teori belajar humanisme
- Pendidikan

Definisi dan Pengertian Teori Belajar Humanisme Serta Penerapannya

Teori Belajar Humanisme – Ada beberapa teori belajar yang dikenal dalam dunia psikologi, antara lain adalah teori belajar behavioristik, humanistik, teori belajar kognitif, konstruktif, pemrosesan informasi, dan kinerja otak. Teori belajar yang pertama laihir adalah teori behavioristik. Teori behavioristik menempatkan peserta didik sebagai pihak yang pasif dan hasil pendidikan berkiblat teori behavioristik ini adalah perilaku yang ditampakkan. Teori ini cenderung tidak mempertimbangkan sisi personal dan perasaan peserta didik, sehingga tak heran jika hukuman adalah cara terbaik menertibkan penyimpangan. Misalkan seorang murid yang terlambat datang sekolah, dihukum dengan membersihkan halaman sekolah agar menimbulkan efek jera.

Teori behavioristik mendapatkan banyak pertentangan yang kemudian memunculkan teori baru untuk mengatasi kekurangan dari teori behavioristik ini, sehingga lahirlah banyak teori-teori belajar diantaranya adalah teori belajar humanistik.

Teori belajar humanistik adalah suatu teori yang tertuju pada masalah bagaimana tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Pendapat lain menyatakan bahwa humanistik adalah teori belajar yang menganggap bahwa belajar bertujuan untuk “memanusiakan manusia”. Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika siswa mampu memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.

Teori belajar humanisme merupakan proses belajar yang memanusiakan manusia. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap individu dapat menggali kemampuannya sendiri untuk diterapkan dalam lingkungan. Pembelajaran pada teori belajar humanisme ini memusatkan perhatian kepada siswa sehingga menitik beratkan pada penilaian kognitif dan afektif. Aspek kognitif merupakan aspek penguasaan ilmu pengetahuan sedangkan aspek afektif adalah aspek sikap yang keduanya perlu dikembangkan dalam membangun individu. Pada teori pembelajaran ini, belajar dianggap berhasil jika siswa memahami lingkungannya dan dirinya sendiri, sehingga diharapkan adanya motivasi dari guru agar siswa dapat menjalani pelajaran dengan baik.

Pada teori humanisme lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. Pendekatan ini melihat kejadian yaitu bagaimana dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif. Kemampuan positif ini yang disebut sebagai potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanisme biasanya menfokuskan pengajarannya pada pembangunan kemampuan yang positif. Kemampuan positif tersebut erat kaitannya dengan pengembangan emosi positif yang terdapat dalam domain afektif. Emosi merupakan karateristik yang sangat kuat yang nampak dari para pendidik beraliran humanisme. Dalam teori pembelajaran humanistik, belajar merupakan proses yang dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia. Dimana memanusiakan manusia di sini berarti mempunyai tujuan untuk mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang yang belajar secara optimal.

Konsep humanistik mengajarkan manusia memiliki rasa kemanusiaan yang mendalam; menghilangkan sifat-sifat egois, otoriter dan individualis, tidak semena-mena memaksakan lawan bicara, memahami atau masuk dalam pembicaraan kita. Pandangan prilaku yang muncul dari teori humanistik berfokus pada bagaimana manusia dipengaruhi oleh arti pribadi dengan pengalaman mereka dengan penekanan pada kualitas subjektif dari pengalaman manusia dan makna pribadi.

Menurut saya, berdasarkan penjabaran di atas, konsep humanistik adalah suatu konsep pembelajaran yang tujuannya adalah memanusiakan manusia, dimana kita diajarkan untuk saling menghargai antar sesama manusia. Karena pada prinsipnya setiap individu memiliki kemauan dan kemampuan yang berbeda-beda serta berhak memilih dan menentukan jalan hidupnya masing-masing. Dalam konsep humanis kita tidak boleh memaksakan seseorang untuk memahami materi yang tidak disukai mereka. Bukan karena mereka tidak bisa tapi mereka tidak mempunyai alasan yang kuat kenapa mereka harus mempelajarinya dan apa untungnya bagi mereka.

Ciri-ciri teori humanistik

optimis
tribulant.com

Pendekatan humanistik dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Ketrampilan atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik.

Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika siswa memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.

Ada salah satu ide penting dalam teori belajar humanisme yaitu siswa harus mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga siswa mengetahui apa yang dipelajarinya serta tahu seberapa besar siswa tersebut dapat memahaminya. Dan juga siswa dapat mengetahui mana, kapan, dan bagaimana mereka akan belajar. Dengan demikian maka siswa diharapkan mendapat manfaat dan kegunaan dari hasil belajar bagi dirinya sendiri. Aliran humanisme memandang belajar sebagai sebuah proses yang terjadi dalam individu yang meliputi bagian/domain yang ada yaitu dapat meliputi domain kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Prinsip Dasar Humanistik

Berdasarkan pengertian dan pandangan-pandangan dari para ahli, kita bisa mengerti adanya prinsip-prinsip yang terkandung dalam Teori Humanistik ini. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:

  • Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
  • Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
  • Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri yang diangap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya. Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
  • Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain.
  • Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.

Tujuan Teori Humanistik

Tujuan utama pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.

Menurut teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.

Teori Humanistik Menurut Berbagai Tokoh

Teori Humanistik Arthur Combs (1912-1999)

Arthur Wright Combs (1912–1999) adalah perintis pendidikan dan konseling secara kemanusiaan (humanistik). Dia menyajikan kombinasi cara belajar kognitif dan humanistik. Bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. Makna atau Arti adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dati ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.

Untuk itu guru harus memahami perlaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.

Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia. Seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya.

Teori Humanistik Maslow, Abraham H. (1908-1970)

Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow disebut sebagai The Father of Humanistik Psychology. Teori Maslow didasarkan pada gagasan bahwa pengalaman adalah fenomena utama dalam studi belajar dan perilaku manusia. Dia menekankan pada pilihan, kreativitas, nilai-nilai, realisasi diri, semua kualitas khas manusia, dan percaya bahwa kebermaknaan dan subjektivitas yang lebih penting daripada objektivitas. Bagi Maslow, pengembangan potensi manusia, martabat dan nilai adalah masalah utama. Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal yaitu :

1. Suatu usaha yang positif untuk berkembang

2. Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.

Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri (self). Maslow dalam bukunya Motivation and Personality yang diterbitkan tahun 1954, membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi lima hirarki. sebagai berikut :

Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya seperti kebutuhan mendapatkan rasa aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Maslow mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.

Teori Kognisi Humanistik Carl Rogers (8 January 1902 – 4 feb 1987)

Carl Rogers adalah seorang psikolog berkebangsaan amerika dan pendiri dari pendekatan secara kemanusiaan untuk psikologi. Carl Rogers diberikan penghargaan oleh asosiasi psikologi Amerika atas kontribusi ilmu psikologinya yang berbeda pada tahun 1956. Carl rogers juga merupakan perintis dari penelitian psikoterapy / terapy kejiwaan.
Carl Rogers menerapkan pengalamannya menggunakan terapi dewasa untuk proses pendidikan dan mengembangkan konsep mengajar berpusat pada peserta didik. Carl Rogers memiliki lima hipotesis berikut tentang pendidikan berpusat pada peserta didik :

Hipotesis I: Seseorang tidak bisa mengajar orang lain secara langsung; seseorang hanya bisa memfasilitasi orang lain belajar “(Rogers, 1951). Ini adalah hasil dari teori kepribadiannya, yang menyatakan bahwa setiap orang ada di dunia yang terus berubah dari pengalaman di mana ia adalah pusat. Setiap orang bereaksi dan merespon berdasarkan persepsi dan pengalaman. Keyakinan adalah bahwa apa yang siswa tidak lebih penting daripada apa yang guru tidak. Fokusnya adalah pada siswa (Rogers, 1951). Oleh karena itu, latar belakang dan pengalaman dari peserta didik sangat penting untuk bagaimana dan apa yang dipelajari. Setiap siswa akan memproses apa yang dia belajar berbeda tergantung pada apa yang dia membawa ke kelas.

Hipotesis II: Seseorang belajar secara signifikan hanya hal-hal yang dianggap sebagai yang terlibat dalam pemeliharaan atau peningkatan struktur diri” (Rogers, 1951). Oleh karena itu, relevansi untuk siswa sangat penting untuk belajar. Pengalaman siswa menjadi inti dari kursus / belajar

Hipotesis III: Pengalaman yang, jika berasimilasi, akan melibatkan perubahan dalam organisasi diri, cenderung menolak melalui penolakan atau distorsi simbolisme (Rogers, 1951). Jika isi atau presentasi tentu saja tidak konsisten dengan informasi yang terbentuk sebelumnya, siswa akan belajar jika ia terbuka untuk konsep yang berbeda-beda. Menjadi terbuka untuk mempertimbangkan konsep yang berbeda dari satu sendiri sangat penting untuk belajar. Oleh karena itu, dengan lembut mendorong keterbukaan pikiran adalah membantu dalam melibatkan siswa dalam belajar. Juga, penting, untuk alasan ini, bahwa informasi baru yang relevan dan terkait dengan pengalaman yang ada.

Hipotesis IV: Struktur dan organisasi tampaknya menjadi lebih kaku di bawah ancaman dan untuk bersantai batas ketika benar-benar bebas dari ancaman (Rogers, 1951). Jika siswa percaya bahwa konsep sedang dipaksakan pada mereka, mereka mungkin menjadi tidak nyaman dan takut. Penghalang belajar diciptakan oleh nada ancaman di dalam kelas. Oleh karena itu, terbuka, ramah lingkungan di mana kepercayaan dikembangkan adalah penting dalam kelas online. Takut tidak setuju dengan konsep harus dihilangkan. Nada kelas dukungan membantu untuk meringankan kekhawatiran dan mendorong siswa untuk memiliki keberanian untuk mengeksplorasi konsep dan keyakinan yang berbeda dari orang-orang yang mereka bawa ke kelas.

Hipotesis V: Situasi pendidikan yang paling efektif mempromosikan pembelajaran yang signifikan adalah satu di mana (a) ancaman terhadap diri pelajar dikurangi menjadi minimal dan (b) persepsi dibedakan dari lapangan difasilitasi (Rogers, 1951). Instruktur harus terbuka untuk belajar dari para siswa dan juga bekerja untuk menghubungkan siswa dengan materi pelajaran. Interaksi yang sering dengan siswa akan membantu mencapai tujuan ini. Penerimaan instruktur menjadi mentor yang membimbing daripada ahli yang mengatakan adalah penting untuk berpusat pada siswa, tidak mengancam, dan pembelajaran tidak dipaksakan.

Pada dasarnya, teori humanistik adalah teori belajar yang memanusiakan manusia. Pembelajaran dipusatkan pada pribadi seseorang. Teori ini tidak lepas dari pendidikan yang berfokus pada bagaimana menghasilkan sesuatu yang efektif, bagaimana belajar yang bisa meningkatkan kreativitas dan memanfaatkan potensi yang ada pada seseorang. Teori humanistik ini muncul sebagai perlawanan terhadap teori belajar sebelumnya, yaitu Teori Behaviouristik, yang dianggap terlalu kaku, pasif, bahkan penurut ketika menggambarkan manusia.

Metode dalam teori humanistik

  • Merumuskan tujuan belajar yang jelas.
  • Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas, jujur dan positif.
  • Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri.
  • Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri.
  • Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
  • Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya.
  • Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa.
  • Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang ditunjukkan.

Peran Guru dalam Penerapan Teori Belajar Humanisme

Peran guru hanya sebagai fasilitator bagi siswa dan dengan memberi motivasi, kesadaran bagi siswa, membimbing dan memfasilitasi siswa. Siswa berperan sebagai pelaku utama yang memaknai proses pembelajarannya (Student Centered Learning). Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah :

  • Merespon perasaan siswa.
  • Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang.
  • Berdialog dan berdiskusi dengan siswa.
  • Menghargai siswa.
  • Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan.
  • Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan segera dari siswa).
  • Tersenyum pada siswa.

Pengertian lain Psikologi humanisme memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator.

Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas

Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.

Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.

Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.

Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.

Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok

Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.

Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa.

Para pendidik hanya membantu siswa dalam mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Teori ini cocok untuk di terapkan pada materi – materi yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap dan analisis terhadap gejala sosial. Menurut teori ini ciri-ciri guru yang baik adalah yang humoris, sabar, adil, menarik, demokratis, terbuka, dan peka terhadap perubahan. Sedangkan guru yang tidak efektif adalah guru yang tidak humoris, tidak sabar, suka melukai perasaan siswa dengan komentar yang menyakitkan, otoriter, dan kurang peka terhadap perubahan yang ada.

Guru yang baik menurut teori ini adalah guru yang memiliki rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis, mampu berhubungan dengan siswa dengan mudah dan wajar. Ruang kelas lebih terbuka dan mampu menyesuaikan pada perubahan. Sedangkan guru yang tidak efektif adalah guru yang memiliki rasa humor yang rendah, mudah menjadi tidak sabar, suka melukai perasaan siswa dengan komentar yang menyakitkan, bertindak agak otoriter, bernada ancamana dan kurang peka terhadap perubahan yang ada.

Penerapan teori humanistik dalam Pendidikan

Menurut Gage dan Berliner beberapa prinsip dasar dari pendekatan humanisme yang dapat kita gunakan untuk mengembangkan pendidikan:
Siswa belajar dengan baik saat mereka telah mengembangkan kemampuan menganalisis apa dan mengapa sesuatu penting untuk diketahui sesuai dengan kemampuannya.

Siswa dilatih bagaimana cara belajar lebih penting daripada memberikan pengetahuan yang banyak. Dalam era dimana ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat cepat, pandangan ini perlu dipahami kalangan pengajar, terutama bagi mereka yang mendukung kognitivisme.
Evaluasi diri adalah penting untuk menekankan perkembangan internal dan pengaturan diri. Penekanan yang terpenting adalah pada perkembangan internal dan pengaturan diri.

Perasaan sama pentingnya dengan kenyataan. Pengajar yang berorientasi humanistik harus membuat sumbangan yang berarti ketika menyampaikan dasar pengetahuan.

Siswa akan belajar dengan lebih baik dalam lingkungan yang tidak mengancam. Oleh karena itu, lingkungan belajar harus dikembangkan sedemikian hingga siswa tidak merasa terancam baik secara psikis, emosi, maupun fisik.

Beberapa psikolog humanistik melihat bahwa manusia mempunyai keinginan alami untuk belajar dan berkembang. Oleh karena itu, sekolah harus berhati-hati agar tidak memaksa siswa belajar sesuatu sebelum mereka siap. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa untuk memenuhi kebutuhank-kebutuhan yang lebih tinggi, dan bukan sebagai pengelola perilaku seperti pada behaviorisme. Pendekatan humanistik dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif yang berfokus pada potensi manusia dalam mencari, menemukan dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan bermasyarakat. Kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, dan bukan dari sudut pandang pengamatnya.

Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Pembelajaran

Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.

Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.

Pembelajaran berdasarkan teori humanisme ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.

Contoh pembelajaran humanis dalam fisika mengenai materi Optik: kebanyakan siswa pada kenyataannya tidak menyukai pelajaran fisika salah satunya karena banyak sekali konsep dan rumus-rumus yang harus dipelajari. Sebagai seorang guru kita harus bisa mengenal dan mencoba memahami prilaku siswa dan berusah mengubah pandangan siswa terhadap fisika, sebagai contoh materi optik. Dalam pembelajarannya, guru harus bisa menghubungkan atau mengaitkan materi optik dengan kehidupan siswa agar siswa merasakan bahwa mempelajari optik begitu berarti. Salah satu alat optik adalah kamera. Seiring perkembangan zaman semakin modern kamera. Sudah sangat banyak di temukan di telephone genggam atau handphone bahkan terdapat dual camera (kamera depan dan belakang) dengan resolusi yang cukup besar sehingga hasil foto yang dihasilkan masih cukup baik ketika di zoom beberapa kali. Dengan teori humanistik kita bisa mengaitkan materi alat optik dengan kehidupan siswa. Yang mana siswa(anak-anak) masa kini tidak terlepas dari kamera dan kegiatan selfie, tanpa ada ilmu optik di dalamnya tidak akan ada kamera dengan resolusi yang besar yang dapat menghasilkan foto yang baik dan para siswa sulit untuk melakukan selfie. Dengan penjelasan yang kurang lebih seperti itu, kurang dan lebihnya siswa dapat mengubah persepsinya terhadap fisika dalam materi optik, yang sebenarnya ilmu-ilmu fisika itu berada dekat dengan kehidupan siswa dan mempunyai manfaat yang begitu besar dalam perkembangan teknologi.

Kelebihan dan Kekurangan Aplikasi Teori Belajar Humanistik

Penggunaan teori sesuai pada fungsinya memiliki manfaat yang lebih terasa besar. Aplikasi dari teori belajar ini memiliki dua sisi efek, yaitu kelebihan (keuntungan) dan kekurangan (kerugian). Daftar kelebihan dan kekurangan dari penggunaan teori belajar ini akan disampaikan secara ringkas berikut.

Kelebihan Teori Belajar Humanistik

Memunculkan kreativitas peserta didik atau orang yang belajar. Hal ini terjadi karena teori ini berpusat pada orang yang belajar, bukan pada materi yang harus dijejalkan pada peserta didik.

Perkembangan teknologi yang besar ekuivalen dengan perkembangan belajar.

Tenaga pendidik justru memiliki tugas yang lebih ringan, tidak terpaku untuk menyelesaikan materi tetapi lebih fokus pada pengembangan setiap individu yang belajar.

Mampu merekatkan hubungan sosial antara peserta didik. Tidak ada persaingan dalam pembelajaran karena semua orang berhak untuk mengoptimalkan kemampuan diirnya, sesuai pada tingkatan masing-masing.

Teori belajar humanistik adalah pilihan kiblat yang cocok terutama untuk pendidikan yang bersifat membentuk karakter, mengubah sikap, atau menganalisis fenomena sosial.

Indikator dari keberhasilan penerapan teori humanistik adalah perasaan senang dan tidak ada tekanan yang dialami peserta didik. Mereka bahkan memiliki inisiatif tersendiri untuk belajar. Pola pikir, perilaku, dan sikap mengikuti kemauan sendiri alias tidak terpaksa atau kaku.

Melatih peserta didik sebagai pribadi yang bebas dan tidak terikat dengan pendapat orang lain. Peserta didik diarahkan untuk bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Kekurangan Teori Belajar Humanistik

Meskipun cenderung sangat membebaskan peserta didik dalam proses pembelajaran, nyatanya teori ini memiliki beberapa kelemahan yang harus diwaspadai.

Memungkinkan peserta didik untuk sulit memahami potensi dirinya sendiri.Ini terjadi karena tenaga pendidik yang terlalu ‘melepaskan’ peserta didik dalam mengeksplorasi dirinya sendiri.

Peserta didik yang tidak berminat untuk mengikuti proses belajar akan tertinggal dengan peserta didik lain yang sudah memiliki niatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Jika peserta didik tidak rajin untuk mengikuti proses pembelajaran, besar kemungkinan ia akan kesulitan mengikuti proses belajar selanjutnya karena masih tertinggal di tahap-tahap awal. Apabila peserta didik mengalami ketidak tahuan atau kurang paham atas konten pembelajaran dan tidak segera ditangani oleh tenaga pendidik, proses pembelajaran oleh peserta didik tersebut bisa terhambat.

Peserta didik memiliki potensi untuk menyalahgunakan kebebasan yang diberikan. Peserta didik yang belum mampu berpikir untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri cenderung sulit untuk melakukan pemusatan pikiran.

Pada konteks atau praktisnya, teori ini kurang mungkin untuk diterapkan pada sistem pembelajaran sekolah saat ini.

Penerapan Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran Fisika

Penerapan Teori Arthur Combs dalam Pembelajaran Fisika

Menurut Arthur combs proses pembelajaran secara kognitif humanistik atau belajar dari sisi kemanusiaan, pengajar harus memahami tipe karakter manusianya. Pengajar harus dapat membantu siswa untuk menemukan metode terbaik untuknya. Misalnya ketika membahas tentang materi gelombang

gelombang transversal
Gelombang Transversal

Pengajar lebih tepat mengatakan pada siswa bahwa 1 bukit + 1 lembah adalah 1 λ atau 1 panjang gelombang. Bukit dan lembah lebih humanistik dari pada puncak atau jurang. Siswa juga diharap dapat menggambar sendiri bentuk gelombang untuk 2 λ, 3 λ dan mencari frekuensi (f) serta cepat rambat gelombang (v) tersebut.

Penerapan Teori Abraham Maslow dalam Pembelajaran Fisika

Misalnya ketika pembelajaran perbandingan satuan kecepatan km/jam dengan m/jam atau km/det dengan m/det maka perbandingan satuan kecepatan dapat lebih humanistik bila kita gambarkan ke dalam hirarki

Tangga Pembanding Satuan

Lebih humanistik bila siswa menggambar sendiri tangga menurun atau menaik, bila turun x 10 bila naik : 10. Tangga di atas lebih besar nilainya daripada di bawah

Penerapan Teori Carl Rogers dalam Pembelajaran Fisika

Teori Carl Rogers juga dapat diterapkan dalam pembelajaran fisika juga misalnya pada materi optik geometri

Sifat Cahaya Pada Cerming Cekung
Sifat Cahaya Pada Cerming Cekung

Sinar datang sejajar sumbu utama akan dipantulkan melalui titik fokus (F). Lebih humanistik bila siswa belajar menggambarnya di kertas milli dan berkolaborasi dengan teman disampingnya atau menggambar di papan tulis sehingga berinteraksi dengan siswa lainnya untuk kasus cermin cembung dan cermin datar lengkap dengan perhitungannya.

Pencarian Populer

  • penerapan teori belajar humnistic di sekolah
  • teori belajar humanisme

About Prabawati Budi Utami

Alumnus PPS uny yang tertarik dengan pengembangan aplikasi dan terjerumus ke dalam tulis menulis
Read All Posts By Prabawati Budi Utami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *