25 Contoh Kultum dan Ceramah Agama Terlengkap

Contoh Ceramah Agama – Berikut ini adalah beberapa contoh naskah ceramah agama baik singkat maupun panjang yang dikumpulkan oleh Wawasan Edukasi. Contoh naskah ceramah ini diambil dari berbagai macam sumber yang relevan dengan materi dan isi ceramah agama.

Tidak usah panjang lebar, berikut ini adalah beberapa daftar contoh materi kultum dan ceramah baik yang singkat maupun yang panjang ada juga yang lucu dan menarik silahkan pilih sesuai tema.

 

Daftar Contoh Ceramah dan Kultum Pilihan

  1. Solusi Islam dalam mengatasi kerusakan moral
  2. Jual beli khamar
  3. Keutamaan Beramal Shaleh
  4. Ciri-ciri Orang Beriman
  5. Hakikat Cinta Kepada Allah
  6. Perang Melawan Syitan dan Cara Menutup Pintu Masuknya
  7. Keutamaan Orang Berilmu
  8. Anjuran Ber Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  9. Dinul Islam
  10. Ukhuwah Islamiyah
  11. Anjuran Berbakti Kepada Ibu
  12. Kemuliaan Wanita
  13. Pergaulan Remaja Masa Kini
  14. Ceramah Singkat tentang Kesabaran
  15. Kultum Singkat tentang Maulid Nabi Muhammad SAW
  16. Ceramah Agama Islam tentang Bersyukur
  17. Kultum Singkat tentang Narkoba
  18. Keutamaan Sedekah
  19. Kenakalan Remaja
  20. Dampak harta halal dan haram bagi kehidupan manusia

 

Contoh Kultum dan Ceramah Singkat tentang Keutamaan Gemar Bersedekah

Assalamualaikum Wr. Wb.

untuk muqaddimahnya, silahkan pilih pada artikel contoh muqaddimah

Bapak-bapak, Ibu-bu dan hadirin sekalian yang berbahagia,

Terlebih dahulu, marilah kita semua senantiasa memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena hanya atas limpahan rahmat, ni’mat dan hidayah-Nya kita sekalian diperkenankan hadir dalam majelis ini untuk lebih memperdalam lagi pengetahuan kita tentang syariat agama Islam. Mudah-mudahan pengajian ini dirahmati Allah SWT.

Sholawat serta salam semoga senantiasa terlimpah kepada junjungan dan suri tauladan kita, penutup para Nabi dan Rasul, Nabi Besar Muhammad SAW. Karena beliaulah pelita bagi kita semua dan seluruh alam ini. Sehingga kini dapat merasakan keni’matan iman dan Islam.

Bapak-bapak, Ibu-ibu dan Hadirin sekalian.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 254.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al Baqarah 254).

Allah SWT memerintahkan kepada kita sekalian untuk membelanjakan sebagian dari rizqi yang telah diberikan kepada kkita di jalan-Nya. Sebab hakekat-Nya harta yang kita miliki adalah merupakan titipan Allah SWT, maka sudah menjadi keharusan bagi kita untuk memberikan kepada-Nya bilamana Allah memintanya kepada kita. Jadi sungguh amat hina dan keliru jika kita berfikir semua harta yang kita peroleh adalah merupakan semata karena hasil jerih payah kita sendiri. Karena hanya Allah lah yang menentukan besar-kecilnya rizqi yang kita peroleh, adapun kita hanyalah berkewajiban untuk berusaha dan berdo’a.

Dan perlu kita semua ketahui bahwa betapa besarnya pahala yang akan kita peroleh bila kita gemar melakukan sedekah dengan hati tulus dan ikhlas. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW pernah bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh hadits berikut ini.

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعَلَى قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ حَفْصَةَ عَنْ أُمِّ الرَّائِحِ عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

Artinya “Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Abdul A’la] dia berkata; Telah menceritakan kepada kami [Khalid] dia berkata; Telah menceritakan kepada kami [Ibnu ‘Aun] dari [Hafshah] dari [Ummu Ar Raaih] dari [Salman bin ‘Amir] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya sedekah kepada orang miskin pahalanya satu sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat pahalanya dua; pahala sedekah dan pahala silaturrahim.” (HR. Nasai No. 2535)

Untuk itu, marilah kita berlomba-lomba dalam membelajakan harta kita dijalan Allah SWT. Agar kita semakin dekat kepada-Nya dan kepada surga-Nya. Bukan hanya itu jika kita banyak mendermakan harta kita maka manusiapun akan dekat dan senang bersaudara dengan kita. Dan sebaliknya, jika kita bakhil, maka orang akan membenci kita jauh dari Allah dan surga-Nya serta semakin dekat dengan neraka-Nya.

Namun dalam hal ini, yang perlu kita ingat adalah saat kita bersedekah dan beribadah lakukan semua itu dengan hati yang tulus dan ikhlas seraya mengharap ridho Allah SWT bukan karena mengharap sanjungan dari orang lain.

Kiranya cukup sekian yang dapat saya sampaikan kepada para hadirin. Mudah-mudahan apa yang telah sampaikan ini dapat membawa manfaat bagi kita semua yang ada dalam majelis ini. Semoga Allah SWT selalu memberikan ridho-Nya kepada kita semua.

Amiin Ya Robbal Alamin.

 

Contoh Kultum Singkat tentang Bahaya Kemunafikan

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah Swt. Dialah Dzat yang telah menciptakan langit, bumi dan segala yang ada di dalamnya. Dialah pula yang mengatur dan mencukupu seluruh rezekinya. Tiada yang patut disembah selain Allah Swt. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada nabi Muhammad Saw.

Penyakit yang sifatnya turunan dari hati yang menyekutukan Allah, takut kepada selain Allah, berharap kepada selain Allah, adalah penyakit munafik. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw. menerangkan sifat munafik, lewat hadist berikut

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سُهَيْلٍ نَافِعُ بْنُ مَالِكِ بْنِ أَبِي عَامِرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Ayyub] dan [Qutaibah bin Sa’id] dan lafazh tersebut milik Yahya, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami [Ismail bin Ja’far] dia berkata, telah mengabarkan kepada kami [Abu Suhail Nafi’ bin Malik bin Abu Amir] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: apabila dia berbicara niscaya dia berbohong, apabila dia berjanji niscaya mengingkari, dan apabila dia dipercaya niscaya dia berkhianat.” (HR. Muslim no 89)

Dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Bukhari no 5630 menceritakan bahwa

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِي سُهَيْلٍ نَافِعِ بْنِ مَالِكِ بْنِ أَبِي عَامِرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Telah menceritakan kepadaku [Muhammad bin Salam] telah menceritakan kepada kami [Isma’il bin Ja’far] dari [Abu Suhail Nafi’ bin Malik bin Abu ‘Amir] dari [Ayahnya] dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu; jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari dan jika dipercaya berkhianat.” (HR. Bukhari no 5630)

Hadist Nasai Nomor 4935

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو سُهَيْلٍ نَافِعُ بْنُ مَالِكِ بْنِ أَبِي عَامِرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ آيَةُ النِّفَاقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Telah mengkhabarkan kepada kami [Ali bin Hujr], dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Isma’il], dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Abu Suhail Nafi’ bin Malik bin Abu ‘Amir] dari [ayahnya] dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu; apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia mengingkari dan apabila dipercaya dia mengkhianati.” (HR. Nasai Nomor 4935)

Orang munafik bagaikan musang berbulu domba. Terlihat bagus padahal hatinya busuk. Orang munafik itu jauh lebih berbahaya dari orang yang jelas-jelas jelek sifat dan sikapnya. Orang jelek menampakkan kejelekannya, sedangkan orang munafik itu jelek tapi menampakkan kebagusannya. Seorang munafik itu penipu. Bukankah berbohong itu menipu. Bukankah ingkar janji itu menipu. Dan bukankah khianat atas amanah itu menipu.

Munafik itu ada dua jenis. Pertama, ada munafik sejak itikad di dalam hatinya, dari akidahnya, contohnya adalah ‘Abdullah bin Ubay. Hatinya tidak beriman, tapi sikapnya menunjukkan keislaman. Hatinya benci kepada Islam, tapi sikapnya menampakkan kecintaan. Ini kemunafikan yang berat.

Kedua, munafik pada amal. Kita memang insyaa Allah beriman, yakin kepada Allah Swt. Tetapi pada sikap kita sehari-hari banyak perilaku munafik. Diantaranya kebohongan-kebohongan kita, banyak janji yang kita ucapkan tanpa diiringi dengan kesungguhan untuk menepati, amanah di kantor yang lalai kita kerjakan. Kemunafikan seperti ini akan menimbulkan rasa tidak nyaman di dalam diri kita, begitupun di dalam diri orang lain.

Orang munafik itu berbeda ketika di depan dan di belakang, antara ucapan dan tindakan dengan yang di dalam hatinya. Di depan ia mengangguk dan bermuka manis, sementara di belakang dia berghibah. Di depan dia menyanjung, di belakang dia menghina. Orang munafik seperti ini akan terus menjadi biang masalah. Kalau di dalam rumahtangga ada kemunafikan, maka akan rentan dengan konflik. Kalau di dalam pemerintahan sebuah negara ada kemunafikan, maka akan bangkrut dan tidak akan maju.

Kemunafikan juga akan membuat masalah tidak kunjung selesai. Masalah narkoba misalnya, meski para pengedar sudah ditangkap dan dipenjara, namun jikalau ada kemunafikan di pihak penegak hukumnya, maka masalah tersebut akan terus berlanjut.

Jadi saudaraku, kemunafikan itu adalah sumber masalah dan sifat yang amat tercela. Dan, sesungguhnya Allah Swt. tidak menyukai kemunafikan. Semoga kita terhindar dari sifat dan sikap munafik. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Sumber: smstauhiid.com (Editor: Admin)

 

Contoh Ceramah dan Kultum Singkat tentang Hijrah

Assalamualaikum Wr. Wb.

Silahkan pilih mukadimahnya di contoh mukadimah

Hijrah secara bahasa berarti Al Tarku yang berarti meninggalkan. Kata meninggalkan disini memiliki banyak sekali arti. Bisa meninggalkan rumah, tempat, kebiasaan, dan lainnya. Namun dalam konteks keagamaan, hijrah disini memiliki arti meninggalkan sesuatu hal yang buruk untuk hal yang lebih baik.

Dalam sejarah Islam, kita mengenal istilah hijrah dari kisah Rasulullah SAW yang meninggalkan kota Mekkah menuju Madinah guna menegakkan agama Allah SWT.

Nah, sekarang bagaimana dengan kita di zaman modern ini? Apakah bisa melakukan hal yang demikian itu? Hanya Anda yang dan Allah SWT yang tahu jawabannya.

Dunia terhampar begitu luas, menyimpan berbagai macam bentuk kehidupan yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Bila kita memperoleh info, mungkin itu hanya sekilas saja yang kita peroleh dari internet atau kabar burung.

Luasnya dunia ini seharusnya mampu mendorong setiap orang untuk hidup berkecukupan dan sejahtera. tetapi bila kenyataan masih jauh dari yang diharapkan. Dunia begitu luas tanpa batas terhampar tanpa kamar, terbentang tanpa perintang kenapa mesti takut.

Berkaitan dengan hijrah, Allah SWT berfirman dalam Q.S An Nisa ayat 100

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya: “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat tersebut memiliki penafsiran menurut Quraishihab sebagai berikut

Orang-orang yang berhijrah dengan tujuan membela kebenaran, akan menemukan banyak tempat di muka bumi ini dan terhindar dari tekanan dan kekerasan orang-orang yang memusuhi kebenaran. Mereka juga akan mendapatkan kebebasaan dan tempat tinggal yang mulia, di samping disediakan pahala yang besar. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah ke tempat yang mulia, yaitu negeri Allah dan rasul-Nya, kemudian mati sebelum sampai pada tempat tujuan, pahalanya telah ditetapkan. Allah berkuasa untuk memberikan pahala, ampunan dan rahmat-Nya, karena Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Pemberi rahmat.

Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda berkaitan dengan hijrah yang diriwayatkan oleh Bukhari

HR. Bukhari No 6003

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu’aim] telah menceritakan kepada kami [Zakaria] dari [Amir] mengatakan, aku mendengar [Abdullah bin Amru] mengatakan; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Muslim yang sempurna adalah yang muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang.”

Meninggalkan segala bentuk yang dilarang Allah bisa berarti perpindahan seorang muslim dari kufur kepada iman, dari syirik kepada tauhid, dari nifaq kepadai istiqomah, dari maksiat kepada taat, dari haram kepada halal. Dengan kata lain, perpindahan total seorang muslim dari kehidupan yang serba Jahili menuju kehidupan yang serba Islami.

Hijrah dalam pengertian ini disebut hijrah maknawiyah (hijrah mental) atau bisa juga disebut hijrah qalbiyah (hijrah hati). Hijrah maknawiyah bersifat mutlak, dan kemutlakannya berlaku bagi setiap muslim. Artinya, setiap muslim mesti melakukan hijrah maknawiyah ini. Karena menjadi pribadi muslim yang kaaffah (seorang yang hanya mengabdi kepada Allah secara totalitas) harus didahului dengan hijrah ini. Hijrah ini merupakan awal mula terangkatnya kehidupan manusia dari kegelapan menuju cahaya islam, tuntutan Allah kepada Umat Islam agar bisa keluar secara total dari dominasi pengabdian terhadap syaitan dengan segala bentuk dan manifestasinya menuju pengabdian hanya kepada Allah.

Dalam kondisi sekarang ini, di mana kita hidup dilingkungan masyarakat yang pola kehidupannya banyak yang jauh dari nilai-nilai Islam, hijrah maknawiyah merupakan suatu keharusan. Dengan demikian, walaupun secara fisik seorang tetap berada dilingkungannya, namun secara maknawi ia meninggalkan seluruh pola kehidupan yang ada lingkungannya. Pengertian ini yang dikenal dengan istilah“Yakhtalithuun walaakin yatamayyazuun”(bercampur tapi tetapi berbeda), ia tetap dalam kepribadian muslimnya tanpa harus larut dalam nilai-nilai sekelilingnya.

Sebagaimana pesan Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi no 1930

حَدَّثَنَا أَبُو هِشَامٍ الرِّفَاعِيُّ مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُمَيْعٍ عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

Telah menceritakan kepada [Abu Hisyam Ar Rifa’i Muhammad bin Yazid], telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudlail] dari [Al Walid bin Abdullah bin Jumai’] dari [Abu Thufail] dari [Hudzaifah] ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian menjadi orang yang suka mengekor orang lain. Jika manusia menjadi baik, maka kami juga akan berbuat baik. Dan jika mereka berbuat zhalim, maka kami juga akan berbuat zhalim.’ Akan tetapi mantapkanlah hati kalian, jika manusia berbuat baik kalian juga berbuat baik, namun jika mereka berlaku buruk, janganlah kalian berbuat zhalim.” Berkata Abu Isa: Ini merupakan hadits hasan gharib tidak kami ketahui kecuali melalui jalur ini.

Dari pembahasan diatas, menjadi jelas bahwa hakikat hijrah baik makaniyah maupun maknawiyah itu sebenarnya adalah komitmen pada ketentuan kita dengan meninggalkan segala bentuk sikap dan perilaku yang tidak menunujukan ketaatan kepada Allah.

Karena hakikat hijrah adalah melaksanakan perintah Allah dengan meninggalkan kemalasan dan kedurhakaan kepada-Nya, serta meninggalkan larangan-larangan-Nya dengan meninggalkan segala bentuk kesukaan atau kecintaan pada kemaksiatan, maka hijrah itu harus dilakukan sepanjang perjalanan hidup kita sebagai muslim semuanya ini tentu saja menuntut kesungguhan. Karena itu, iman, hijrah, dan jihad merupakan kunci bagi manusia untuk meraih derajat yang tinggi dan kemenangan dalam melawan musuh-musuh kebenaran.

Sebagaimana yang difirmankan Allah SWT dalam Q.S At Taubah ayat 20 berikut ini:

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Artinya : ‘orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. ” [QS. At Taubah: 20]

Demikianlah Islam mengajarkan kepada kita prinsip Hijrah yang pada dasarnya bertujuan untuk kebaikan dunia dan akhirat kita. Sebab itu, Hijrah mesti kita lakukan sekarang juga dan tidak boleh ditunda barang sedikitpun. Kalau tidak, kita tidak akan beranjak dari situasi dan kondisi yang ada sekarang. Kalau kita tidak Hijrah sekarang, maka generasi setelah kita nanti tidak akan keluar dari situasi dan kondisi buruk yang kita hadapi saat ini dan mungkin lebih buruk lagi kedepannya. Tidak ada kata terlambat untuk kita berhijrah dari kehidupan yang buruk sebelumnya.

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Pencarian Populer

  • kultum
  • kultum singkat
  • materi kultum singkat untuk remaja
  • kultum masa kini
  • 20 kumpulan ceramah singkat
  • conto kultum yang singkat
  • teks ceramah agama bagi remaja
  • contoh ceramah panjang
  • contoh ceramah yang panjang
  • contoh kultum singkat

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *