- Khutbah

Menerima Ketentuan Illahi – Materi Khutbah Jumat

Contoh Khutbah Jumat – Berikut ini adalah contoh materi khutbah tentang menerima kententua ilahi. Semoga dapat bermanfaat.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

( pembukaan khutbah)

Hadirin kaum Muslimin sidang jum’ah yang berbahagia!

Belum dianggap sebagai orang beriman jika salah satu dari 6 pokok rukun Iman diingkarinya. Ketentuan yang baik dan buruk seseorang adalah termasuk salah satu bagian dari 6 pokok rukun Iman yang harus diimani oleh seorang Mukmin sempurna. Demikian pula dengan menerima ketentuan Illahi adalah merupakan realisasi dan cara kita beriman kepada ketentuan tersebut.

Namun, kita juga diwajibkan untuk berusaha, karena berusaha itupun adalah ketentuan ( takdir) Allah juga. Suatu contoh: ditengah-tengah perjalanan turun hujan sangat lebat, lantas kita menerima (menyerah) begitu saja sambil berkata di dalam hati bahwa sudah menjadi ketentuan Tuhan, tanpa adanya usaha untuk mencari tempat untuk berteduh? Tidak, pasti kita berusaha mencari tempat yang teduh lari menghindari hujan yang sangat deras itu. Yang berarti tempat teduh itupun adalah ketentuan Illahi. Kita menghindaritakdir hujan, lari menuju takdir teduh.

Demikian pula ketika kita ditimpa musibah sakit atau lainnya kita terima takdir sakit dengan takdir penyembuhannya (berobat), kita terima takdir maksiat dengan takdir taubat dll., yang berarti bahwa kita telah berusaha yang diwajibkan atau diridhai oleh Allah. Namun, apabila kita membiarkan takdir maksiat tanpa berusaha menghindarinya, maka berarti kita telah melakukan kesalahan dan mengundang kemarahan Allah.

Ketentuan Allah tentang rajin belajar dan giat berusaha itu merupakan suatu keuntungan di dunia, dan ketentuan amal baik dengan hasil usahanya itu merupakan kebahagian di akhirat. demikian pula sebaliknya mals berusaha dan enggan melakukan amal baik merupakan suatu kerugian di dunia dan di akhirat, sehingga masuklah golongan orang-orang yang dimarahi dan dibenci Allah.

Hadirin kaum Muslimin sidang jum’ah yang berbahagia!

Ketika kita telah berusaha sampai titik maksimal dari kemampuan kita sebagai manusia, maka pada titik itulah kita bertawakal kepada Allah dengan sepenuhnya menyerahkan dan menerima ketentuan Illahi.

Firman Allah:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Artinya: ” Dan barang siapa bertawakal kepada Allah pasti Allah mencukupkan keperluannya. Bahwasanya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Dan sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu”. (Q.S Ath-Thalaq: 3)

Sebagai seorang Mukmin yang menginginkan kesempurnaan, setelah kita berusaha dengan semaksimal mungkin maka kita harus menyerahkan segala urusan kita kepada Allah. Namun, apabila kita belum melakukan sebuah usaha maksimal hingga titik terakhir kemampuan yang kita miliki, maka kita tidak boleh membiarkan begitu saja ketentuan yang menimpa kita tanpa adanya sebuah usaha terlebih dahulu.

Dalam hal ini, pernah terjadi seorang sahabat mendapat teguran dari Rasulullah saw karena ia membiarkan untanya dihalaman rumah tanpa diikat terlebih dahulu. Alkisah ketika ia datang kepada Nabi, beliau bertanya: Naik apa engkau datang kemari? jawabnya: Naik unta! Kata Nabi: Dimana unta itu sekrang berada? Jawabnya: Unta itu dibiarkan di halaman dan saya telah berserah diri sepenuhnya kepada Allah atas ketentuan-Nya, jika hilang, itu adalah ketentuan Allah yang harus diterima, dan jiika masih ada itu berarti pula ketentuan Allah. Maka kata Nabi: Ikatlah dulu untamu itu, baru kemudian menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.

Hadirin jamaah jum’ah yang berbahagia!

Dengan dasar hadits tersebut, kita sebagai umat Islam yang sepenuhnya beriman kepada ketentuan dan wajib menerima ketentuan Illahi itu, sesudah kita berusaha sampai titik batas akhir adri kemampuan yang kita miliki maka selanjutnya barulah kita sepenuhnya menyerahkan segala urusan dan menerima segala ketentuan kepada Allah. Doa juga merupakan sebuah usaha yang tidak boleh kita tinggalkan, karena doa juga merupakan sebuah usaha bathiniyah. Tidak sedikit seorang manusia gagal dalam meraih apa yang ia inginkan karena ia tidak mau melakukan usaha lahiriyah dengan perbuatan dan bathiniyah melalui doa.

Akhirnya, marilah kita memohon taufik dan hidayah kepada Allah Swt agar kita dapat melaksanakan dan menerima segala ketentuan Illahi dengan hatu ikhlas tanpa adanya perasaan dongkol, marah atau benci kepada Allah yang telah menentukan semuanya itu ( baik dan buruknya ketentuan).

Doa penutup.

Baca juga: Ceramah dan Kultum tentang Kebersihan Hati

Demikianlah contoh khutbah jumat edisi kali ini. Semoga dapat bermanfaat untuk kita semua. Amiin. Bila ingin materi yang lain, silahkan buka pada contoh khutbah jumat.

About Anis Kurnia

Read All Posts By Anis Kurnia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *