburkan benih permusuhan diantara mereka” (H.R Muslim)

 

Terlalu Cepat Marah

Pada umumnya, marah merupakan awal dari setiap kejahatan. Rasulullah SAW berpesan pada seseorang agar menjauhi sifat marah. “Janganlah engkau marah”. Beliau mengulanginya berkali-kali. (H.R Bukhari).

Kemarahan yang tidak terkontrol akan membuat seseorang lupa. Sehingga dia bisa saja mencela orang lain, merusak atau melukai orang lain, bahkan tidak jarang ada yang sampai menghilangkan nyawa seseorang. Hal semacam inilah yang akan membuat perpecahan dan permusuhan antara umat.

 

Namimah (Suka mengadu domba)

Mengadu domba dengan cara memfitnah seseorang merupakan awal dari perselisihan antara kedua belah pihak yang menyebabkan terputusnya hubungan kekerabatan. Namimah juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan hati seseorang menjadi kotor. Perbuatan semacam ini sungguh sangat tidak disukai oleh Allah SWT sebagaimana yang tertuang dalam Q.S Al Qalam ayat 11

هَمَّازٍ مَّشَّاء بِنَمِيمٍ

“Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah” (Q.S Al Qalam 11).

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa “Tukang adu domba itu tidak akan masuk surga”.

 

Memelihara sifat Hasad

Hasad adalah salah satu bentuh sifat iri dan dengki seseorang terhadap orang lain. Orang yang memiliki sifat hasad ini akan selalu mengharapkan nikmat yang diperoleh seseorang itu hilang, sebab nikmat orang tersebut lebih tinggi daripada dirinya.

Sifat hasad merupakan gangguan bagi umat islam untuk memperoleh kebersihan jiwa. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda “Jauhilah sikap hasad, karena ia akan memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar” (H.R Abu Dawud).

Berawal dari hasad, kemudian akan berlanjut kepada ghibah dan juga namimah yang kemudian terlontarlah tuduhan-tuduhan yang tidak benar kepada sesama kaum muslim yang lebih berjaya, kaya, pandai dll.

 

Terlalu fokus pada hal duniawi.

Di zaman sekarang ini, kita telah melihat banyaknya orang yang berlomba-lomba menjadi orang kaya, sehingga tidak jarang yang menghalalkan segala cara demi memperoleh kekayaan tersebut. Perasaan ini dapat menimbulkan dendam antar sesamanya.

 

Gila jabatan dan popularitas

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Seseorang itu tidak akan cinta jabatan melainkan ia akan bersikap hasud, memusuhi, dan mencari-cari kesalahan manusia serta tidak suka bila ada orang lain yang disebut kebaikannya”.

Perkataan tersebut memang benar adanya. Kita juga sering mendengar berbagai macam berita pertikaian dan permusuhan antara partai A dan partai B karena berbeda pendapat dan pilihan. Juga tokoh A dan tokoh B yang saling tuduh, saling serang, saling menjelekkan guna memperoleh simpati masyarakat.

 

Terlalu banyak bercanda.

Ternyata, terlalu banyak bercanda juga dapat menjadi sebab kekotoran pada hati. Bercanda yang terlalu berlebih dan melewati batas ditakutkan akan melukai persaan lawan bicara. Ketika becanda, ditakutkan ada perkataan yang tidak enak di dengar dan seorang memaki, merendahkan, dan mengolok-olok sebagai bahaan candaan yang seharuskan kata-kata itu tidak dilontarkan.

 

Kiat Mendapatkan Kebersihan Jiwa

1. Ikhlas : Shahabat Zaid bi Tsabit r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Ada tiga hal yang tidak akan menjadikan hati seorang mukmin dengki: Ikhlas dalam beramal, menasehati para pemimpin, dan berpegang pada jama’ah kaum muslimin …… (H.R Ahmad dan Ibnu Majah)
Sudah sewajarnya orang yang mengikhlaskan agama-Nya untuk Allah, tidak akan muncul dalam dirinya melainkan rasa cinta yang murni pada kaum muslimin. Jika kaum muslimin mendapatkan kebaikan baik dalam hal duniawi maupun akherat, ia bahagia dan sebaliknya jika mereka di timpa musibah, ia bersedih.

2. Keridhaan seorang hamba pada Tuhannya:
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata tentang masalah ridha: “Keridhaan membuka pintu keselamatan pada seorang hamba”. Hatinya akan terbebas dari sikap menipu, dan iri dengki. Tidak akan selamat dari adzab Allah kecuali siapa yang datang pada Allah dengan hati yang selamat. Adalah hal yang mustahil selamatnya hati jika masih ternodai oleh rasa marah dan tidak ridha. Setiap kali keridhaan seorang hamba meningkat, maka hatinya akan lebih selamat. Kekejian, iri dengki dan menipu adalah senada dengan sifat tidak ridha. Sedang hati yang selamat, kebaikan dan nasehatnya adalah sejalan dengan ridha. Demikian pula hasad yang merupakan buah dari kemarahan. Selamatnya hati dari rasa hasad adalah buah dari keridhaan.

3. Membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya:
Adalah obat segala penyakit. Orang yang diharamkan (kebaikan darinya) adalah siapa yang tidak berobat dengan Al-Qur’an. Allah berfirman:
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاء
“Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman” (Q.S Fushshilat: 44)

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَاراً
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (Q.S Al-Israa’: 82)

Ibnul Qayyim berkata: “Pendapat yang benar adalah bahwa “”مِنْ disini adalah untuk menjelaskan keseluruhan dari Al-Qur’an dan bukan sebagiannya. Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ
“Hai manusia,, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada” (Q.S Yunus: 57)

Al-Qur’an adalah obat yang sempurna dari segala penyakit hati dan badan serta penyakit duniawi maupun ukhrawi.

4. Mengingat Hari Perhitungan dan pembalasan: Mereka yang menyakiti kaum muslimin dengan kekejian pada dirinya dan keburukan niatnya berupa rasa iri dengki, menggunjing, adu domba dan melecehkan dll.

5. Doa: Seorang hamba senantiasa berdoa pada Allah agar dijadikan hatinya sebagai hati yang selamat terhadap kaum muslimin dan juga mendoakan mereka. Inilah kebiasaan orang-orang yang sholeh. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (Q.S Al Hasyr: 10)

6. Bersedekah: Sedekah dapat mensucikan hati dan membersihkan jiwa. Karena itulah Allah berfirman tentang nabi-Nya:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka”
(Q.S At Taubah:103)

Nabi bersabda: “Obatilah orang-orang yang sakit diantara kalian dengan bersedekah” (Shahih Al-Jami’).
Orang sakit yang paling layak untuk diobati adalah orang yang sakit hatinya. Dan hati yang paling layak untuk diobati adalah hati yang ada pada diri anda.

7. Ingatlah bahwa mereka yang akan terkena racun dan panahmu adalah seorang muslim, bukan orang yahudi atau nasrani. Yang itu diikat oleh ikatan Islam. Kalau demikian halnya, mengapa engkau menyakitinya.

8. Menyebarkan salam
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu hal yang jika kalian melakukannya, kalian akan saling mencintai ? Sebarkanlah salam diantara kalian” (H.R Muslim).
Ibnu ‘Abdil Barr berkata: “Dalam hadits ini terdapat keutaman salam, karena dengan hal itu akan menghilangkan kebencian dan melahirkan rasa cinta”.

9. Tidak banyak bertanya dan suka menyelidiki hal ihwal orang lain
Nabi bersabda: “Termasuk kebagusan keislaman seseorang, yaitu bila ia meninggalkan perkara yang bukan urusannya” (H.R Tirmidzi)

10. Menyukai kebaikan yang ada pada kaum muslimin
Nabi bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, seorang hamba tidak akan beriman hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (H.R Bukhari dan Muslim)

11. Tidak mendengarkan gunjingan dan adu domba. Dengan demikian hati seseorang akan terjaga kesehatannya. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Janganlah seseorang menyampaikan sesuatu padaku tentang salah satu dari shahabatku, karena aku ingin menemui kalian dengan hati bersih” (H.R Ahmad). Banyak orang yang mengatakan sepatah dua patah kata yang membikin hati terluka, terutama di kalangan wanita, ibu rumah tangga, dll.

12. Senantiasa memperbaiki hati
Nabi bersabda: “Ketauhilah bahwa dalam tubuh terdapat sepotong daging yang jika baik, akan baiklah seluruh jasad. Dan jika rusak, maka akan rusaklah seluruh tubuh. Ketauhilah bahwa ia adalah hati”. (H.R Bukhari dan Muslim).

13. Mendamaikan orang yang bersengketa
Allah berfirman:
فَاتَّقُواْ اللّهَ وَأَصْلِحُواْ ذَاتَ بِيْنِكُمْ
“Sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu (H.R Al-Anfal: 1) Ibnu ‘Abbas berkata: “Ini adalah pengharaman dari Allah dan Rasul-Nya agar mereka bertakwa dan mendamaikan orang yang bersengketa”.
Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Maukah kalian aku tunjukkan amalan yang lebih baik dari puasa, shalat dan sedekah? Para shahabat menjawab: “Tentu” Maka beliau bersabda: “Mendamaikan orang yang bersengketa”. (H.R Abu Dawud)

Semoga Allah menjadikan hati kita sebagai hati yang selamat, yang tidak menyimpan rasa iri, dengki pada kaum muslimin. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah pada nabi kita Muhammad, keluarga serta para shahabat beliau.

 

Materi ceramah dan kultum yang lainnya silahkan baca di artikel contoh kultum singkat

Pencarian Populer

  • contoh dakwah singkat beserta dalilnya
  • ceramah kultum tentang kebersihan hati
  • ceramah tentang kebersihan hati
  • contoh dakwa
  • dakwah singkat dan jelas
  • kumpulan dakwah singkat
  • TEKS DAKWAH SINGKAT PADAT DAN JELAS

Leave a Comment