35 Contoh Kultum dan Ceramah Agama Terlengkap

Ceramah Agama Singkat – adfinternational.org

Contoh Ceramah Agama – Berikut ini adalah beberapa contoh naskah ceramah agama baik singkat maupun panjang yang dikumpulkan oleh Wawasan Edukasi. Contoh naskah ceramah ini diambil dari berbagai macam sumber yang relevan dengan materi dan isi ceramah agama.

Tidak usah panjang lebar, berikut ini adalah beberapa daftar contoh materi kultum dan ceramah baik yang singkat maupun yang panjang ada juga yang lucu dan menarik silahkan pilih sesuai tema.

 

Daftar Contoh Ceramah dan Kultum Pilihan

Kultum Singkat tentang Mengoptimalkan Ibadah pada Bulan Suci Ramadhan

Sebelum memulai kajian kita sore ini, alangkah baiknya kita ucapkan syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT yang telah memberikan kita kesempatan untuk berjumpa lagi dengan bulan suci ramadhan, dimana bulan ini adalah bulan yang penuh dengan rahmat Allah SWT.

Marilah kita bersama-sama berdo’a semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita agar selalu berada dijalan-Nya, memberikan kita banyak kenikmatan sehingga kita dapat mengoptimalkan ibadah kita pada suci ramadhan ini. Semoga Allah SWT senantiasa mengampuni segala dosa-dosa yang telah kita perbuat dimasa lalu. Amiin.
Shalawat dan salam yang tiada terputus kita ucapkan untuk pemimpin kita, kekasih kita, Rasulullah Saw. Beliaulah teladan kita dalam hidup ini, terutama dalam optimalisasi ibadah pada bulan mulia Ramadhan ini.

Para hadirin yang insya Allah diramatii Allah SWT,

Malam ini, merupakan malam pertama di bulan suci ramadhan. Sebagai seorang muslim, sudah sepantasnya kita merasa bahagia karena masih bisa menjumpai bulan ramadhan. Kita sangat yakin dan percaya bahwa bulan ini adalah bulan penuh berkah yang mana Allah SWT akan memberikan banyak bonus berupa pahala dan pengampunan dosa bagi kita semua. Syaratnya, kita harus mengisi bulan suci ini dengan penuh amalan kebaikan, pertaubatan yang semaksimal mungkin.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنْ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Artinya: “Bulan Ramadhan (adalah bulan) yang padanya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan (berisi) penjelasan dari petunjuk dan (sebagai) pembeda (antara yang baik dan yanag salah).” Qs : Al-Baqarah : 185

Pada ayat di atas, jelas tertulis lafazd “ramadhan” yang merupakan nama dari salah satu bulan istimewa pada kalender islam. Secara jelas Allah menyebutkan nama bulan ini karena Allah ingin mengajarkan dan mengabarkan kepada kita semua sebagai hamba-Nya mengenai kemulyaan dan keistimewaan bulan ini. Pada bulan ini pula Al Quran diturunkan yang mana firman-firman-Nya merupakan pedoman hidup bagi seluruh umat islam di dunia ini. Tidak ada keraguan terhadapnya karena garansinya langsung dijamin oleh Allah SWT.

Pada bulan ini juga Allah menganjurkan kita untuk senantiasa mengamalkan dan membaca maupun menghafalkan setiap ayat yang terdapat di dalam Al Quran. Oleh karena itu, tidak heran bila kita lebih sering mendengar orang bertadarus sampai larut malam karena hanya mengharapkan ridho Allah SWT pada bulan suci ramadhan.

Para Hadirin yang saya hormati,

Pada bulan ini, Allah memerintahkan kita untuk berpuasa satu bulan penuh, tidak makan, tidak minum dan menahan hawa nafsu kita mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Semua itu dilakukan dengan niat untuk ibadah dan mengharapkan ridho Allah SWT.

Puasa di bulan suci ramadhan termasuk ke dalam rukun Islam yang keempat, oleh karena itu, sebagai seorang muslim yang sudah masuk aqil baligh, wajib bagi kita untuk menjalan ibadah puasa. Bila kita tidak menjalankannya dengan baik atau tidak ada alasan dengan udzur syar’I maka hendaknya orang tersebut tidak meninggalkan ibadah yang satu ini, karena tidak sah iman dan islam kita bila tidak menjalankan rukum Islam yang keempat ini.

Mengenai kewajiban berpuasa di bulan ramadhan, Allah SWT berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 183:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai sekalian orang yang beriman. Telah di wajibkan kepadamu shiyam/ puasa, sebagaiman telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. Qs : Al-Baqarah : 183.

Ayat di atas merupakan penegas kewajiban kita menjalankan ibadah puasa pada bulan ramadhan. Bisa dikatan orang tersebut tidak beriman bila tidak mentaati perintah yang datang langsung dari Allah SWT.

Dari ayat tersebut sudah jelas dikatakan bahwa, perintah berpuasa bertujuan untuk menambah ketaqwaan kita kepada Allah SWT sebagaimana orang-orang atau Nabi dan Rasul sebelum Muhammad diperintahkan untuk berpuasa.

Untuk itu, marilah kita berdoa selama bulan suci ini semoga Allah menjadikan kita semua sebagai hamba-hambaNya yang selalu bertaqwa Amiin.

Rasulullah Saw bersabda :

من صام رمضان إ يما نا واحتسابا غفرله ماتقدم من ذنبه

“Barang siapa puasa pada bulan Ramadhan atas dorongan Iman dan dengan niat ikhlas,
niscaya diampuni seluruh dosanya yang telah lalu”. Muttafaq Alaih

Rasulullah SAW mengajarkan kita agar menjalankan ibadah puasa karena ibadah, di dasari dengan niat yang tulus ikhlas bila menginginkan dosa-dosa kita diampuni oleh Allah SWT. Sebagaimana sabda beliau berikut ini

…ورمضان إلى رمضان مكفرات لما بينهن إذا اجتنبت الكبائر. أخرجه مسلم

“Ramadhan ke Ramadhan berikutnya sebagai penghapus dosa diantaranya selama dosa-dosa besar dijauhi.” HR. Muslim.

Dan seharusnya kita juga malu bila melihat Rasulullah SAW yang senantiasa menjalankan ibadah puasa meskipun dirinya sudah dibebaskan oleh Allah SWT dari dosa. Maka dari itu, gunakanlah bulan ini untuk beribadah dengan sebaik-baiknya, mintalah ampunan kepada Allah SWT sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Para jamaah yang semoga dirahmati Allah Swt

Selama menjalan ibadah puasa pada bulan suci ini, Rasulullah SAW juga mengajarkan kita untuk menjalankan ibadah qiyamullail dan juga sholat sunnah (taraweh) yang hanya dilakukan di bulan suci ramadhan.

Rasulullah Saw bersabda :

من قام رمضان إمانا واحتسابا غفرله ماتقدم من ذنبه. متفق عليه

“Barang siapa shalat (malam) pada bulan Ramadhan atas dorongan Iman dan dengan niat ikhlas, niscaya diampuni semua dosanya yang telah lalu. Muttafaqun Alaih.

Sungguh sangat istimewanya bulan suci ini. Banyak celah ampunan dan pahala yang Allah berikan kepada kita semua. Salah satunya adalah melakukan qiyamullail, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah Saw selama dua malam berturut-turut, lalu ditetapkan oleh khalifah Umar bin Khattab r.a. untuk dilakukan di awal malam sepanjang bulan suci Ramadhan dan disepakati oleh para sahabat Nabi Saw ketika itu, dan inilah yang disebut oleh para ulama dengan shalat taraweh yaitu shalat yang diselingi dengan istirahat sejenak setiap selesai dua rakaat.

Bapak-ibu saudara-saudariku yang berbahagia

Sesungguhnya, sedikit iman yang ada di hati kita ini perlahan akan mendorong dan menggerakkan kita menuju ke kebahagiaan karena ibadah yang kita lakukan. Untuk itu, marilah kita senantiasa menjaga keimanan dan ketaqwaan kita sebagai bekal di akhirat kelak.

Mumpung masih berada dalam bulan suci ramdhan, marilah kita berlomba-lomba melaksanakan ibadah sebaik mungkin, tingkatkan amal ibada kita, sedekah kita, jangan lupa untuk menghatamkan dan menghafalkan Al Quran dengan niat yang tulus ikhlas.

Marilah perbanyak dzikir mengingat kepada Allah SWT, mulai sekarang, besok dan seterusnya.

Rasulullah Saw bersabda :

إن للصائم عند فطره لدعوة ما ترد. أخرجه ابن ماجه والبيهقي

“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa ketika ia berbuka, ada do’a yang tidak ditolak”. HR : Ibnu Majah dan Al-Baihaqi.

Sekarang saatnya kita buktikan keimanan kita kepada Allah SWT agar Allah ridho memberikan ampunan kepada kita semua. Tingkatkan sedekah, doa, dzikir, tadarus sebagai bentuk syukur kita karena telah Allah berikan kenikmatan yang tiada tara kepada kita semua.

Agar cara kita berbulan Ramadhan kita tahun ini benar-benar lebih baik dari pada cara kita berbulan Ramadhan pada tahun yang lalu. Upaya peningkatan ini adalah sebuah keniscayaan jika kita sadar bahwa kita semakin dekat dengan kematian.

Di akhir perjumpaan kita pada malam ini, saya ingin mengajarkan sebuah do’a yang diwasiatkan oleh Rasulullah Saw untuk kita baca setiap selesai shalat, yaitu:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepadaMu, untuk bersyukur kepadaMu dan untuk memperbaiki ibadah kepadaMu.” Amin.

 

  1. Solusi Islam dalam mengatasi kerusakan moral
  2. Jual beli khamar
  3. Keutamaan Beramal Shaleh
  4. Ciri-ciri Orang Beriman
  5. Hakikat Cinta Kepada Allah
  6. Perang Melawan Syitan dan Cara Menutup Pintu Masuknya
  7. Keutamaan Orang Berilmu
  8. Anjuran Ber Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  9. Dinul Islam
  10. Ukhuwah Islamiyah
  11. Anjuran Berbakti Kepada Ibu
  12. Kemuliaan Wanita
  13. Pergaulan Remaja Masa Kini
  14. Ceramah Singkat tentang Kesabaran
  15. Kultum Singkat tentang Maulid Nabi Muhammad SAW
  16. Ceramah Agama Islam tentang Bersyukur
  17. Kultum Singkat tentang Narkoba
  18. Keutamaan Sedekah
  19. Kenakalan Remaja
  20. Dampak harta halal dan haram bagi kehidupan manusia
  21. Contoh Ceramah Singkat tentang Keutamaan dan Keistimewaan Sedekah hari Jumat
  22. Contoh Materi Ceramah Singkat tentang Doa dan Amalan Sebelum Tidur
  23. Contoh Materi Kultum dan Ceramah Singkat tentang Pentingnya Menjaga Amanat
  24. Contoh Ceramah Singkat tentang Bahaya Sifat Dengki dan Iri Hati

 

Contoh Kultum dan Ceramah Singkat tentang Keutamaan Gemar Bersedekah

Image Source: madania-ho.net

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

untuk muqaddimahnya, silahkan pilih pada artikel contoh muqaddimah

Bapak-bapak, Ibu-bu dan hadirin sekalian yang berbahagia,

Terlebih dahulu, marilah kita semua senantiasa memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena hanya atas limpahan rahmat, ni’mat dan hidayah-Nya kita sekalian diperkenankan hadir dalam majelis ini untuk lebih memperdalam lagi pengetahuan kita tentang syariat agama Islam. Mudah-mudahan pengajian ini dirahmati Allah SWT.

Sholawat serta salam semoga senantiasa terlimpah kepada junjungan dan suri tauladan kita, penutup para Nabi dan Rasul, Nabi Besar Muhammad SAW. Karena beliaulah pelita bagi kita semua dan seluruh alam ini. Sehingga kini dapat merasakan keni’matan iman dan Islam.

Bapak-bapak, Ibu-ibu dan Hadirin sekalian.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 254.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al Baqarah 254).

Allah SWT memerintahkan kepada kita sekalian untuk membelanjakan sebagian dari rizqi yang telah diberikan kepada kkita di jalan-Nya. Sebab hakekat-Nya harta yang kita miliki adalah merupakan titipan Allah SWT, maka sudah menjadi keharusan bagi kita untuk memberikan kepada-Nya bilamana Allah memintanya kepada kita. Jadi sungguh amat hina dan keliru jika kita berfikir semua harta yang kita peroleh adalah merupakan semata karena hasil jerih payah kita sendiri. Karena hanya Allah lah yang menentukan besar-kecilnya rizqi yang kita peroleh, adapun kita hanyalah berkewajiban untuk berusaha dan berdo’a.

Dan perlu kita semua ketahui bahwa betapa besarnya pahala yang akan kita peroleh bila kita gemar melakukan sedekah dengan hati tulus dan ikhlas. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW pernah bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh hadits berikut ini.

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعَلَى قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ حَفْصَةَ عَنْ أُمِّ الرَّائِحِ عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

Artinya “Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Abdul A’la] dia berkata; Telah menceritakan kepada kami [Khalid] dia berkata; Telah menceritakan kepada kami [Ibnu ‘Aun] dari [Hafshah] dari [Ummu Ar Raaih] dari [Salman bin ‘Amir] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya sedekah kepada orang miskin pahalanya satu sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat pahalanya dua; pahala sedekah dan pahala silaturrahim.” (HR. Nasai No. 2535)

Untuk itu, marilah kita berlomba-lomba dalam membelajakan harta kita dijalan Allah SWT. Agar kita semakin dekat kepada-Nya dan kepada surga-Nya. Bukan hanya itu jika kita banyak mendermakan harta kita maka manusiapun akan dekat dan senang bersaudara dengan kita. Dan sebaliknya, jika kita bakhil, maka orang akan membenci kita jauh dari Allah dan surga-Nya serta semakin dekat dengan neraka-Nya.

Namun dalam hal ini, yang perlu kita ingat adalah saat kita bersedekah dan beribadah lakukan semua itu dengan hati yang tulus dan ikhlas seraya mengharap ridho Allah SWT bukan karena mengharap sanjungan dari orang lain.

Kiranya cukup sekian yang dapat saya sampaikan kepada para hadirin. Mudah-mudahan apa yang telah sampaikan ini dapat membawa manfaat bagi kita semua yang ada dalam majelis ini. Semoga Allah SWT selalu memberikan ridho-Nya kepada kita semua.

Amiin Ya Robbal Alamin.

 

Kultum singkat tentang munafikImage Source: apcrit.com

Contoh Kultum dan Ceramah Singkat tentang Bahaya Kemunafikan

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah Swt. Dialah Dzat yang telah menciptakan langit, bumi dan segala yang ada di dalamnya. Dialah pula yang mengatur dan mencukupu seluruh rezekinya. Tiada yang patut disembah selain Allah Swt. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada nabi Muhammad Saw.

Penyakit yang sifatnya turunan dari hati yang menyekutukan Allah, takut kepada selain Allah, berharap kepada selain Allah, adalah penyakit munafik. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw. menerangkan sifat munafik, lewat hadist berikut

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سُهَيْلٍ نَافِعُ بْنُ مَالِكِ بْنِ أَبِي عَامِرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Ayyub] dan [Qutaibah bin Sa’id] dan lafazh tersebut milik Yahya, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami [Ismail bin Ja’far] dia berkata, telah mengabarkan kepada kami [Abu Suhail Nafi’ bin Malik bin Abu Amir] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: apabila dia berbicara niscaya dia berbohong, apabila dia berjanji niscaya mengingkari, dan apabila dia dipercaya niscaya dia berkhianat.” (HR. Muslim no 89)

Dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Bukhari no 5630 menceritakan bahwa

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِي سُهَيْلٍ نَافِعِ بْنِ مَالِكِ بْنِ أَبِي عَامِرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Telah menceritakan kepadaku [Muhammad bin Salam] telah menceritakan kepada kami [Isma’il bin Ja’far] dari [Abu Suhail Nafi’ bin Malik bin Abu ‘Amir] dari [Ayahnya] dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu; jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari dan jika dipercaya berkhianat.” (HR. Bukhari no 5630)

Hadist Nasai Nomor 4935

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو سُهَيْلٍ نَافِعُ بْنُ مَالِكِ بْنِ أَبِي عَامِرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ آيَةُ النِّفَاقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Telah mengkhabarkan kepada kami [Ali bin Hujr], dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Isma’il], dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Abu Suhail Nafi’ bin Malik bin Abu ‘Amir] dari [ayahnya] dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu; apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia mengingkari dan apabila dipercaya dia mengkhianati.” (HR. Nasai Nomor 4935)

Orang munafik bagaikan musang berbulu domba. Terlihat bagus padahal hatinya busuk. Orang munafik itu jauh lebih berbahaya dari orang yang jelas-jelas jelek sifat dan sikapnya. Orang jelek menampakkan kejelekannya, sedangkan orang munafik itu jelek tapi menampakkan kebagusannya. Seorang munafik itu penipu. Bukankah berbohong itu menipu. Bukankah ingkar janji itu menipu. Dan bukankah khianat atas amanah itu menipu.

Munafik itu ada dua jenis. Pertama, ada munafik sejak itikad di dalam hatinya, dari akidahnya, contohnya adalah ‘Abdullah bin Ubay. Hatinya tidak beriman, tapi sikapnya menunjukkan keislaman. Hatinya benci kepada Islam, tapi sikapnya menampakkan kecintaan. Ini kemunafikan yang berat.

Kedua, munafik pada amal. Kita memang insyaa Allah beriman, yakin kepada Allah Swt. Tetapi pada sikap kita sehari-hari banyak perilaku munafik. Diantaranya kebohongan-kebohongan kita, banyak janji yang kita ucapkan tanpa diiringi dengan kesungguhan untuk menepati, amanah di kantor yang lalai kita kerjakan. Kemunafikan seperti ini akan menimbulkan rasa tidak nyaman di dalam diri kita, begitupun di dalam diri orang lain.

Orang munafik itu berbeda ketika di depan dan di belakang, antara ucapan dan tindakan dengan yang di dalam hatinya. Di depan ia mengangguk dan bermuka manis, sementara di belakang dia berghibah. Di depan dia menyanjung, di belakang dia menghina. Orang munafik seperti ini akan terus menjadi biang masalah. Kalau di dalam rumahtangga ada kemunafikan, maka akan rentan dengan konflik. Kalau di dalam pemerintahan sebuah negara ada kemunafikan, maka akan bangkrut dan tidak akan maju.

Kemunafikan juga akan membuat masalah tidak kunjung selesai. Masalah narkoba misalnya, meski para pengedar sudah ditangkap dan dipenjara, namun jikalau ada kemunafikan di pihak penegak hukumnya, maka masalah tersebut akan terus berlanjut.

Jadi saudaraku, kemunafikan itu adalah sumber masalah dan sifat yang amat tercela. Dan, sesungguhnya Allah Swt. tidak menyukai kemunafikan. Semoga kita terhindar dari sifat dan sikap munafik. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Sumber: smstauhiid.com (Editor: Admin)

 

ceramah singkat tentang sedekahImage Source: klikmu.co

Contoh Ceramah dan Kultum Singkat tentang Hijrah

Assalamualaikum Wr. Wb.

Silahkan pilih mukadimahnya di contoh mukadimah

Hijrah secara bahasa berarti Al Tarku yang berarti meninggalkan. Kata meninggalkan disini memiliki banyak sekali arti. Bisa meninggalkan rumah, tempat, kebiasaan, dan lainnya. Namun dalam konteks keagamaan, hijrah disini memiliki arti meninggalkan sesuatu hal yang buruk untuk hal yang lebih baik.

Dalam sejarah Islam, kita mengenal istilah hijrah dari kisah Rasulullah SAW yang meninggalkan kota Mekkah menuju Madinah guna menegakkan agama Allah SWT.

Nah, sekarang bagaimana dengan kita di zaman modern ini? Apakah bisa melakukan hal yang demikian itu? Hanya Anda yang dan Allah SWT yang tahu jawabannya.

Dunia terhampar begitu luas, menyimpan berbagai macam bentuk kehidupan yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Bila kita memperoleh info, mungkin itu hanya sekilas saja yang kita peroleh dari internet atau kabar burung.

Luasnya dunia ini seharusnya mampu mendorong setiap orang untuk hidup berkecukupan dan sejahtera. tetapi bila kenyataan masih jauh dari yang diharapkan. Dunia begitu luas tanpa batas terhampar tanpa kamar, terbentang tanpa perintang kenapa mesti takut.

Berkaitan dengan hijrah, Allah SWT berfirman dalam Q.S An Nisa ayat 100

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya: “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat tersebut memiliki penafsiran menurut Quraishihab sebagai berikut

Orang-orang yang berhijrah dengan tujuan membela kebenaran, akan menemukan banyak tempat di muka bumi ini dan terhindar dari tekanan dan kekerasan orang-orang yang memusuhi kebenaran. Mereka juga akan mendapatkan kebebasaan dan tempat tinggal yang mulia, di samping disediakan pahala yang besar. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah ke tempat yang mulia, yaitu negeri Allah dan rasul-Nya, kemudian mati sebelum sampai pada tempat tujuan, pahalanya telah ditetapkan. Allah berkuasa untuk memberikan pahala, ampunan dan rahmat-Nya, karena Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Pemberi rahmat.

Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda berkaitan dengan hijrah yang diriwayatkan oleh Bukhari

HR. Bukhari No 6003

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu’aim] telah menceritakan kepada kami [Zakaria] dari [Amir] mengatakan, aku mendengar [Abdullah bin Amru] mengatakan; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Muslim yang sempurna adalah yang muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang.”

Meninggalkan segala bentuk yang dilarang Allah bisa berarti perpindahan seorang muslim dari kufur kepada iman, dari syirik kepada tauhid, dari nifaq kepadai istiqomah, dari maksiat kepada taat, dari haram kepada halal. Dengan kata lain, perpindahan total seorang muslim dari kehidupan yang serba Jahili menuju kehidupan yang serba Islami.

Hijrah dalam pengertian ini disebut hijrah maknawiyah (hijrah mental) atau bisa juga disebut hijrah qalbiyah (hijrah hati). Hijrah maknawiyah bersifat mutlak, dan kemutlakannya berlaku bagi setiap muslim. Artinya, setiap muslim mesti melakukan hijrah maknawiyah ini. Karena menjadi pribadi muslim yang kaaffah (seorang yang hanya mengabdi kepada Allah secara totalitas) harus didahului dengan hijrah ini. Hijrah ini merupakan awal mula terangkatnya kehidupan manusia dari kegelapan menuju cahaya islam, tuntutan Allah kepada Umat Islam agar bisa keluar secara total dari dominasi pengabdian terhadap syaitan dengan segala bentuk dan manifestasinya menuju pengabdian hanya kepada Allah.

Dalam kondisi sekarang ini, di mana kita hidup dilingkungan masyarakat yang pola kehidupannya banyak yang jauh dari nilai-nilai Islam, hijrah maknawiyah merupakan suatu keharusan. Dengan demikian, walaupun secara fisik seorang tetap berada dilingkungannya, namun secara maknawi ia meninggalkan seluruh pola kehidupan yang ada lingkungannya. Pengertian ini yang dikenal dengan istilah“Yakhtalithuun walaakin yatamayyazuun”(bercampur tapi tetapi berbeda), ia tetap dalam kepribadian muslimnya tanpa harus larut dalam nilai-nilai sekelilingnya.

Sebagaimana pesan Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi no 1930

حَدَّثَنَا أَبُو هِشَامٍ الرِّفَاعِيُّ مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُمَيْعٍ عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

Telah menceritakan kepada [Abu Hisyam Ar Rifa’i Muhammad bin Yazid], telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudlail] dari [Al Walid bin Abdullah bin Jumai’] dari [Abu Thufail] dari [Hudzaifah] ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian menjadi orang yang suka mengekor orang lain. Jika manusia menjadi baik, maka kami juga akan berbuat baik. Dan jika mereka berbuat zhalim, maka kami juga akan berbuat zhalim.’ Akan tetapi mantapkanlah hati kalian, jika manusia berbuat baik kalian juga berbuat baik, namun jika mereka berlaku buruk, janganlah kalian berbuat zhalim.” Berkata Abu Isa: Ini merupakan hadits hasan gharib tidak kami ketahui kecuali melalui jalur ini.

Dari pembahasan diatas, menjadi jelas bahwa hakikat hijrah baik makaniyah maupun maknawiyah itu sebenarnya adalah komitmen pada ketentuan kita dengan meninggalkan segala bentuk sikap dan perilaku yang tidak menunujukan ketaatan kepada Allah.

Karena hakikat hijrah adalah melaksanakan perintah Allah dengan meninggalkan kemalasan dan kedurhakaan kepada-Nya, serta meninggalkan larangan-larangan-Nya dengan meninggalkan segala bentuk kesukaan atau kecintaan pada kemaksiatan, maka hijrah itu harus dilakukan sepanjang perjalanan hidup kita sebagai muslim semuanya ini tentu saja menuntut kesungguhan. Karena itu, iman, hijrah, dan jihad merupakan kunci bagi manusia untuk meraih derajat yang tinggi dan kemenangan dalam melawan musuh-musuh kebenaran.

Sebagaimana yang difirmankan Allah SWT dalam Q.S At Taubah ayat 20 berikut ini:

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Artinya : ‘orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. ” [QS. At Taubah: 20]

Demikianlah Islam mengajarkan kepada kita prinsip Hijrah yang pada dasarnya bertujuan untuk kebaikan dunia dan akhirat kita. Sebab itu, Hijrah mesti kita lakukan sekarang juga dan tidak boleh ditunda barang sedikitpun. Kalau tidak, kita tidak akan beranjak dari situasi dan kondisi yang ada sekarang. Kalau kita tidak Hijrah sekarang, maka generasi setelah kita nanti tidak akan keluar dari situasi dan kondisi buruk yang kita hadapi saat ini dan mungkin lebih buruk lagi kedepannya. Tidak ada kata terlambat untuk kita berhijrah dari kehidupan yang buruk sebelumnya.

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

 

ceramah singkat tentang kebersihan sebagian dari iman

Contoh Kultum dan Ceramah Singkat tentang Kebersihan Sebagian Dari Iman

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Silahkan pilih pembukaannya di contoh mukadimah

Bapak bapak ibu ibu jamaah yang dirahmati Allah SWT.

Apakah bapak-bapak ibu-ibu jamaah sekalian yang di sini suka kebersihan? Bersyukurlah bagi bapak-bapak yang istrinya suka bersih-bersih rumah, baju dan bersih-bersih badan. Karena pasti setiap hari akan tercium aroma wangi. Betul? Selain wangi, kita juga pasti lebih suka melihat istri dan suami kita yang terlihat selalu bersih dan rapi, betul apa tidak?

Kita pasti sering mendengar semboyan berikut ini

النَّظَافَةُ مِنَ الْإيْمَانِ

Artinya: “Kebersihan adalah Sebagian dari Iman.

Maka dari itu kita harus selalu menjaga lingkungan kita agar tercipta lingkungan yang bersih dan bebas dari penyakit. Selain itu di samping menjaga kebersihan lingkungan kita juga harus menjaga
kebersihan hati dengan selalu mendekatkan dri kepada Allah SWT.

Bapak bapak ibu ibu jama’ah.

Menjaga lingkungan sangat dianjurkan dalam agama Islam, karena Allah SWT menciptakan lingkungan menciptakan bumi ini untuk kebutuhan manusia semua. Maka dari itu manusia wajib hukumnya untuk selalu menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan.

Adapun manfaat dari menjaga kebersihan lingkungan ini cukup banyak, diantaranya suasana pandang mata menjadi nyaman, udara tidak tercemar dengan ada banyaknya sampah, sumber-sumber penyakit yang dari kotoran tidak ada, dan masih banyak lagi manfaat dari menjaga kebersihan lingkungan.

Menjaga kebersihan bisa dimulai dari hal yang paling sepele yang ada di dalam rumah kita, kita senantiasa menjaga kebersihan rumah dengan cara menyapu, mengepel, membuang sampah pada tempatnya. Sedangkan menjaga kebersihan lingkungan sekitar bisa kita lakukan dengan cara gotong-royong dengan warga masyarakat, misalnya mengadakan kerja bakti untuk satu kampung.

Bapak bapak ibu ibu yang telah tertunduk karena ngantuk, Demikian yang dapat saya sampaikan, karena sebagian sudah khusyuk dalam mimpi, semoga apa yang saya sampaikan bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

Contoh Kultum dan Ceramah Singkat tentang Ciri-ciri Orang Munafik

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Silahkan pilih muqaddimah sesuai selera (Contoh Muqaddimah)

Segala puji kita panjatkan pada Allah atas berbagai macam nikmat yang telah Allah anugerahkan pada kita sekalian.

Saat ini, kita sedang berada pada bulan yang mulia, oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa bersyukur dan meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita pada bulan ini. Nabi Muhammad SAW menyebut bulan muharram atau bulan syuro (bahasa jawa suro berasal dari asyuro) sebagai bulan Allah. Dalam islam, bulan suro atau muharram bukanlah bulan sial seperti yang dianggap oleh kebanyakan orang saat ini. Banyak orang beranggapan bahwa jika melakukan sesuatu hal pada bulan ini, kita akan mendapatkan kesialan atau ketidakberuntungan. Itu salah besar!

Justru, hal yang sangat-sangat tidak boleh dilakukan pada bulan ini adalah mandi keramas bunga 7 rupa, memandikan keris sebagai ritual, batu akik, dan lain sebagainya. Ingatlah, perbuatan ini merupakan perintah yang dibisikkan oleh jin dan setan. Perbuatan ini juga tergolong perbuatan musrik, karena kita mempercayai bila kita tidak melakukan ritual ini, maka penghuni yang ada dalam benda-benda tersebut akan murka. Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk dijauhkan dari syirik, dosa besar, dan amalan yang tidak ada tuntunan.

Hadirin jemaah sekalian,

Sudah tahukan anda apa itu munafik? bagaimana orang munafik itu? bisa kita mengenali ciri-ciri orang munafik? Yuk simak penjelasan singkat tentang munafik. Gak lama kok, cuma sebentar.

Munafik itu sederhananya tingkah laku tidak sesuai dengan hati. Contoh, ada seseorang berbuat sok baik, tapi dalam hatinya hal itu bertentangan. Dia melakukan kebaikan itu karena ada sesuatu yang diharapkan, mungkin sedang pencitraan, mau jadi caleg, dan banyak lagi.

Dalam ajaran kita, munafik itu adalah menunjukkan keimanan dan keislamannya kepada semua orang, tapi dalam hatinya terdapat kekafiran munafik yang semacam ini adalah munafik besar.

Selain itu, terdapat istilah lain tentang munafik sebagaimana yang telah disampaikan oleh Al-Hasan Al-Bashri berikut ini,

مِنَ النِّفَاقِ اِخْتِلاَفُ القَلْبِ وَاللِّسَانِ ، وَاخْتِلاَفُ السِّرِّ وَالعَلاَنِيَّةِ ، وَاخْتِلاَفُ الدُّخُوْلِ وَالخُرُوْجِ

“Di antara tanda kemunafikan adalah berbeda antara hati dan lisan, berbeda antara sesuatu yang tersembunyi dan sesuatu yang nampak, berbeda antara yang masuk dan yang keluar.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:490)

Berkaitan dengan kemunafikan, Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata,

المُنَافِقُوْنَ اليَوْمَ شَرٌّ مِنْهُمْ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانُوْا يَوْمَئِذٍ يَكْتُمُوْنَهُ وَهُمْ اليَوْمَ يُظْهِرُوْنَهُ

“Orang munafik saat ini lebih jelek dari orang munafik di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dahulu kemunafikan disembunyikan, sedangkan saat ini terang-terangan.” (Hilyatul Auliya’, 1:280)

 

Bagaimana tanda orang munafik zaman sekarang?

Tanda pertama, tidak bisa diberi amanah, dan tidak bisa jujur.

Tanda pertama ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam HR. Muslim no. 59 berikut ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ عَلاَمَاتِ الْمُنَافِقِ ثَلاَثَةٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ

“Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara, berdusta; jika berjanji, tidak menepati; jika diberi amanat, berkhianat.” (HR. Muslim, no. 59)

 

Tanda kedua – kalau suruh ibadah susah, males-malesan

Tanda munafik yang kedua yaitu berdasarkan firman Allah SWT dalam Q.S An Nisa ayat 142

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisa’: 142).

 

Tanda ketiga – Sok bijak, tapi aslinya boongan

Tanda ketiga ini sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Umar bin Khattab. Dalam khutbahnya, Umar berkata

إنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ المنَافقُ العَلِيْمُ ، قَالُوْا : كَيْفَ يَكُوْنُ المنَافِقُ عَلِيماً ؟ قَالَ : يَتَكَلَّمُ بِالْحِكْمَةِ ، وَيَعْمَلُ باِلجَوْر ، أَوْ قَالَ : المنْكَرِ

“Yang aku khawatirkan pada kalian adalah orang berilmu yang munafik. Para sahabat lantas bertanya: “Bagaimana bisa ada orang berilmu yang munafik?” Umar menjawab, “Ia berkata perkataan hikmah, namun sayangnya ia melakukan kemungkaran.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:490)

 

Tanda keempat – ibadahnya sok khusyu’

Sebagian ulama salaf mengatakan,

خُشُوْعُ النِّفَاقِ أَنْ تَرَى الجَسَدَ خَاشِعاً ، وَالقَلْبُ لَيْسَ بِخَاشِعٍ

“Khusyu’nya orang munafik, jasad terlihat khusyu’. Namun hati tak ada kekhusyu’an.” .” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:490)

 

Tanda kelima – Bilangnya Islam tapi tidak pernah beribadah

Berkaitan yang ini, berdasarkan dengan apa yang disampaikan oleh Hudzaifah ketika ditanya mengenai apa itu munafik? kemudian beliau menjawab

الَّذِي يَصِفُ الإِيْمَانَ وَلاَ يَعْمَلُ بِهِ

“Ia menyifati diri beriman namun tak ada amalan.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:490)

 

Tanda ke enam – Tidak pernah sholat berjamaah di masjid

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِى الصَّفِّ

“Aku telah melihat bahwa orang yang meninggalkan shalat jama’ah hanyalah orang munafik, di mana ia adalah munafik tulen. Karena bahayanya meninggalkan shalat jama’ah sedemikian adanya, ada seseorang sampai didatangkan dengan berpegangan pada dua orang sampai ia bisa masuk dalam shaf.” (HR. Muslim, no. 654).

Ibrahim An-Nakha’i rahimahullah mengatakan,

كَفَى عَلَماً عَلَى النِّفَاقِ أَنْ يَكُوْنَ الرَّجُلُ جَارَ المسْجِد ، لاَ يُرَى فِيْهِ

“Cukup disebut seseorang memiliki tanda munafik jika ia adalah tetangga masjid namun tak pernah terlihat di masjid” (Fath Al-Bari karya Ibnu Rajab, 5: 458 dan Ma’alim As-Sunan, 1:160. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3: 365).

Ketujuh, malas merutinkan Shalat Shubuh dan Shalat Isya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً

“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari, no. 657).

Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menyatakan,

كُنَّا إِذَا فَقَدْنَا الإِنْسَانَ فِي صَلاَةِ العِشَاءِ الآخِرَةِ وَالصُّبْحِ أَسَأْنَا بِهِ الظَّنَّ

“Jika kami tidak melihat seseorang dalam shalat ‘Isya’ dan shalat Shubuh, maka kami mudah untuk suuzhon (berprasangka jelek) padanya” (HR. Ibnu Khuzaimah, 2:370 dan Al-Hakim 1:211, dengan sanad yang shahih sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:365)

Hadirin jamaah sekalian yang di sini

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah yang berkaitan dengan sholat Isya dan subuhnya orang munafik adalah sebagai berikut:

“Menghadiri dua shalat itu terasa berat karena mereka tidak bisa memamerkan amalan mereka. Alasan lainnya karena shalat ‘Isya itu waktu istirahat, sedangkan shalat Shubuh waktu lelapnya tidur.” (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 5:82).

Kurang lebihnya itulah tanda orang munafik pada masa sekarang ini. Semoga kita semua yang ada disini dapat terhindar atau keluar dari semua tanda yang melekat pada diri kita. Bila tanda itu sudah ada pada diri kita, marilah kita perkuat iman kita agar tidak masuk ke dalam golongan orang-orang munafik.

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

(Sumber: rumaysho.com) Editor: Admin

 

Contoh Materi Kultum Ceramah Singkat tentang Keutamaan Akhlak Mulia

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Silahkan pilih muqaddimahnya di contoh muqaddimah

Hadirin rahimakumullah.

pada kesempatan kali ini, tidaklah ada kata yang pantas kita ucapkan melainkan puji syukur kehadiratAllah SWT, yang telah memberikan karunia dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat berkumpul di majlis yang mulia ini dalam keadaan sehat wal afiat.

Shalawat serta salam tak lupa kita sanjungkan kepada junjungan nabi besar kita Muhammad SAW yang telah mengentaskan akhlak manusia di muka bumi ini, dari zaman jahiliah menuju zaman islamiah seperti yang kita rasakan saat ini.

Pada kesempatan kali ini, izinkanlah kami mengetengahkan permasalahan tentang keutamaan akhlak mulia.

hadirin yang isnya Allah dimuliakan Allah.

Kata akhlak merupakan jamak dari kata khulq, yang mengandung pengertian sifat, tingkah laku, kepribadian atau perangai seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak atau perilaku yang baik dan mulia disebut akhlak karimah atau akhlak mahmudah. Sedangkan akhlak atau perilaku yang buruk disebut dengan akhlak sayyi’ah atau akhlak mazhmumah.

Sebagai orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, sudah seyogyanya kita harus memiliki akhlak dan kepribadian yang terpuji lagi mulia. Apalah artinya keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT sedangkan akhlak dan kepribadian kita sama sekali tidak mencerminkan sebagai orang yang beriman dan bertaqwa. Sungguh amat merugilah orang-orang yang mengaku dirinya beriman namun kepribadiannya sangat buruk. Karena seseungguhnya nilai keimanan dan ketaqwaan itu tidak hanya dipandang dari intensitas ibadahnya saja, melainkan dari segala aspek kehidupan, baik dalam ibadahm muamalah, syariah muasyarah (pergaulan) dalam masyarakat, dan lain sebagainya.

Sebagaimana firman Allah SWT berikut ini.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya.” (QS. Al Baqarah ayat 208)

Dari ayat di atas, jelaslah sudah bahwa hakikat keimanan dan ketaqwaan seseorang tidak bisa terlepas dari adanya akhlak dan kepribadian yang mulia. Karena berakhlak mulia dan menjauhkan akhlak yang tercela seperti ghibah, sombong, dan lain sebagainya adalah salah satu bagian dari ajaran Islam yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW dan bukankah Rasulullah SAW adalah seorang yang paling mulia akhlak dan kepribadiannya? Dan bukankah beliau diutus oleh Allah SWT ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak manusia? Jadi apalagi yang menjadi alasan kita untuk mengingkari pentingnya sebuah akhlak yang mulia, karena Rasulullah SAW telah diutus sebagai penyempurna akhlak kita. Sebagaimana sabda beliau berikut ini.

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurkan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Hadirin yang Insya Allah dimuliakan Allah.

Sesungguhnya yang menentukan tinggi rendahnya martabat manusia baik di hadapan Allah taupun di hadapan makhluknya, adalah kahlak dan budi pekertinya yang luhur. Dan sungguh merupakan keasalahan yang sangat besar, bagi orang-orang yang menganggap bahwa kemuliaan dan kehormatan derajat manusia adalah ditentukan dari hartanya, jabatannya, kecantikannya, atau ketampanannya yang merupakan satu hal yang fana. Tidak jarang orang yang martabat dan jabatannya tinggi namun tidak bermoral, dan tidak sedikit orang yang berwajah tampan dan cantik namun hatinya busuk. Maka, apakah orang-orang seperti mereka dapat dikatakan sebagai orang yang terhormat dan mulia? Oleh karena itulah hanya budi pekerti seseorang yang patut dijadikan sebagai tolak ukur martabat dan kehormatan seseorang. Karena sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini.

Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling baik budi pekertinya.” (Muttafakun ‘Alaih)

Budi pekerti yang luhur dan kepribadian yang mulia, adalah salah satu bukti nyata dan ciri khas dari keimanan dan ketaqwaan seseorang. Karena orang yang berbudi pekerti yang luhur, dapat mencegah dan menjauhkan dirinya dari perbuatan-perbuatan keji dan tercela. Seperti halnya berkata dusta, berlaku sombong, ujub, ghibah, namimah (adu domba), hasad atau dengki dan lain sebagainya, yang merupakan perbuatan dosa dan sangat terlarang di dalam ajaran Islam. Selain itu, akhlak yang tercela dan budi pekerti yang buruk akan membuat seseorang menjadi hina, baik dihadapan Allah SWT maupun dihadapan makhluk yang lainnya dan akan dikucilkan dalam kehidupan bermasyarakat. Maka apakah orang yang berbudi pekerti yang buruk masih pantas dikatakan orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT sedangkan larangan-larangan-Nya tetap dilanggar?

Hadirin yang Insya Allah dimuliakan Allah.

Sungguh sangat mulia dan sangat tinggi derajatnya bagi orang-orang yang memiliki akhlak dan kepribadian yang luhur. Karena berbudi pekerti yang luhur, tidaklah hanya terkait dengan perkara akhiratnya saja, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat dan pergaulan sehari-hari. Bahkan, kalau akhlak yang tercela ini yang kita lakukan dalam keseharian kita, dosa yang kita tanggung lebih besar daripada dosa dalam kaitannya dengan ibadah. Misalnya seperti ghibah, dosa dari akibat menggunjing orang sungguh sangat besar, bahkan melebihi besarnya dosa berbuat zina. Karena berbuat zina hanya melakukan dosa kepada Allah SWT saja, akan tetapi orang yang melakukan ghibah, disamping berbuat dosa kepada Allah, juga berbuat dosa kepada orang yang sedang dibicarakannya. Dan Allah SWT tidak akan mengampuni dosa yang melakukan ghibah sebelum ia meminta maaf kepada orang yang dighibahnya.

Hadirin yang Insya Allah dimuliakan Allah.

Dalam berperilaku, hendaknya kita selalu mencontoh apa yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW. Akhlak beliau sunggu sangat luhur, sampai-sampai, tidak ada satu orangpun dari sahabat beliauu yang pernah disakitinya, dan juga dibohongi oleh beliau. Bukan hanya itu, bahkan, orang kafir juga sangat mengagumi keluhuran budi pekerti yang dimiliki oleh Rasulullah SAW.

Bila kita melihat kembali sejarah masa lalu Rasulullah SAW, sebelum beliau diangkat oleh Allah SWT menjadi Rosul, masyarakat telah memuliakan dan menghormati beliau. Semua itu karena kepribadiannya yang mulia juga kejujuran beliau. Padahal, kala itu usia Rasulullah SAW masih sangat belia.

Bila Anda seorang pedagang, juga jangan lupa meneladani bagaimana cara beliau berdagang. Beliau adalah seorang pedagang sukses sebelum diangkat menjadi Rasul oleh Allah SWT. Semua orang menyenangi menyegani beliau, bagaimana cara beliau berdagang.

Salah satu contoh yang menggambarkan tentang tingginya kepribadian Rasulullah SAW adalah ketika beliau mendapatkan kecaman dan tekanan dari kaum kafir Quraisy yang tidak menyukai dengan ajaran beliau. Namun, Rasulullah SAW selalu tegar dan tabad dalam menghadapi hal itu. Seperti halnya ketika Rasulullah SAW pergi ke masjid ia selalu diludahi oleh salah seorang dari kaum kafir Quraisy. Namun pada suatu hari Rasulullah SAW ketika pergi ke masjid tidak menjumpai si fulan yang selalu meludahinya, maka Rasulullah SAW mencarinya dan menanyakannya. Dan beliau mendapatkan kabar bahwa si fulan sedang sakit, maka Rasulullah SAW menjenguknya dengan membawan makanan, bahkan beliaupun mengungahkan makanan kepadanya. Kemudian si fulan bertanya kepada beliau: “Siapakah engkau?” beliau menjawab: “Aku adalah Muhammad”. Maka si fulan langsung terperanjat dan menangis seraya menyatakan dirinya masuk Islam.

Oleh karena itu hadirin sekalian, kalau kita mengakui diri kita sebagai bagian dari umat Muhammad, maka sudah seharusnya perilaku dan tingkah laku kita harus disesuaikan dengan sunah-sunah beliau serta menjauhi perilaku yang menentang ajaran dan sunah beliau. Begitulah seharusnya yang perlu kita tanamkan dalam diri kita, pada adik-adik kita ataupun anak cucu kita sedini mungkin.

Demikianlah sekelumit untaian kata yang dapat saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Apabila ada kesalahan, maka hal itu karena kurangnya pengetahuan yang saya miliki. Dan apabila ada salah kata yang menyinggung perasaan hadirin, saya mohon maaf karena itulah kekhilafan saya sebagai manusia biasa.

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

 

ceramah dan kultum singkat tentang meraih kesuksesan dalam islam

Contoh Ceramah Singkat dan Kultum tentang Kunci Meraih Kesuksesan Haqiqi dalam Islam

Oleh: Badrul Tamam

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji umat manusia, siapa di antara mereka yang terbaik amalnya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Semua orang yang ada disini maupun yang tidak ada di sini pasti menginginkan kebahagiaan baik dunia maupun di akhirat. Tidak ada satu orangpun yang menginginkan kesusahan saat di dunia maupun saat di akhirat kelak. Akan tetapi, nasib setiap orang berbeda-beda tidak semua mendapatkan kebahagiaan dan tidak semua memperoleh kesengsaraan atau kesusahan.

Berkaitan dengan kebahagiaan, islam memberikan kita rambu-rambu dan kunci bagaimana cara yang dapat kita lakukan agar memperoleh kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Inilah yang ingin kami hadiahkan kepada pembaca setia wawasan-edukasi.web.id, agar bisa sama-sama merasakan kebahagiaan dalam hidup ini.

Dalam islam, kebahagiaan tidak hanya dilihat dan dinilai dari segi materi saja. Dalam pandangan islam, materi merupakan sarana kita memperoleh kebahagiaan dan bukan tujuan dari kebahagiaan itu sendiri.

Islam lebih menitikberatkan pada kebahagiaan dari sisi batin, seperti budi pekerti yang luhur dan keimanan yang kuat sebagai jalan memperoleh kebahagiaan. Sebagaimana yang telah dijelaskan Allah dalam QS. An Nahl ayat 5-6 berikut ini:

وَالْأَنْعَامَ خَلَقَهَا لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسْرَحُونَ

Artinya: “Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan.” (QS. An-Nakhl: 5-6)

Dan QS. Al A’raf ayat 32

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ

Artinya: “Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” (QS. Al-A’raf: 32)

Nabi Muhammad SAW juga memberikan kita pemahaman melalui sabda yang beliau sampaikan bahwa “Di antara unsur kebahagiaan anak Adam adalah istri shalihah, tempat tinggal luas, dan tunggangan yang nyaman.” (HR. Ahmad)

 

Kebahagiaan dunia

Bila kita ingin mendapatkan kebahagiaan baik dunia dan akhirat, maka yang harus kita lakukan adalah menerapkan syariat-syariat islam dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena Islam telah menetapkan dan mengatur segala sesuatunya untuk kita. Dan tinggal kita apakah mau menjalankannya ataukah tidak.

Dalam islam, kebahagiaan dunia hanya bersifat semu. Islam menganggap bahwa kehidupan dunia hanya sementara dan sebagai jalan menuju ke kehidupan yang kekal di akhirat nanti. Karena itu, islam mengajarkan kita untuk mengejar kehidupan kita nanti di akhirat, sebagaimana firman Allah Ta’ala berikut ini.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashshash: 77)

Berkaitan dengan ayat tersebut, Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat} maksudnya, gunakan apa yang sudah allah berikan kepadamu dari harta yang banyak ini dan nikmat yang berlimpah dalam ketaatan kepada Tuhanmu dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai amal ibadah yang dengannya engkau mendapatkan pahala di negeri akhirat. {dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi} maksudnya, dari kenikmatan di dalamnya yang telah Dia halalkan untukmu berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan menikah. Karena Rabbmu memiliki hak atasmu, begitu juga dirimu, keluargamu, tetanggamu memiliki hak atasmu. Maka berikan hak untuk setiap pemiliknya.”

Bahkan dibeberapa tempat Allah menyatakan membeli kehidupan dunia seseorang yang akan dibayar dengan kebahagiaan akhirat berupa surga. Contohnya dalam firman Allah,

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآَنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al-Taubah: 111)

 

Kebahagiaan akhirat

Kebahagiaan akhirat merupakan kebahagiaan abadi yang kekal. Menjadi balasan atas keshalihan hamba selama hidup di dunia. Allah berfirman,

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun`alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”.” (QS. Al Nahl: 32)

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ

“Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.” (QS. Al Nahl: 30)

Islam telah menetapkan tugas manusia di bumi sebagai khalifah di dalamnya. Bertugas memakmurkan bumi dan merealisasikan kebutuhan manusia yang ada di sana. Hanya saja dalam pelaksanaannya senantiasa ada kesulitan, sehingga menuntutnya bersungguh-sungguh dan bersabar. Hidup tidak hanya kemudahan sebagaimana yang diinginkan dan diangankan orang. Bahkan dia selalu berganti dari mudah ke sulit, dari sehat ke sakit, dari miskin ke kaya, atau sebaliknya.

Ujian-ujian ini akan selalu mengisi hidup manusia yang menuntunnya untuk bersabar, berkeinginan kuat, bertekad tinggi, bertawakkal, berani, berkorban, dan berakhlak mulia serta lainnya. Semua ini akan mendatangkan ketenangan, kebahagiaan, kelapangan, dan ridla.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah: 155-157)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya bernilai baik. Jika mendapat kebaikan dia bersyukur, dan itu baik untuknya. Dan jika tertimpa keburukan dia bersabar, dan itu baik untuknya.” (HR. Muslim)

 

Cara meraih kebahagiaan

Berikut ini poin-poin penting untuk mencapai kebahagiaan hakiki, dunia dan akhirat, yang senantiasa didambakan oleh setiap insan:

1. Beriman dan beramal shalih

Meraih kebahagiaan melalui iman ditinjau dari beberapa segi: Pertama, Orang yang beriman kepada Allah Yang Esa, Yang tiada sekutu bagi-Nya, -dengan iman yang sempurna, bersih dari kotoran dosa,- maka dia akan merasakan ketenangan hati dan ketentraman jiwa. Dia tidak akan galau dan penat dalam menghadapi ujian hidup, sebaliknya dia ridha terhadap takdir Allah pada dirinya. Sehingga dia akan bersyukur terhadap kebaikan dan bersabar atas bala’.

Ketundukan seorang mukmin kepada Allah membimbing ruhaninya untuk lebih giat bekerja karena merasa hidupnya memiliki makna dan tujuan yang berusaha diwujudkannya. Allah berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’aam: 82)

Kedua, Iman menjadikan seseorang memiliki pijakan hidup yang mendorongnya untuk diwujudkan. Maka hidupnya akan memiliki nilai yang tinggi dan berharga yang mendorongnya untuk beramal dan berjihad di jalan-Nya. Dengan itu, dia akan meninggalkan gaya hidup egoistis yang sempit sehingga hidupnya bermanfaat untuk masyarakat di mana dia tinggal.

Ketika seseorang bersifat egois maka hari-harinya terasa sempit dan tujuan hidupnya terbatas. Namun ketika hidupnya dengan memikirkan fungsinya, maka hidup nampak panjang dan indah, dia akan merasakan hari-harinya penuh nilai.

Ketiga, Peran iman bukan saja untuk mendapatkan kebahagiaan, namun juga sebagai sarana untuk menghilangkan kesengsaraan. Hal itu karena seorang mukmin tahu dia akan senantiasa diuji dalam hidupnya sebagai konsekuensi keimanan, maka akan tumbuh dalam dirinya kekuatan sabar, semangat, percaya kepada Allah, bertawakkal kepada-Nya, memohon perlindungan kepada-Nya, dan takut kepada-Nya. Potensi-potensi ini termasuk sarana utama untuk merealisasikan tujuan hidup yang mulia dan siap menghadapi ujian hidup. Allah Ta’ala berfirman:

إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ

“Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Nisaa’: 104)

 

2. Memiliki akhlak mulia yang mendorong untuk berbuat baik kepada sesama

Setiap orang yang hidup di dunia ini pasti membutuhkan bantuan orang lain. Hal itu dikarenakan pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan yang lainnya. Allah memerintahkan kita untuk bersilaturahim sebagai bentuk amalan karena kita makhluk sosial. Akan tetapi, setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Seringkali karena perbedaan itulah yang membuat kediupan bersosial kita tidak berjalan dengan baik. Entah karena kita tidak bisa bertutur dengan baik, berperilaku sopan, dan lainnya.

Bila hal semacam ini tidak disikapi dengan bijaksana, maka akan banyak sekali terjadi keributan dan kerusuhan di mana-mana. Nah, kesengsaraan yang dialami oleh beberapa orang salah satunya disebabkan karena hubungan antar makhluk tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu, islam memberikan aturan bagi kita semuga bagaimana menjalin hubungan dengan sesama dan bagaimana memperlakukannya.

Hal ini dapat kita saksikan dalam beberapa firman Allah SWT dan hadits berikut ini:

– Firman Allah dalam menyifati Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam: 4)

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali Imran: 159)

– Perintah Allah kepada kaum mukminin agar tolong menolong dalam kebaikan,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al Maidah: 2)

– Perintah Allah agar membalas keburukan orang dengan kebaikan,

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QSl Fushshilat: 34-35)

– Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.”

– Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan sakit dan tidak bisa tidur.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

3. Memperbanyak dzikir dan merasa selalu disertai Allah

Sesungguhnya keridhaan hamba tergantung pada tempat bergantungnya. Dan Allah adalah Dzat yang paling membuat hati hamba tentram dan dada menjadi lapang dengan mengingat-Nya. Karena kepada-Nya seorang mukmin meminta bantuan untuk mendapatkan kebutuhan dan menghindarkan dari mara bahaya. Karena itulah, syariat mengajarkan beberapa dzikir yang mengikat antara seorang mukmin dengan Allah Ta’ala sesuai tempat dan waktu, yaitu ketika ada sesuatu yang diharapkan atau ada sesuatu yang menghawatirkannya. Dzikir-dzikir tadi mengikat seorang hamba dengan penciptanya sehingga dia akan mengembalikan semua akibat kepada yang mentakdirkannya.

Berikut ini beberapa nash yang menunjukkan hubungan dzikir dengan kebahagiaan seorang hamba.

– Firman Allah Ta’ala:

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Al Ra’du: 28)

– Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seorang muslim ketika menikah.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

“Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabi’at yang dia bawa, dan aku berlindung dari keburukannya dan keburukan tabi’at yang dia bawa.” (HR. Abu Daud no 2160, Ibnu Majah no1918 dan al Hakim).

– Doa ketika terjadi angin ribut:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan angin (ribut ini), kebaikan apa yang di dalamnya dan kebaikan tujuan angin dihembuskan. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan angin ini, kejahatan apa yang di dalamnya dan kejahatan tujuan angin dihembuskan.” (Muttafaq ‘Alaih)

– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan untuk melakukan sebab (usaha), minta tolong kepada Allah, dan tidak sedih jika hasil yang diharapkan tidak terwujud. “Bersemangatlah mencari yang bermanfaat bagimu, minta pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika engkau tertimpa musibah janganlah berkata: ‘Seandainya saya berbuat begini maka tentu tidak terjadi begitu.’ Namun katakanlah: ‘Allah telah menakdirkan musibah ini. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi’. Karena perkataan ‘Seandainya’ dapat membuka perbuatan syetan.” (HR. Muslim)

4. Menjaga kesehatan

Kesehatan di sini mencakup semua sisi; badan, jiwa, akal, dan ruhani. Menjaga kesehatan badan merupakan fitrah manusia, karena berkaitan dengan kelangsungan hidup dan juga menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan materi seperti makan, minum, pakaian, dan kendaraan.

– Kesehatan fisik: Islam sangat menghargai kehidupan fisik manusia. Karenanya Islam melarang membunuh tanpa ada sebab yang dibenarkan syari’at sebagaimana Islam melarang setiap yang bisa membahayakan badan dan kesehatannya. Allah Ta’ala berfirman, “dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS. Al An’am: 151 dan al Isra’: 33)

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

“. . dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk . . ” (QS. Al A’raaf: 157)

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tidak (boleh melakukan/menggunakan sesuatu yang) berbahaya atau membahayakan (orang lain).” (HR. Ahmad dalam Musnadnya, Malik dan Ibnu Majah)

– Kesehatan jiwa: banyak orang yang tidak memperhatikan kesehatan jiwa dan tidak memperdulikan cara untuk menjaganya, padahal dia pilar pokok untuk meraih kebahagiaan. Karena itu, Islam sangat memperhatikan pendidikan jiwa dan menyucikannya dengan sifat-sifat mulia.

Kesehatan jiwa tegak dengan iman lalu dihiasi dengan akhlak terpuji dan disterilkan dari akhlak buruk seperti marah, sombong, berbangga diri, bakhil, tamak, iri, dengki, dan akhlak buruk lainnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaahaa: 131)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “jika kalian bertiga, janganlah yang dua orang berbisik-bisik tanpa mengikutkan yang satunya sehingg mereka berkumpul dengan orang banyak supaya tidak membuatnya sedih.” (Muttafaq ‘Alaih)

Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain, boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok). Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (QS. Al Hujuraat: 11)

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujuraat: 12)

– Kesehatan akal: Akal adalah sebab utama manusia mendapat taklif (beban syari’at). Karenanya Allah memerintahkan untuk menjaganya dan mengharamkan sesuatu yang membahayakan dan merusaknya. Sebab utama yang menghilangkan kesadaran akal adalah hal-hal yang memabukkan dan yang diharamkan. Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al Maaidah: 90-91)

– Kesehatan ruhani: Syari’at sangat memperhatikan sarana-sarana yang bisa menjaga kesehatan ruhani. Makanya seorang mukmin diperintahkan untuk dzikrullah setiap saat sebagaimana mewajibkan, dalam batas minimal, untuk memenuhi nutrisi ruhani seperti perintah shalat wajib, puasa, zakat, haji dan medan yang lebih luas lagi dalam bentuk amal sunnah dan segala amal untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Ibadah-ibadah ini mengikat seorang hamba dengan Rabb-Nya dan mengembalikannya kepada Sang Pencipta ketika tersibukkan oleh dunia. Karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “dan dijadikan kebahagiaan hatiku dalam shalat.” Beliau bersabda kepada Bilal, “wahai bilal, hibur kami dengan shalat.”

Syari’at juga melarang segala tindakan yang bisa merusak ruhani dan melemahkannya. Syari’at melarang mengikuti hawa nafsu, mengerjakan hal syubuhat, dan memanjkan diri dalam kenikmatan karena biasa menyebabkan hati menjadi mati. Karena itulah Allah menyifati orang-orang kafir laksana binatang, “Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Al Furqaan: 44)

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ

“Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad: 12)

5. Berusaha meraih materi yang mendatangkan kebahagiaan

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, Islam tidak mengingkari urgensi meteri untuk merealisasikan kebahagiaan. Hanya saja, semua materi ini bukan sebagai syarat mutlak untuk mendapatkan kebahagiaan, namun hanya sebagai sarana saja. Banyak nash menguatkan kenyataan ini, di antaranya firman Allah Ta’ala,

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ

“Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” (QS. Al A’raaf: 32)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “sebaik-baik harta adalah yang dimiliki hamba shalih.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “di antara unsur kebahagiaan anak Adam: istri shalihah, tempat tinggal luas, dan kendaraan nyaman.”

6. Memanajemen waktu, karena waktu adalah modal utama manusia selama hidup di dunia. Oleh sebab itu, Islam sangat memperhatikan waktu dan akan meminta pertanggungjawaban seorang mukmin tentang waktunya. Dan kelak di hari kiamat, dia akan ditanya tentang waktunya. Perintah dalam Islam sangat membantu manusia untuk mengatur waktunya dan memanfaatkannya dengan baik antara memenuhi kebutuhan hidup dan materinya di satu sisi, dan untuk memenuhi kebutuhan ruhani dan ibadah pada sisi lainnya. Islam telah memerintahkan orang beriman agar memanfaatkan waktu untuk kebaikan dan amal shalih.

Allah Ta’ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ . وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?’.” (QS. Al Munaafiquun: 9-10)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak tergelincir dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga Allah menanyakan empat hal: Umurnya, untuk apa selama hidupnya dihabiskan; Waktu mudanya, digunakan untuk apa saja; Hartanya, darimana dia mendapatkan dan untuk apa saja dihabiskannya; Ilmunya, apakah diamalkan atau tidak.” (HR. Tirmidzi )

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits lain,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang mayoritas orang merugi pada keduanya, yaitu (nikmat) sehat dan waktu luang.” (HR. Al Bukhari dari Ibnu Abbas)

Penutup

Sesungguhnya Allah amat sangat baik kepada para hamba-Nya. Dia menghendaki agar mereka bahagia, dunia dan akhirat. Sehingga diperintahkan apa saja yang bisa menghantarkan kepada kebahagiaan itu. Juga dilarang setiap yang bisa merusaknya. Oleh sebab itu, dikatakan kepada para mujrimin saat mereka disiksa dalam neraka, “Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al-Zukhruf: 76)

Kebahagiaan yang paling ditekankan Islam adalah kebahagiaan akhirat, namun bukan berarti kebahagiaan dunia ditelantarkan. Tidak, bahkan kebahagiaan di dunia ini berusaha diwujudkan dalam bentuk yang sebenarnya. Yakni dengan mengabdikan diri kepada Allah semata sebagai panggilan dari fitrah diri manusia yang ia diciptakan di atasnya. Sehingga dengan itu akan mendapat ketenangan dan ketentraman. Dan ini menjadi kunci utama tercapainya kebahagiaan, sampaipun dalam musibah dan bencana. Ia jadikan musibah tersebut menjadi ladang untuk mendapatkan keutamaan dan pahala besar yang menjaminnya masuk dalam surga, yakni dengan sabar. Dan tidaklah seseorang mendapatkan surga akhirat sebelum ia mendapatkan surga dunia dalam ibadahnya. Wallahu Ta’ala a’lam

 

Contoh Ceramah dan Kultum Singkat tentang Sabar dan Syukur

>>>>>>> Muqaddimah <<<<<<<<<<<

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Jama’ah Shalat Isya’ dan Tarawih Rahimakumullah.

Menjalani hidup di dunia ini tentu tidak akan mudah dan mulus, dan juga tidak akan selalu bahagia seperti yang kita harapkan. Pasti akan ada cobaan yang menerpa kita dan harus kita hadapi. Karena pada dasarnya, cobaan yang menimpa kita itu anggaplah sebagai batu loncatan untuk menjadikan diri kita menjadi orang yang lebih berkualitas asal kita hadapi cobaan itu dengan sabar. Allah SWT akan senantiasa menguji setiap hamba-Nya untuk mengetahui seberapa kualitas dari hamba-hamba Allah.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهٖ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Dari Abi Hurairah RA. Berkata, Rasulullah SAW. bersabda: ‘Barangsiapa yang Tuhan kehendaki kebaikan pada dirinya maka Dia (Allah) menimpakan insiden kepadanya’”. (HR. Bukhari)

Jama’ah Shalat Isya’ dan Tarawih Rahimakumullah.

Seorang mu’min, harus sanggup menghad barahujian dari Tuhan SWT. keberhasilan dalam menghadapinya yaitu tangga untuk menuju derajat yang lebih tinggi sekaligus mengatakan jati diri keimanannya. Rasulullah SAW. teramatmenyukai ummatnya yang sanggup menempatkan diri terhadap sabar dan syukur pada tepatnya. Dalam sebuah hadits dikatakan:

عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهٗ كُلَّهٗ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّآءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهٗ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّآءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرً لَهٗ

“Dari Shuhaib berkata, bersabda Rasulullah SAW.: ‘Luar bi harapanurusan orang mukmin, sebetulnya semua urusannya itu baik, dan itu semua tidak dimiliki kecuali orang mukmin. Jika beliau mendapatkan kebahagiaan beliau bersyukur dan itu teramatbaik baginya, jikalau beliau mendapatkan cobaan, beliau bersabar, dan itu teramatbaik (pula) baginya’”. (HR. Muslim)

Dalam sebuah ayat, Allah SWT. berfirman:

وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِيْنَ صَبَرُوْا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Dan sungguh, kami akan memberi jawaban kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”. (QS. An-nahl/16: 96).

Begitu halnya dengan syukur terhadap setiap anugerah yang Tuhan limpahkan kepada kita. Gunakan nikmat yang Allah berikan dengan semaksimal mungkin untuk beribadah kepada-Nya, bukan malah menjadi penghalang antara kita dan Tuhan dan juga menjadi peluang bermaksiat kepada-Nya. Allah SWT. berfirman:

مَا يَفْعَلُ اللهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآٰمَنْتُمْ وَكَانَ اللهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا

“Mengapa Tuhan akan menyiksamu, jikalau kamu bersyukur dan beriman ? Dan Tuhan yaitu Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui”. (QS. An-Nisa’/4: 147)

Selain syukur, hidup seorang mukmin juga harus dihiasi dengan sabar dikala tertimpa tragedi alam maupun sabar terhadap hal-hal yang tidak boleh Tuhan SWT. Umar RA. Berkata:

اَلصَّبْرُ صَبْرَانِ، صَبْرٌ عِنْدَ الْمُصِيْبَةِ وَصَبْرٌ عِنْدَ مَحَارِمِ اللهِ

“Sabar itu ada dua, sabar dikala mendapatkan tragedi alam dan sabar terhadap hal-hal yang diharamkan Allah”

Kesabaran dari seorang mukmin yaitu menjadi pelebur dosa-dosanya di alam abadi kelak, sebagaimana sabda Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Aisyah RA dalam sebuah hadits:

مَا مِنْ مُصِيْبَةٍ تُصِيْبُ الْمُسْلِمَ اِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا (رواه البخاري)

“Tidaklah ada tragedi alam yang menimpa seorang muslim melainkan Tuhan menghapus dosanya dengan tragedi alam itu, termasuk duri yang menusuknya”. (HR. Bukhari)

Jama’ah Shalat Isya’ dan Tarawih Rahimakumullah.

Seorang mukminseharusnya sadar betul bahwa ujian sen pencegahharapanakan menimpanya, baik berupa tragedi alam maupun nikmat. Tuhan SWT. akan menguji seseorang sesuai kadar imannya, bila beliau ridlo (sabar atas ujian tersebut), maka keridloan Tuhan akan meliputinya, sebaliknya jikalau murka, maka kemurkaan Tuhan jugalah yang akan meliputinya. Diriwayatkan dari Anas RA. Bahwa Rasulullah SAW. bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ (رواه الترمذي)

“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian. Dan sebetulnya dikala Tuhan menyayangi suatu kaum, maka Dia akan menguinya, barang siapa ridlo maka beliau mendapatkan keridloan, dan barang siapa murka, maka beliau mendapatkan kemurkaan”. (HR. At-Tirmidzy)

Kaum muslimin hadaniyalloh wa iyyakum

Oleh lantaran yaitu itu, marilah kita bersabar di kala tertimpa tragedi alam dan bersyukur di kala mendapatkan nikmat agar kita menjadi mukmin yang selalu mendapatkan keridloan Tuhan SWT.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Wassalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarokatuh.

 

Video Ceramah Ust. Abdul Somad – Untuk Apa Kita Hidup Di Dunia?

Source: youtube.com – TAMAN SURGA. NET

Pencarian Populer

  • kultum
  • kultum singkat
  • materi kultum singkat untuk remaja
  • contoh teks ceramah singkat
  • contoh kultum
  • materi kultum singkat yang menarik
  • ceramah
  • bacaan cerama agama lengkap dan singkat
  • kumpulan teks ceramah
  • ceramah tentang agama

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *