Model Pembelajaran Discovery Learning

discovery learning

Discovery Learning – adalah suatu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pandangan konstruktivisme. Dimana dalam pandangan konstruktivisme menekankan pengalaman langsung seorang peserta didik dan pentingnya pemahaman terstruktur atau ide-ide penting terhadap suatu disiplin ilmu. Jadi pada intinya, pembelajaran discovery ini bertujuan agar peserta didik terlibat dalam kegiatan pembelajaran (menemukan gagasan baru, menemukan pengalaman baru, atau membuktikan sendiri mengenai teori-teori yang sudah ada).

 

Pengertian Model Pembelajaran Discovery Learning

Berikut ini adalah beberapa pengertian dan definisi model pembelajaran discovery learning menurut beberapa ahli.

Sani (2014: 97) berpendapat bahwa discovery learning adalah suatu kegiatan pembelajaran yang menuntut siswanya untuk menemukan konsep melalui serangkaian data atau informasi. Dimana data tersebut diperoleh peserta didik secara langsung melalui pengamatan ataupun melalui percobaan.

Hosnan (2014: 282) berpendapat bahwa, discovery learning merupakan suatu model pembelajaran untuk mengembangkan cara berpikir aktif setiap peserta didik. Dengan cara menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka pengetahuan yang diperoleh peserta didik akan bertahan lama di ingatan.

 

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Discovery Learning

Kelebihan Model Pembelajaran Discovery Learning

Berikut ini adalah beberapa kelebihan bila Anda memutuskan untuk menggunakan model pembelajaran discovery learning dalam kegiatan belajar mengajar Anda.

  1. Membantu peserta didik untuk mengoptimalkan kemampuan baik dari segi kognitif maupun dari segi keterampilan
  2. Pengetahuan yang diperoleh setiap peserta didik akan bertahan lama, karena mereka memperolehnya dengan pengalaman secara langsung.
  3. Membantu dan meningkatkan kemampuan setiap peserta didik dalam memecahkan masalah
  4. Memperkuat konsep diri, karena setiap peserta didik diberikan kesempatan dan kepercayaan untuk bekerja sama dengan lainnya.
  5. Mendorong setiap peserta didik untuk lebih aktif dalam mencari informasi dan ilmu pengetahuan.
  6. Mengajak peserta didik untuk berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri.
  7. Melatih setiap peserta didik untuk belajar secara mandiri.
  8. Peserta didik akan menjadi lebih aktif karena menggunakan kemampuannya sendiri dalam menemukan hasil akhir.

(Hosnan, 2014: 287-288)

 

Kekurangan atau Kelemahan Model Pembelajaran Discovery Learning

Hosnan (2014: 288 – 289) menyebutkan setidaknya ada 3 kelemahan dari penggunaan model discovery learning ini.

  1. Menghabiskan banyak waktu, karena guru harus menjadi fasilitator, motivator dan sekaligus pembimbing.
  2. Tidak semua peserta didik memiliki kemampuan berpikir rasional. Karena belum terbiasa.
  3. Tidak semua peserta didik dapat mengikuti model pembelajaran semacam ini karena alasan tertentu.

Langkah  langkah Penerapan Model Discovery Learning

Berikut ini adalah beberapa sintak dalam penerapan model discovery learning pada kegiatan pembelajaran.

a. Langkah Persiapan model discovery learning

  1. Menentukan tujuan pembelajaran
  2. Mengidentifikasi karakteristik peserta didik
  3. Memilih materi pelajaran yang akan disampaikan
  4. Menentukan topik-topik yang nantikan akan dipelajari peserta didik secara mandiri
  5. Mengembangkan bahan ajar yang nantikan digunakan peserta didik untuk belajar mandiri

b. Prosedur pengaplikasian model discovery learning

Simulasi atau rangsangan atau apersepsi

Merupakan suatu tahapan pembelajaran discovery yang bertujuan untuk membuat peserta didik kebingungan, penasaran, terhadap masalah yang dimunculkan sehingga peserta didik muncul rasa ingin tahu. Bila rasa ingin tahu sudah muncul, mereka akan dengan sendirinya menyelediki apa jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh guru.

Problem statement (identifikasi masalah/pernyataan)

Merupakan kegiatan guru menampung jawaban-jawaban sementara atau hipotesis dari setiap peserta didik atas pertanyaan yang diajukan oleh guru.

Jadi setiap jawaban yang berasal dari peserta didik ditampung oleh guru yang nantinya digunakan untuk menguji apakah jawaban tersebut benar atau kurang tepat.

Data Collection (pengumpulan data)

Pengumpulan data merupakan tahapan kegiatan belajar discovery yang memberikan kesempatan peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya untuk menunjang kesimpulan atau jawaban dari pertanyaan guru. Sumber informasi boleh berasal dari buku, pengamatan langsung, praktikum, atau dengan cara lain sehingga dapat terkumpul jawaban yang valid.

Data Processing (pengolahan data)

Merupakan langkah atau tahapan mengolah data yang diperoleh setiap peserta didik. Tahapan ini dapat dijadikan sebagai pembentukan konsep dan pengetahuan baru yang nantinya akan digunakan oleh setiap peserta didik ketika sudah selesai belajar.

Verification (pembuktian)

Pada tahap ini, peserta didik diminta untuk melakukan pemeriksaan secara cermat terhadap informasi yang mereka peroleh. Tujuan dari tahapan ini adalah untuk membuktikan kebenaran dari informasi yang diperoleh dalam menjawab petanyaan yang diajukan oleh guru pada awal kegiatan pembelajaran.

Pada tahap ini, tugas guru adalah sebagai fasilitator bila sewaktu-waktu ada peserta didik yang bertanya. Akan tetapi sebaiknya, ketika peserta didik bertanya, berikan clue yang mengarahkan peserta didik ke arah jawaban yang benar.

Generalization (menarik kesimpulan)

Tahapan ini merupakan proses menarik sebuah kesimpulan dari berbagai macam informasi yang telah dinyatakan valid saat tahap verification. Nantinya, kesimpulan yang diperoleh ini merupakan sebuah bangunan konsep yang akan dijadikan dasar oleh peserta didik untuk melanjutkan materi berikutnya.

 

(Kurniasih & Sani, 2014: 68-71)

Loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *