Pengertian Teori Belajar Kognitif Menurut Ahli dan Penerapannya dalam Pembelajaran

teori belajar kognitif

image source: flintrehab.com

TEORI BELAJAR KOGNITIFPara guru atau calon guru perlu mempelajari tentang teori belajar kognitif agar dapat menyiapkan dan melaksanakan pembelajaran yang efektif dan efisien. Sehingga dapat memecahkan berbagai macam permasalahan di kelas. Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk suatu perubahan dari yang asalnya tidak tahu menjadi tahu, dari tidak memiliki sikap salah menjadi bersikap benar, dari tidak terampil menjadi terampil melakukan sesuatu. Pengertian belajar menurut Gagne dalam Whandi (2009), belajar merupakan suatu proses dimana suatu individu berubah tingkah lakunya sebagai akibat pengalaman. Berdasarkan dari pengertian yang telah dijelaskan sebelumnya, maka terdapat tiga ciri utama belajar yaitu proses, perilaku, dan pengalaman. Berikut akan dijelaskan terkait ciri utama belajar.

Ciri-ciri Utama Belajar

Proses Belajar

Proses belajar adalah proses mental dan emosional atau proses berpikir dan merasakan. Seseorang dikatakan belajar apabila pikiran dan perasaannya aktif. Aktifitas pikiran dan perasaan itu sendiri tidak dapat diamati orang lain, akan tetapi terasa oleh yang bersangkutan yang dapat diamati guru adalah manifestasinya, yaitu kegiatan siswa sebagai akibat dari adanya aktifitas pikiran dan perasaan pada diri siswa tersebut.

Perubahan Perilaku

Perubahan Perilaku Hasil belajar berupa perubahan perilaku atau tingkah laku seseorang yang belajar akan berubah atau bertambah perilakunya, baik yang berupa pengetahuan, ketrampilan, atau penguasaan nilai-nilai sikap.

Pengalaman Belajar

Pengalaman Belajar adalah mengalami, dalam arti belajar terjadi di dalam interaksi antara individu dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial. Lingkungan fisik, misalnya :buku, alat peraga, alam sekitar. Lingkungan sosial, misalnya: guru, siswa pustakawan, dan Kepala Sekolah. Belajar bisa melalui pengalaman langsung maupun melalui pengalaman tidak langsung. Belajar melalui pengalaman langsung, misalnya siswa belajar dengan melakukan sendiri dan pengalaman sendiri. Belajar melalui pengalaman tidak langsung, misalnya mengatahui dari membaca buku, mendengarkan penjelasan guru. Belajar dengan melalui pengalaman langsung hasilnya akan lebih baik karena siswa lebih memahami, lebih menguasai pelajaran tersebut, bahkan pelajaran terasa oleh siswa lebih bermakna.

Pengertian dan definisi Belajar Kognitif

animasi otak, kognitif, cognitive

Ilustrasi Otak – psychologicalscience.org

Kognitif berasal dari bahasa Inggris “Cognitive” yang mempunyai arti mengerti atau pengertian. Arti secara luas bahwa Cognition adalah perolehan pengetahuan, penataan dan penggunaannya. Ada juga yang mengartikan bahwa kognitif sebagai kemampuan untuk mengembangkan rasional (akal).

Berdasarkan definisi yang telah dijelaskan, maka teori belajar kognitif lebih menitik beratkan pada proses belajar dari pada hasil belajarnya. Pengertian belajar menurut teori kognitif merupakan perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Pengertian ini dapat diartikan bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang telah tertata dalam bentuk struktur kognitif yang dimilikinya. Proses belajar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran beradaptasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang.

Pembelajaran bagi aliran kognitif dipandang bukan hanya sekedar mendapat stimulus atau respon dan menghasilkan respons yang mekanistik, tetapi pembelajaran juga melibatkan kondisi mental didalam individu pembelajar yang berhubungan dengan persepsi, perhatian, motivasi dan lain-lain. Sehingga belajar dipahami sebagai suatu proses mental yang aktif dalam memperoleh, mengingat dan menunjukkan kedalam perilaku. Perilaku yang nampak tidak dapat diamati dan diukur apabila tidak melibatkan proses mental seperti kesadaran, motivasi, keyakinan dan proses mental lainnya.

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan maka teori belajar kognitif adalah teori yang menjelaskan proses pemikiran dan perbedaan kondisi mental serta pengaruh faktor internal dan eksternal dalam menghasilkan belajarnya seorang individu. Apabila proses kognitif bekerja normal, maka perolehan informasi dan penyimpanan pengetahuan akan bekerja dengan baik pula. Namun apabila proses kognitif bekerja tidak sebagaimana mestinya, maka terjadilah masalah dalam belajar.

jean piaget

Jean Piaget – Image Source: edu.glogster.com

TEORI PERKEMBANGAN PIAGET

Menurut Piaget, proses belajar akan mengikuti tahap-tahap asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi (penyeimbangan).
Proses asimilasi merupakan proses pengintegrasian atau penyatuan informasi baru ke dalam struktur kognitif yang telah dimiliki oleh individu.

Proses akomodasi merupakan proses penyesuaian struktur kognitif ke situasi baru. Sedangkan proses ekuilibrasi adalah penyasuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.

Sebagai contoh, seorang anak sudah memahami prinsip pengurangan. Ketika mempelajari prinsip pembagian, maka terjadi proses pengintegrasian antara prinsip pengurangan yang sudah dikuasainya dengan prinsip pembagian (informasi baru). Inilah yang disebut proses asimilasi. Jika anak tersebut diberikan soal-soal pembagian, maka situasi ini disebut akomodasi. Artinya, anak tersebut sudah dapat mengaplikasikan atau memakai prinsip-prinsip pembagian dalam situasi yang baru dan spesifik.

Tahap-tahap perkembangan kognitif

Tahap Sensorimotorik (umur 0-2 tahun)

Ciri pokok perkembangannya berdasarkan tindakan dan dilakukan langkah demi langkah. Kemampuan yang dimilikinya antara lain:

  • Melihat dirinya berbeda dengan objek sekitarnya
  • Mencari rangsangan melalui sinar lampu dan suara
  • Memperhatikan sesuatu lebih lama
  • Mendefinisikan sesuatu dengan memanipulasinya
  • Memperhatikan objek sebagai hal yang tetap lalu ingin mengubah tempatnya.

Tahap Preoperasional (umur 2-7/8 tahun)

Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah pada pengguanaan symbol atau bahasa tanda, dan mulai berkembangnya konsep-konsep intuitif. Tahap ini dibagi menjadi dua, yaitu preoperasional dan intuitif.
Preoperasioal (umur 2-4 tahun), anak telah mampu menggunakan bahasa dalam mengembangkan konsepnya, walaupun masih sangat sederhana. Maka sering terjadi kesalahan dalam memahami objek. Karakteristik tahap ini adalah :

  • Self counter nya sangat menonjol.
  • Dapat mengklasifikasikan objek pada tingkat dasar secara tunggal dan mencolok.
  • Tidak mampu memusatkan perhatian pada objek-objek yang berbeda.
  • Mampu mengumpulkan barang-barang menurut kriteria, termasuk kriteria yang benar.
  • Dapat menyusun benda-benda secara berderet, tetapi tidak daapt menjelaskan perbedaan antara deretan.

Tahap intuitif (umur 4-7 atau 8 tahun)

Pada tahap ini, anak telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstrak. Dalam menarik kesimpulan sering tidak diungkapkan dengan kata-kata. Oleh sebab itu, pada usia ini anak telah dapat mengungkapkan isi hatinya secara simbolik terutam bagi mereka yang memiliki pengalaman yang luas. Karakterisitk tahap ini adalah:

  • Anak dapat membentuk kelas-kelas atau kategori objek, tetapi kurang disadarinya.
  • Anak mulai mengetahui hubungan secara logis terhadap hal-hal yang lebih kompleks.
  • Anak dapat melakukan sesuatu terhadap sejumlah ide.
  • Anak mampu memperoleh prinsip-prinsip secara benar. Dia mengerti terhadap sejumlah objek yang teratur dan cara mengelompokkannya. Anak kekekalan masa pada usia 5 tahun, kekekalan berat pada usia 6 tahun, dan kekekalan volume pada usia 7 tahun. Anak memahami bahwa jumlah objek adalah tetap sama meskipun objek itu dikelompokkan dengan cara yang berbeda.

Tahap Operasional Konkret (umur 7/8 – 11/12 tahun)

Ciri kelompok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis, dan ditandai adanya reversible dan kekekalan. Anak telah memiliki kecakapan berfikit logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret. Operation adalah suatu tipe tindakan untuk memanipulasi objek atau gambaran yang ada di dalam dirinya. Karenanya kegiatan ini memerlukan proses transformasi informasi ke dalam dirinya sehingga tindakannya lebih efektif.

Tahap Operasional Formal (umur 11/12 – 18 tahun)

Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola berpikir “kemungkinan”. Model berpikir ilmiah dengan tipe hipothetico-de-ductive dan inductive sudah mulai dimiliki anak, dengan kemampuan menarik kesimpulan, menafsirkan dan mengembangkan hipotesa. Pada tahap ini kondisi berpikir anak sudah dapat :

  • Bekerja secara efektif dan sistematis.
  • Menganalisis secara kombinasi. Dengan demikian telah diberikan dua kemungkinan penyebabnya, misalnya C1 dan C2 menghasilkan R, anak dapat merumuskan beberapa kemungkinan.
  • Berpikir secara proporsional, yakni menentukan macam-macam proporsional tentang C1, C2, dan R misalnya.
  • Menarik generalisasi secara mendasar pada satu macam isi. Pada tahap ini mula-mula Piaget percaya bahwa sebagian remaja mencapai formal operations paling lambat pada usia 15 tahun. Tetapi berdasarkan penelitian maupun studi selanjutnya menemukan bahwa banyak siswa bahkan mahasiswa walaupun usianya telah melampaui, belum dapat melakukan formal-operations.

TEORI BELAJAR KOGNITIF MENURUT BRUNER

jerome bruner

Jerome Bruner – earlyyearscareers.com

Jerome Bruner (1966) adalah seorang pengikut teori kognitif, khususnya dalam studi perkembangan fungsi kognitif. Ia menandai perkembangan kognitif manusia sebagai berikut :

  • Perkembangan intelektual ditandai dengan adanya kemajuan dalam menanggapi suatu rangsangan.
  • Peningkatan pengetahuan tergantung pada perkembangan sistem penyimpanan informasi secara realis.
  • Perkembangan intelektualmeliputi perkembangan kemampuan berbicara pada diri sendiri atau pada orang lain melalui kata –kata atau lambing tentang apa yang telah dilakukan dan apa yang akan dilakukan. Hal ini berhubungan dengan kepercayaan pada diri sendiri.
  • Interaksi secara sistematis antara pembimbing , guru atau orang tua dengan anak diperlukan bagi perkembangan kognitifnya.
  • Bahasa adalah kunci perkembangan kognitif, karena bahasa merupakan alat komunikasi antara manusia. Untuk memahami konsep-konsep yang ada diperlukan bahasa. Bahasa diperlukan untuk mengkomunikasikan suatu konsep kepada orang lain.
  • Perkembangan kognitif ditandai dengan kecakapan untuk mengemukakan beberapa alternatif secara simultan, memilih tindakan yang tepat, dapat memberikan prioritas yang berurutan dalam berbagai situasi.

Dalam memandang proses belajar, Bruner menekankan adanya pengaruh kebudayaan terhadap tingkah laku seseorang. Dengan teorinya yang disebut free discovery learning, mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan pada siswa untuk mengemukakan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Jika Piaget menyatakan bahwa perkembangan kognitif sangat berpengaruh terhadap perkembangan bahasa seseorang, maka Bruner menyatakan bahwa perkembangan bahasa besar pengaruhnya terhadap perkembangan kognitif.

Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu, enactive, icomic, dan symbolic.

Tahap inaktif, merupakan tahapa dimana seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam memahami lingkungan sekitarnya. Artinya, dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motoric. Misalnya, melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainya.

Tahap ikomik, merupakan tahap dimana seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar visualisasi verbal. Maksudnya, dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi).

Tahap simboik, seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan berlogika. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui symbol-simbol bahasa, logika, mataematika, dan sebagainya. Komunikasinya dilakukan dengan menggunakan banyak symbol. Semakin matang seseorang dalam proses berfikirnya., semakin dominan sistem simbolnya. Meskipun begitu tidak berarti ia tidak lagi menggunakan enaktif dan ikomik. Penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran merupakan salah satu bukti masih diperlukannyasistem enaktif dan ikomik dalam proses belajar.

Menurut Bruner seseorang dikatakan memahami suatu konsep apabila ia mengetahui 5 unsur dari konsep itu, meliputi:

  1. Nama
  2. Contoh baik yang positif maupun negatif
  3. Karakteristik, baik pokok maupun tidak
  4. Rentangan Karakteristik
  5. Kaidah

TOKOH TEORI BELAJAR KOGNITIF

Beberapa tokoh teori belajar Kognitif yang teorinya banyak diterapkan dalam pendidikan antara lain:

Max Wertheimer (1880-1943), Kurt Koffka (1886-1941), Wolfgang Kohler (1887-1967)

Mereka bertiga merupakan pelopor teori Gestalt. Mereka berpendapat bahwa keseluruhan lehih bermakna daripada bagian-bagian bagi kognisi manusia. Sehingga proses pembelajaran baiknya dimulai dari keseluruhan (Gestalt) lalu menganalisir unsur-unsurnya atau bagian-bagiannya.

Kurt Levin (1890-1947)

Kurt Levin merupakan pengembang teori motivasi disekitar medan. Inti teorinya dalam kaitannya dengan pembelajaran ialah bahwa semakin peserta didik dekat dengan medan belajar, motivasi belajar semakin kuat dibanding dengan peserta didik yang lebih jauh dari medan belajar. Medan yang dimaksud ialah medan psikologis arena belajar peserta didik.

David Ausubel

Inti dari teori belajar Ausubel adalah belajar bermakna. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses yang dikaitkan dengan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Proses belajar tidak sekedar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta saja, tetapi merupakan kegiatan yang menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan.

Albert Bandura

Bandura menghasilkan sebuah teori dari turunan teori belajar kognitif yang disebut “Belajar Sosial”. Bermula dari pendapatnya tentang teori kognitif sosial yang merupakan faktor kognitif, sosial dan juga perilaku mempunyai peran penting dalam pembelajaran. Ini berarti bahwa faktor kognitif merupakan ekspektasi peserta didik untuk meraih keberhasilan sedangkan faktor sosial mencakup pengamatan dan pengalaman pembelajar terhadap perilaku orang-orang disekitar lingkungannya.

Robert Gagne (1977)

Berlandasarkan teori belajar kognitif, maka Gagne menghasilkan suatu model pembelajaran yang disebut “Peristiwa Pembelajaran”. Dalam model peritiwa pembelajaran tidak memperhatikan apakah proses belajar terjadi melalui proses penemuan (Discovery) atau proses penerimaan (Reception) sebagaimana yang dikenalkan oleh Bruner dan Ausubel, menurutnya yang terpenting adalah kualitas penetapan (daya simpan) dan kegunaan belajar.

PRINSIP-PRINSIP TEORI BELAJAR KOGNITIF

Teori Belajar Kognitif menjelaskan bahwa proses yang berbeda mengenai pembelajaran dapat dijelaskan dengan menganalisis proses mental terlebih dahulu. Hal ini menyatakan bahwa dengan proses kognitif yang efektif, pembelajaran menjadi lebih mudah dan informasi baru dapat disimpan dalam memori untuk waktu yang lama. Di sisi lain, proses kognitif yang tidak efektif mengakibatkan kesulitan belajar yang dapat dilihat kapan saja selama masa hidup seseorang.

Pada umumnya prinsip teori Belajar Kognitif yaitu menyatakan bahwa proses lebih penting dari pada hasil atau disebut juga sebagai model perseptual. Persepsi menentukan tingkah laku seseorang serta pemahaman terhadap situasi berhubungan dengan tujuan belajar. Perubahan persepsi merupakan proses pembelajaran yang kadang tidak namak dalam bentuk tingkah laku. Situasi belajar atau materi pelajaran yang dipisah-pisah menjadi komponen-komponen kecil atau dipisah-pisah akan menghilangkan makna. selan itu prinsip lainnya belajar juga merupakan aktivitas berpikir yang kompleks. Dalam penerapannya dalam pembelajaran teori belajar ini tampak pada tahap-tahap perkembangan (J. Piaget), Advance Organizer (Ausubel), Pemahaman Konsep (Bruner), Hierarki Belajar (Gagne), dan Webteaching (Norman).

Aplikasi Teori Kognitif dalam Kegiatan Pembelajaran

Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktivitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi persepsual, dan prosese intelektual. Kegiatan pembelajaran yang berpijak pada teori belajar kognitif ini sudah banyak digunakan. Dalam merumuskan tujuan pembelajaran, mengembangkan strategi dan tujuan pembelajaran, tidak lagi mekanistik sebagaimana yang dilakukan dalam pendekatan behavioristic. Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agara belajar lebih bermakana bagi siswa. Sedangkan kegiatan pembelajarannya mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berpikirnya. Mereka mengalami perkembangan kognitif melalui tahap-tahap tertentu.
  2. Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik, terutama jika menggunakan benda-benda kongkrit.
  3. Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, karena hanya dengan mengaktifkan siswa maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik.
  4. Untuk menarik minat dan menigkatkan retensi belajar perlu mengkaitkan pengalaman atau informasi beru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki si belajar.
  5. Pemahaman dan retensi akan meningkat jika materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks.
  6. Belajar memahami akan lebih bermakna dari pada belajar menghafal. Agar makna, informasi baru harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Tugas guru adalah menunjukkan hubungan antara apa yang sedang dipelajari dengan apa yang telah diketahui siswa.
  7. Adanya perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan, karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Perbedaan tersebut misalnya pada motivasi, persepsi, kemampuan berpikir, pengetahuan awal dan sebagainya.
  8. Dalam penerapan Teori Belajar Kognitif secara khususnya akan ada model belajar Bruner, Ausubel, dan model perkembangan intelektual Piaget.

Langkah-langkah Pembelajaran Kognitif menurut Piaget:

  1. Menentukan tujuan pembelajaran.
  2. Memilih materi pelajaran.
  3. Menentukan topik-topik yang dapat dipelajari siswa secara aktif.
  4. Menentukan kegiatan belajar yang sesuai untuk topik-topik tersebut, misalnya penelitian, memecahkan masalah, diskusi, stimulasi, dan sebagainya.
  5. Mengembangkan metode pembelajaran untuk merangsang kreatifitas dan cara berpikir siswa.
  6. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.

Langkah-langkah pembelajaran menurut Bruner :

  1. Menentukan tujuan pembelajaran.
  2. Melakukan identifikasi karakteristtik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya).
  3. Memilih materi pelajaran.
  4. Menentukan topik-topik yang dapat dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh ke generalisasi).
  5. Mengembangakan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas, dan sebagainya untuk dipelajari siswa.
  6. Mengatur topik-topik pelajaran dari sederhana ke kompleks, dari konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik, sampai ke simbolik.
  7. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.

Langkah-langkah pembelajaran menurut Ausubel :

  1. Menentukan tujuan pembelajaran.
  2. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, motivasi, gaya belajar, dan sebagainya).
  3. Memilih materi pelajaran sesuai dengan karakteristik siswa dan mengaturnya dalam bentuk konsep-konsep inti.
  4. Menentukan topik-topik dan menampilkannya dalam bentuk advance organizer yang akan dipelajari siswa.
  5. Mempelajari konsep-konsep inti tersebut , dan menerapkannya dalam bentuk nyata/konkret.
  6. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa

Adapun secara umum penerapan teori belajar kognitif dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :

  • Belajar tidak harus berpusat pada guru tetapi peserta didik harus lebih aktif. Oleh karenanya peserta didik harus dibimbing agar aktif menemukan sesuatu yang dipelajarinya. Konsekuensinya materi yang dipelajari harus menarik minat belajar peserta didik dan menantangnya sehingga mereka asyik dan terlibat dalam proses pembelajaran.
  • Bahan pembelajaran dan metode pembelajaran harus menjadi perhatian utama. Peserta didik akan sulit memahami bahan pelajaran Jika frekuensi belajar hitung loncat-loncat. Bagi anak SD pengoperasian suatu penjumlahan harus menggunakan benda-benda terutama di kelas-kelas awal karena tahap perkembangan berpikir mereka baru mencapai tahap operasi konkret.
  • Dalam proses pembelajaran guru harus memperhatikan tahapan perkembangan kognitif peserta didik. Materi dirancang sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif itu dan harus merangsang kemampuan berpikir mereka.
  • Belajar harus berpusat pada peserta didik karena peserta didik melihat sesuatu berdasarkan dirinya sendiri. Untuk terjadinya proses belajar harus tidak ada proses paksaan agar sifat egosentrisnya tidak terbunuh.

Baca juga:

  1. Konsep Pembelajaran di SMK
  2. Solusi Islam dalam Mengatasi Kerusakan Moral
  3. Membangun Komunikasi dalam Proses Belajar Mengajar
  4. Hakikat Belajar dan Pembelajaran
  5. Definisi dan Pengertian Interaksi Sosial

Demikianlah bahasan tentang teori belajar kognitif dan penerapannya dalam pendidikan. Semoga bermanfaat bagi rekan guru sekalian.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *