Definisi Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Beserta Langkah-langkahnya

model pembelajaran jigsaw
Model pembelajaran jigsaw – analyticstraining.com

Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan suatu model pembelajaran berkelompok (pembelajaran kooperatif) dimana dalam sebuah kelompok beranggotakan beberapa siswa dengan satu orang penanggung jawab yang bertugas untuk menjelaskan materi kepada anggota kelompok lainnya.

Eliot Aronson adalah tokoh yang pertama kali memperkenalkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada tahun 1978 silam. Model pembelajaran yang sudah sangat sejak lama dipopulerkan dan sekarang kita masih awam denga model-model pembelajaran yang variatif inovatif. Kemanakah ide kreatif pendidik sekarang ini? apakah Anda termasuk dari golongan pendidik yang monoton? Saya harap tidak.

Model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw diperkenalkan pertama kali pada tahun 1978 oleh Eliot Aronson. Penerapan model Jigsaw sama halnya dengan penerapan model TGT dimana peserta didik ditempatkan di dalam kelompok yang heterogen. Gocer (2010: 442), berpendapat bahwa peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan 5-6 peserta didik. Peserta didik yang tergabung di dalam kelompok dengan kemampuan setiap anggotanya berbeda-beda diharapkan dapat bekerjasama dan saling membantu di dalam menguasai ilmu pengetahuan tertentu.

Tugas pertama yang dimiliki oleh sebuah kelompok asal adalah membagi aggotanya untuk membentuk kelompok bersama anggota dari kelompok lain untuk mengkaji materi yang ditentukan. Kelompok baru yang telah terbentuk disebut kelompok ahli. Tugas peserta didik di dalam kelompok ahli mempelajari dan menggali sedalam-dalamnya tugas yang diberikan oleh pendidik. Peserta didik setelah menggali dan mempelajari suatu informasi di dalam kelompok ahli, dituntut untuk kembali ke dalam kelompok asal. Kegiatan peserta didik yang telah kembali ke dalam kelompok asal adalah menyampaikan semua informasi yang telah didapat di dalam kelompok ahli kepada anggota kelompok lainnya. Proses penyampaian informasi oleh peserta didik kepada anggota kelompok yang lain membutuhkan adanya interaksi yang aktif dan tanggung jawab. Tanggung jawab peserta didik ditunjukkan dari cara menyampaikan informasi kepada anggota kelompok yang lain. Penyampaian informasi yang lancar mencerminkan peserta didik bertanggung jawab di dalam menggali dan mempelajari informasi saat berada pada kelompok ahli. Namun, penyampaian yang tersendat, mencerminkan peserta didik kurang bertanggung jawab di dalam proses penggalian informasi. Selanjutnya untuk mengetahui berfungsinya kelompok ahli sebagai sumber informasi, pendidik dapat memberi kuis kepada masing-masing kelompok asal. Apabila setiap kelompok asal dapat menjawab kuis yang diberikan oleh pendidik maka fungsi kelompok ahli berfungsi dan informasi yang disampaikan oleh peserta didik berjalan dengan baik.

Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw apabila dijalankan dengan baik dapat meiningkatkan hasil belajar peserta didik yang lebih tinggi daripada pembelajaran mandiri secara individual. Yueh-Min Huang, Yi-Wen Liao, Shu-Hsien Huang, et al. (2014) berpendapat bahwa pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw meningkatkan hasil belajar lebih tinggi dari pada hasil belajar mandiri secara individu. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa margin rata-rata posttest kelas eksperimen yang menggunakan metode pembelajaran Jigsaw lebih tinggi daripada posttest kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional.

Penerapan metode pembelajaran Jigsaw juga dapat mengurangi sikap negatif berupa kegelisahan peserta didik di dalam proses pembelajaran. Oludipe & Awokoy (2010) menyatakan bahwa kegelisahan peserta didik setelah mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan metode Jigsaw mengalami penurunan secara drastis. Namun, kegelisahan peserta didik yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan metode konvensional meningkat. Hal ini disebabkan metode pembelajaran Jigsaw menghadirkan suasana yang penuh dengan motivasi dan saling ketergantungan secara positif. Peserta didik tidak bersaing secara individu melainkan saling bekerjasama di dalam kelompok.

Berdasarkan uraian di atas, metode pembelajaran Jigsaw menempatkan peserta didik ke dalam 5-6 kelompok yang bersifat heterogen. Kelompok yang bersifat heterogen memungkinkan peserta didik saling bekerjasama di dalam proses pembelajaran. Kerjasama yang dilakukan oleh peserta didik mengakibatkan hasil belajar peserta didik lebih baik dari hasil belajar peserta didik yang bekerja secara individu maupun mandiri. Kerjasama juga mengakibatkan sikap positif di antara peserta didik.

 

Tahapan Metode Pembelajaran Jigsaw

Tahapan dalam metode pembelajaran Jigsaw secara garis besar terbagi menjadi dua. Tahapan tersebut adalah tahapan ketika peserta didik berada di dalam kelompok asal dan tahapan peserta didik berada di kelompok ahli. Tahapan peserta didik di dalam kelompok asal adalah tahapan peserta didik untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan sebelum peserta didik terjun pada kelompok ahli. Tahapan peserta didik pada kelompok ahli adalah tahapan peserta didik menggali berbagai informasi dan pengetahuan yang terdapat pada kelompok ahli guna dibagikan pada anggota kelopok asal saat setelah kembali dari kelompok ahli. Banyak sedikit informasi yang dibawa peserta didik dari kelompok ahli untuk dibagikan kepada anggota kelompok asal bergantung pada keseriusan peserta didik tersebut saat bekerja di kelompok ahli. Selanjutnya untuk mengetahui keberhasilan dari kelompok ahli dalam mendalami sebuah informasi diukur melalui kuis yang diberikan pendidik setelah peserta didik kembali dari kelompok asal.

Tahapan-tahapan di dalam metode pembelajaran Jigsaw telah disampaikan oleh beberapa ahli. Aronson (2009) menyatakan bahwa tahapan-tahapan di dalam metode pembelajaran Jigsaw adalah sebagai berikut:

1) Pembentukan Kelompok dengan Jumlah Anggota 5-6 Peserta didik

Pembentukan kelompok dapat dilakukan oleh guru. Hal ini bertujuan agar kelompok dalam keadaan heterogen. Pembentukan kelompok yang bersifat heterogen memungkinkan peserta didik untuk memberikan kemampuan terbaiknya untuk mencapai tujuan kelompok. Pembentukan kelompok dapat juga dilakukan oleh peserta didik. Namun, guru memberi batasan-batasan kelompok tersebut dibentuk.

2) Menugaskan Seseorang Menjadi Pemimpin di dalam Kelompok Tersebut

Pembelajaran kooperatif secara umum mengutamakan kebersamaan peserta didik di dalam kelompok. Tanggung jawab keberhasilan kelompok di dalam mencapai tujuan kelompok merupakan tanggung jawab semua anggota kelompok. Penugasan seseorang menjadi pemimpin kelompok diperlukan agar pengaturan kelompok tersebut dalam mencapai tujuan dapat berjalan secara teratur. Penugasan seseorang menjadi pemimpin kelompok dapat dilakukan melaui penunjukkan oleh pendidik maupun hasil diskusi para anggota kelompok. Penugasan pemimpin hasil diskusi anggota kelompok lebih baik daripada penugasan pemimpin yang ditunjuk oleh pendidik. Penugasan pemimpin hasil diskusi memberi kesempatan kepada peserta didik untuk saling berdiskusi dan pemimpin yang terpilih diharapkan dapat mewakili dan menyuarakan aspirasi dari anggota kelompok tersebut sehingga tujuan kelompok dapat tercapai dengan baik dibawah pemimpin yang telah mengetahui keadaan anggotanya.

3) Membagi Materi ke dalam 5-6 Bagian

Pembagian materi dilakukan oleh pendidik. Pembagian materi disesuaikan dengan jumlah anggota masing-masing kelompok. Pembagian materi yang dilakukan dengan jelas sangat berguna ketika peserta didik mulai bekerja di dalam kelompok ahli. Pembagian materi yang jelas dapat menjadi langkah awal pemimpin kelompok untuk menyiapkan anggotanya terjun di dalam kelompok ahli sesuai kemampuan anggota tersebut.

4) Menugaskan Peserta Didik untuk Mempelajari Materi yang Didapatkan

Penugasan peserta didik untuk mempelajari materi dapat dilakukan setelah pembagian materi telah dilakukan oleh pendidik. Penugasan peserta didik untuk mempelajari materi sebelum terjun di dalam kelompok ahli memberi bekal peserta didik tersebut untuk menggali informasi yang belum diketahuinya dan dianggap penting untuk keberhasilan kelompok. Hal ini penting agar peserta didik tidak seenaknya sendiri bekerja di dalam kelompok ahli.

5) Memberi Waktu kepada Peserta didik untuk Mempelajari Kembali Materi yang Didapatkan Minimal Dua Kali agar Materi Tersebut Menjadi Familier

Pemberian waktu kepada peserta didik sebelum terjun ke dalam kelompok ahli sangat dibutuhkan. Waktu yang diberikan oleh pendidik dapat digunakan untuk mempersiapkan materi maupun mempersiapkan mental sebelum bertemu dengan ahli-ahli lain dari kelompok asal. Waktu yang diberikan dapat beberapa menit saja tetapi dengan waktu yang singkat diharapkan dapat dimanfaatkan oleh peserta didik untuk melakukan persiapan terbaiknya.

6) Membentuk Kelompok Ahli

Peserta didik yang mempelajari materi yang sama dikumpulkan di dalam satu kelompok untuk bertukar pikiran mengenai materi yang dipelajari. Pada tahap ini, peserta didik dituntut untuk bertanggung jawab menyampaikan materi yang telah dipelajari di kelompok asal kepada anggota kelompok ahli dan bertanggung jawab menggali berbagai informasi dari kelompok ahli untuk disampaikan kepada kelompok asal. Kelompok ahli dalam hal ini adalah tempat pertukaran berbagai informasi. Tempat pertukaran ini dapat dimanfaatkan secara maksimal apabila peserta didik memahami dan mengetahui informasi-informasi yang dibutuhkan saat kembali ke kelompok asal. Peserta didik yang tidak memanfaatkan fungsi kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal dengan hasil yang tidak maksimal.

7) Meminta Peserta didik Kembali ke dalam Kelompok Asal

Peserta didik dituntut kembali ke kelompok asal. Hal ini disebabkan kelompok ahli adalah kelompok yang bersifat sementara sebagai tempat penggalian informasi. Kelompok yang sesungguhnya adalah kelompok asal, tempat peserta didik bekerja bersama-sama mencapai tujuan kelompok. Semua kemampuan peserta didik dicurahkan pada kelompok asal untuk menjadi kelompok asal terbaik.

8) Meminta Peserta didik yang Telah Kembali dari Kelompok Ahli untuk Menyampaikan Semua Informasi yang Telah Didapat kepada Anggota Kelompok Asalnya.

Penyampaian hasil kerja kelompok ahli kepada anggota kelompok asal lainnya sangat berguna untuk mendapatkan pengetahuan akan materi yang diajarkan pada hari ini secara lengkap. Oleh karena itu, perlu adanya rasa tanggung jawab pada diri setiap anggota kelompok asal terhadap keberhasilan kelompok sehingga memunculkan adanya sikap keterbukaan dalam menyampaikan materi yang telah diperoleh dari kelompok ahli.

9) Guru Mengobservasi Proses Diskusi yang Tengah Berlangsung. Guru Dapat Memberikan Campur Tangan pada Tahap ini Apabila Terjadi Hambatan di dalam Proses Diskusi

Monitoring pendidik di dalam jalannya proses pembelajaran diperlukan agar pembelajaran berjalan dengan baik. Pendidik memberi arahan maupun bimbingan apabila diperlukan agar peserta didik menjalankan waktu diskusi di dalam kelompok asal maupun kelompok ahli dengan seefektif mungkin. Pendidik dapat meminimalisir gangguan yang terjadi melalui proses monitoring sehingga pembelajaran berjalan sesuai yang diharapkan.

10) Pemberian Kuis yang Dilakukan oleh Guru

Pemberian kuis bertujuan untuk mengkonfirmasi pengetahuan yang telah didapat selama proses pembelajaran. Pemberian kuis juga bertujuan agar peserta didik merasa yakin bahwa kegiatan yang telah dilakukan bukan kegiatan yang sia-sia belaka. Kelompok asal yang dapat menjawab kuis dengan baik menunjukkan peserta didik yang ditugaskan di dalam kelompok ahli bekerja dengan baik. Kelompok yang berhasil menyelesaikan kuis dengan baik mendapatkan penghargaan sebagai kelompok terbaik. Pemberian penghargaan setelah kuis dilaksanakan bertujuan untuk memotivasi para peserta lainnya yang belum mendapat hasil yang baik terpacu untuk melakukan yang terbaik pada pembelajaran yang akan datang.

Berdasarkan uraian di atas, proses pembelajaran dengan menggunakan metode Jigsaw terdiri dari dua proses. Proses tersebut meliputi peserta didik bekerja di dalam kelompok asal dan kelompok ahli. Peserta didik menggali berbagai informasi di dalam kelompok ahli. Peserta didik menyampaikan informasi yang telah diperoleh di dalam kelompok asal. Peserta didik berjuang untuk mencapai hasil yang maksimal secara kerjasama di dalam kelompok asal.

 

Beberapa Permasalahan pada Metode Pembelajaran Jigsaw

Motode pembelajaran Jigsaw merupakan metode pembelajaran yang didasarkan pada teori konstruktivisme dan sosiokultural. Terdapat permasalahan yang muncul ketika metode pembelajaran Jigsaw diterapkan di dalam proses pembelajaran. Permasalahan yang muncul secara garis besar berkaitan dengan interkasi peserta didik di dalam kelompok asal maupun kelompok ahli. Reese (2009) berpendapat permasalahan yang muncul di dalam penerapan metode Jigsaw antara lain adalah adanya dominasi dari salah satu peserta didik dan pembelajaran yang berjalan lambat.

Dominasi salah satu peserta didik di dalam kelompok tidaklah dibernarkan. Peserta didik di dalam kelompok dituntut untuk saling bekerjasama antara anggota kelompok. Dominasi peserta didik di dalam kelompok ahli maupun kelompok asal menimbulkan ketergantungan yang bersifat negatif. Ketergantungan yang bersifat negatif tentu bertentangan dengan elemen dari model pembelajaran kooperatif pada khususnya metode Jigsaw yang menyatakan kerjasama di dalam kelompok menimbulkan ketergantungan secara positif.

Dominasi salah seorang peserta didik di dalam kelompok dapat diakibatkan oleh adanya kebosanan yang dirasakan oleh anggota kelompok. Kebosanan yang muncul disebabkan terdapat anggota kelompok yang bekerja lebih lambat dari anggota kelompok lainnya. Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan seperti ini adalah dengan melakukan rotasi anggota. Rotasi anggota yang dimaksud adalah pergantian pemimpin di dalam setiap sesi diskusi. Harapan dengan andanya pergantian pemimpin diskusi memberikan nuansa baru sehingga rasa bosan pemicu munculnya dominasi anggota kelompok terhadap anggota lainnya dapat dihindari.

Pembelajaran yang berjalan lambat. Pembelajaran yang berjalan lambat juga memberi hambatan bagi pendidik maupun peserta didik untuk melanjutkan pembelajaran pada tahap berikutnya. Pembelajaran yang berjalan lambat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah kesiapan materi peserta didik dalam menghadapi kelompok ahli dan kelompok asal. Ketidaksiapan peserta didik dalam menghadapai kelompok ahli membuat pembelajaran berjalan lambat. Solusi yang dapat diatasi dengan memberi kesempatan bagi peserta didik untuk melakukan persiapan materi.

Tahapan di dalam metode pembelajaran Jigsaw telah memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mempersiapkan segala materi yang dibutuhkan untuk menghadapai kelompok ahli. Persiapan yang baik tentu menghasilkan keberhasilan bagi peserta didik setelah kembali menggali berbagai informasi di dalam kelompok ahli. Persiapan yang kurang baik tentu memberikan akibat yang tidak baik bagi peserta didik di dalam kelompok ahli.
Pembelajaran dengan menggunakan metode Jigsaw akan berjalan dengan cepat apabila peserta didik menyadari pentingnya presentasi materi yang dikaji sebelum sesi tanya jawab dan sisi tanggapan berlangsung. Presentasi yang dilakukan oleh peserta didik sebelum sesi tanya jawab dimulai memungkinkan peserta didik untuk lebih memahami materi yang telah dipelajari sehingga saat sesi tanya jawab dimulai peserta didik dapat menjawab dengan jawaban yang baik.

Permasalahan penerapan metode Jigsaw yang selanjutnya dihadapi oleh pendidik menurut pendapat Isjoni (2011) adalah memotivasi peserta didik. Teknik yang sering digunakan oleh pendidik untuk memotivasi peserta didik adalah dengan menyelenggarakan kompetisi di dalam kelas. Teknik tersebut apabila dilakukan untuk memotivasi peserta didik merupakan teknik yang benar. Namun, teknik menyelenggarakan kompetisi sering mengabaikan esensi dari pembelajaran kooperatif. Esensi pembelajaran kooperatif adalah peserta didik saling bekerjasama dan saling membantu untuk mencapai hasil belajar akademik secara maksimal.

Berdasarkan uraian di atas, terdapat permasalahan yang timbul di dalam proses pembelajaran Jigsaw. Permasalahan yang timbul meliputi dominasi peserta didik terhadap kelompok, kelompok kurang siap, serta esensi dari pembelajara kooperatif yang cenderung kabur. Esensi pembelajaran kooperatif dalam hal ini adalah metode Jigsaw adalah meningkatkan kerjasama antar peserta didik untuk mencapai hasil yang maksimal.

 

Keuntungan dari Penerapan Metode Pembelajaran Jigsaw

Penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memberi beberapa keuntungan bagi pendidik dan peserta didik. Keuntungan yang didapat oleh pendidik adalah metode pembelajaran Jigsaw mudah untuk dilakukan. Selanjutnya metode tersebut dapat dikolaborasikan dengan strategi pembelajaran lainnya. “First of all, most teachers find it easy to learn and they enjoy doing it. It can be used wilh niher leaching stralegies…”(Reese, 2009:9).
Keutungan yang diperoleh oleh peserta didik setelah melakukan pembelajaran dengan metode pembelajaran Jigsaw adalah hasil belajar akademik yang meningkat serta keterampilan kerjasama yang berkembang. Pendapat yang menyatakan bahwa pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar akademik adalah sebagai berikut:
The mean for the jigsaw learning strategy (experimental) group was 29.11 with a standard deviation of 4.861. The mean for the traditional teaching method (control) group was 19.72 with a standard deviation of 6.323. The mean posttest scores for the jigsaw cooperative learning strategy experimental group were greater than the mean posttest scores for the traditional teaching method control group. Therefore, the jigsaw cooperative learning strategy was more effective than the traditional teaching method (Jack, 2015: 52).

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat mengembangkan keterampilan kerjasama peserta didik. Tarhan, Ayyildiz, Ogunc, et al. (2013) berpendapat bahwa efek dari pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw apabila diterapkan di dalam pembelajaran adalah meningkatkan hasil belajar peserta didik, motivasi peserta didik, percaya diri, kemauan dalam mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kemampuan sosial berupa keterampilan kerjasama. Selanjutnya pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw diterapkan di dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dan kemampuan kerjasama peserta didik.

Berdasarkan uraian di atas, keuntungan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah memberi kemudahan bagi peserta didik maupun pendidik. Peserta didik mudah memahi materi fisika sehingga hasil belajar peserta didik menjadi meningkat. Selain kemudahan, sikap positif peserta didik juga dikembangan. Salah satu sikap positif yang dikembangkan adalah kerjasama.

Loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *