PENGEMBANGAN TES UNTUK MENGUKUR KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI (HOTS)

Sumber gambar: sagetetra.com
 
Wawasan Edukasi – Higher Order thinking  conceived of as the top end of the Bloom’s cognitive taxonomy: Analyze, Evaluate, and Create, or, in the older labguage, Analysis, Synthesis, and Evaluation. The teaching goal behind any of cognitive taxonomy is equipping student to be able to do transfer. ”being able to think” means studenk can apply the knowledge and skill they developed during their learning to new contexts. “New” here means applications that the student has not thought of before, not necessarily something universally new. Higher-order thinking is conceived as students being able to relate their learning to other elements beyond those they were taught to associate with it (Brookhart, 2010:5).
 
Definisi dan Pengertian Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (High Order Thingking)
Pernyataan di atas merupakan fungsi higher order thinking skill dalam transfer ilmu pengetahuan yang level kemampuan berpikirnya merupakan bagian dari Taxonomy Bloom.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pernyataan tersebut yaitu:
  1. kemampuan berpikir tingkat tinggi berada pada bagian atas taksonomi kognitif Bloom yang meliputi kemampuan analisis, evaluasi dan mencipta,
  2. tujuan pembelajaran dalam taksonomi kognitif adalah membekali peserta agar dapat melakukan proses transfer pengetahuan, dan
  3. kemampuan berpikir artinya pererta didik mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka kembangkan selama mempelajari hal yang baru. “baru” yang dimaksudkan adalah aplikasi konsep yang belum terpikirkan sebelumnya oleh peserta didik, ini artinya belum tentu baru secara menyeluruh. Kemampuan berpikir tingkat tinggi  berarti kemampuan peserta didik untuk mengaplikasikan dan menghubungkan pembelajaran dengan hal-hal baru yang belum pernah diajarkan.

 

Higher Order Thinking Skills atau kemampuan berpikir tingkat tinggi pada dasarnya memiliki artian bahwa pemikiran yang terjadi pada suatu proses kognitif mencapai level tertinggi. Berdasarkan taksonomi yang dibuat oleh Bloom, keterampilan dalam berpikir tingkat tinggi pada ranah kognitif terbagi menjadi enam, yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi (Syafa’ah & Handayani, 2015).
Schraw et al. (2011: 191) mengklasifikasikan keterampilan berpikir yang dimiliki Bloom menjadi dua tingkatan yaitu keterampilan berpikir tingkat rendah (Lower Order Thinking Skills) yang terdiri atas pengetahuan dan pemahaman, serta keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills) yang terdiri atas aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.
Setiap tingkat kemampuan berpikir pada taksonomi Bloom membimbing peserta didik untuk menguasai kemampuan yang lebih  tinggi. Namun, pada pendidikan teknik  kemampuan analisis merupakan kemampuan yang harus dikuasai peserta didik karena diharapkan aplikasinya terhadap teori-teori, prinsip-prinsip dan konsep yang mereka pelajari ketika ketika mempelajari berbagai objek.
Agar kerja guru menjadi termudahkan dalam membimbing peserta didik pada tiap level tingkatan kemampuan berpikir Bloom, diperlukan sebuah kata kerja yang digunakan dalam pembuatan perangkat tes. Tujuannya adalah untuk memudahkan dalam memetakan kemampuan peserta didik dan sampai pada level manakah kemampuan peserta didik yang sedang diampunya. Berikut ini adalah beberapa contoh kata operasional yang dapat digunakan untuk mengembangkan tes kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Selain Bloom, Heong et al (2011) juga menyatakan bahwa keterampilan berpikir adalah penting untuk peserta didik dan pendidik terutama di lembaga pendidikan tinggi.

Heong et al. (2011) mengindentifikasi 12 keterampilan berpikir tingkat tinggi, yaitu:

  1. membandingkan (comparing),
  2. mengklasifikasi, (classifying),
  3. menginduksi (inducing),
  4. menyimpulkan (deducing),
  5. menganalisis kesalahan (analyzing error),
  6. membangun pendukung (constructing support),
  7. menganalisis perspektif (analyzing perspective),
  8. mengabstraksi (abstracting),
  9. mengambil keputusan (making decision),
  10. memecahkan masalah (solving problem),
  11. menemukan eksperimen (inquiring eksperimen), dan
  12. menemukan konsep dalam kerangka dimensi belajar (inventing concept which work within the dimensions of learning framework).

Disamping itu, Heong et al. (2011) juga menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara tingkat kemampuan berpikir tingkat tinggi dan jenis kelamin, hasil akademis, dan status sosial ekonomi. Oleh karena itu peserta didik harus belajar keterampilan tberpikir tingkat tinggi untuk membantu mereka memecahkan masalah dalam belajar dan meningkatkan hasil akademik mereka. Dengan demikian, pemahaman dan hasil belajar fisika peserta didik akan meningkat dalam pembelajaran.

Brookhart (2010) menyatakan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) artinya peserta didik mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka kembangkan selama belajar pada konteks aplikasi konsep yang belum terpikirkan sebelumnya oleh peserta didik, namun konsep tersebut sudah diajarkan. Berpikir tingkat tinggi berarti kemampuan peserta didik untuk menghubungkan pembelajaran dengan hal-hal lain yang belum pernah diajarkan.

Sedangkan menurut Tajularipin Sulaiman et al. (2015) kemampuan berpikir tingkat tinggi mempunyai tiga komponen yaitu kemampuan berpikir, kebiasaan berpikir dan metakognitif. Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat ditingkatkan dengan memberikan persoalan berupa open-ended question, tugas dalam kelas dan umpan balik dalam pembelajaran.

Kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS) termasuk keterampilan seperti berpikir kreatif dan kritis, analisis, pemecahan masalah dan visualisasi. Keterampilan ini melibatkan mengkategorikan item, membandingkan dan membedakan ide-ide dan teori-teori, mampu menulis serta memecahkan masalah. Di dalam kelas kemampuan dan keterampilan yang mencakup penggunaan HOTS adalah berpikir kompleks yang melampaui mengingat dasar fakta-fakta seperti evaluasi dan penemuan, memungkinkan peserta didik untuk menyimpan informasi dan untuk menerapkan solusi pemecahan masalah untuk masalah dunia nyata. Oleh karena itu, kemampuan berpikir tingkat tinggi dihargai karena diyakini dapat mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi tantangan pekerjaan serta kehidupan sehari-hari (Ramos et al., 2013).

Kemampuan berpikir tingkat tinggi fisika yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah kemampuan menganalisis (analyze), mengevaluasi (evaluate), dan mencipta (create) pada bidang fisika. Anderson & Krathwohl (2001:30) mendefinisikan ketiga kemampuan tersebut sebagai berikut:

Analyzing is breaking material concepts into parts, determining how the parts relate or interrelate to one another or to an overall structure or purpose. Evaluating is making judgments based on  kriteria and standards thorough checking and critiguing. Creating is putting element together to form a coherent or functional whole; reorganizing elements into a new pattern or structure thorough generating, plabning and producing.

Definisi tersebut berarti bahwa: (1) menganalisis adalah menguraikan bahan atau konsep ke dalam bagian-bagiannya, menentukan hubungan antar bagian, atau hubungan bagian terhadap struktur atau tujuan secara keseluruhan. Tindakan yang sesuai berupa membedakan, mengorganisasikan, dan menghubungkan, serta mampu membedakan antara komponen atau bagian; (2) Mengevaluasi adalah membuat penilaian berdasarkan kriteria-kriteria dan standar-standar dengan melalui pemeriksaan dan kritik. (3) Menciptakan adalah memasukan elemen untuk membentuk satu kesatuan yang koheren atau fungsional atau melakukan reorganisasi elemen menjadi pola atau struktur baru melalui proses membangkitkan, merencanakan, atau menghasilkan. Kegiatan yang termasuk mencipta adalah mensintesis bagian menjadi sesuatu yang baru, betuk baru atau produk baru.

Kemampuan ini ditunjukan dengan menyelesaikan persoalan fisika dengan menganalisis, mengevaluasi dan mencipta. Kemampuan ini sebenarnya sudah dibiasakan dalam fisika, karena fisika sudah melatih mengembangkan kemampuan berpikir logis, kritis, objektif, memutuskan sesuatu berdasarkan data yang tetap dengan menggunakan metode ilmiah, dan kemampuan untuk komunikasi ilmiah. Untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, ada lima langkah pembelajaran yang dapat ditempuh, yakni: (1) menentukan tujuan pembelajaran, (2) mengajarkan melalui pertanyaan, (3) mempraktikan, (4) menelaah, mempertajam dan meningkatkan pemahaman, dan (5) mempraktikan umpan balik dan menilai pembelajaran (Limbach & Waugh, 2010).

Nitko & Bookhart (2011:223) menjelaskan tentang dasar penilaian kemampuan higher order thinking skills sebagai berikut

A basic rule for assestment of higher order thinking skill is to use tasks tahat require use of knowledge and skills in new or novel situation. If you only asses student s ability to recall what is in the next-book or what you say, you will not know whether they understand or can apply the reasons, explabations, and interpretations. In short, you must use novel materials to asses higher order thinking. One way to do that is use to context-depent butir sets.

Sehingga dapat diambil gambaran bahwa, prinsip dasar dalam melakukan penelitian untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat menggunakan tugas-tugas yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

Bahan-bahan yang baru harus digunakan untuk melakukan penilaian terhadap kemampuan higher order thinking. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengunakan  set-set butir yang bergantung pada konteks. Untuk menilai kemampuan HOTS peserta didik dibutuhkan sebuah instrumen yang melibat kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah dan kreatifitas yang dapat menantang peserta didik sehingga dibutuhkan instrumen penilaian tertentu yang disusun berdasarkan kompetensi  yang terkait dalam pembelajaran (McNeill et al, 2012).

Loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *