Definisi dan Pengertian Pembelajaran Menurut Para Ahli

Wawasan Edukasi – Arti sebuah pembelajaran menurut Degeng dalam Uno (2008: 134), “pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa.” Berdasarkan pengertian ini, Uno menambahkan, dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode ini didasarkan pada kondisi pembelajaran yang ada.

Pembelajaran merupakan persoalan guru. Pembelajaran menjadi efektif, efisien, dan menarik bergantung dari kemampuan guru menerapkan metode pembelajaran kepada siswa. Suatu materi pelajaran yang disampaikan guru bisa saja menarik bagi siswa tetapi belum tentu efektif dan efisien.

Pembelajaran yang diberikan di kelas terikat pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang disusun oleh guru. Di dalam RPP terdapat standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), dan indikator, sehingga dapat ditentukan metode dan media pembelajaran serta alokasi waktu yang dibutuhkan. Selain itu, pembelajaran merupakan suatu proses mencapai tujuan belajar. Suatu proses dimaksud, bagi siswa, adalah proses mengalami pengetahuan. Siswa memahami suatu materi pelajaran dengan berbagai metode belajar sehingga dimungkinkan mempermasalahkan pengetahuan yang sedang dialaminya.

Metode pembelajaran ditetapkan guru berdasarkan isi materi pelajaran dengan tujuan meningkatkan minat belajar siswa. Setiap materi pelajaran memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda untuk disampaikan guru. Jika materi pelajaran itu disampaikan dengan metode yang tidak sesuai pembelajaran menjadi tidak efektif, efisien, dan menarik, maka metode pembelajaran berpengaruh dalam membuat siswa belajar.

Siswa mengetahui tepat dan tidak tepat suatu pengetahuan dikomunikasikan bergantung dari metode pembelajaran. Kemampuan berpikir siswa akan terlihat dari kemampuan siswa mengomunikasikan pengetahuannya; yang dalam keadaan demikian dapat memperlihatkan perubahan sikap siswa terhadap suatu konsep ilmu. Anggapan bahwa siswa itu mampu bekerjasama, berinteraksi, bersolusi, atau berpendapat dalam kelompok belajar adalah indikator terbangunnya pemahaman siswa.

Suatu metode pembelajaran, pada akhirnya, membutuhkan instrumen untuk mengetahui seberapa besar tujuan belajar tercapai. Jadi pembelajaran menjadi persoalan guru sedangkan belajar menjadi persoalan siswa. Peran guru dalam membantu siswa belajar adalah menetapkan suatu metode pembelajaran, menyusun langkah-langkah pembentukan pengetahuan berdasarkan metode yang telah ditetapkan, dan menuntut hasil belajar siswa. Sedangkan yang harus dilakukan siswa adalah mengembangkan pengetahuannya. Proses inilah yang dimaksudkan sebagai upaya membelajarkan siswa; suatu proses kebermaknaan belajar.

Menurut Reigeluth dalam Dwiyogo (1999: 13) “ada 3 variabel pembelajaran, yaitu: (1) kondisi pembelajaran, (2) metode pembelajaran, dan (3) hasil pembelajaran.” Memahami 3 variabel tersebut Dwiyogo (1999: 14) menjelaskan,kondisi pembelajaran adalah faktor-faktor yang mempengaruhi metode dalam meningkatkan hasil pembelajaran. Metode pembelajaran adalah cara-cara yang dapat digunakan dalam kondisi tertentu untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Metode pembelajaran diacukan sebagai penataan cara-cara, sehingga terwujud suatu urutan langkah prosedural yang dapat dipakai untuk mencapai hasil yang diinginkan.  Hasil pembelajaran adalah semua pengaruh yang muncul dari penggunaan metode tertentu di bawah kondisi tertentu pula.

Suatu pembelajaran berjalan dengan baik jika guru mampu mengidentifikasi kondisi pembelajaran, menentukan metode pembelajaran, dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Kemampuan guru mengidentifikasi kondisi pembelajaran bergantung pula dari kemampuan guru mengelompokkan kondisi pembelajaran yang menurut Reigeluth dalam Dwiyogo (1999:14) terdiri dari: “(1) tujuan dan karakteristik bidang studi, (2) kendala dan karakteristik bidang studi, dan (3) karakteristik siswa.”  Dwiyogo (1999: 15) menjelaskan, tujuan pembelajaran merupakan pernyataan tentang hasil pembelajaran apa yang diharapkan. Karakteristik bidang studi merupakan aspek-aspek suatu bidang studi yang dapat memberikan landasan yang berguna sekali dalam mempreskripsikan strategi pembelajaran. Karakteristik siswa merupakan aspek-aspek atau kualitas perorangan siswa, seperti bakat, motivasi, dan hasil belajar yang telah dimilikinya.

Selain itu, menurut Reigeluth dalam Dwiyogo (1999: 15) metode pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu: “(1) strategi pengorganisasian isi pembelajaran, (2) strategi isi pembelajaran, dan (3) strategi pengelolaan pembelajaran.”

Dwiyogo (1999: 15) menambahkan,strategi pengorganisasian isi pembelajaran adalah cara untuk mengorganisasikan isi bidang studi yang telah dipilih untuk pembelajaran.  Mengorganisasikan isi mengacu pada suatu tindakan seperti pemilihan isi, penataan isi, pembuatan diagram, format, dan lainnya yang setingkat dengan itu. Strategi isi pembelajaran dapat dibedakan menjadi stategi mikro dan strategi makro. Strategi mikro mengacu kepada metode untuk mengorganisasi isi pembelajaran yang berkisar pada satu konsep atau prosedur atau prinsip. Sedangkan strategi makro mengacu kepada metode untuk mengorganisasi isi pembelajaran yang melibatkan lebih dari satu konsep atau prosedur atau prinsip.

Upaya untuk memberikan pengalaman kepada siswa memahami satu atau lebih konsep atau prosedur atau prinsip sehingga siswa mampu menuliskan suatu hukum atau teori berhasil jika jelas bagaimana mengevaluasi hasil pembelajaran.  Menurut Reigeluth dalam Dwiyogo (1999:15) “hasil pembelajaran diklasifikasikan menjadi 3, yaitu: (1) keefektifan, (2) efisiensi, dan (3) daya tarik.”  Untuk memahami 3 klasifikasi tersebut Dwiyogo berupaya merinci sebagai berikut, keefektifan pembelajaran biasanya diukur dengan tingkat pencapaian hasil belajar siswa.

Ada 4 aspek yang dapat dipakai untuk mempreskripsikan keefektifan pembelajaran yaitu: (1) kecermatan penguasaan perilaku yang dipelajari atau juga sering disebut “tingkat kesalahan”, (2) kecepatan untuk kerja, (3) tingkat alih belajar, dan (4) tingkat retensi (penyimpangan) dari apa yang telah dipelajari. Efisiensi pembelajaran biasanya diukur dengan rasio antara keefektifan siswa dan atau (dengan) jumlah biaya pembelajaran yang digunakan. Daya tarik pembelajaran biasanya diukur dengan mengamati kecenderungan siswa untuk tetap atau terus belajar.  Daya tarik pembelajaran erat sekali kaitannya dengan daya tarik bidang studi, di mana kualitas pembelajaran biasanya akan mempengaruhi keduanya. Itulah sebabnya pengukuran kecenderungan siswa untuk terus belajar atau tidak belajar dapat dikaitkan dengan proses pembelajaran itu sendiri atau dengan bidang studi.

Secara teknis keefektifan pembelajaran dapat diperoleh dari instumen keaktifan, penilaian hasil eksperimen, dan tes siswa. Secara teknis efisiensi pembelajaran dapat dideskripsikan melalui suatu pernyataan ideal, yaitu: jika semakin sedikit biaya yang digunakan dalam pembelajaran maka semakin baik hasil pembelajaran

Loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *