Definisi dan Pengertian Pembelajaran Kooperatif

cooperative learning

Pembelajaran Kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang sering diterapkan di kelas. Penerapan pembelajaran kooperatif ini berlandaskan pada teori konstruktivisme. Dimana dalam pandangan konstruktivisme, pengetahuan yang diperoleh oleh setiap peserta didik merupakan hasil usaha mereka sendiri dalam membangun menara pengetahuan mereka. Dalam membangun pengetahuan, peserta didik tentulah mendapat pengaruh akibat dari interaksi dengan pengajar dan juga teman sebayanya.

Tatang Suratno (2008) menyatakan bahwa pembelajaran berbasis konstruktivisme memandang bahwa pembelajaran merupakan usaha yang dilakukan oleh peserta didik. Selama proses membangun pengetahuan terjadi interaksi antara pengetahuan yang ada dengan pengetahuan baru yang sedang diajarkan.

Pembelajaran kooperatif juga didasarkan pada teori Vygostsky tentang pembelajaran sosiokultural. Pembelajaran sosiokultural menyatakan bahwa peserta didiklah yang aktif di dalam pembelajaran bukan pendidik. Pengetahuan yang diperoleh di dalam proses pembelajaran sosiokultural merupakan hasil dari usaha peserta didik menggali berbagai sumber pengetahuan di dalam lingkungan sosial. “A fundamental idea in Vygotskian approaches to learning is that knowledge dan concepts are contructed in the mind of the learner in sosial or cultural context”(Cortazzi & Hall, 1998:17).

Dalam mengkonstruksi setiap pengetahuan, tentulah di dalam diri peserta didik terdapat dorongan atau kemauan yang mendorong mereka untuk senantiasa mencari informasi atau pengetahuan yang hendak mereka pahami.

Sebagai contoh, seorang peserta didik yang tidak tertarik dengan suatu mata pelajaran tertentu, pasti ada kemungkinan mereka memiliki rasa malas untuk mempelajarinya. Hal semacam ini adalah suatu hal yang wajar terjadi bagi setiap peserta didik. Dorongan atau keinginan semacam itu lebih kita kenal dengan istilah motivasi.

Motivasi merupakan dorongan yang berada di dalam diri manusia baik berasal dari dalam diri manusia itu sendiri maupun berasal dari lingkungan tempat sekitar manusia itu berada yang menggerakkan manusia untuk bertindak atau melakukan sesuatu guna meraih kesuksesan meski tindakan tersebut tidak disukai.

Secara umum, terdapat dua macam motivasi yang mempengaruhi seseorang dalam melakukan suatu tindakan.

  1. Motivasi Instrinsik: Motivasi Intriksik adalah motif-motif yang aktif dengan sendirinya dan tidak memerlukan dorongan dari luar, karena dalam diri setiap individu pada hakikatnya sudah memiliki dorongan dan kemauan untuk melakukan sesuatu.
  2. Motivasi Ekstrinsik: Motivasi Ekstrinsik merupakan motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya rangsangan dari luar.

Selengkapnya baca pada artikel Pengertian motivasi intrinsik dan ekstrinsik

Pemberian hadiah di dalam proses pembelajaran kooperatif diharapkan dapat memberi semangat kepada peserta didik untuk mencapai hasil maksimal yang telah ditentukan. Peserta didik saling bekerjasama dan saling membantu di dalam kelompok demi kesuksesan bersama. Peserta didik bekerjasama di dalam kelompok yang setiap anggotanya mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Hal ini diharapkan dapat menimbulkan ketergantungan positif antar anggota kelompok. Pemberian hadiah di dalam pembelajaran kooperatif diharapkan dapat menjadi dorongan bagi peserta didik untuk meningkatkan hasil belajar yang lebih baik.

Hal ini diperkuat dengan anggapan Slavin (1994: 16) yang menyatakan bahwa, “Motivational perspective on cooperative learning focus primarily on the reward or goal structures under which student operate”.

Selanjutnya Slavin  (1994: 5) juga berpendapat bahwa “There concepts are central to all student team learning methods, team rewards, individual accountability, and equal opportunities for success”. Terdapat tiga pusat konsep utama pada pembelajaran kooperatif yang setidaknya harus dioptimalkan atau harus berimbang pada proses pelaksanaannya.

Keberadaan konsep pusat di dalam pembelajaran kooperatif mengakibatkan terciptanya situasi dimana peserta didik dapat mencapai tujuan yang hendak dituju secara bersama-sama. Hal inilah yang memicu peserta didik untuk saling bekerjasama dalam menyukseskan tujuan dari pembentukan kelompok disamping motivasi terhadap hadiah yang akan diberikan kepada kelompok yang berhasil mencapai hasil belajar maksimal. Peserta didik di dalam kelompok saling membantu di dalam memahami konsep maupun materi yang diajarkan. Terdapat tanggung jawab bersama setiap anggota kelompok untuk memastikan bahwa anggota kelompoknya telah memahami materi maupun konsep yang diajarkan dengan benar.

“… To meet their personal goals, group members must help their groupmates to do whatever helps group to succeed, and perhaps more important, encourage their groupmates to exert maximum effort”(Slavin, 1994: 16). Peserta didik yang saling bekerjasama di dalam kelompok menciptakan suasana pembelajaran yang memudahkan peserta didik untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal.

Teori selanjutnya yang melandasi pembelajaran kooperatif adalah teori kognitf. Secara garis besar teori kognitif terbagi menjadi dua. Slavin (1994) menyatakan bahwa teori kognitif terdiri dari developmental theories dan cognitive elaboration theories. Teori kognitif perkembangan berkaitan dengan teori yang telah disampaikan oleh Vygotsky. Teori kognitif perkembangan menyatakan bahwa perkembangan kognitif peserta didik dipengaruhi oleh interkasi yang terjadi di antara peserta didik di dalam proses pembelajaran. Interaksi di antara peserta didik akan mendukung pertumbuhan kognitif peserta didik. Peserta didik akan belajar hal-hal baru dari peserta didik lainnya. Hal-hal baru yang diperoleh dari interkasi peserta didik diharapkan dapat digunakan untuk mengkonstruk pengetahuan yang telah ada dan pada akhirnya hasil belajar peserta didik dapat ditingkatkan. Teori perkembangan juga disampaikan oleh Piaget. Interkasi yang terjadi di antara peserta didik mempengaruhi perkembangan bahasa, nilai moral, serta simbol suatu sistem. Dengan demikian teori perkembangan kognitif menekankan pentingnya interaksi antar peserta didik di dalam proses pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, kemampuan memahami nilai moral, memahami simbol-simbol yang berlaku di dalam suatu sistem dan meningkatkan hasil belajar peserta didik. Teori perkembangan kognitif lebih mengutamakan kerjasama di dalam proses pembelajaran yang ditandai dengan adanya interaksi antar peserta didik daripada berusaha secara individu.

Teori yang berkaitan dengan kognitif peserta didik selanjutnya adalah teori elaborasi kognitif. Teori elaborasi kognitif berbeda dengan teori perkembangan kognitif. Informasi yang diperoleh oleh peserta didik disimpan di dalam memori dan dihubungkan dengan informasi yang ada, peserta didik harus menggunakan beberapa pengstrukturan kognitif pendek atau mengelaborasi. Teori elaborasi kognitif mengedepankan pelajaran yang dimulai dari hal yang sederhana hingga hal yang bersifat komplek dengan tujuan agar nantinya dapat diintergrasikan antar satu informasi dengan informasi lainnya. Kedudukan peserta didik dalam teori elaborasi kognitif beperan sebagai pemanggil dan pendengar. Slavin (1994: 19) menyatakan, “In this method, students take roles as recaller and listener”. Informasi yang telah didapat oleh peserta didik dipanggil kembali dengan cara mengkomunikasikan. Selanjutnya, peserta didik lainnya bertindak sebagai pendengar yang akan membenarkan peserta didik yang sedang mengkomunikasikan informasi apabila terdapat kesalahan. Kegiatan pemanggilan informasi dan pembenaran atas kesalahan yang terjadi membutuhkan andanya interaksi antar peserta didik. Oleh karena itu, teori elaborasi kognitif di dalam penerapanya di dalam proses pembelajaran sama dengan teori perkembangan kognitif lebih mengutamakan adanya interaksi di dalam belajar daripada belajar sendiri.

Berdasarkan landasan teori di atas, maka pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang mengaktifkan peserta didik untuk mengkonstruk pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan baru yang diajarkan oleh pendidik di lingkungan sosial. Peserta didik di dalam proses pembelajaran kooperatif melakukan interaksi dengan lingkungan di sekitarnya, baik dengan peserta didik lain, pendidik, maupun dengan sumber belajar.

Interaksi antara peserta didik dengan pendidik pada pembelajaran kooperatif berjalan dua arah. Hal ini berbeda dengan pembelajaran tradisional yang berjalan satu arah. Interaksi yang berjalan dua arah pada pembelajaran kooperatif memungkinkan peserta didik untuk menggali secara luas pengetahuan yang dimiliki oleh pendidik untuk mengkonstruk pengetahuan yang telah ada.

Interaksi yang dilakukan oleh peserta didik dengan peserta didik lainnya memungkinkan peserta didik untuk melakukan kerjasama, diskusi, maupun memecahkan permasalahan yang ada secara bersama-sama. Kemampuan yang berbeda-beda baik kemampuan pemahaman konsep dan penyeleseian masalah dari peserta didik yang melakukan interaksi membuat peserta didik satu dengan peserta didik lainnya terdapat saling ketergantung

 

Elemen-elemen pada Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif yang mendasarkan pembelajarannya pada teori konstruktivisme mempunyai elemen-elemen pembelajaran yang esensial. Elemen-elemen pembelajaran kooperatif merupakan hal-hal yang perlu untuk dilakukan agar pembelajaran kooperatif berjalan sesuai rencana. Berdasarkan pendapat Stahl (1994) menyatakan bahwa elemen-elemen pembelajaran kooperatif meliputi tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai merupakan elemen pertama pembelajaran kooperatif. Pendidik perlu menjelaskan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai melalui pembelajaran kooperatif. Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dapat berupa kemampuan kognitif maupun materi yang harus dikuasai. Pendidik perlu menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai agar peserta didik melakukan berbagai persiapan sebelum pembelajaran dimulai. Elemen pembelajaran kooperatif selanjutnya adalah penempatan peserta didik di dalam kelompok. Pembelajaran kooperatif identik dengan pembentukan kelompok. Penempatan peserta didik di dalam kelompok memungkinkan para peserta didik bertemu dengan peserta didik lainnya dengan berbagai karakter. Elemen pembelajaran kooperatif selanjutnya adalah arahan dan instruksi dari pendidik. Pendidik memberi intruksi dan arahan yang jelas kepada peserta didik sebelum peserta didik terjun ke dalam kelompok yang telah dibentuk. Pemberian instruksi penting agar peserta didik memahami hal-hal yang harus dilakukan di dalam kelompok. Kelompok yang bersifat heterogen merupakan elemen pembelajaran kooperatif selanjutnya. Pembentukan kelompok pada pembelajaran kooperatif bersifat heterogen. Kelompok terdiri dari tiga hingga lima anggota dengan kemampuan yang masing-masing berbeda. Pembentukan kelompok tidak didasarkan pada kedekatan masing-masing individu atau sesama jenis melainkan dibentuk secara acak. Hal ini bertujuan agar ketika peserta didik bertemu dengan anggota kelompoknya, semua anggota kelompok secara bersama-sama mengeluarkan segenap kemampuan yang ada untuk mencapai tujuan kelompok yang telah ditentukan. Pembentukan kelompok yang bersifat heterogen memungkinkan setiap anggota untuk saling melakukan interaksi dan saling ketergantungan secara positif. Ketergantungan secara positif di antara peserta didik di dalam kelompok yang bersifat heterogen meberikan kesempatan yang sama untuk meraih kesuksesan.

Kesempatan yang sama untuk meraih kesuksesan merupakan elemen pembelajaran kooperatif selanjutnya. Hal yang sangat penting untuk ditanamkan pada peserta didik yang berpartisipasi di dalam kelompok adalah masing-masing peserta didik mempunyai kesempatan yang sama untuk meraih tujuan akademik yang harus dicapai. Peserta didik tidak dianjurkan untuk berkecil hati karena satu kelompok dengan peserta didik yang kemampuannya dianggap lebih. Selanjutnya adalah ketergantungan yang positif. Setiap anggota di dalam sebuah kelompok harus mempunyai kenyakinan bahwa gagal dan suksesnya kelompok dalam mencapai tujuan bukan merupakan tanggung jawab perseorangan melainkan tanggung jawab semua anggota kelompok tersebut. ketergantungan positif dapat terjadi apabila posisi duduk saling berhadapan. Pembelajaran kooperatif dilakukan dengan menempatkan posisi peserta didik saling berhadapan. Hal inilah salah satu perbedaan pembelajaran kooperatif dengan pemebalajaran konvensional. Pembelajaran konvensional menempatkan peserta didik menghadap pendidik dan cenderung belajar sendiri. Elemen selanjutnya adalah kebiasaan dan sikap interaksi sosial, peserta didik di dalam sebuah kelompok perlu di rangsang untuk saling bekerjasama dalam mencapai tujuan. Rangsangan dapat berupa manajemen konflik, negoisasi, klarifikasi, kepemimpinan dan sebagainya. Kemudian pembelajaran kooperatif juga mempunyai elemen berupa akses mengenai informasi yang harus dipelajari. Pendidik harus memberi akses kepada peserta didik mengenai informasi yang harus dipelajari. Akases informasi yang jelas membuat tujuan kelompok dapat dicapai dengan baik. Akses yang jelas juga dapat memfasilitasi peserta didik untuk melengkapi tugas yang diberikan oleh pendidik. Kesempatan untuk melengkapi tugas adalaha elemen pembelajaran kooperatif selanjutnya. Agar sukses di dalam kelompok peserta didik diharapkan mampu untuk melengkapi tugas-tugas yang diberikan.

Manajemen Waktu Pembelajaran adalah elemen pembelajaran kooperatif selanjutnya. Manajemen waktu pembelajaran yang tidak baik akan mengakibatkan pembelajaran kooperatif tidak memberikan efek yang diharapkan. Agar pembelajaran kooperatif berjalan dengan efektif, dibutuhkan waktu selama empat minggu atau lebih. Selama empat minggu atau lebih perlu adanya akuntabilitas secara individual. Alasan utama penempatan peserta didik di dalam kelompok pada pembelajaran kooperatif adalah peserta didik mampu mencapai prestasi yang lebih tinggi secara individual daripada belajar sendiri. Oleh karena itu, tanggung jawab yang dibagikan harus dikerjakan secara individual dengan penuh tanggung jawab. Selama proses pembelajaran kooperatif perlu adanya penghargaan untuk kelompok yang berprestasi. Penghargaan akan diberikan oleh pendidik bagi kelompook yang mampu mencapai target pembelajaran yang lebih tinggi daripada kelompok lain. Pemberian penghargaan diharapakan dapat memotivasi peserta didik untuk berusaha lebih keras di dalam pembelajaran. Selanjutnya agar proses pembelajaran kooperatif lebih baik kedepannya maka perlu adanya refleksi. Refleksi dilakukan ketika kelompok telah mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Refleksi berguna untuk memberi masukan tentang hal-hal yang telah dicapai selama proses pembelajaran dan hal yang perlu dilakukan untuk menghadapi pembelajaran berikutnya.

Selanjutnya selama proses pembelajaran kooperatif terdapat hal-hal yang perlu dilakukan agar peserta didik benar-banar bekerja secara kooperatif di dalam kelompok yang telah dibentuk. Berdasarkan pendapat Hamdani (2011) menyatakan bahwa hal-hal yang perlu dilakukan untuk menjamin peserta didik belajar meliputi peserta didik harus menyadari bahwa mereka adalah satu bagian di dalam tim dan bertujuan sama, masalah yang dihadapi dan keberhasilan dalam mencapai tujuan adalah tanggung jawab bersama, dan peserta didik harus saling berdiskusi untuk mencapai hasil yang diharapkan.

Hal-hal selanjutnya yang perlu diperhatikan agar peserta didik merasakan keuntungan yang luas dari penerapan proses pembelajaran kooperatif adalah adalah kemantapan kelompok yang dibentuk. Gillies (2007: 4) menyatakan, “…If students are to reap the benefits widely attributed to cooperative learning, then groups need to be established…”. Kemantapan dari kelompok yang telah dibentuk memberi akibat di dalam proses pembelajaran. Selanjutnya akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kemantapan kelompok meliputi ketergantungan positif diantara anggota kelompok. Ketergantungan positif diantara anggota kelompok mempunyai pengertian bahwa setiap anggota kelompok memberi sumbangsih terhadap keberhasilan kelompok di dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Usaha yang dikeluarkan oleh masing-masing anggota kelompok dipresentasikan sebagai usaha kelompok. “…The contribution of others and togthers represented the group’s total efforts or the group’s goal”(Gillies, 2007: 4). Akibat selanjutnya yang ditimbulkan adalah adanya interaksi antar peserta didik. Pembelajaran kooperatif menempatkan peserta didik untuk duduk saling berhadapan satu sama lain. Hal inilah yang membuat peserta didik dituntut untuk saling berinteraksi di dalam proses pembelajaran. Interaksi yang dilakukan oleh peserta didik dapat dilakukan dengan menggunakan bahasa verbal maupun non verbal. Hubungan personal dan sinergi di dalam interaksi dapat terjadi apabila peserta didik bekerja di dalam suasana yang penuh kedekatan hubungan. Gillies (2007: 4) menyatakan, “These personal relationship and the synergy that they can create occur only when students work in close contsct with each other…”. Kemantapan kelompok juga mengakibatkan adanya akuntabilitas individu. Keterlibatan peserta didik di dalam pembelajaran membuat rasa tanggung jawab akan keberhasilan kelompok semakin meningkat. Peserta didik dituntut untuk berkontribusi di dalam proses pembelajaran. Kontribusi yang diberikan oleh peserta didik akan memberikan umpan balik. Umpan balik yang diterima oleh peserta didik berupa pengakuan dari anggota kelompok lainnya. Namun, hal ini terjadi apabila peserta didik menyelesaikan beban kerja yang diberikan dengan baik. Pengakuan yang diterima oleh peserta didik setelah mereka berkontribusi akan meningkatkan effikasi diri pada peserta didik yang pada akhirnya peserta didik akan termotivasi untuk terus melakukan tugas yang diberikan. Akibat adanya kemantapan kelompok selanjutnya adalah interpersonal dan kemampuan kelompok kecil diberdayakan. Kesempatan yang tidak ditemukan oleh peserta didik di dalam proses pembelajaran tradisional adalah kesempatan untuk berinteraksi dengan peserta didik lainnya. Hal ini disebabkan karena peserta didik pasif di dalam proses pembelajaran dan pembelajaran didominasi oleh keaktifan pendidik. Peserta didik dapat mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan peserta didik lainnya apabila peserta didik salah satunya belajar di dalam proses pembelajaran. Interaksi antar peserta didik akan melatih kemampuan berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik lainnya sehingga peserta didik mengetahui cara untuk mengepresikan ide, mengakui sebuah kontribusi dari peserta didik lainnya, setuju dengan perbedaan, dan memanajemen konflik. Gillies (2007: 5) menyatakan, “Students need to be taught how to communicate effectively with each other so they know how to express their ideas, acknowledge the contribution of others, deal with disagreements, and manage conflicts”. Selanjutnya akibat kemantapan kelompok mengakibatkan pengolahan kelompok dilatih. Penempatan peserta didik di dalam kelompok merupakan formatif yang melibatkan refleksi peserta didik di dalam cara peserta didik memanajemen pembelajaran. Pengolahan kelompok yang baik akan mendorong peserta didik untuk merefleksikan peran anggota kelompok untuk menentukan keputusan. Peserta didik membutuhkan fungsi kelompok yang singkat dan memperbesar kontribusi untuk kelompok.

Berdasarkan uraian di atas, pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang terdiri dari beberapa elemen-elemen yang berorientasi pada keaktifan dan interaksi peserta didik. Terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan di dalam pembelajaran kooperatif agar pembelajaran tersebut memberi efek yang positif. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kemantapan kelompok. Kemantapan kelompok mengandung arti bahwa peserta didik saling bekerjasama dan saling ketergantungan secara positif.

 

Bentuk-bentuk Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif yang diterapkan selama ini mempunyai berbagai macam bentuk pembelajaran. Berdasarkan pendapat Slavin (1991) bentuk-bentuk pembelajaran kooperatif meliputi

  1. Student Team-Achievement Division (STAD),
  2. Team Games Tournament (TGT),
  3. Team Asisted Individualization (TAI),
  4. Cooperative Intergrated Reading and Composition (CIRC),
  5. Jigsaw,
  6. Learning Together, dan
  7. Group Investigation (GI).

 

Sedangkan bentuk-bentuk pembelajaran kooperatif juga disampaikan oleh Isjoni (2011) meliputi

  1. Student Team-Achievement Division (STAD),
  2. Jigsaw,
  3. Team Games Tournament (TGT),
  4. Group Investigation (GI),
  5. Group Resume, dan
  6. Rotating Trio Exchange.

 

Bentuk-bentuk pembelajaran kooperatif di atas mempunyai kelemahan dan kelebihan. Namun, ketujuh bentuk pembelajaran kooperatif tersebut memusatkan pembelajaran pada peserta didik dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk saling bekerjasama di dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen. Peserta didik dituntut untuk dapat menyesuaikan diri di dalam kelompok yang bersifat heterogen demi mencapai tujuan kelompok yang ingin dicapai. Tanggung jawab keberhasilan kelompok dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan merupakan tanggung jawab semua anggota kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa kebersamaan dan kepemimpinan di dalam pembelajaran kooperatif sangat diutamakan.

Loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *